Tuesday, 22 March 2016

22 Maret 2016



                                                                                                                                             REAL LIFE





2 Kor 4:18, “Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” Bagaimana seharusnya kita hidup? Setiap kita pasti ingin Hidup yang Berguna/Hidup yang Berbuah, tidak hanya untuk kehidupan sementara (di dunia) ini saja tetapi “hidup yang membuahkan kekekalan”. Yaitu: IMAN percaya kita kepadaNya. Apakah PERCAYA kita/IMAN kita sudah membuahkan sesuatu untuk yang ‘tidak kelihatan‘/hidup kekal bagi saudara/keluarga/rekan sekerja bahkan bagi sesama kita yang belum percaya?? Kesempatan yang baik untuk mengundang mereka datang dalam Ibadah Jumat Agung & Paskah hadir bersama-sama menikmati berkat-berkat Tuhan yang telah disediakanNya. Amin.

GNCC
Amsal 22:4 – Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan. Have a blessed day. #gncc #unitedbyangrace.

Xavier Quentin Pranata
“Kualitas seorang pemimpin justru terlihat jelas saat ditindas.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Selasa, 22 Maret 2016. Tempat untuk TUHAN. Kata Yesus kepadanya, “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (Matius 19:21). Muda kaya raya, tua bahagia, mati masuk surga. Begitu mungkin keinginan orang muda yang bertemu Yesus dalam bacaan di atas. Hasilnya? Mengejutkan. Orang muda tersebut harus pulang dengan kecewa. Ada beberapa hal yang dapat direnungkan dari kisah di atas. Pemuda itu menyangka perbuatan baik dapat mengantarnya masuk surga (ay. 16). Kita mungkin memaklumi pemahamannya itu karena Yesus belum menunjukkan kebangkitan-Nya. Yesus kemudian memerintahkan agar anak muda itu mematuhi semua perintah Tuhan dan menguraikan apa yang ada dalam hukum Taurat. Dengan bijak Yesus ingin menunjukkan bahwa mematuhi hukum Taurat saja tidak cukup, tetapi diperlukan kepasrahan sepenuhnya kepada Tuhan dengan menjadi orang baru (“jual segala milikmu”, ay. 21). Mendengar penjelasan itu, si pemuda harus pergi dengan sedih sebab banyak hartanya (ay. 22). Orang muda yang kaya ini belum dapat melepaskan kelekatannya terhadap harta dunia. Ia belum dapat menempatkan Tuhan sebagai yang utama mengatasi kekayaannya. Alhasil, Yesus pun berkata bahwa orang kaya sukar masuk Kerajaan Surga (ay. 23). Ia tidak menguasai kekayaannya, melainkan malah dibelenggu oleh kekayaan itu. Tidak ada yang salah jika kita dipercaya memiliki sejumlah besar kekayaan. Masalahnya, apakah kekayaan tersebut mengikat kita sehingga menggantikan posisi Tuhan dalam hidup kita? Sediakan tempat yang utama untuk Tuhan dalam hidup kita, maka kita tidak akan diperhamba oleh hal-hal yang sementara seperti kekayaan —HC. KEKAYAAN YANG FANA BISA JADI MERINTANGI KITA MERAIH KEKAYAAN YANG KEKAL. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.

Worship Center Surabaya
Ada satu nama yang tidak akan pernah dilupakan saat mengenang penyaliban. Anda sudah dapat menduganya. Dia adalah Yudas Iskariot, salah satu dari 12 murid yang mengkhianati Yesus. Mengenai murid-Nya itu, Yesus tegas mengatakan, “Celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan” (Mat. 26:24). Perbuatannya jahat semata-mata. Hidupnya celaka & sia-sia. Bagaimana bisa ada yang berkata Yudas berjasa supaya Juruselamat mati bagi kita? Yudas Iskariot sebenarnya bukan orang luar. Tiga tahun lebih matanya melihat, telinganya mendengar, tangannya menyentuh sang Mesias. Bahkan mulutnya sempat bersaksi akan Dia saat diutus bersama 70 murid pergi melayani jiwa-jiwa. Banyak khotbah, teladan, nasihat, teguran & didikan dari Sang Guru. Sayang sekali, semuanya seolah “tidak mempan” melepaskan Yudas dari jerat dunia ini. Fakta hidup Yudas Iskariot seharusnya memperingatkan kita bahwa: •Bisa jadi kita sudah begitu dekat dengan Yesus & menjadi murid-Nya, namun kita tetap kehilangan Dia; •Mungkin saja kita telah melayani Dia tapi kita tetap tidak mengenal pribadi & jalan-jalanNya; •Keindahan & kemuliaan perkara-perkara sorgawi mungkin telah dinyatakan di depan mata, sayangnya kita membodohi diri dengan tetap memilih yang kurang berharga & fana; •Kita pernah mendengar & mengikuti panggilan-Nya, namun kita membiarkan daya tarik dunia (khususnya kekayaan materi) menipu & menyimpangkan kita dari jalan iman yang menyelamatkan. Mengetahui bagaimana Yudas menjadi binasa seharusnya menyadarkan kita betapa mudahnya kita disesatkan dari pengiringan pada Kristus. Itulah saat hati kita tak lagi mengagumi Yesus melainkan mengejar keuntungan-keuntungan pribadi yang kita peroleh karena jadi murid Yesus. Yesus menyesali kelahiran & kehidupan Yudas. Sama seperti Bapa yang menyesali orang-orang di zaman Nuh. Yang telah diciptakan untuk mengasihi Dia, namun memilih mengasihi yang lain & melupakan Tuhan. Adakah Dia bersukacita atau menyesal atas hidup kita? Salam revival! GBU.

No comments:

Post a Comment