Tuesday, 2 June 2015

2 Juni 2015



CULTURAL




Matius 5:16, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Orang percaya tidak diminta untuk menjadi ‘salesman’ tetapi jadilah Free Sample J (Dr. John Chamber). Free Sample: “biasanya dibuat dengan kualitas yang terbaik agar suatu produk terjual bila dipasarkan”. Jadilah teladan/terang bagi orang-orang disekitar kita, apapun yang kita lakukan berdampaklah positif J. Bertumbuhlah melalui karakter & integritas, karena 1 TELADAN lebih BERDAMPAK daripada 1000 kata-kata! Menjadi terang melalui perbuatan baik kita akan memuliakan BAPA yang di surga. Amin J.

Respon 1
Puji Tuhan. Apapun yang kita lakukan, ultimate beneficiary-nya adalah Tuhan. Have a nice day. (Bp. Gunadi Cahyono – PT. MDU)

Respon 2
Selasa, 2 Juni 2015. Bacaan: 2 Raja 5:1-14. Setahun: Ezra 3-5. Nats: Berkatalah gadis itu kepada nyonyanya: “Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya” (2 Raja 5:3). ANAK-ANAK JUGA BISA. “Ih, kamu tuh masih kecil! Tahu apa kamu!” Demikianlah ungkapan yang sering terlontar dari orang dewasa kepada anak-anak. Sering terjadi seorang anak mendapatkan perlakuan sebelah mata atau diremehkan. Jelas ia punya banyak keterbatasan untuk melakukan hal-hal yang dapat dikerjakan orang dewasa dengan mudah. Faktanya seorang anak dari usia memang masih belia, dari pengalaman ia masih hijau, dan dari segi fisik ia tidak sekuat orang dewasa. Tetapi, itu bukan berarti ia tidak dapat melakukan sesuatu. Seorang anak perlu diberi kesempatan untuk unjuk kemampuannya sesuai dengan keberadaannya sebagai anak. Naaman adalah panglima raja Aram. Saat itu ia sedang sakit kusta. Di rumahnya, ada seorang gadis kecil. Gadis ini adalah orang Israel dan menjadi tawanan perang yang harus ikut mengalami pembuangan. Meskipun demikian, dengan berani ia mengusulkan kepada seorang pahlawan perang bangsa Aram untuk pergi menemui seorang nabi di Samaria (ay. 3). Selanjutnya, ketika Naaman menyampaikan hal itu kepada raja Aram, sang raja memberikan dukungan kepada Naaman untuk menemui sang nabi di Samaria (ay. 5). Dengan kapasitas, kemampuan, dan keberadaannya, seorang anak sesungguhnya menyimpan banyak potensi. Orang dewasa dapat menolong dan memberikan kesempatan kepada anak untuk menemukan dan mengembangkan potensinya. Dan, tentu saja, membimbing dan memberikan teladan tentang bagaimana menggunakan kemampuan kita untuk memuliakan Tuhan --Adama Sihite. DALAM DIRI SEORANG ANAK TERDAPAT POTENSI TERPENDAM. BERILAH IA ..KESEMPATAN UNTUK MENGEMBANGKAN DAN MEMBUKTIKANNYA. (Ibu Caroline – Bandung)

Respon 3
Ef 5:8 – Memang dahulu kamu adalah kegelapan tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam TUHAN, sebab itu hiduplah sebagai anak-anak TERANG! Ayo jadi TELADAN! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.

