Friday, 4 March 2016

4 Maret 2016


                                                                                                                                               REAL LIFE




Tanah yang Bersemak Duri. Matius 13:7, “Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati.” Ayat 22: “Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.” Baca juga Lukas 8:14. Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. Tipu daya “kekayaan” yang ditawarkan dunia ini menjadi penyebab terhimpitnya Firman Tuhan dalam semak duri kehidupan kita. Manusia sering terhimpit atau tertipu dengan kekhawatiran serta kenikmatan dunia yang sifatnya sementara. Bagaimana caranya agar “semak duri”/”tantangan kehidupan” tidak menjadi penghalang Firman Tuhan untuk bertumbuh & berakar serta berbuah? Jangan cepat percaya dengan tipu daya dunia, jangan mudah goyah dengan tantangan, jangan mudah disuap & jangan mudah terbawa arus dunia. Berjaga-jagalah! Lukas 12:37, “Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka.” Amin.

Xavier Quentin Pranata
“Halau galau kalau ingin hidup kembali berkilau!” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Jumat, 4 Maret 2016. Balas Budi. Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya (Kejadian 40:23). Rekan gereja kami mengalami kesulitan keuangan. Saya mengajak istri membantunya. Saya menambahkan bahwa mereka pernah membantu kami sehingga kami harus menolong mereka. Istri saya menjawab, “Apakah memang kita perlu membantunya hanya karena mereka pernah menolong kita?” Perkataan itu membuat saya merenung tentang arti perbuatan baik dan balas budi. Dalam realitas kehidupan, kita sering berbuat baik karena kita berutang budi atas kebaikan orang lain. Kita membalas budi. Sebaliknya, tidak jarang pula, kita mengharapkan balasan kebaikan atas kebaikan yang pernah kita berikan kepada orang lain. Kita menuntut balas budi dari orang lain yang pernah kita tolong. Yusuf ketika di dalam penjara pernah mengharapkan balas budi dari kepala juru minuman yang sudah ditolongnya (ay. 14). Ia berharap juru minuman raja segera melepaskannya dari penjara. Namun, kenyataannya kebaikan Yusuf baru diingat setelah dua tahun berlalu (Kej. 41:1). Tuhan Yesus sendiri mengajarkan, agar kita tidak menuntut balasan kasih dari orang-orang yang telah kita kasihi (Luk. 6:33). Mungkin kita pernah mengharapkan kebaikan dari orang yang pernah kita tolong sebelumnya. Dan jika orang tersebut tidak kunjung membalas semua kebaikan tersebut, kita menjadi kecewa. Atau sebaliknya, kita menolong orang lain karena orang tersebut pernah menolong kita sebelumnya. Apakah kita masih melakukan kebaikan dengan dasar demikian? Bukankah Allah mengajarkan kita untuk mengasihi tanpa pamrih?—SPP. BALAS BUDI ADALAH PENGATURAN TUHAN. DIA TAHU KAPAN DAN SIAPA YANG AKAN MEMBALAS KEBAIKAN TERSEBUT. Selamat pagi. Tetap semangat. Tuhan Yesus memberkati.

Ibu Caroline – Bandung
God controls the future. Therefore we should never plan without praying (John Maxwell). Tuhan memegang kendali akan masa depan. Maka dari itu jangan pernah kita membuat rencana tanpa berdoa (John Maxwell).


No comments:

Post a Comment