REAL LIFE
Galatia
5:22-24, ”Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera,
kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.
Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. Barangsiapa menjadi milik Kristus
Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.”
Bagaimana hidup yang berbuah itu? (1)
Hidup yang berbuah itu menggunakan semua kemampuan/talenta yang sudah diberikan
Tuhan kepada kita dengan maksimal. (2) Melayani sesama. (3) Menggunakan waktu,
tenaga & pikiran untuk pertumbuhan tubuh Kristus. (4) Menggunakan
berkat-berkat yang Tuhan titipkan untuk dipakai dalam pengembangan dan
pelayanan. (5) Punya arti & memberi arti (terlibat dalam pelayanan sekecil
apapun, pelayanan yang kecil memiliki dampak yang besar). Misal: menjadi pendoa
syafaat, melayani kedukaan terlibat dalam tim kunjungan, dsbnya.
Xavier
Quentin Pranata
“If
you stop growing, you start decaying.” Xavier Quentin Pranata.
Madam
Ossy
SAAT
TEDUH. Senin, 28 Maret 2016. Anak Adopsi ALLAH. Jadi kamu bukan lagi hamba,
melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh
Allah (Galatia 4:7). Dua orang anak sedang bermain di rumah kakek mereka ketika
seorang tamu datang berkunjung. Kemudian si kakek segera menggandeng seorang
dari dua cucunya itu untuk diperkenalkan pada tamu tersebut. “Ini cucu saya,”
kata si kakek tanpa mengindahkan wajah kebingungan cucu yang seorang lagi.
Rupa-rupanya cucu yang diperkenalkan kepada sang tamu berasal dari anak
kandungnya sendiri. Adapun cucu yang diabaikan itu berasal dari anak yang
diadopsi keluarga mereka sejak bayi. Syukurlah Allah tidak memperlakukan kita
seperti kakek di atas meskipun status kita adalah anak adopsi-Nya. Menurut
hukum Romawi yang berlaku ketika kitab ini ditulis, seorang anak adopsi
memiliki hak yang sah secara hukum terhadap segala sesuatu milik ayah
angkatnya. Ia tidak diperhitungkan sebagai anak kelas dua, tetapi setara dengan
anak kandung lainnya. Oleh sebab itu, ketika jemaat Galatia menerima dan
membaca surat Paulus ini, mereka benar-benar mengerti apa artinya menjadi anak
Allah. Setiap orang yang percaya kepada Kristus bukan saja telah ditebus dari
dosa dan diadopsi ke dalam keluarga Allah, melainkan juga memiliki hak penuh
sebagai anak perjanjian (3:29). Orang tua kita di bumi bisa saja bersikap
kurang bijaksana, bahkan mengecewakan, namun bersukacitalah karena Bapa di
surga mengasihi kita seperti Dia mengasihi Kristus. Kelak kita akan berkumpul
bersama di Kerajaan-Nya sebagai pewaris surga mulia —NNK. MENJADI BAGIAN DARI
SEBUAH KELUARGA ITU MEMBAHAGIAKAN, TETAPI TIDAK ADA YANG BISA MENGALAHKAN
MENJADI KELUARGA ALLAH. Selamat pagi. Selamat berkarya. Semangat selalu. Tuhan
Yesus memberkati.
Ibu
Caroline – Bandung
Kebimbangan
atau menunda-nunda sesuatu sangat menghambat kita untuk melakukan sesuatu yang
besar padahal korban penebusan Kristus harus diterima dan dirasakan oleh setiap
orang »NN«. Yakobus 1:7-8, “Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia
akan menerima sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan
tenang dalam hidupnya.” Mengapa Tuhan membiarkan kita membuat keputusan atas
masa depan kita sendiri? Sebab Dia adalah Allah yang tidak otoriter, yang
memberikan kehendak bebas pada kita untuk menjadi pembuat keputusan. Jangan
jadi orang Kristen yang plin-plan, suam-suam kuku dan dangkal kita harus punya
komitmen untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan yang membantu kita tumbuh secara
rohani. Percaya pada Kristus seharusnya kita menjadi bagian dari rencanaNya,
jangan kerdilkan pertumbuhan rohani kita, mari gunakan talenta, karunia,
kemampuan, dan pengalaman kita untuk melayani Tuhan dan sesama. Jangan
sia-siakan korban penebusan Kristus, jangan cuma duduk di kursi penonton, kini
saatnya kita jadi pemain untuk berbagi supaya kabar baik dari Kristus Yesus
bisa dinikmati oleh semua orang. Kedewasaan rohani menentukan berkat dari kasih
karunia sebab hanya orang dewasa yang dipercayakan Tuhan untuk melakukan hal
hal yang besar. Selamat pagi.
