TEMPTATION
Pertumbuhan Iman
Membuat Kita Mudah Mengampuni. Efesus 4:31-32, “Segala kepahitan,
kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu,
demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap
yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam
Kristus telah mengampuni kamu.” Kebencian/kemarahan/geram membuat kita
tinggal dalam tingkatan yang sama dengan orang yang menyakiti kita (Booker T) J. Mengapa kita
harus mengampuni? Alasan yang paling kuat adalah karena dosa-dosa kitapun telah
diampuni ‘sebagaimana Allah didalam Kristus telah mengampuni kamu’
(Efesus 4:32). Orang yang lemah tidak dapat mengampuni, mengampuni adalah ciri
orang yang KUAT (Mahatma Gandhi). Makin kita menyadari betapa besar kita telah ‘diampuni
oleh Allah’, makin mudah bagi kita untuk ‘mengampuni orang lain’. Amin.
Mengampuni adalah perbuatan terpuji. Amsal 19:11, “Akal budi membuat
seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran.”
Sudahkah kita mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita sebagaimana
Kristus sudah mengampuni kita? J Amin.
Respon 1
Filipi 4:8. Jadi
akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil,
semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang
disebut kebajikan dan patut dipuji, PIKIRKANLAH SEMUANYA ITU. (GNCC)
Respon 2
Pagi bahagia... J. Pagi penuh senyum
ceria dengan rasa syukur dan berkat. SELEMBAR KERTAS. Akte kelahiran adalah
kertas. Kartu imunisasi kertas. Piagam kelulusan, kertas. Ijazah, juga kertas.
Semuanya hanya berupa kertas!! Kehidupan kita layaknya kertas-kertas. Seiring
waktu berlalu, dirobek, kemudian dibuang. Dunia itu semuanya terdiri dr kertas-kertas.
Berapa banyak orang bersedih karena “kertas-kertas” yang dimilikinya. Dan
berapa banyak orang begitu bahagia dengan “kertas-kertas” yang dimilikinya.
Tetapi, ada satu lembar kertas yang tidak mungkin dilihat manusia selamanya,
yaitu: SURAT KEMATIAN. Maka persiapkanlah untuk menghadapi kematian karena itu
adalah KERTAS terpenting. 2 hal yang tidak akan selamanya ada dalam diri
seseorang: “masa mudanya dan kekuatannya.” Dan 2 hal yang berguna untuk setiap
orang: “hati yang mulia dan hati yang lapang.” Dan 2 hal pula yang akan
mengangkat derajat seseorang: “sikap rendah hati & menolong kesulitan orang
lain.” Dan 2 hal pula yang menjadi penolak bala: “amal & sosialisasi.” Ada
3 fase hidup yang tampak: (1) Masa puber: kita punya waktu dan kekuatan, tetapi
tidak punya uang. (2) Masa bekerja: kita punya uang dan kekuatan, tetapi tidak
punya waktu. (3) Masa tua: kita punya uang dan punya waktu, tetapi tidak punya
kekuatan. Inilah kehidupan, ketika kita mendapat sebuah karunia. Maka akan
hilang karunia lainnya. Kita selalu yakin bahwa kehidupan orang lain, selalu
lebih baik dari kehidupan kita. Dan orang lainpun meyakini, bahwa kehidupan
kita lebih baik darinya. Hal itu dikarenakan kita melupakan hal terpenting
dalam hidup kita, yaitu bersikap mensyukuri apa yang kita miliki. God bless
you. (Bp. Sutikno – PT. MDU)
Respon 3
1 Sam 18:14 – Daud
BERHASIL di segala perjalanannya, sebab TUHAN menyertai DIA! Pastikan YESUS ada
bersama kita maka kita PASTI BERHASIL. Yes. Ok. Pasti! Samuel
Sianto(SS)-YESTOYA Malang.
Respon 4
SAAT TEDUH. Jumat,
26 Juni 2015. Matikan Bom Waktunya. Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu
berbuat dosa: Janganlah matahari terbenam, sebelum padam kemarahanmu (Efesus
4:26). Suatu hari saya dan istri bertengkar karena perkara sepele. Saking sepelenya
sampai saya malu untuk menyebutkannya di sini. Tetapi, rupanya dampak
pertengkaran kami tidaklah sepele. Kami sampai tidak bertegur sapa sepanjang
hari. Setelah keadaan membaik, saya pun menengok ke belakang, ingin tahu kenapa
kami bisa bertengkar separah itu. Ternyata masalahnya ada di pihak saya. Tanpa
saya sadari, saya memendam konflik-konflik kecil yang tidak saya selesaikan.
