Saturday, 12 March 2016

12 maret 2016



                                                                                                                                             REAL LIFE






1 Petrus 5: 5-7, 5Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: ‘Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.‘ 6Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. 7Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” Kerendahan hati harus menjadi ciri orang percaya. Kerendahan Hati = Tidak Sombong = Sadar akan kelemahan diri & mengakui peranan Tuhan atas semua keberhasilan yang telah dicapai. Rasul Petrus menasihati kita supaya rendah hati. Kita akan dikenal sebagai orang percaya ‘dalam Kristus‘ sewaktu kita bertindak rendah hati terhadap orang lain. Apakah kita “orang percaya” yang rendah hati??

Xavier Quentin Pranata
“Ketimbang menyesali nasi yang sudah jadi bubur, bukankah lebih baik mengubahnya jadi bubur ayam, bubur ikan atau bubur pitan yang menggiurkan?” Xavier Quentin Pranata.

Worship Center Surabaya
Keras hati. Frasa itu mungkin memiliki konotasi yang kurang baik dari sudut pandang rohani, mengingat bahwa Tuhan tidak menghendaki kita keras hati terhadap Dia, seperti yang ditunjukkan oleh Firaun walaupun bangsanya dihajar berbagai rumah yang mengerikan. Keras hati sama dengan memilih menjadi bebal: tetap tinggal dalam kebodohan & menolak untuk menerima kebenaran. Setiap orang yang keras hati pada Tuhan akan menanggung akibatnya, saat Tuhan menunjukkan keadilan penghakiman-Nya (Yes. 65:12;66:4). Tetapi, bagaimana jika sikap keras hati itu kita arahkan kepada dosa beserta godaan & bujukannya? Juga kepada pengaruh-pengaruh atau tawaran-tawaran dari iblis untuk hidup menurut cara dunia ini, yang mengajak kita melupakan gaya hidup sebagai pengikut Yesus Kristus? Mengeraskan hati terhadap pengaruh-pengaruh dari penguasa sistem dunia beserta segala iming-imingnya disebut oleh para rasul sebagai KETEKUNAN atau KESABARAN (Ibr. 12:1; Rom. 5:3-4; Wah. 2:2-3). Itulah yang harus ditambahkan sesudah level penguasaan diri dalam pertumbuhan iman kita (2 Pet.1:6). Ketekunan merupakan kombinasi dari daya tahan, sifat tabah, melakukan sesuatu secara terus menerus atau berulang-ulang, menolak untuk berhenti atau menyerah walaupun menghadapi keadaan-keadaan yang sukar & berat. Orang-orang yang tekun TAK HANYA SESEKALI MELANGKAH, TIDAK HANYA BERSEMANGAT PADA AWALNYA SAJA, TAK MELAKUKAN BERDASARKAN SUASANA HATI atau SEKEDAR MENGIKUTI TREND. Mereka mencari Tuhan & memperkuat hubungan dengan Tuhan setiap hari, apapun kondisinya. Malah melalui berbagai-bagai kesulitan, penderitaan & ujian terhadap imanlah ketekunan dihasilkan (Rom. 5:3-4; 8:25; Yak. 1:2-3; Ibr. 10:32-36). Ketika kita -oleh kuat & gagah Roh- tetap berpegang pada iman & taat mengerjakan perintah-perintah Tuhan, tak tergoda mengubah prinsip & pemikiran kita mengikuti jalan-jalan dunia ini; namun setia & tabah berada walau jalan itu sempit maka kita takkan lagi goyah hingga akhir untuk menerima upah abadi kita. Seberapa tekunkah Anda di jalan Tuhan hingga hari ini? Salam revival! GBU.

Samuel Sianto-Yestoya Ministry
Maz 30:3 – TUHAN, ALLAHku, kepada-MU aku berteriak minta tolong dan ENGKAU telah menyembuhkanku! YESUS bisa sembuhkan sakit jasmani dan rohani (utang-utang, rumah tangga, keluarga, bangkrut, pelayanan, dll). Pasti ditolong dan diberkati berlimpah-limpah! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Sabtu, 12 Maret 2016. Berada di Pihak Allah. Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal! (Mazmur 139:23-24). Rasul Paulus menulis, ”Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Rm. 8:31). Pemazmur menulis, “Tuhan di pihakku. Aku tidak akan takut” (Mzm. 118:6). Namun, Abraham Lincoln pernah mengucapkan perkataan yang tampak bertentangan dengan hal itu. Saat itu Amerika Serikat sedang dilanda perang saudara antara pihak Utara, yang menentang perbudakan, dan pihak Selatan, yang hendak mempertahankan perbudakan. Salah seorang penasihat Lincoln berkata bahwa ia bersyukur karena Allah berada di pihak Utara. Lincoln menjawab, “Tuan, saya tidak khawatir apakah Allah berada di pihak kita atau tidak. Saya justru khawatir apakah kita berada di pihak Allah atau tidak.” Apakah Lincoln salah berbicara? Rasanya tidak. Penyertaan Allah—bahwa Dia ada di pihak kita—adalah satu sisi mata uang. Dengan perkataan ini, Lincoln mengajak kita mawas diri, merenungkan sisi lainnya. Apakah kita merespons penyertaan Allah dengan mengikuti jalan-Nya? Apakah rencana kita sesuai dengan kehendak-Nya? Apakah pikiran dan tindakan kita selaras dengan kebenaran-Nya? Jangan beranggapan bahwa Allah pasti akan senantiasa mendukung segala keinginan, rencana, pandangan, atau keputusan kita. Tidak mustahil rencana kita yang terbaik justru bertentangan dengan kehendak Allah. Marilah kita meneladani pemazmur yang berdoa, ”Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku... lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mzm. 139:23-24) —HPG. YANG PENTING BUKAN HANYA ALLAH DI PIHAK KITA TETAPI APAKAH KITA JUGA DI PIHAK ALLAH. Selamat pagi. Berdoa, bersyukur dan hidup menurut FirmanNya. Tuhan Yesus memberkati.

No comments:

Post a Comment