Saturday, 26 March 2016

26 Maret 2016



                                                                                                                                             REAL LIFE





Markus 4:20, “Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat.” Berbuah adalah fase penting dalam sebuah tanaman. Demikian juga dengan kita, sebagai orang percaya kita sudah bertumbuh sekian lama, kita sudah mengerti Firman sekian puluh tahun, adakah kita sudah “berbuah”? Jika benih Firman Tuhan jatuh ‘di tanah yang subur‘/‘hati yang baik‘, maka kita tidak saja hanya menerima, merenungkan firman tersebut, tetapi pasti kita juga ingin melakukan bahkan kita membagikannya kepada yang lain (berbuah)-4M. Jadi kalau benih itu jatuh di tanah ‘hati‘ yang subur artinya kita siap berbuah lebat :). Apakah kita sudah berbuah lebat? 30 kali lipat, 60 kali lipat, 100 kali lipat??

Xavier Quentin Pranata
“Pekerjaan yang disirami dengan tetesan keringat kesungguhan dan airmata ucapan syukur, pasti berhasil.” Xavier Quentin Pranata.

Worship Center Surabaya
Penguburan Yesus tidak mungkin dilepaskan dari nama Yusuf dari Arimatea. Seorang anggota Majelis Besar Yahudi atau Sanhedrin, ia kaya & terpandang. Terhadap apa yang dilakukan para pemimpin agama & tua-tua bangsa itu terhadap Yesus, ia tidak pernah menyetujuinya. Diam-diam ia telah menjadi simpatisan bahkan murid Yesus namun ia telah menahan diri karena takut pada orang-orang Yahudi (Yoh. 19:38-41) sampai pada hari dimana Yesus mati & tak seorangpun tampaknya mempedulikan jasad-Nya. Di tempat yang dibeli & dipersiapkannya menjadi makamnya sendiri, Yusuf menguburkan Sang Guru. Apa yang dilakukannya akan selalu dikenang dalam Injil sebagai suatu pernyataan keberanian iman dan kasih. Mengenai Yusuf ini, pengajar abad 19 dari Inggris, JC Ryle menyebutkan bahwa perbuatan orang Arimatea itu bukan sesuatu yang biasa-biasa karena setidaknya 3 hal: 1) Ia menghormati Kristus saat murid-murid terdekat Yesus meninggalkan-Nya. Yusuf menunjukkan iman & keberaniannya lebih dari orang-orang terdekat Yesus; 2) Ia menghormati Yesus pada saat-saat paling berbahaya & kritis dimana ia sangat mungkin akan kehilangan banyak hal termasuk reputasi & jabatannya selama ini sebab mendukung seorang yang dianggap penyesat rakyat; 3) Ia menghormati Yesus saat Yesus telah tiada & hanya meninggalkan tubuh tak bernyawa. Suatu keadaan dimana mustahil ia mengharapkan Yesus akan melakukan sesuatu baginya sebagai balasan perbuatannya itu. Apa yang dilakukan Yusuf merupakan kebalikan dari yang Yudas Iskariot lakukan. Yudas melihat & hidup bersama Yesus setiap hari namun mengkhianati Dia. Yusuf mengikuti dari jauh tapi dengan penuh keberanian kini ia tampil & secara terbuka menyatakan diri sebagai murid; menunjukkan kesetiaan di saat-saat terakhir Kristus. Yusuf telah memutuskan mengikut Yesus apapun yang terjadi. Menyisihkan setiap risiko yang mungkin menimpa hidupnya & segala rasa takut pada manusia. Demikianlah seharusnya menjadi pengikut Kristus sejati. Bagaimana dengan Anda? Salam revival! GBU.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Sabtu, 26 Maret 2016. Dewasa dalam Kristus. Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan bahwa kamu manusia duniawi dan hidup secara manusiawi? (1 Korintus 3:3). Seseorang akan dianggap sudah dewasa, ketika menginjak usia tujuh belas tahun. Nah, bagaimana dengan orang yang sudah menjadi Kristen selama tujuh belas tahun? Dapatkah ia langsung dianggap sudah dewasa rohani? Jawabannya: tidak. Kedewasaan rohani seseorang bukan ditentukan dari berapa lama ia sudah menjadi Kristen. Bukan ditentukan dari berapa tinggi jabatannya di gereja. Bukan pula ditentukan dari kesibukannya dalam pelayanan. Banyak hal dapat dijadikan alat ukur kedewasaan rohani, namun bukan hal-hal seperti di atas. Bagaimana alat ukur yang dipakai Rasul Paulus untuk jemaat di Korintus? Rasul Paulus menilai jemaat di Korintus belum dewasa dalam Kristus (ay. 1b). Alasannya, di antara mereka ada iri hati. Ada juga perselisihan antara mereka yang mengaku dari golongan Paulus dan mereka yang mengaku dari golongan Apolos. Hal itu menunjukkan bahwa mereka masih manusia duniawi dan masih hidup secara manusiawi (ay. 3-4). Ternyata, kedewasaan rohani seorang Kristen antara lain ditentukan dari sikapnya dalam menjalani kehidupan dengan sesama. Jika masih ada iri hati dan perselisihan, sebenarnya ia belum dewasa dalam Kristus. Lupakan, berapa lama kita sudah menjadi Kristen. Lupakan, berapa tinggi jabatan kita di gereja. Lupakan juga, kesibukan kita dalam pelayanan. Baiklah kita melihat keadaan kita dengan saksama. Jika ada iri hati dan perselisihan, sesungguhnya kita belum dewasa dalam Kristus. Kita tidak lebih dari seorang anak yang masih harus menerima susu —OKS. APAKAH ANDA DEWASA DALAM KRISTUS? ATAU ‘MERASA’ DEWASA DALAM KRISTUS? Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.


No comments:

Post a Comment