Monday, 22 June 2015

22 Juni 2015

TEMPTATION



1 Korintus 15:33, “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” Pada awalnya kitalah yang membuat kebiasaan tetapi dari kebiasaan itulah yang akan MEMBENTUK kita J. Oleh karena itu sebagai anak-anak Tuhan biarlah kita mengerti khususnya dalam pergaulan kita. Pergaulan yang buruk akan merusak “kebiasaan kita yang baik”! Biarlah pertumbuhan iman kita akan merubah cara bergaul kita dari kebiasaan yang buruk menjadi kebiasaan yang baik. Pertumbuhan iman yang baik pasti akan berdampak pula pada pergaulan dan pekerjaan kita. Amin J.

Respon 1
Maz 86:17 – Lakukanlah kepadaku suatu tanda KEBAIKAN, supaya orang-orang yang membenciku melihat dengan malu, bahwa ENGKAU, ya TUHAN, telah MENOLONG dan MENGHIBURKANku! Sip puol! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.

Respon 2
SAAT TEDUH. Senin, 22 Juni 2015. Modal Tekun. Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya (Amsal 10:4). Suatu ketika saya berbicara dengan seorang teman mengenai studi di luar negeri untuk bidang teologia program strata 2 dan strata 3. Rencananya, beberapa bulan lagi teman saya ini berangkat ke Belanda mengambil program strata 2. Kami membicarakan kesulitan yang akan muncul jika mengambil studi di luar negeri. Ternyata jika hendak meneruskan ke program strata 3, minimal sebelum mengambil program strata 2, kita harus menguasai bahasa Perancis dan Jerman, selain Inggris. Kita juga harus belajar beberapa bahasa lain untuk bidang studi tertentu. Begitulah. Memang sulit untuk memperoleh ilmu; selain harus mempersiapkan biaya dan bekal lainnya, kita harus belajar dengan tekun. Kalau kita melihat ada orang yang punya pendidikan tinggi dan jenjang karier yang baik, dapat dipastikan mereka sudah mengurbankan waktu, pikiran, tenaga, dan biaya untuk mencapainya. Teman saya berkata dengan penuh semangat, “Memindahkan gunung dengan sendok juga bisa, asalkan kita mau tekun mengerjakannya.” Saya tersenyum mendengar kiasannya itu. Alkitab, yang ditulis ribuan tahun silam, mengajarkan bahwa kalau kita rajin, kita akan mendapatkan kekayaan. Saya percaya, Roh Tuhan di dalam diri kita bukan membangkitkan kemalasan, melainkan ketekunan. Dia pasti menyertai dan menolong kita. Marilah kita melatih diri untuk tekun dan rajin dalam segala sesuatu yang kita kerjakan. Jalan hidup tidak selalu mudah, namun kita tidak akan gampang menyerah untuk mengupayakan pencapaian yang terbaik —ANS. KEMALASAN MENDATANGKAN KEMALANGAN, KETEKUNAN MENDATANGKAN KESEJAHTERAAN. Selamat pagi. Semangat awal minggu. Ayo olahraga. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 3
Dalam kehidupan kita dihadapkan dengan banyak pilihan. Pilihlah dengan benar dan bijaksana. 2 Petrus 1:10, “Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.” (GNCC)

