Friday, 26 June 2015

26 Juni 2015

TEMPTATION



Pertumbuhan Iman Membuat Kita Mudah Mengampuni. Efesus 4:31-32, “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Kebencian/kemarahan/geram membuat kita tinggal dalam tingkatan yang sama dengan orang yang menyakiti kita (Booker T) J. Mengapa kita harus mengampuni? Alasan yang paling kuat adalah karena dosa-dosa kitapun telah diampuni ‘sebagaimana Allah didalam Kristus telah mengampuni kamu’ (Efesus 4:32). Orang yang lemah tidak dapat mengampuni, mengampuni adalah ciri orang yang KUAT (Mahatma Gandhi). Makin kita menyadari betapa besar kita telah ‘diampuni oleh Allah’, makin mudah bagi kita untuk ‘mengampuni orang lain’. Amin. Mengampuni adalah perbuatan terpuji. Amsal 19:11, “Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran.” Sudahkah kita mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita sebagaimana Kristus sudah mengampuni kita? J Amin.

Respon 1
Filipi 4:8. Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, PIKIRKANLAH SEMUANYA ITU. (GNCC)



Respon 2
Pagi bahagia... J. Pagi penuh senyum ceria dengan rasa syukur dan berkat. SELEMBAR KERTAS. Akte kelahiran adalah kertas. Kartu imunisasi kertas. Piagam kelulusan, kertas. Ijazah, juga kertas. Semuanya hanya berupa kertas!! Kehidupan kita layaknya kertas-kertas. Seiring waktu berlalu, dirobek, kemudian dibuang. Dunia itu semuanya terdiri dr kertas-kertas. Berapa banyak orang bersedih karena “kertas-kertas” yang dimilikinya. Dan berapa banyak orang begitu bahagia dengan “kertas-kertas” yang dimilikinya. Tetapi, ada satu lembar kertas yang tidak mungkin dilihat manusia selamanya, yaitu: SURAT KEMATIAN. Maka persiapkanlah untuk menghadapi kematian karena itu adalah KERTAS terpenting. 2 hal yang tidak akan selamanya ada dalam diri seseorang: “masa mudanya dan kekuatannya.” Dan 2 hal yang berguna untuk setiap orang: “hati yang mulia dan hati yang lapang.” Dan 2 hal pula yang akan mengangkat derajat seseorang: “sikap rendah hati & menolong kesulitan orang lain.” Dan 2 hal pula yang menjadi penolak bala: “amal & sosialisasi.” Ada 3 fase hidup yang tampak: (1) Masa puber: kita punya waktu dan kekuatan, tetapi tidak punya uang. (2) Masa bekerja: kita punya uang dan kekuatan, tetapi tidak punya waktu. (3) Masa tua: kita punya uang dan punya waktu, tetapi tidak punya kekuatan. Inilah kehidupan, ketika kita mendapat sebuah karunia. Maka akan hilang karunia lainnya. Kita selalu yakin bahwa kehidupan orang lain, selalu lebih baik dari kehidupan kita. Dan orang lainpun meyakini, bahwa kehidupan kita lebih baik darinya. Hal itu dikarenakan kita melupakan hal terpenting dalam hidup kita, yaitu bersikap mensyukuri apa yang kita miliki. God bless you. (Bp. Sutikno – PT. MDU)


Respon 3
1 Sam 18:14 – Daud BERHASIL di segala perjalanannya, sebab TUHAN menyertai DIA! Pastikan YESUS ada bersama kita maka kita PASTI BERHASIL. Yes. Ok. Pasti! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.

