Matius 13:1-8. Tanah HATI seperti apa yang kita sediakan buat taburan Benih Firman Tuhan yang kita terima setiap kali kita membaca, mendegarkan Firman Tuhan?? Seperti:
1. Tanah
dipinggir jalan: Mendegar Firman Tuhan, lalu datanglah iblis
mengambil Fiman itu.
2. Tanah
berbatu-batu: Mendengar Firman, menerima tetapi tidak
berakar, apabila datang penindasan/penganiayaan mereka murtad.
3. Tanah
semak duri: Mendengar Firman, tetapi tetap kuatir, kalah
oleh tipu daya “kekayaan” sehingga tidak berbuah.
4. Tanah
hati yang baik: Mendengar Firman, menyambut firman, sehingga
berbuah. Ada yang 100x lipat, 60x lipat, 30x lipat.
Bagaimana dengan kita? Tanah HATI seperti apa
yang kita sediakan buat Firman Tuhan setiap kali kita membaca & mendengar
FirmanNya??
Xavier Quentin Pranata
“Saat berada di puncak piramida, kita harus
sadar ada banyak batu penyangga di bawah kita.” Xavier Quentin Pranata.
Ibu Caroline – Bandung
Selasa, 1 Maret 2016. Bacaan: Lukas 6:6-11.
Setahun: Ulangan 1-2. Nats: Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Aku bertanya
kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau
berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” (Lukas 6:9).
Memaknai Aturan. Penganut ajaran Sikh diharuskan terus mengenakan sorban di
kepalanya. Namun, Harman Sigh di Selandia Baru rela melepas sorbannya demi
menolong anak kecil yang kecelakaan di depan rumahnya. Ia tak tahan melihat
darah yang bercucuran keluar dari kepala anak itu. Tanpa pikir panjang, ia
melepas sorbannya untuk menahan darah dari kepala anak itu sampai ambulans
datang. Haman berkata, “Yang ada di pikiran saya saat itu adalah bagaimana
menolong anak tersebut. Memang sorban saya sangat penting dan sakral, namun
nyawa anak itu juga lebih penting. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya
saya lakukan. Yakni menolong sesama tanpa pamrih.” Tindakannya itu menuai
banyak pujian di India. Pertanyaan Yesus tentang apa yang boleh dan yang tidak
boleh dilakukan di hari Sabat menunjukkan bahwa Yesus memahami pesan
sesungguhnya di balik perintah tentang hari Sabat. Dia juga dapat membaca
pemikiran para ahli Taurat. Yesus melontarkan perkataan pedas karena para ahli
Taurat ingin menunjukkan kesalehan kepada Allah dengan kesalehan yang mereka
ciptakan sendiri. Mereka berusaha hidup saleh di depan manusia, tetapi mereka
sama sekali tidak memedulikan sesamanya. Bagi Yesus, kepedulian dan menjadi
berkat untuk sesama itu jauh lebih penting untuk dilakukan daripada
aturan-aturan atau tradisi kesalehan agamawi. Bukti ketaatan dan kasih kepada
Allah bukan ditunjukkan dengan seberapa banyak aturan agama yang kita lakukan.
Jika kita tidak mengasihi sesama, sia-sialah semuanyaitu --Samuel Yudi Susanto.
Peraturan agama dimaksudkan untuk mendorong kita berbuat baik dan menjadi
berkat bagi sesama.
Ibu Panca – PKS CL 5
Amin. Kita mau belajar dan menerima
firmanyaNya, baik membaca, mendengarkan sehingga berakar dan bertumbuh bahkan
berbuah karena melakukan, yang rela dibersihkan supaya tanah hati kita siap
ditaburi oleh Firman Tuhan. Amin. Terima kasih. Gbu.
Worship Center Surabaya
“Tidak mempedulikan agama” adalah satu lagi
tipe manusia yang makin banyak muncul diakhir zaman, sebagaimana yang
dituliskan Paulus dalam 2 Timotius 3:2. Sebenarnya orang-orang seperti apakah
yang dimaksudkannya itu? Melihat pada pasal yang sama di ayat 5 &7, ada
sisi lain dimana jumlah orang yang menjalankan ibadah sesungguhnya tidaklah
berkurang di akhir zaman sehingga yang dimaksud bukan golongan ini. Yang
dimaksud -merujuk pada beberapa versi Alkitab- ialah orang-orang yang tidak mau
tahu bahkan merendahkan hal-hal yang dianggap suci atau rohani. Kehidupan yang
saleh & suci tidaklah mereka kenal. Semata-mata fasik & duniawi; jauh
dari pengenalan akan Tuhan; menghinakan hal-hal yang justru berasal dari firman
yang adalah pikiran & isi hati Tuhan. Gereja-gereja di negara-negara Eropa
adalah contoh nyata akan hal ini. Meski dahulu mereka adalah pusat-pusat
kekristenan, kini rumah-rumah ibadah justru beralih menjadi bar-bar &
diskotek-diskotek, sekolah-olah sekuler hingga diubah menjadi rumah ibadah agama
lain. Semuanya karena mereka meninggalkan pencarian akan hal-hal rohani &
fokus pada apa yang duniawi. Keadaan tanpa kerohanian dapat menimpa siapapun.
Termasuk orang-orang Kristen yang mengaku mengikut Kristus. Walaupun rajinnya
ke gereja atau beribadah bukan ukuran sejati kerohanian seseorang, sebagian
orang-orang Kristen hampir-hampir tidak beribadah sama sekali. Status Kristen
hanya agama yang diperlukan melengkapi kolom isian di kartu-kartu identitas
mereka. Hidup mereka sebenarnya jauh & sama sekali tidak mencerminkan
pengikut Kristus & ajaran-ajaranNya. Perbuatan & perkataannya,
prinsip-prinsip & cara mereka memandang hidup sama persis dengan
orang-orang yang tidak mengenal Kristus. Jangankan seminggu sekali datang
beribadah, berhari-hari mereka lewati tanpa memikirkan Tuhan sedikitpun. Hidup
& hati mereka mengikuti jalan dunia yang tiada mengakui Tuhan. Bukan yang
demikian Tuhan inginkan. Hati yang tertuju & bergairah bagi Tuhanlah yang
siap jadi mempelai-Nya. Maukah Anda mempunyai hati demikian & masuk dalam
bilangan saleh-saleh Tuhan akhir zaman -selagi belum terlambat? Salam revival!
GBU.
No comments:
Post a Comment