Respon 4
Praise God...!! “Pergilah, juallah minyak itu, bayarlah hutangmu & hiduplah dr lebihnya, engkau serta anak-anakmu” [2 Raj 4:7]. Saya percaya janda ini pada awalnya tidak pernah membayangkan apa yang akan terjadi, bagaimana hasilnya, jalan keluar seperti apa yang ia dapatkan: -Ia hanya datang kepada Tuhan membawa persolan yang sudah alami jalan buntu; -Ia hanya nurut & melakukan langkah-langkah sesuai arahan; -Apalagi membayangkan, ada 'lebihnya'. Hutang bisa terbayar lunas saja suda bersyukur banget. Ia tidak dapat memprediksi apa yang akan terjadi, ia hanya menuruti petunjuk Elisa. Dan saat melihat hasilnya, ada 'lebihnya', ia mengalami bahwa Tuhan selalu melakukan lebih dari yang diharapkan tapi juga dengan cara yang tidak pernah terpikirkan. Let's do it! Kuncinya hanya ‘taat arahan prinsip-Nya Tuhan’, diluar itu adalah kesalahan yang akan menghasilkan kegagalan. Jangan pernah kita menyanggah prinsip FT, karena itu benih dari ketidakpercayaan. Orang yang tidak percaya tidak akan mendapat apa-apa karena pasti ia tidak melakukan apa-apa. Yang juga penting... Jaga hati supaya tidak dikuasai keserakahan. Saya tidak menjumpai bahwa setelah melihat 'lebihnya' ia menyesali & berkata... ‘'Tahu gitu aku berusaha cari lagi bejana-bejana supaya 'lebihnya' lebih banyak lagi!’ Dan memarahi anaknya yang kurang usaha dalam mencari/meminta bejana-bejana, ngomelin tetangga yang tidak mau memberikan bejananya (yang berkata dalam hati saat membaca ini: ‘ίnί kayaknya gue banget deh...’, bertobat ya...). Sudah ditolong, malah serakah. Sebagai manusia kita tidak dapat melihat apa yang akan terjadi dimasa depan kita, tapi sebagai orang percaya kita memiliki iman bahwa Tuhan memperhatikan masa depan kita, pemeliharaanNya lebih dari cukup. Morning... Jbu all . (Ibu Inggita – PKS CL 4)

Respon 5
Banyak yang bertanya-tanya mengapa terjadi bencana, tragedi, atau malapetaka di dunia ini. Yang lebih menyedihkan, melihat semua itu pikiran manusia melayang-layang jauh dan... menyalahkan Tuhan. Ada yang menganggapnya tidak ada. Atau jika ada, Tuhan dipandang tidak peduli & lemah sehingga tak perlu disembah. Begitulah perilaku manusia. Sebaliknya daripada memeriksa & mengoreksi diri, mereka mencari kambing hitam. Pikiran mereka yang gelap ditunggangi oleh iblis untuk mencurigai hingga menghujat Sang Mahakuasa. Alkitab memberitahukan kita bahwa penyebab berbagai hal-hal yang buruk sampai kesengsaraan yang dalam atas umat manusia tidak lain ialah karena kelakuan penduduk bumi itu sendiri. Merekalah yang menolak tatanan illahi, ketetapan-ketetapan sempurna dari Pencipta mereka, kasih & uluran tangan persahabatan dari Tuhan yang harus mereka sembah & muliakan. Yeremia 13:16 memperingatkan kita, “Permuliakan TUHAN, Allahmu sebelum Dia membuat hari menjadi gelap!” Ya, “tunjukkanlah pada Tuhan Allahmu penghormatan yang semestinya (yang sepadan) kepada-Nya” (terj. NET Bible). Sesungguhnya kekacauan & kegelapan di dunia bermula dari sikap manusia itu sendiri. Orang-orang yang hidup di masa Nuh melupakan Tuhan & hanya memikirkan perkara-perkara duniawi serta kesenangan daging semata. Walau menyebut-nyebut nama Tuhan (Kej. 4:26) tapi mereka tidak mengarahkan hati pada Tuhan. Hanya Nuh yang sungguh bergaul dengan Tuhan (Kej. 6:9). Itu sebabnya Tuhan menyesali manusia yang menyimpang dari tujuan penciptaannya -yang justru memuliakan setan-setan daripada Tuhan. Pada Dia yang penuh cinta & sangat berkuasa di alam semesta & yang telah berfirman pada kita; sudah seharusnya kita mengasihi Dia, takut akan Dia, sujud dengan hormat pada-Nya, memperhatikan perintah & ketetapan-Nya, hidup suci & menyenangkan hati-Nya, mengabdi & melayani Dia dengan segala kerelaan, kehormatan & kebanggaan. Itulah cara menjadikan bumi ini tempat yang lebih baik. Itulah artinya menjadi terang & garam dunia. Itulah hidup Kristen yang sesungguhnya. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:

Post a Comment