REAL LIFE
1 Petrus 5: 5-7, “5Demikian
jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan
kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: ‘Allah
menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.‘ 6Karena
itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu
ditinggikan-Nya pada waktunya. 7Serahkanlah segala kekuatiranmu
kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” Kerendahan hati harus
menjadi ciri orang percaya. Kerendahan Hati = Tidak Sombong = Sadar akan
kelemahan diri & mengakui peranan Tuhan atas semua keberhasilan yang telah
dicapai. Rasul Petrus menasihati kita supaya rendah hati. Kita akan
dikenal sebagai orang percaya ‘dalam Kristus‘ sewaktu kita bertindak rendah
hati terhadap orang lain. Apakah kita “orang percaya” yang rendah hati??
Xavier Quentin Pranata
“Ketimbang menyesali nasi yang sudah jadi
bubur, bukankah lebih baik mengubahnya jadi bubur ayam, bubur ikan atau bubur
pitan yang menggiurkan?” Xavier Quentin Pranata.
Worship Center Surabaya
Keras hati. Frasa itu mungkin memiliki
konotasi yang kurang baik dari sudut pandang rohani, mengingat bahwa Tuhan
tidak menghendaki kita keras hati terhadap Dia, seperti yang ditunjukkan oleh
Firaun walaupun bangsanya dihajar berbagai rumah yang mengerikan. Keras hati sama
dengan memilih menjadi bebal: tetap tinggal dalam kebodohan & menolak untuk
menerima kebenaran. Setiap orang yang keras hati pada Tuhan akan menanggung
akibatnya, saat Tuhan menunjukkan keadilan penghakiman-Nya (Yes. 65:12;66:4).
Tetapi, bagaimana jika sikap keras hati itu kita arahkan kepada dosa beserta
godaan & bujukannya? Juga kepada pengaruh-pengaruh atau tawaran-tawaran
dari iblis untuk hidup menurut cara dunia ini, yang mengajak kita melupakan
gaya hidup sebagai pengikut Yesus Kristus? Mengeraskan hati terhadap
pengaruh-pengaruh dari penguasa sistem dunia beserta segala iming-imingnya
disebut oleh para rasul sebagai KETEKUNAN atau KESABARAN (Ibr. 12:1; Rom.
5:3-4; Wah. 2:2-3). Itulah yang harus ditambahkan sesudah level penguasaan diri
dalam pertumbuhan iman kita (2 Pet.1:6). Ketekunan merupakan kombinasi dari
daya tahan, sifat tabah, melakukan sesuatu secara terus menerus atau
berulang-ulang, menolak untuk berhenti atau menyerah walaupun menghadapi
keadaan-keadaan yang sukar & berat. Orang-orang yang tekun TAK HANYA
SESEKALI MELANGKAH, TIDAK HANYA BERSEMANGAT PADA AWALNYA SAJA, TAK MELAKUKAN
BERDASARKAN SUASANA HATI atau SEKEDAR MENGIKUTI TREND. Mereka mencari Tuhan
& memperkuat hubungan dengan Tuhan setiap hari, apapun kondisinya. Malah
melalui berbagai-bagai kesulitan, penderitaan & ujian terhadap imanlah
ketekunan dihasilkan (Rom. 5:3-4; 8:25; Yak. 1:2-3; Ibr. 10:32-36). Ketika kita
-oleh kuat & gagah Roh- tetap berpegang pada iman & taat mengerjakan
perintah-perintah Tuhan, tak tergoda mengubah prinsip & pemikiran kita
mengikuti jalan-jalan dunia ini; namun setia & tabah berada walau jalan itu
sempit maka kita takkan lagi goyah hingga akhir untuk menerima upah abadi kita.
Seberapa tekunkah Anda di jalan Tuhan hingga hari ini? Salam revival! GBU.
Samuel Sianto-Yestoya Ministry
Maz 30:3 – TUHAN, ALLAHku, kepada-MU aku
berteriak minta tolong dan ENGKAU telah menyembuhkanku! YESUS bisa sembuhkan
sakit jasmani dan rohani (utang-utang, rumah tangga, keluarga, bangkrut,
pelayanan, dll). Pasti ditolong dan diberkati berlimpah-limpah! Samuel
Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.
Madam Ossy
SAAT TEDUH. Sabtu, 12 Maret 2016. Berada di
Pihak Allah. Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan
kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku
di jalan yang kekal! (Mazmur 139:23-24). Rasul Paulus menulis, ”Jika Allah di
pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Rm. 8:31). Pemazmur menulis,
“Tuhan di pihakku. Aku tidak akan takut” (Mzm. 118:6). Namun, Abraham Lincoln pernah
mengucapkan perkataan yang tampak bertentangan dengan hal itu. Saat itu Amerika
Serikat sedang dilanda perang saudara antara pihak Utara, yang menentang
perbudakan, dan pihak Selatan, yang hendak mempertahankan perbudakan. Salah
seorang penasihat Lincoln berkata bahwa ia bersyukur karena Allah berada di
pihak Utara. Lincoln menjawab, “Tuan, saya tidak khawatir apakah Allah berada
di pihak kita atau tidak. Saya justru khawatir apakah kita berada di pihak
Allah atau tidak.” Apakah Lincoln salah berbicara? Rasanya tidak. Penyertaan
Allah—bahwa Dia ada di pihak kita—adalah satu sisi mata uang. Dengan perkataan
ini, Lincoln mengajak kita mawas diri, merenungkan sisi lainnya. Apakah kita
merespons penyertaan Allah dengan mengikuti jalan-Nya? Apakah rencana kita
sesuai dengan kehendak-Nya? Apakah pikiran dan tindakan kita selaras dengan
kebenaran-Nya? Jangan beranggapan bahwa Allah pasti akan senantiasa mendukung
segala keinginan, rencana, pandangan, atau keputusan kita. Tidak mustahil
rencana kita yang terbaik justru bertentangan dengan kehendak Allah. Marilah
kita meneladani pemazmur yang berdoa, ”Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah
hatiku... lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang
kekal!” (Mzm. 139:23-24) —HPG. YANG PENTING BUKAN HANYA ALLAH DI PIHAK KITA
TETAPI APAKAH KITA JUGA DI PIHAK ALLAH. Selamat pagi. Berdoa, bersyukur dan
hidup menurut FirmanNya. Tuhan Yesus memberkati.
No comments:
Post a Comment