Friday, 25 March 2016

25 Maret 2016



                                                                                                                                             REAL LIFE





Pertumbuhan (2). Ibrani 12:14-16, 14Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan. 15Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang. 16Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan.” Kekudusan tidak dapat kita lakukan sendiri, kecuali Allah sendiri memancarkan kekudusanNya lewat kita. Dimanapun kita berada dalam perjalanan iman, kita membutuhkan Kasih KaruniaNya. Kita diselamatkan oleh Kasih Karunia, bertahan dan menang atas tantangan hidup oleh kasih karunia. Oleh karena kasih karunia pula kita dimampukan hidup kudus. Keajaiban dari Kasih Karunia yaitu mengubah Kematian menjadi Hidup. Hidup diluar Kasih Karunia ialah hidup namun mati (kematian rohani = Tidak Bertumbuh).

Xavier Quentin Pranata
“Pekerjaan yang disirami dengan tetesan keringat kesungguhan dan airmata ucapan syukur, pasti berhasil.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Jumat Agung, 25 Maret 2016. Dewasa Rohani. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu (Efesus 4:32). Mengukur kedewasaan fisik lebih mudah ketimbang mengukur kedewasaan rohani seseorang. Dari usia, bentuk tubuh, dan caranya berbicara saja mungkin kita bisa menilai kedewasaan seseorang. Tetapi cara-cara seperti itu tidak berlaku untuk menilai kedewasaan rohani. Lamanya seseorang menjadi pengikut Tuhan, kefasihannya dalam berdoa panjang-panjang, kesibukannya dalam mengikuti kegiatan pelayanan, bahkan kemurahan hatinya dalam memberi bantuan bukanlah ukuran yang tepat. Mengapa? Bisa jadi ia melakukan semua itu demi mengejar ambisi pribadi, pujian, atau mengurangi rasa bersalah. Lalu, bagaimana menilai kedewasaan rohani? Salah satunya: kemampuan mengampuni kesalahan orang lain dengan tulus. Ketika Anda dan saya diperlakukan tidak adil oleh seseorang, difitnah, atau diserang dengan perkataan yang menyakitkan hati, apakah kita mau memaafkannya? Yesus Kristus mengampuni dosa manusia yang memusuhi-Nya. Ketika kita mengingat betapa hebatnya kasih Kristus ini dan bagaimana Dia mengampuni segala kesalahan kita, Dia juga memampukan kita mengampuni kesalahan orang lain. Kristus menunjukkan kedewasaan rohani dalam tindakan-Nya yang tulus, mengasihi sesama tanpa membeda-bedakan, dan mau mengampuni kesalahan orang. Sejauh mana kita telah bertumbuh dewasa secara rohani? Apakah kita rindu untuk menyatakan kasih dan pengampunan Kristus kepada sesama yang bersalah kepada kita? Dengan mengingat kasih dan pengampunan Kritus, kita dapat belajar untuk mengampuni orang lain —SYS. KEDEWASAAAN ROHANI ITU BUKAN DARI LAMANYA MENJADI MURID, MELAINKAN DARI KERELAAN MENGASIHI MENURUT TELADAN-NYA. Selamat pagi. Peringatan kematian Kristus. Tuhan Yesus memberkati.

Worship Center Surabaya
Sudah selesai. It's finished. Tetelestai. Itulah ucapan keenam yang keluar dari mulut Yesus sewaktu tergantung di salib di antara langit & bumi (Yoh.19:30). Tak lama sesudah itu, Yesus mengucapkan kalimat terakhirnya & menyerahkan nyawa-Nya pada Bapa. Hampir semua orang pada waktu itu (bahkan mungkin hingga kini) memandang Yesus mati sia-sia & memalukan sebab dalam usia yang masih sangat muda, di puncak karir yang sangat menjanjikan namun berakhir seperti matinya seorang kriminal. Nyatanya, Yesus menuntaskan pelayanannya dengan puas. Di mata Bapa yang mengutus-Nya, Dia sukses menuntaskan misi-Nya. Dan betapa beruntungnya kita sebab Yesus berhasil. Tugas penebusan yang mahaberat secara manusia telah diemban-Nya hingga saat-saat terakhir. Tanpa cacat cela. Sungguh mahal & berharga darah Anak Domba yang telah tercurah bagi kita. Yang telah ditumpahkan supaya kita beroleh hubungan bahkan persekutuan dengan Allah. Tirai bait suci terbelah dua sebab Imam Besar Agung kita telah memercikkan darah -darah-Nya sendiri- demi pengampunan & penebusan kita. Sekali untuk selama-lamanya. Di mata Bapa & para pengikut-Nya (dan pada saatnya nanti di mata seluruh manusia), Yesus telah berhasil menyelesaikan karya terbesar yang pernah dilakukan oleh manusia & bagi manusia. Dilahirkan sebagai manusia, Yesus telah menjalani apa yang telah ditetapkan bagi-Nya. Seluruh hidup-Nya ialah perwujudan dari tugas yang dikerjakan sempurna bagi Allah. Hidup yang tidak sia-sia namun berarti, berdampak & tersukses dari yang pernah ada dinilaiari sudut pandang keabadian. Yesus ialah teladan kita. Meski kita tidak mungkin menyamai Dia, kita dipanggil meneladani Dia dalam hal kehidupan kita selama di dunia. Sama seperti Yesus, kita pun mengemban misi dalam keberadaan kita saat ini. Ada tujuan Allah dalam hidup yang dikaruniakan pada kita. Akankah di saat-saat terakhir kita di dunia, kita dapat berkata dengan puas bahwa “sudah selesai” tugas kita seperti teladan Juru Selamat pada Jumat nan Agung itu? Salam revival! GBU.

No comments:

Post a Comment