TEMPTATION
1 Korintus 15:33, “Janganlah
kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” Pada
awalnya kitalah yang membuat kebiasaan tetapi dari kebiasaan
itulah yang akan MEMBENTUK kita J. Oleh karena itu sebagai anak-anak Tuhan biarlah kita mengerti khususnya
dalam pergaulan kita. Pergaulan yang buruk akan merusak “kebiasaan kita
yang baik”! Biarlah pertumbuhan iman kita akan merubah cara bergaul kita dari
kebiasaan yang buruk menjadi kebiasaan yang baik. Pertumbuhan iman yang baik
pasti akan berdampak pula pada pergaulan dan pekerjaan kita. Amin J.
Respon 1
Maz 86:17 –
Lakukanlah kepadaku suatu tanda KEBAIKAN, supaya orang-orang yang membenciku
melihat dengan malu, bahwa ENGKAU, ya TUHAN, telah MENOLONG dan MENGHIBURKANku!
Sip puol! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.
Respon 2
SAAT TEDUH. Senin,
22 Juni 2015. Modal Tekun. Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan
orang rajin menjadikan kaya (Amsal 10:4). Suatu ketika saya berbicara dengan
seorang teman mengenai studi di luar negeri untuk bidang teologia program
strata 2 dan strata 3. Rencananya, beberapa bulan lagi teman saya ini berangkat
ke Belanda mengambil program strata 2. Kami membicarakan kesulitan yang akan
muncul jika mengambil studi di luar negeri. Ternyata jika hendak meneruskan ke
program strata 3, minimal sebelum mengambil program strata 2, kita harus
menguasai bahasa Perancis dan Jerman, selain Inggris. Kita juga harus belajar
beberapa bahasa lain untuk bidang studi tertentu. Begitulah. Memang sulit untuk
memperoleh ilmu; selain harus mempersiapkan biaya dan bekal lainnya, kita harus
belajar dengan tekun. Kalau kita melihat ada orang yang punya pendidikan tinggi
dan jenjang karier yang baik, dapat dipastikan mereka sudah mengurbankan waktu,
pikiran, tenaga, dan biaya untuk mencapainya. Teman saya berkata dengan penuh
semangat, “Memindahkan gunung dengan sendok juga bisa, asalkan kita mau tekun
mengerjakannya.” Saya tersenyum mendengar kiasannya itu. Alkitab, yang ditulis
ribuan tahun silam, mengajarkan bahwa kalau kita rajin, kita akan mendapatkan
kekayaan. Saya percaya, Roh Tuhan di dalam diri kita bukan membangkitkan
kemalasan, melainkan ketekunan. Dia pasti menyertai dan menolong kita. Marilah
kita melatih diri untuk tekun dan rajin dalam segala sesuatu yang kita
kerjakan. Jalan hidup tidak selalu mudah, namun kita tidak akan gampang
menyerah untuk mengupayakan pencapaian yang terbaik —ANS. KEMALASAN
MENDATANGKAN KEMALANGAN, KETEKUNAN MENDATANGKAN KESEJAHTERAAN. Selamat pagi.
Semangat awal minggu. Ayo olahraga. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Respon 3
Dalam kehidupan
kita dihadapkan dengan banyak pilihan. Pilihlah dengan benar dan bijaksana. 2
Petrus 1:10, “Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh,
supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya,
kamu tidak akan pernah tersandung.” (GNCC)
Respon 4
Senin, 22 Juni
2015. Bacaan: Mazmur 90:1-17. Setahun: Ayub 30-33. Nats: Kenyangkanlah kami di
waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita
semasa hari-hari kami (Mazmur 90:14). NIKMATI BERKAT SETIAP PAGI. Manusia
supersibuk, gila kerja--sebutan semacam ini tidak asing lagi di telinga kita.