Respon 4
SAAT TEDUH. Jumat, 26 Juni 2015. Matikan Bom Waktunya. Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: Janganlah matahari terbenam, sebelum padam kemarahanmu (Efesus 4:26). Suatu hari saya dan istri bertengkar karena perkara sepele. Saking sepelenya sampai saya malu untuk menyebutkannya di sini. Tetapi, rupanya dampak pertengkaran kami tidaklah sepele. Kami sampai tidak bertegur sapa sepanjang hari. Setelah keadaan membaik, saya pun menengok ke belakang, ingin tahu kenapa kami bisa bertengkar separah itu. Ternyata masalahnya ada di pihak saya. Tanpa saya sadari, saya memendam konflik-konflik kecil yang tidak saya selesaikan. Seiring dengan berjalannya waktu, konflik kecil makin menumpuk sehingga menjadi bom waktu dalam hubungan kami. Akibatnya, ketika ada perkara sepele lain yang memicu pertengkaran, bom waktu itu pun meledak. Dalam hubungan suami istri, perbedaan cara pandang atau ketidaksepakatan mengenai suatu persoalan adalah hal yang wajar. Hanya masalahnya, jangan sampai perbedaan yang ada malah menghancurkan hubungan yang sudah dibangun. Kalau ada hal-hal yang memang harus dibereskan, jangan dipendam-pendam, karena hal itu seperti menimbun amunisi untuk bom waktu yang siap meledak. Komunikasikan perbedaan dengan baik, dan cari jalan keluar yang memperkuat hubungan suami-istri, bukan melemahkannya. Rasul Paulus memang benar ketika menasihati jemaat Efesus, agar mereka menyelesaikan kemarahan sebelum matahari tenggelam. Kemarahan yang tidak segera diselesaikan hanya akan merusak diri sendiri dan orang-orang yang ada di sekitar kita. Jadi, marilah kita membereskan kemarahan sesegera mungkin—hari ini juga —DP. KEMARAHAN HARUS DIBERESKAN SESEGERA MUNGKIN, BUKANNYA DITIMBUN SEHINGGA MENJADI BOM WAKTU. Morning all... Sudah Jumat lagi ya... Semangat terus. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 5
Meski dikatakan oleh Pengkhotbah bahwa tidak ada yang baru di bawah matahari, kuasa-kuasa kegelapan yang mengendalikan dunia selalu berusaha menampilkan berbagai atraksi yang tampak segar beserta segala sensasi yang seolah-olah lebih kuat lagi. Ini tak terkecuali beragam cara & gaya hidup, khususnya di kota-kota besar, yang banyak bercirikan kesenangan, kemudahan, kemewahan & berfokus pada materi. Jangankan nilai-nilai firman Tuhan, nilai-nilai budaya & filosofi yang baik dari nenek moyang pun sudah mulai dilupakan. Dalam Yeremia 6:16, melalui sang nabi Tuhan menegur umat-Nya supaya “menanyakan jalan-jalan yang dahulu kala, jalan-jalan yang baik itu & menempuhnya.” Meski terdengar seperti saran untuk mempelajari ajaran leluhur namun pesan ini ditujukan pada orang-orang Yahudi. Artinya, mereka seharusnya melihat pada cara hidup, prinsip-prinsip, & teladan hidup para leluhur mereka -yang tidak lain ialah para kekasih Tuhan. Itulah jalan-jalan yang mungkin dipandang kuno namun yang dikenan oleh Tuhan. Jalan-jalan itu yang dilalui oleh Nuh, Abraham, Ishak & Yakub. Yang dijalani oleh Musa, Yosua & para hakim. Yang diikuti oleh Samuel, Daud, Salomo & raja-raja & nabi-nabi setelahnya yang hidup seturut hati Tuhan. Jalan-jalan apakah itu? Itu adalah jalan-jalan pergaulan, keintiman & persahabatan dengan Tuhan dimana mereka memilih berjalan bersama Tuhan daripada menuruti hawa nafsu dunia ini. Di jalan itu, kekasih-kekasih Tuhan ini beroleh pengertian akan kehendak, perintah, ketetapan, taurat, arahan & petunjuk Tuhan, yang mereka renungkan siang & malam, dimana hati mereka menjadi cinta akan semuanya itu sehingga tidak menginginkan yang lain daripada menyenangkan hati Tuhan & bersekutu dengannya (Maz. 1:2-3; 119:1-2; 27:4; 84:2,3,5,10). Itu juga merupakan jalan-jalan hikmat yang memberikan petunjuk bagaimana melangkah dalam hidup sehari-hari (Ams. 1:20-23; Ams. 4:11-19). Mari kita berhenti mempelajari jalan-jalan dunia yang gelap ini. Pelajari & jalani jalan-jalan yang (dipandang) kuno namun suci itu. Hati Tuhan akan penuh kesenangan. Andapun beroleh ketenangan (Yer. 6:16c). Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

Respon 6
“Pernikahan yang awet adalah saat suami-isteri berusaha untuk tetap lengket walaupun sikon ruwet.” Xavier Quentin Pranata.

No comments:

Post a Comment