REAL LIFE
2
Kor 4:18, “Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak
kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan
adalah kekal.” Bagaimana seharusnya kita hidup? Setiap kita pasti ingin Hidup
yang Berguna/Hidup yang Berbuah, tidak hanya untuk kehidupan sementara (di
dunia) ini saja tetapi “hidup yang membuahkan kekekalan”. Yaitu: IMAN
percaya kita kepadaNya. Apakah PERCAYA kita/IMAN kita sudah membuahkan sesuatu
untuk yang ‘tidak kelihatan‘/hidup kekal bagi saudara/keluarga/rekan
sekerja bahkan bagi sesama kita yang belum percaya?? Kesempatan yang baik untuk
mengundang mereka datang dalam Ibadah Jumat Agung & Paskah hadir
bersama-sama menikmati berkat-berkat Tuhan yang telah disediakanNya. Amin.
GNCC
Amsal
22:4 – Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan,
kehormatan dan kehidupan. Have a blessed day. #gncc #unitedbyangrace.
Xavier
Quentin Pranata
“Kualitas
seorang pemimpin justru terlihat jelas saat ditindas.” Xavier Quentin Pranata.
Madam
Ossy
SAAT
TEDUH. Selasa, 22 Maret 2016. Tempat untuk TUHAN. Kata Yesus kepadanya,
“Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan
berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di
surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (Matius 19:21). Muda kaya
raya, tua bahagia, mati masuk surga. Begitu mungkin keinginan orang muda yang
bertemu Yesus dalam bacaan di atas. Hasilnya? Mengejutkan. Orang muda tersebut
harus pulang dengan kecewa. Ada beberapa hal yang dapat direnungkan dari kisah
di atas. Pemuda itu menyangka perbuatan baik dapat mengantarnya masuk surga
(ay. 16). Kita mungkin memaklumi pemahamannya itu karena Yesus belum
menunjukkan kebangkitan-Nya. Yesus kemudian memerintahkan agar anak muda itu
mematuhi semua perintah Tuhan dan menguraikan apa yang ada dalam hukum Taurat.
Dengan bijak Yesus ingin menunjukkan bahwa mematuhi hukum Taurat saja tidak
cukup, tetapi diperlukan kepasrahan sepenuhnya kepada Tuhan dengan menjadi
orang baru (“jual segala milikmu”, ay. 21). Mendengar penjelasan itu, si pemuda
harus pergi dengan sedih sebab banyak hartanya (ay. 22). Orang muda yang kaya
ini belum dapat melepaskan kelekatannya terhadap harta dunia. Ia belum dapat
menempatkan Tuhan sebagai yang utama mengatasi kekayaannya. Alhasil, Yesus pun
berkata bahwa orang kaya sukar masuk Kerajaan Surga (ay. 23). Ia tidak
menguasai kekayaannya, melainkan malah dibelenggu oleh kekayaan itu. Tidak ada
yang salah jika kita dipercaya memiliki sejumlah besar kekayaan. Masalahnya,
apakah kekayaan tersebut mengikat kita sehingga menggantikan posisi Tuhan dalam
hidup kita? Sediakan tempat yang utama untuk Tuhan dalam hidup kita, maka kita
tidak akan diperhamba oleh hal-hal yang sementara seperti kekayaan —HC.
KEKAYAAN YANG FANA BISA JADI MERINTANGI KITA MERAIH KEKAYAAN YANG KEKAL.
Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.
Worship
Center Surabaya
Ada
satu nama yang tidak akan pernah dilupakan saat mengenang penyaliban. Anda
sudah dapat menduganya. Dia adalah Yudas Iskariot, salah satu dari 12 murid
yang mengkhianati Yesus. Mengenai murid-Nya itu, Yesus tegas mengatakan,
“Celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik
bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan” (Mat. 26:24). Perbuatannya jahat
semata-mata. Hidupnya celaka & sia-sia. Bagaimana bisa ada yang berkata Yudas
berjasa supaya Juruselamat mati bagi kita? Yudas Iskariot sebenarnya bukan
orang luar. Tiga tahun lebih matanya melihat, telinganya mendengar, tangannya
menyentuh sang Mesias. Bahkan mulutnya sempat bersaksi akan Dia saat diutus
bersama 70 murid pergi melayani jiwa-jiwa. Banyak khotbah, teladan, nasihat,
teguran & didikan dari Sang Guru. Sayang sekali, semuanya seolah “tidak
mempan” melepaskan Yudas dari jerat dunia ini. Fakta hidup Yudas Iskariot
seharusnya memperingatkan kita bahwa: •Bisa jadi kita sudah begitu dekat dengan
Yesus & menjadi murid-Nya, namun kita tetap kehilangan Dia; •Mungkin saja
kita telah melayani Dia tapi kita tetap tidak mengenal pribadi &
jalan-jalanNya; •Keindahan & kemuliaan perkara-perkara sorgawi mungkin
telah dinyatakan di depan mata, sayangnya kita membodohi diri dengan tetap
memilih yang kurang berharga & fana; •Kita pernah mendengar & mengikuti
panggilan-Nya, namun kita membiarkan daya tarik dunia (khususnya kekayaan
materi) menipu & menyimpangkan kita dari jalan iman yang menyelamatkan.
Mengetahui bagaimana Yudas menjadi binasa seharusnya menyadarkan kita betapa
mudahnya kita disesatkan dari pengiringan pada Kristus. Itulah saat hati kita
tak lagi mengagumi Yesus melainkan mengejar keuntungan-keuntungan pribadi yang
kita peroleh karena jadi murid Yesus. Yesus menyesali kelahiran & kehidupan
Yudas. Sama seperti Bapa yang menyesali orang-orang di zaman Nuh. Yang telah
diciptakan untuk mengasihi Dia, namun memilih mengasihi yang lain &
melupakan Tuhan. Adakah Dia bersukacita atau menyesal atas hidup kita? Salam
revival! GBU.
No comments:
Post a Comment