Bagi orang seperti itu, nyaris tidak ada waktu yang tersisa sedikit pun untuk
beristirahat. Tidak ada waktu untuk keluarga. Mereka rela bangun pagi-pagi buta
dan pulang larut malam demi mengejar karier dan uang. Hidup mereka cuma untuk
bekerja, bekerja, dan bekerja seakan-akan esok tidak ada uang yang beredar
lagi. Ada juga orang yang dicekoki dengan pikiran bahwa karier dan uang
melimpah adalah satu-satunya kesuksesan. Ya--walaupun kesuksesan itu kemudian
dibayar dengan depresi, kegelisahan, keletihan yang luar biasa, dan kehilangan
peluang untuk menikmati hidup. Pemazmur menyadari benar betapa terbatas
hari-harinya hidup di bumi ini. Karena itu, ia meminta kepada Allah untuk
mengajarinya menghitung hari dengan bijaksana (ay. 12). Bijaksana saat ia
menjalani hidupnya untuk bersyukur dan menikmati segala hal yang Allah berikan
kepadanya. Sebab itu ia berdoa, “Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih
setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami.”
Bagi sebagian orang, mengisi setiap hari dengan sibuk bekerja adalah cara
menikmati hidup. Tetapi, apakah hal itu benar-benar memberikan kenikmatan
sejati? Bukankah hal itu justru membuat kita letih dan tertekan? Kita butuh
berhenti sejenak dan merenungkan betapa hebat kasih setia Tuhan dalam hidup
kita. Menikmati kasih setia Tuhan setiap pagi membangkitkan sukacita dan
kekuatan baru dalam hidup kita --Samuel Yudi. MENIKMATI KEHADIRAN TUHAN DAN
BERKAT-NYA SETIAP PAGI MENDATANGKAN SUKACITA DALAM MENJALANI HARI-HARI KITA.
(Madam Ossy)
Respon 5
Ada dua hal yang
tampaknya sepele namun membawa akibat fatal. Itu disebutkan dalam Amsal 1:32.
Jika kita melakukannya, menurut nats tersebut, kita akan 'terbunuh' atau
'binasa'. Kedua hal itu disebutkan dalam Alkitab Terjemahan Baru sebagai
'keengganan' & 'kelalaian' yang dalam bahasa aslinya mengandung arti
'ketidakpedulian atau ketidakacuhan' & 'kenyamanan hidup'. Ketidakpedulian
terhadap apa? Terhadap petunjuk & nasihat firman. Lalu, mengapa kenyamanan
hidup dapat berakibat kebinasaan? Karena membuat orang tidak lagi mencari tahu
kebenaran sejati & puas dengan taraf pengenalan akan Tuhan yang dimilikinya
dalam hidupnya. Dua hal inilah yang terus coba dimasukkan iblis dalam pikiran
manusia dengan tujuan supaya manusia terhalang dari kebenaran & hidup dalam
keadaan-keadaan yang sama sepanjang hidupnya hingga saat terakhir mereka tetap
menjadi orang-orang yang terhilang jiwanya. Di antara orang-orang percaya pun
tidak jauh berbeda. Bagi penguasa-penguasa kegelapan, tidak masalah orang-orang
Kristen datang ke gereja, beribadah secara teratur atau bahkan melayani Tuhan
dengan penuh semangat. Asalkan...mereka tidak cukup peduli untuk menjadi
pelaku-pelaku firman -cukup mendengar, terhibur, terharu, bergetar-getar
hatinya (seperti Herodes saat mendengar Yohanes Pembaptis berkhotbah) atau
terasa lega sedikit di hatinya. Bagi si jahat, tidak mengapa meski orang-orang
percaya bertahun-tahun datang beribadah ke gereja, bertambah-tambah dalam
pengetahuan rohani melalui pendalaman Alkitab atau KKR & seminar-seminar,
asalkan rohani mereka tidak bertumbuh & menjadi manusia-manusia rohani yang
perkasa, yang hidup dalam sepenuh kehendak & rencana terbaik Tuhan di hidup
mereka. Salomo yang puas & sombong dengan hikmat yang dimilikinya sehingga
tiada mencari Tuhan lebih lagi, menjerit dalam sesal: “Sia-sia, segala sesuatu
sia-sia!” Demikianlah pula hidup setiap orang yang tiada rindu lebih lagi
berjalan lebih jauh bersama Tuhan. Jangan biarkan itu terjadi. Katakan
pada-Nya, “Lebih lagi. Lebih dalam lagi kurindu mengenal-Mu, ya Tuhan.” Salam
revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:
Post a Comment