GNCC
EASTER
atau PASSOVER?? Kata Easter berasal dari kata “Ishtar” dimana Ishtar adalah
perayaan kebangkitan seorang dewa bernama Tamus. Siapakah Tamus? Salah satu
anak Nuh bernama Ham, memiliki seorang anak bernama Cush dan menikah dengan
seorang wanita bernama Semiramis. Cush dan Semiramis memiliki seorang putra
bernama Nimrod (Kejadian 10:8-10). Nimrod dalam bahasa Ibrani berarti
‘pemberontak‘. Nimrod adalah pencipta sistem Babilonia dimana ia menciptakan
tatanan pemerintahan dan hukum dasar perdagangan ekonomi. Nimrod adalah orang
pertama yang memperkenalkan penyembahan setan (satanic worship). Nimrod begitu
bejat sampai ia bersetubuh dengan ibu kandungnya sendiri yaitu Semiramis. Sang
ibu kemudian hamil dan melahirkan anak bernama Tamus. Ketika Nimrod meninggal,
Semiramis mendoktrinasi pengikutnya bahwa Nimrod telah naik ke tahtanya di
matahari dan harus dipuja sebagai Baal yaitu sang dewa matahari. Semiramis
sendiri menyatakan bahwa ia datang di Bumi melalui peristiwa dimana ia turun
dari bulan dan ‘mendarat‘ di sungai Efrat (Irak). Peristiwa ini dinamai Ishtar
Easter. Nimrod yang dipuja sebagai dewa matahari, Semiramis dipuja orang
sebagai dewa bulan, Tamus disembah dengan gelar Queen of Heaven atau Ratu Surga
(Yeremia 7:18 dan Yeremia 44:17-25). Pada Alkitab bahasa Inggris, kata “Paskah”
diterjemahkan sebagai "Passover" bukan "Easter". (Matius
26:17-19). Paskah atau Passover yang kita rayakan adalah perayaan Kebangkitan
Yesus Kristus mengalahkan kematian, sedangkan Easter (atau Ishtar) adalah perayaan
kebangkitan seorang dewa bernama Tamus. Happy Passover. Tuhan memberkati.
Worship
Center Surabaya
Gairah
pemazmur akan firman (yang notabene hidup pada masa Perjanjian Lama) masih
cukup jarang dijumpai di antara anak-anak Tuhan bahkan pada masa kini. Pada
masa itu, firman tertulis yang dapat dibaca & dipelajari hanyalah lima
kitab taurat yang ditulis Musa. Kitab-kitab Perjanjian Lama lainnya seperti
kitab Raja-Raja, Tawarikh atau para nabi belum tuntas dikompilasi sebagai kitab
suci bangsa Yahudi. Meskipun demikian, inilah ungkapan hati yang jujur dari
pemazmur, yang menunjukkan kerinduannya yang besar untuk mengetahui
rahasia-rahasia ilahi & hidup di dalamnya: “Perlihatkanlah kepadaku, ya
TUHAN, petunjuk ketetapan-ketetapan-Mu, aku hendak memegangnya sampai saat terakhir.
Buatlah aku mengerti, maka aku akan memegang Taurat-Mu; aku hendak
memeliharanya dengan segenap hati. Biarlah aku hidup menurut petunjuk
perintah-perintah-Mu, sebab aku menyukainya” ~Mazmur 119:33-35. “Perlihatkan
kepadaku petunjuk-petunjuk ketetapan-Mu...” “Buatlah aku mengerti...” “Biarlah
aku hidup menurut petunjuk-petunjuk peringatan-Mu...” Itulah kerinduannya untuk
mengetahui, memahami & menerima penyingkapan lebih lanjut akan
petunjuk-petunjuk Tuhan. Tanpa pertolongan-Nya, tanpa hikmat-Nya & tanpa Roh-Nya
menerangi hati kita, mustahil kita memperoleh pengenalan kan jalan-jalanNya.
Dan dibutuhkan kerinduan supaya kita menjerit dalam lapar dahaga untuk mengenal
isi hati-Nya. Lalu tidak hanya itu. Memahami petunjuk-petunjuk Tuhan baru
setengah perjalanan. Pemazmur berkata bahwa ia ingin tahu perintah-perintah
Tuhan supaya “dipegangnya hingga saat-saat terakhir”, agar dapat “dipeliharanya
segenap hati”, sebab ia “menyukai semuanya itu”. Ya, bukan untuk dipamerkan
melalui gelar-gelar pendidikan theologia atau unjuk diri sebagai
pribadi-pribadi yang fasih membahas Alkitab. Tapi untuk dipraktekkan, dihidupi
sampai saat terakhir, menjadi suatu kesukaan sepanjang hari-hari yang
dilaluinya. Hari ini, kita yang memiliki sumber-sumber yang hampir tak terbatas
untuk mempelajari firman dengan pertolongan Roh Kudus, adakah kita memiliki
kerinduan & semangat yang sama seperti pemazmur? Salam revival? GBU.

No comments:
Post a Comment