REAL LIFE
Pertumbuhan
(2). Ibrani
12:14-16, “14Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan
kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan. 15Jagalah
supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar
jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan
banyak orang. 16Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang
mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk
sepiring makanan.” Kekudusan tidak dapat kita lakukan sendiri, kecuali
Allah sendiri memancarkan kekudusanNya lewat kita. Dimanapun kita berada dalam
perjalanan iman, kita membutuhkan Kasih KaruniaNya. Kita diselamatkan oleh
Kasih Karunia, bertahan dan menang atas tantangan hidup oleh kasih karunia.
Oleh karena kasih karunia pula kita dimampukan hidup kudus. Keajaiban dari
Kasih Karunia yaitu mengubah Kematian menjadi Hidup. Hidup diluar Kasih Karunia
ialah hidup namun mati (kematian rohani = Tidak Bertumbuh).
Xavier
Quentin Pranata
“Pekerjaan
yang disirami dengan tetesan keringat kesungguhan dan airmata ucapan syukur,
pasti berhasil.” Xavier Quentin Pranata.
Madam
Ossy
SAAT
TEDUH. Jumat Agung, 25 Maret 2016. Dewasa Rohani. Tetapi hendaklah kamu ramah
seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni,
sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu (Efesus 4:32).
Mengukur kedewasaan fisik lebih mudah ketimbang mengukur kedewasaan rohani
seseorang. Dari usia, bentuk tubuh, dan caranya berbicara saja mungkin kita
bisa menilai kedewasaan seseorang. Tetapi cara-cara seperti itu tidak berlaku
untuk menilai kedewasaan rohani. Lamanya seseorang menjadi pengikut Tuhan,
kefasihannya dalam berdoa panjang-panjang, kesibukannya dalam mengikuti
kegiatan pelayanan, bahkan kemurahan hatinya dalam memberi bantuan bukanlah
ukuran yang tepat. Mengapa? Bisa jadi ia melakukan semua itu demi mengejar
ambisi pribadi, pujian, atau mengurangi rasa bersalah. Lalu, bagaimana menilai
kedewasaan rohani? Salah satunya: kemampuan mengampuni kesalahan orang lain
dengan tulus. Ketika Anda dan saya diperlakukan tidak adil oleh seseorang,
difitnah, atau diserang dengan perkataan yang menyakitkan hati, apakah kita mau
memaafkannya? Yesus Kristus mengampuni dosa manusia yang memusuhi-Nya. Ketika
kita mengingat betapa hebatnya kasih Kristus ini dan bagaimana Dia mengampuni
segala kesalahan kita, Dia juga memampukan kita mengampuni kesalahan orang
lain. Kristus menunjukkan kedewasaan rohani dalam tindakan-Nya yang tulus,
mengasihi sesama tanpa membeda-bedakan, dan mau mengampuni kesalahan orang.
Sejauh mana kita telah bertumbuh dewasa secara rohani? Apakah kita rindu untuk
menyatakan kasih dan pengampunan Kristus kepada sesama yang bersalah kepada
kita? Dengan mengingat kasih dan pengampunan Kritus, kita dapat belajar untuk
mengampuni orang lain —SYS. KEDEWASAAAN ROHANI ITU BUKAN DARI LAMANYA MENJADI
MURID, MELAINKAN DARI KERELAAN MENGASIHI MENURUT TELADAN-NYA. Selamat pagi.
Peringatan kematian Kristus. Tuhan Yesus memberkati.
Worship
Center Surabaya
Sudah
selesai. It's finished. Tetelestai. Itulah ucapan keenam yang keluar dari mulut
Yesus sewaktu tergantung di salib di antara langit & bumi (Yoh.19:30). Tak
lama sesudah itu, Yesus mengucapkan kalimat terakhirnya & menyerahkan
nyawa-Nya pada Bapa. Hampir semua orang pada waktu itu (bahkan mungkin hingga
kini) memandang Yesus mati sia-sia & memalukan sebab dalam usia yang masih
sangat muda, di puncak karir yang sangat menjanjikan namun berakhir seperti
matinya seorang kriminal. Nyatanya, Yesus menuntaskan pelayanannya dengan puas.
Di mata Bapa yang mengutus-Nya, Dia sukses menuntaskan misi-Nya. Dan betapa
beruntungnya kita sebab Yesus berhasil. Tugas penebusan yang mahaberat secara
manusia telah diemban-Nya hingga saat-saat terakhir. Tanpa cacat cela. Sungguh
mahal & berharga darah Anak Domba yang telah tercurah bagi kita. Yang telah
ditumpahkan supaya kita beroleh hubungan bahkan persekutuan dengan Allah. Tirai
bait suci terbelah dua sebab Imam Besar Agung kita telah memercikkan darah
-darah-Nya sendiri- demi pengampunan & penebusan kita. Sekali untuk
selama-lamanya. Di mata Bapa & para pengikut-Nya (dan pada saatnya nanti di
mata seluruh manusia), Yesus telah berhasil menyelesaikan karya terbesar yang
pernah dilakukan oleh manusia & bagi manusia. Dilahirkan sebagai manusia,
Yesus telah menjalani apa yang telah ditetapkan bagi-Nya. Seluruh hidup-Nya
ialah perwujudan dari tugas yang dikerjakan sempurna bagi Allah. Hidup yang
tidak sia-sia namun berarti, berdampak & tersukses dari yang pernah ada
dinilaiari sudut pandang keabadian. Yesus ialah teladan kita. Meski kita tidak
mungkin menyamai Dia, kita dipanggil meneladani Dia dalam hal kehidupan kita
selama di dunia. Sama seperti Yesus, kita pun mengemban misi dalam keberadaan
kita saat ini. Ada tujuan Allah dalam hidup yang dikaruniakan pada kita.
Akankah di saat-saat terakhir kita di dunia, kita dapat berkata dengan puas
bahwa “sudah selesai” tugas kita seperti teladan Juru Selamat pada Jumat nan Agung
itu? Salam revival! GBU.
No comments:
Post a Comment