TEMPTATION
Langkah ke 7 agar
kita semakin dekat dengan DIA: Mari Bersaksi. Kis 1:8, “Tetapi kamu
akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi
saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung
bumi.” Kehidupan kita adalah SAKSI
(tidak langsung) bagi orang-orang disekitar kita, tetapi ‘BERSAKSI’/menceritakan
karya Tuhan dalam hidup kita tentang Yesus akan sangat menguatkan orang lain.
Mengapa bersaksi penting? Karena INJIL adalah kuasa yang menyelamatkan. Roma
1:16-17, “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil
adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang percaya, pertama-tama
orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran
Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: ‘Orang
benar akan hidup oleh iman.’” Tanpa berita Injil tidak seorangpun dapat
diselamatkan J. Siapakah yang sudah membawa Saudara mengenal & percaya Injil?
Pasti ada sesorang yang sudah bersaksi sehingga Saudara percaya &
diselamatkan J. Jadi harus ada orang lain/yang bersaksi sehingga seseorang
menjadi percaya & diselamatkan J. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita
bersaksi? J
Respon 1
Rabu, 17 Juni 2015.
Bacaan: Efesus 4:17-32. Setahun: Ayub 9-12. Nats: Apabila kamu menjadi marah,
janganlah kamu berbuat dosa: Janganlah matahari terbenam, sebelum padam
kemarahanmu (Efesus 4:26). MATIKAN BOM WAKTUNYA. Suatu hari saya dan istri
bertengkar karena perkara sepele. Saking sepelenya sampai saya malu untuk menyebutkannya
di sini. Tetapi, rupanya dampak pertengkaran kami tidaklah sepele. Kami sampai
tidak bertegur sapa sepanjang hari. Setelah keadaan membaik, saya pun menengok
ke belakang, ingin tahu kenapa kami bisa bertengkar separah itu. Ternyata
masalahnya ada di pihak saya. Tanpa saya sadari, saya memendam konflik-konflik
kecil yang tidak saya selesaikan. Seiring dengan berjalannya waktu, konflik
kecil makin menumpuk sehingga menjadi bom waktu dalam hubungan kami. Akibatnya,
ketika ada perkara sepele lain yang memicu pertengkaran, bom waktu itu pun
meledak. Dalam hubungan suami istri, perbedaan cara pandang atau
ketidaksepakatan mengenai suatu persoalan adalah hal yang wajar. Hanya
masalahnya, jangan sampai perbedaan yang ada malah menghancurkan hubungan yang
sudah dibangun. Kalau ada hal-hal yang memang harus dibereskan, jangan
dipendam-pendam, karena hal itu seperti menimbun amunisi untuk bom waktu yang
siap meledak. Komunikasikan perbedaan dengan baik, dan cari jalan keluar yang
memperkuat hubungan suami-istri, bukan melemahkannya. Rasul Paulus memang benar
ketika menasihati jemaat Efesus, agar mereka menyelesaikan kemarahan sebelum
matahari tenggelam. Kemarahan yang tidak segera diselesaikan hanya akan merusak
diri sendiri dan orang-orang yang ada di sekitar kita. Jadi, marilah kita
membereskan kemarahan sesegera mungkin--hari ini juga --Denny Pranolo.
KEMARAHAN HARUS DIBERESKAN SESEGERA MUNGKIN, BUKANNYA DITIMBUN SEHINGGA MENJADI
BOM WAKTU. (Ibu Caroline – Bandung)
Respon 2
Kis 1:8 – Tetapi
kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan
menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke
ujung bumi. Mengapa kita harus bersaksi? Karena kita mengasihi TUHAN, DIA yang
terlebih dahulu memilih dan mengasihi kita. Selain itu dengan bersaksi kita
mengalami pertumbuhan rohani, makin tertanam, berakar serta kuat di dalam
TUHAN. Amin. (Ibu Inggita – CL 4)
Respon 3
Yesaya 41:9b-10, ‘...
Aku berkata kepadamu: “Engkau hamba-Ku, Aku telah memilih engkau dan tidak
menolak engkau. Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang,
sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku
akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.”’ (GNCC)
Respon 4
Ams 14:30 – HATI yang
TENANG menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang! Hanya dekat
dengan ALLAH ada KETENANGAN. Pasti SEHAT! Stop iri hati yaa... Sebab bisa
nyebabkan sakit! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.
Respon 5
SAAT TEDUH. Rabu,
17 Juni 2015. Cermin Diri. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari
matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serpihan kayu
itu dari mata saudaramu (Matius 7:5). Apakah Anda masih ingat alat penyerut
pensil zaman dulu? Biasanya bentuknya bulat dan di bagian atasnya ada sebuah
cermin. Pernahkah Anda berpikir, mengapa yang dipasang di situ cermin? Mengapa
tidak pasang penghapus, misalnya, yang lebih berkaitan penggunaannya dengan
pensil? Ada yang berpendapat, hal itu menunjukkan pembuatnya hendak menyatakan:
sebelum kita memperbaiki sesuatu, hendaklah kita memeriksa keadaan diri dulu.