Seiring dengan berjalannya waktu, konflik kecil makin menumpuk sehingga menjadi
bom waktu dalam hubungan kami. Akibatnya, ketika ada perkara sepele lain yang
memicu pertengkaran, bom waktu itu pun meledak. Dalam hubungan suami istri,
perbedaan cara pandang atau ketidaksepakatan mengenai suatu persoalan adalah
hal yang wajar. Hanya masalahnya, jangan sampai perbedaan yang ada malah
menghancurkan hubungan yang sudah dibangun. Kalau ada hal-hal yang memang harus
dibereskan, jangan dipendam-pendam, karena hal itu seperti menimbun amunisi
untuk bom waktu yang siap meledak. Komunikasikan perbedaan dengan baik, dan
cari jalan keluar yang memperkuat hubungan suami-istri, bukan melemahkannya.
Rasul Paulus memang benar ketika menasihati jemaat Efesus, agar mereka
menyelesaikan kemarahan sebelum matahari tenggelam. Kemarahan yang tidak segera
diselesaikan hanya akan merusak diri sendiri dan orang-orang yang ada di
sekitar kita. Jadi, marilah kita membereskan kemarahan sesegera mungkin—hari
ini juga —DP. KEMARAHAN HARUS DIBERESKAN SESEGERA MUNGKIN, BUKANNYA DITIMBUN
SEHINGGA MENJADI BOM WAKTU. Morning all... Sudah Jumat lagi ya... Semangat
terus. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Respon 5
Meski dikatakan
oleh Pengkhotbah bahwa tidak ada yang baru di bawah matahari, kuasa-kuasa
kegelapan yang mengendalikan dunia selalu berusaha menampilkan berbagai atraksi
yang tampak segar beserta segala sensasi yang seolah-olah lebih kuat lagi. Ini
tak terkecuali beragam cara & gaya hidup, khususnya di kota-kota besar,
yang banyak bercirikan kesenangan, kemudahan, kemewahan & berfokus pada
materi. Jangankan nilai-nilai firman Tuhan, nilai-nilai budaya & filosofi
yang baik dari nenek moyang pun sudah mulai dilupakan. Dalam Yeremia 6:16,
melalui sang nabi Tuhan menegur umat-Nya supaya “menanyakan jalan-jalan yang
dahulu kala, jalan-jalan yang baik itu & menempuhnya.” Meski terdengar
seperti saran untuk mempelajari ajaran leluhur namun pesan ini ditujukan pada
orang-orang Yahudi. Artinya, mereka seharusnya melihat pada cara hidup,
prinsip-prinsip, & teladan hidup para leluhur mereka -yang tidak lain ialah
para kekasih Tuhan. Itulah jalan-jalan yang mungkin dipandang kuno namun yang
dikenan oleh Tuhan. Jalan-jalan itu yang dilalui oleh Nuh, Abraham, Ishak &
Yakub. Yang dijalani oleh Musa, Yosua & para hakim. Yang diikuti oleh
Samuel, Daud, Salomo & raja-raja & nabi-nabi setelahnya yang hidup
seturut hati Tuhan. Jalan-jalan apakah itu? Itu adalah jalan-jalan pergaulan,
keintiman & persahabatan dengan Tuhan dimana mereka memilih berjalan
bersama Tuhan daripada menuruti hawa nafsu dunia ini. Di jalan itu,
kekasih-kekasih Tuhan ini beroleh pengertian akan kehendak, perintah,
ketetapan, taurat, arahan & petunjuk Tuhan, yang mereka renungkan siang
& malam, dimana hati mereka menjadi cinta akan semuanya itu sehingga tidak
menginginkan yang lain daripada menyenangkan hati Tuhan & bersekutu
dengannya (Maz. 1:2-3; 119:1-2; 27:4; 84:2,3,5,10). Itu juga merupakan
jalan-jalan hikmat yang memberikan petunjuk bagaimana melangkah dalam hidup
sehari-hari (Ams. 1:20-23; Ams. 4:11-19). Mari kita berhenti mempelajari
jalan-jalan dunia yang gelap ini. Pelajari & jalani jalan-jalan yang
(dipandang) kuno namun suci itu. Hati Tuhan akan penuh kesenangan. Andapun
beroleh ketenangan (Yer. 6:16c). Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)
Respon 6
“Pernikahan yang
awet adalah saat suami-isteri berusaha untuk tetap lengket walaupun sikon
ruwet.” Xavier Quentin Pranata.

No comments:
Post a Comment