Sunday, 13 March 2016

13 Maret 2016



                                                                                                                                             REAL LIFE






Filipi 3:13-14, 13Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, 14dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Sepanjang kehidupan kita bermacam-macam gangguan dan pencobaan selalu ada: kekhawatiran, kekayaan dll mengancam untuk menghalangi penyerahan kita kepada Tuhan. Yang kita perlukan ialah: Melupakan apa yang telah ‘di belakang‘ (kehidupan kita yang berdosa) & mengarahkan diri untuk: “keselamatan” yang sempurna dalam Kristus serta Panggilan Surgawi yaitu melayani DIA untuk satu tujuan: kemuliaanNya. Amin.

Samuel Sianto-Yestoya Ministry
Maz 84:5 – BERBAHAGIALAH orang-orang yang diam di rumah-MU, yang terus menerus memuji-muji ENGKAU! Mau bahagia? Yukkk ibadah, puji serta agungkan YESUS. Dengar dan lakukan firman-NYA. Selamat ibadah dan melayani! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Worship Center Surabaya
Jika hidup kita benar-benar dipersembahkan sebagai suatu ibadah yang sejati pada Tuhan, itu akan nyata melalui suatu cara hidup yang tidak serupa dengan dunia ini. Kita mengalami perubahan: dimulai dari dalam (pikiran, perasaan & kehendak kita) menuju pada apa yang tampak di luar (perkataan, perbuatan, gaya hidup pilihan-pilihan & keputusan-keputusan kita setiap hari). Itulah suatu penyembahan yang sesungguhnya di hadapan Tuhan, dimana kita, yang terhubung dengan Tuhan secara pribadi merelakan diri dibentuk untuk memiliki karakter-karakter Kristus. Ini jauh lebih berharga dari apapun yang kita lakukan dalam pelayanan-pelayanan gerejawi atau sosial kemasyarakatan jika itu dikerjakan untuk tujuan-tujuan pribadi, sekedar memenuhi tuntutan moral atau demi mengesankan orang semata. Penyembahan kita ialah bagi Tuhan saja. Kita diciptakan dari Dia, oleh karena Dia. Dan kepada Dialah kita memberikan segala kemuliaan. Tanpa harus dituliskan dalam kitab-kitab suci sekalipun, kita berhutang segalanya pada Dia. Saat ketetapan-ketetapanNya diberikan pada kita supaya kita taat, itupun demi keberuntungan & kebahagiaan kita. Kehendak-Nya adalah yang terbaik yang dirancangkan & diinginkan-Nya untuk kita hidupi. Itulah sebabnya, dikatakan dalam Roma 12:2 bahwa kita dipanggil untuk mengetahui kehendak Allah dan hidup di dalamnya. Kita dipanggil untuk hidup dalam prinsip-prinsip firman & meninggalkan gaya hidup duniawi supaya kita BUKAN SAJA dapat MENGETAHUI kehendak Allah (Ef. 5:17) tapi juga MEMBEDAKAN (tingkat-tingkat) kehendak Allah: yang baik, yang berkenan & yang sempurna di hadapan-Nya (Rom. 12:2b). Hidup dalam kehendak Tuhan merupakan ibadah tertinggi. Melakukan apa yang menjadi kerinduan-Nya ialah alasan terbesar & terutama atas keberadaan kita di bumi. Daud mengetahui benar akan itu. Dan demikianlah ia berikan penyembahan terbaiknya: “Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku; aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku” (Maz. 40:8-9). Rindukah ibadah Anda demikian? Salam revival! GBU.

Xavier Quentin Pranata
“Makian yang pedas bikin perut mulas dan wajah panas, sapaan yang ramah buat langkah gagah dan wajah cerah.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Minggu, 13 Maret 2016. Anugerah untuk Beriman. Tetapi jawab Tuhan kepadaku, “Cukuplah anugerah-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu, aku terlebih suka bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku (2 Korintus 12:9). Saya pernah berada dalam situasi dan kondisi yang terasa tidak menentu. Kalau diumpamakan mungkin seperti di tengah badai. Segala sesuatunya terlihat tidak jelas dan serba membingungkan. Di saat seperti itu saya menerima banyak nasihat yang mengarahkan saya untuk “percaya kepada Tuhan”, “tenang saat badai karena ada Dia yang menyertai.” Walau pun saya tahu itu semua nasihat yang baik, tetapi saya merasa tidak berdaya untuk percaya kepada-Nya. Saya berusaha beriman, menguatkan tekad, dan percaya hanya untuk gagal lagi dan lagi.  Kalau Anda pernah mengalami kondisi serupa, Anda pasti tahu rasanya. Tidak peduli betapa keras usaha Anda untuk beriman kepada-Nya, situasi seperti mengombang-ambingkan Anda lagi dan lagi sehingga sulit untuk “berdiri teguh di dalam Dia.” Anda tahu apa yang harus dilakukan, tetapi tidak ada kekuatan untuk melakukannya. Jadi apa yang harus dilakukan pada saat-saat seperti itu? Jawaban saya mungkin terdengar gila, tetapi ini benar. Berserahlah. Berhentilah berusaha beriman atau percaya kepada-Nya. Sebagai gantinya, akuilah ketidakmampuan Anda, berserulah minta anugerah-Nya untuk memampukan Anda percaya kepada-Nya. Biarlah Tuhan turut bekerja dalam kelemahan kita. Itulah hal terbaik yang bisa kita lakukan saat badai menerpa dan kita tidak tahu harus berbuat apa. Kadang-kadang jalan keluar terbaik kita bukanlah berusaha lebih keras, tetapi berhenti berusaha dan membiarkan kasih karunia-Nya menguatkan kita dari dalam —DP. KADANG-KADANG JALAN KELUAR TERBAIK BUKAN BERUSAHA, TETAPI BERSERAH. Selamat pagi. Selamat beribadah. Selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati.

GNCC
Mazmur 100:2-5. (2) BERIBADAHLAH kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! (3) Ketahuilah, bahwa TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya. (4) Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya! (5) Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun. Selamat beribadah. Tuhan Yesus memberkati. #gncc #unitedbyangrace #ibadah

No comments:

Post a Comment