Respon 4
Senin, 22 Juni 2015. Bacaan: Mazmur 90:1-17. Setahun: Ayub 30-33. Nats: Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami (Mazmur 90:14). NIKMATI BERKAT SETIAP PAGI. Manusia supersibuk, gila kerja--sebutan semacam ini tidak asing lagi di telinga kita. Bagi orang seperti itu, nyaris tidak ada waktu yang tersisa sedikit pun untuk beristirahat. Tidak ada waktu untuk keluarga. Mereka rela bangun pagi-pagi buta dan pulang larut malam demi mengejar karier dan uang. Hidup mereka cuma untuk bekerja, bekerja, dan bekerja seakan-akan esok tidak ada uang yang beredar lagi. Ada juga orang yang dicekoki dengan pikiran bahwa karier dan uang melimpah adalah satu-satunya kesuksesan. Ya--walaupun kesuksesan itu kemudian dibayar dengan depresi, kegelisahan, keletihan yang luar biasa, dan kehilangan peluang untuk menikmati hidup. Pemazmur menyadari benar betapa terbatas hari-harinya hidup di bumi ini. Karena itu, ia meminta kepada Allah untuk mengajarinya menghitung hari dengan bijaksana (ay. 12). Bijaksana saat ia menjalani hidupnya untuk bersyukur dan menikmati segala hal yang Allah berikan kepadanya. Sebab itu ia berdoa, “Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami.” Bagi sebagian orang, mengisi setiap hari dengan sibuk bekerja adalah cara menikmati hidup. Tetapi, apakah hal itu benar-benar memberikan kenikmatan sejati? Bukankah hal itu justru membuat kita letih dan tertekan? Kita butuh berhenti sejenak dan merenungkan betapa hebat kasih setia Tuhan dalam hidup kita. Menikmati kasih setia Tuhan setiap pagi membangkitkan sukacita dan kekuatan baru dalam hidup kita --Samuel Yudi. MENIKMATI KEHADIRAN TUHAN DAN BERKAT-NYA SETIAP PAGI MENDATANGKAN SUKACITA DALAM MENJALANI HARI-HARI KITA. (Madam Ossy)



Respon 5
Ada dua hal yang tampaknya sepele namun membawa akibat fatal. Itu disebutkan dalam Amsal 1:32. Jika kita melakukannya, menurut nats tersebut, kita akan 'terbunuh' atau 'binasa'. Kedua hal itu disebutkan dalam Alkitab Terjemahan Baru sebagai 'keengganan' & 'kelalaian' yang dalam bahasa aslinya mengandung arti 'ketidakpedulian atau ketidakacuhan' & 'kenyamanan hidup'. Ketidakpedulian terhadap apa? Terhadap petunjuk & nasihat firman. Lalu, mengapa kenyamanan hidup dapat berakibat kebinasaan? Karena membuat orang tidak lagi mencari tahu kebenaran sejati & puas dengan taraf pengenalan akan Tuhan yang dimilikinya dalam hidupnya. Dua hal inilah yang terus coba dimasukkan iblis dalam pikiran manusia dengan tujuan supaya manusia terhalang dari kebenaran & hidup dalam keadaan-keadaan yang sama sepanjang hidupnya hingga saat terakhir mereka tetap menjadi orang-orang yang terhilang jiwanya. Di antara orang-orang percaya pun tidak jauh berbeda. Bagi penguasa-penguasa kegelapan, tidak masalah orang-orang Kristen datang ke gereja, beribadah secara teratur atau bahkan melayani Tuhan dengan penuh semangat. Asalkan...mereka tidak cukup peduli untuk menjadi pelaku-pelaku firman -cukup mendengar, terhibur, terharu, bergetar-getar hatinya (seperti Herodes saat mendengar Yohanes Pembaptis berkhotbah) atau terasa lega sedikit di hatinya. Bagi si jahat, tidak mengapa meski orang-orang percaya bertahun-tahun datang beribadah ke gereja, bertambah-tambah dalam pengetahuan rohani melalui pendalaman Alkitab atau KKR & seminar-seminar, asalkan rohani mereka tidak bertumbuh & menjadi manusia-manusia rohani yang perkasa, yang hidup dalam sepenuh kehendak & rencana terbaik Tuhan di hidup mereka. Salomo yang puas & sombong dengan hikmat yang dimilikinya sehingga tiada mencari Tuhan lebih lagi, menjerit dalam sesal: “Sia-sia, segala sesuatu sia-sia!” Demikianlah pula hidup setiap orang yang tiada rindu lebih lagi berjalan lebih jauh bersama Tuhan. Jangan biarkan itu terjadi. Katakan pada-Nya, “Lebih lagi. Lebih dalam lagi kurindu mengenal-Mu, ya Tuhan.” Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)



No comments:

Post a Comment