REAL LIFE
Markus
4:20, “Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang
mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali
lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat.”
Berbuah adalah fase penting dalam sebuah tanaman. Demikian juga dengan kita,
sebagai orang percaya kita sudah bertumbuh sekian lama, kita sudah mengerti
Firman sekian puluh tahun, adakah kita sudah “berbuah”? Jika benih Firman Tuhan
jatuh ‘di tanah yang subur‘/‘hati yang baik‘, maka kita tidak saja hanya menerima,
merenungkan firman tersebut, tetapi pasti kita juga ingin melakukan
bahkan kita membagikannya kepada yang lain (berbuah)-4M. Jadi kalau
benih itu jatuh di tanah ‘hati‘ yang subur artinya kita siap berbuah lebat
:). Apakah kita sudah berbuah lebat? 30 kali lipat, 60 kali lipat, 100 kali
lipat??
Xavier
Quentin Pranata
“Pekerjaan
yang disirami dengan tetesan keringat kesungguhan dan airmata ucapan syukur,
pasti berhasil.” Xavier Quentin Pranata.
Worship
Center Surabaya
Penguburan
Yesus tidak mungkin dilepaskan dari nama Yusuf dari Arimatea. Seorang anggota
Majelis Besar Yahudi atau Sanhedrin, ia kaya & terpandang. Terhadap apa
yang dilakukan para pemimpin agama & tua-tua bangsa itu terhadap Yesus, ia
tidak pernah menyetujuinya. Diam-diam ia telah menjadi simpatisan bahkan murid
Yesus namun ia telah menahan diri karena takut pada orang-orang Yahudi (Yoh.
19:38-41) sampai pada hari dimana Yesus mati & tak seorangpun tampaknya mempedulikan
jasad-Nya. Di tempat yang dibeli & dipersiapkannya menjadi makamnya
sendiri, Yusuf menguburkan Sang Guru. Apa yang dilakukannya akan selalu
dikenang dalam Injil sebagai suatu pernyataan keberanian iman dan kasih.
Mengenai Yusuf ini, pengajar abad 19 dari Inggris, JC Ryle menyebutkan bahwa
perbuatan orang Arimatea itu bukan sesuatu yang biasa-biasa karena setidaknya 3
hal: 1) Ia menghormati Kristus saat murid-murid terdekat Yesus
meninggalkan-Nya. Yusuf menunjukkan iman & keberaniannya lebih dari
orang-orang terdekat Yesus; 2) Ia menghormati Yesus pada saat-saat paling
berbahaya & kritis dimana ia sangat mungkin akan kehilangan banyak hal
termasuk reputasi & jabatannya selama ini sebab mendukung seorang yang
dianggap penyesat rakyat; 3) Ia menghormati Yesus saat Yesus telah tiada &
hanya meninggalkan tubuh tak bernyawa. Suatu keadaan dimana mustahil ia
mengharapkan Yesus akan melakukan sesuatu baginya sebagai balasan perbuatannya
itu. Apa yang dilakukan Yusuf merupakan kebalikan dari yang Yudas Iskariot
lakukan. Yudas melihat & hidup bersama Yesus setiap hari namun mengkhianati
Dia. Yusuf mengikuti dari jauh tapi dengan penuh keberanian kini ia tampil
& secara terbuka menyatakan diri sebagai murid; menunjukkan kesetiaan di
saat-saat terakhir Kristus. Yusuf telah memutuskan mengikut Yesus apapun yang
terjadi. Menyisihkan setiap risiko yang mungkin menimpa hidupnya & segala
rasa takut pada manusia. Demikianlah seharusnya menjadi pengikut Kristus
sejati. Bagaimana dengan Anda? Salam revival! GBU.
Madam
Ossy
SAAT
TEDUH. Sabtu, 26 Maret 2016. Dewasa dalam Kristus. Karena kamu masih manusia
duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal
itu menunjukkan bahwa kamu manusia duniawi dan hidup secara manusiawi? (1
Korintus 3:3). Seseorang akan dianggap sudah dewasa, ketika menginjak usia
tujuh belas tahun. Nah, bagaimana dengan orang yang sudah menjadi Kristen
selama tujuh belas tahun? Dapatkah ia langsung dianggap sudah dewasa rohani?
Jawabannya: tidak. Kedewasaan rohani seseorang bukan ditentukan dari berapa
lama ia sudah menjadi Kristen. Bukan ditentukan dari berapa tinggi jabatannya
di gereja. Bukan pula ditentukan dari kesibukannya dalam pelayanan. Banyak hal
dapat dijadikan alat ukur kedewasaan rohani, namun bukan hal-hal seperti di
atas. Bagaimana alat ukur yang dipakai Rasul Paulus untuk jemaat di Korintus?
Rasul Paulus menilai jemaat di Korintus belum dewasa dalam Kristus (ay. 1b).
Alasannya, di antara mereka ada iri hati. Ada juga perselisihan antara mereka
yang mengaku dari golongan Paulus dan mereka yang mengaku dari golongan Apolos.
Hal itu menunjukkan bahwa mereka masih manusia duniawi dan masih hidup secara
manusiawi (ay. 3-4). Ternyata, kedewasaan rohani seorang Kristen antara lain
ditentukan dari sikapnya dalam menjalani kehidupan dengan sesama. Jika masih
ada iri hati dan perselisihan, sebenarnya ia belum dewasa dalam Kristus.
Lupakan, berapa lama kita sudah menjadi Kristen. Lupakan, berapa tinggi jabatan
kita di gereja. Lupakan juga, kesibukan kita dalam pelayanan. Baiklah kita
melihat keadaan kita dengan saksama. Jika ada iri hati dan perselisihan,
sesungguhnya kita belum dewasa dalam Kristus. Kita tidak lebih dari seorang
anak yang masih harus menerima susu —OKS. APAKAH ANDA DEWASA DALAM KRISTUS?
ATAU ‘MERASA’ DEWASA DALAM KRISTUS? Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.

No comments:
Post a Comment