Tuesday, 1 March 2016

1 Maret 2016


REAL LIFE


 
 Matius 13:1-8. Tanah HATI seperti apa yang kita sediakan buat taburan Benih Firman Tuhan yang kita terima setiap kali kita membaca, mendegarkan Firman Tuhan?? Seperti:
1.      Tanah dipinggir jalan: Mendegar Firman Tuhan, lalu datanglah iblis mengambil Fiman itu.
2.      Tanah berbatu-batu: Mendengar Firman, menerima tetapi tidak berakar, apabila datang penindasan/penganiayaan mereka murtad.
3.      Tanah semak duri: Mendengar Firman, tetapi tetap kuatir, kalah oleh tipu daya “kekayaan” sehingga tidak berbuah.
4.      Tanah hati yang baik: Mendengar Firman, menyambut firman, sehingga berbuah. Ada yang 100x lipat, 60x lipat, 30x lipat.
Bagaimana dengan kita? Tanah HATI seperti apa yang kita sediakan buat Firman Tuhan setiap kali kita membaca & mendengar FirmanNya??

Xavier Quentin Pranata
“Saat berada di puncak piramida, kita harus sadar ada banyak batu penyangga di bawah kita.” Xavier Quentin Pranata.

Ibu Caroline – Bandung
Selasa, 1 Maret 2016. Bacaan: Lukas 6:6-11. Setahun: Ulangan 1-2. Nats: Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” (Lukas 6:9). Memaknai Aturan. Penganut ajaran Sikh diharuskan terus mengenakan sorban di kepalanya. Namun, Harman Sigh di Selandia Baru rela melepas sorbannya demi menolong anak kecil yang kecelakaan di depan rumahnya. Ia tak tahan melihat darah yang bercucuran keluar dari kepala anak itu. Tanpa pikir panjang, ia melepas sorbannya untuk menahan darah dari kepala anak itu sampai ambulans datang. Haman berkata, “Yang ada di pikiran saya saat itu adalah bagaimana menolong anak tersebut. Memang sorban saya sangat penting dan sakral, namun nyawa anak itu juga lebih penting. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Yakni menolong sesama tanpa pamrih.” Tindakannya itu menuai banyak pujian di India. Pertanyaan Yesus tentang apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan di hari Sabat menunjukkan bahwa Yesus memahami pesan sesungguhnya di balik perintah tentang hari Sabat. Dia juga dapat membaca pemikiran para ahli Taurat. Yesus melontarkan perkataan pedas karena para ahli Taurat ingin menunjukkan kesalehan kepada Allah dengan kesalehan yang mereka ciptakan sendiri. Mereka berusaha hidup saleh di depan manusia, tetapi mereka sama sekali tidak memedulikan sesamanya. Bagi Yesus, kepedulian dan menjadi berkat untuk sesama itu jauh lebih penting untuk dilakukan daripada aturan-aturan atau tradisi kesalehan agamawi. Bukti ketaatan dan kasih kepada Allah bukan ditunjukkan dengan seberapa banyak aturan agama yang kita lakukan. Jika kita tidak mengasihi sesama, sia-sialah semuanyaitu --Samuel Yudi Susanto. Peraturan agama dimaksudkan untuk mendorong kita berbuat baik dan menjadi berkat bagi sesama.

Ibu Panca – PKS CL 5
Amin. Kita mau belajar dan menerima firmanyaNya, baik membaca, mendengarkan sehingga berakar dan bertumbuh bahkan berbuah karena melakukan, yang rela dibersihkan supaya tanah hati kita siap ditaburi oleh Firman Tuhan. Amin. Terima kasih. Gbu.

Worship Center Surabaya
“Tidak mempedulikan agama” adalah satu lagi tipe manusia yang makin banyak muncul diakhir zaman, sebagaimana yang dituliskan Paulus dalam 2 Timotius 3:2. Sebenarnya orang-orang seperti apakah yang dimaksudkannya itu? Melihat pada pasal yang sama di ayat 5 &7, ada sisi lain dimana jumlah orang yang menjalankan ibadah sesungguhnya tidaklah berkurang di akhir zaman sehingga yang dimaksud bukan golongan ini. Yang dimaksud -merujuk pada beberapa versi Alkitab- ialah orang-orang yang tidak mau tahu bahkan merendahkan hal-hal yang dianggap suci atau rohani. Kehidupan yang saleh & suci tidaklah mereka kenal. Semata-mata fasik & duniawi; jauh dari pengenalan akan Tuhan; menghinakan hal-hal yang justru berasal dari firman yang adalah pikiran & isi hati Tuhan. Gereja-gereja di negara-negara Eropa adalah contoh nyata akan hal ini. Meski dahulu mereka adalah pusat-pusat kekristenan, kini rumah-rumah ibadah justru beralih menjadi bar-bar & diskotek-diskotek, sekolah-olah sekuler hingga diubah menjadi rumah ibadah agama lain. Semuanya karena mereka meninggalkan pencarian akan hal-hal rohani & fokus pada apa yang duniawi. Keadaan tanpa kerohanian dapat menimpa siapapun. Termasuk orang-orang Kristen yang mengaku mengikut Kristus. Walaupun rajinnya ke gereja atau beribadah bukan ukuran sejati kerohanian seseorang, sebagian orang-orang Kristen hampir-hampir tidak beribadah sama sekali. Status Kristen hanya agama yang diperlukan melengkapi kolom isian di kartu-kartu identitas mereka. Hidup mereka sebenarnya jauh & sama sekali tidak mencerminkan pengikut Kristus & ajaran-ajaranNya. Perbuatan & perkataannya, prinsip-prinsip & cara mereka memandang hidup sama persis dengan orang-orang yang tidak mengenal Kristus. Jangankan seminggu sekali datang beribadah, berhari-hari mereka lewati tanpa memikirkan Tuhan sedikitpun. Hidup & hati mereka mengikuti jalan dunia yang tiada mengakui Tuhan. Bukan yang demikian Tuhan inginkan. Hati yang tertuju & bergairah bagi Tuhanlah yang siap jadi mempelai-Nya. Maukah Anda mempunyai hati demikian & masuk dalam bilangan saleh-saleh Tuhan akhir zaman -selagi belum terlambat? Salam revival! GBU.

No comments:

Post a Comment