Penafsiran yang menggelitik, ya? Banyak orang mau memperbaiki orang lain dan
merasa orang lain itu salah. Sebaliknya, ia menganggap dirinya pasti sudah
benar. Padahal, benarkah demikian, bahwa kita orang yang selalu benar? Tentu
saja, sebagai manusia, kita masih rentan melakukan kesalahan. Perhatikan sikap
Yesus terhadap hal ini. Suatu saat ada banyak orang yang ingin menghukum
perempuan yang kedapatan berzinah. Mereka bertanya kepada Tuhan Yesus, “Apakah
boleh menghukum perempuan itu dengan merajam dengan batu seperti hukum Musa?”
Yesus menjawab, “Siapa yang tidak pernah berbuat dosa, lemparlah batu pertama
kali kepada perempuan berdosa tersebut!” Siapa kita sehingga berani menghakimi
orang lain? Firman hari ini bukan bermaksud mengajarkan bahwa kalau ada orang
bersalah kita biarkan saja. Firman ini menekankan tentang pentingnya kita
memperbaiki diri sebelum menuding dan mempersalahkan orang lain. Roh Kudus akan
menolong kita untuk menyelaraskan kelakuan dengan kebenaran firman Tuhan,
bukannya sibuk menghakimi orang lain —ANS. SEORANG BIJAK SELALU MEMERIKSA DIRI
DAN MERASA KURANG, SEORANG BODOH SELALU MERASA LEBIH PINTAR. Selamat pagi.
Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Respon 6
Siu Siang aku
kamsia loh tiap hari dikirimi ayat-ayat dan makanan rohani. Itu sangat aku
syukuri supaya aku tahu lebih banyak kebaikan dan kasih Tuhan dan juga supaya
jadi koreksi diri. Thank a lot. JBU. (Ibu Lily – Citraland)
Respon 7
Ketenangan batin.
Lebih daripada semua yang diinginkan manusia, hati kecil setiap orang
merindukan ketenteraman & ketenangan di hati mereka. Ada beragam cara yang
disuguhkan oleh dunia & sistem-sistem yang ada di dalamnya. Mulai dari
menawarkan teknik-teknik meditasi, rekreasional hingga mengikuti kelas-kelas
hipnotis diri. Tak ketinggalan berbagai kepercayaan yang bermacam-macam itu.
Masing-masing menjanjikan semacam 'solusi' bagi batin yang gelisah. Umumnya,
memberikan petunjuk supaya manusia mendekatkan diri dengan Sang Illahi melalui
yoga, mengheningkan cipta, dzikir atau bertapa. Dari ajaran Kristen, doa
disarankan sebagai pengobat jiwa yang resah. Lalu, apakah kunci ketenangan
hidup menurut Yesus? Dalam Matius 11:29, Yesus mengatakan bahwa jiwa kita akan
mendapat ketenangan ketika kita RELA memikul kuk yang Dia pasang & belajar
kepada-Nya. Rela memikul kuk Tuhan berarti bersedia menanggung beban dengan
tidak terpaksa. Belajar pada Yesus berarti merendahkan diri, mau
dengar-dengaran & mau dibimbing langkah demi langkah dalam kehidupan.
Dengan kata lain, menjadi murid Yesus yang taat & rela, tanpa perlawanan.
Mengapa ini mendatangkan ketenangan yang besar? Yesus sendiri mengungkapkannya:
sebab Dia guru yang lemah lembut & rendah hati. Maksudnya, berjalan bersama
Dia setiap waktu akan menjadi saat-saat yang membesarkan hati. Dia penuh kasih
& perhatian pada kita. Walau Dia mendisiplin kita, Dia melakukannya karena
cinta. Dia tidak kasar, sok tahu & menggurui. Kegagalan kita tidak
menggusarkan hati-Nya sebab kelemahlembutan-Nya memberikan kesempatan kesekian
kalinya pada kita. Hidup di dunia yang penuh kabar-kabar yang menggelisahkan
hati memerlukan pembimbing yang sangat menenangkan hati. Dialah Yesus, yang
dengan tangan & hati yang terbuka lebar bagi Anda, rindu menggandeng tangan
Anda melalui liku-liku bahkan badai & setiap gelombang kehidupan. Asalkan
Anda tidak melepaskan pandangan & pegangan tangan Anda daripada-Nya,
ketenangan yang melampaui semua yang dijanjikan dunia pasti memenuhi hati Anda.
Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:
Post a Comment