REAL LIFE
Filipi 3:13-14, “13Saudara-saudara,
aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang
kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri
kepada apa yang di hadapanku, 14dan berlari-lari kepada tujuan untuk
memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”
Sepanjang kehidupan kita bermacam-macam gangguan dan pencobaan selalu ada:
kekhawatiran, kekayaan dll mengancam untuk menghalangi penyerahan kita kepada
Tuhan. Yang kita perlukan ialah: Melupakan apa yang telah ‘di belakang‘
(kehidupan kita yang berdosa) & mengarahkan diri untuk: “keselamatan”
yang sempurna dalam Kristus serta Panggilan Surgawi yaitu melayani DIA
untuk satu tujuan: kemuliaanNya. Amin.
Samuel Sianto-Yestoya Ministry
Maz 84:5 – BERBAHAGIALAH orang-orang yang diam
di rumah-MU, yang terus menerus memuji-muji ENGKAU! Mau bahagia? Yukkk ibadah,
puji serta agungkan YESUS. Dengar dan lakukan firman-NYA. Selamat ibadah dan
melayani! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.
Worship Center Surabaya
Jika hidup kita benar-benar dipersembahkan
sebagai suatu ibadah yang sejati pada Tuhan, itu akan nyata melalui suatu cara
hidup yang tidak serupa dengan dunia ini. Kita mengalami perubahan: dimulai
dari dalam (pikiran, perasaan & kehendak kita) menuju pada apa yang tampak
di luar (perkataan, perbuatan, gaya hidup pilihan-pilihan &
keputusan-keputusan kita setiap hari). Itulah suatu penyembahan yang
sesungguhnya di hadapan Tuhan, dimana kita, yang terhubung dengan Tuhan secara
pribadi merelakan diri dibentuk untuk memiliki karakter-karakter Kristus. Ini
jauh lebih berharga dari apapun yang kita lakukan dalam pelayanan-pelayanan
gerejawi atau sosial kemasyarakatan jika itu dikerjakan untuk tujuan-tujuan
pribadi, sekedar memenuhi tuntutan moral atau demi mengesankan orang semata.
Penyembahan kita ialah bagi Tuhan saja. Kita diciptakan dari Dia, oleh karena
Dia. Dan kepada Dialah kita memberikan segala kemuliaan. Tanpa harus dituliskan
dalam kitab-kitab suci sekalipun, kita berhutang segalanya pada Dia. Saat
ketetapan-ketetapanNya diberikan pada kita supaya kita taat, itupun demi
keberuntungan & kebahagiaan kita. Kehendak-Nya adalah yang terbaik yang
dirancangkan & diinginkan-Nya untuk kita hidupi. Itulah sebabnya, dikatakan
dalam Roma 12:2 bahwa kita dipanggil untuk mengetahui kehendak Allah dan hidup
di dalamnya. Kita dipanggil untuk hidup dalam prinsip-prinsip firman &
meninggalkan gaya hidup duniawi supaya kita BUKAN SAJA dapat MENGETAHUI
kehendak Allah (Ef. 5:17) tapi juga MEMBEDAKAN (tingkat-tingkat) kehendak
Allah: yang baik, yang berkenan & yang sempurna di hadapan-Nya (Rom.
12:2b). Hidup dalam kehendak Tuhan merupakan ibadah tertinggi. Melakukan apa
yang menjadi kerinduan-Nya ialah alasan terbesar & terutama atas keberadaan
kita di bumi. Daud mengetahui benar akan itu. Dan demikianlah ia berikan
penyembahan terbaiknya: “Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis
tentang aku; aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam
dadaku” (Maz. 40:8-9). Rindukah ibadah Anda demikian? Salam revival! GBU.
Xavier Quentin Pranata
“Makian yang pedas bikin perut mulas dan wajah
panas, sapaan yang ramah buat langkah gagah dan wajah cerah.” Xavier Quentin
Pranata.
Madam Ossy
SAAT TEDUH. Minggu, 13 Maret 2016. Anugerah
untuk Beriman. Tetapi jawab Tuhan kepadaku, “Cukuplah anugerah-Ku bagimu, sebab
justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu, aku terlebih
suka bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku (2
Korintus 12:9). Saya pernah berada dalam situasi dan kondisi yang terasa tidak
menentu. Kalau diumpamakan mungkin seperti di tengah badai. Segala sesuatunya
terlihat tidak jelas dan serba membingungkan. Di saat seperti itu saya menerima
banyak nasihat yang mengarahkan saya untuk “percaya kepada Tuhan”, “tenang saat
badai karena ada Dia yang menyertai.” Walau pun saya tahu itu semua nasihat
yang baik, tetapi saya merasa tidak berdaya untuk percaya kepada-Nya. Saya
berusaha beriman, menguatkan tekad, dan percaya hanya untuk gagal lagi dan
lagi. Kalau Anda pernah mengalami
kondisi serupa, Anda pasti tahu rasanya. Tidak peduli betapa keras usaha Anda
untuk beriman kepada-Nya, situasi seperti mengombang-ambingkan Anda lagi dan
lagi sehingga sulit untuk “berdiri teguh di dalam Dia.” Anda tahu apa yang
harus dilakukan, tetapi tidak ada kekuatan untuk melakukannya. Jadi apa yang
harus dilakukan pada saat-saat seperti itu? Jawaban saya mungkin terdengar
gila, tetapi ini benar. Berserahlah. Berhentilah berusaha beriman atau percaya
kepada-Nya. Sebagai gantinya, akuilah ketidakmampuan Anda, berserulah minta
anugerah-Nya untuk memampukan Anda percaya kepada-Nya. Biarlah Tuhan turut
bekerja dalam kelemahan kita. Itulah hal terbaik yang bisa kita lakukan saat
badai menerpa dan kita tidak tahu harus berbuat apa. Kadang-kadang jalan keluar
terbaik kita bukanlah berusaha lebih keras, tetapi berhenti berusaha dan
membiarkan kasih karunia-Nya menguatkan kita dari dalam —DP. KADANG-KADANG
JALAN KELUAR TERBAIK BUKAN BERUSAHA, TETAPI BERSERAH. Selamat pagi. Selamat
beribadah. Selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati.
GNCC
Mazmur 100:2-5. (2) BERIBADAHLAH kepada TUHAN
dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! (3) Ketahuilah,
bahwa TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita,
umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya. (4) Masuklah melalui pintu gerbang-Nya
dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah
kepada-Nya dan pujilah nama-Nya! (5) Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya
untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun. Selamat beribadah.
Tuhan Yesus memberkati. #gncc #unitedbyangrace #ibadah
No comments:
Post a Comment