TEMPTATION
Baca: Galatia
4:1-5. Jika kita ANAK maka kita berhak MEWARISI sesuatu dari orang tua kita
J.
Kedewasaan iman/ketaatan membuat kita menjadi ahli waris Kerajaan Surga (‘berhak
menerima janji-janjiNya’). Adakah hari ini kita adalah ‘anak-anakNya’?
Yang juga berhak menjadi Ahli Waris kerajaanNya? Amin.
Respon 1
Amin... We rise up
today, we have no fear in Your perfect love, we will get dressed for victory,
and we receive all the blessings as children of God. Thank you, for you
encouragements sister. Gbu. (Ibu Caroline – Bandung)
Respon 2
SAAT TEDUH. Rabu,
24 Juni 2015. Taat Walau Pahit. Dan di tempat di mana dikatakan kepada mereka:
“Kamu ini bukanlah umat-Ku,” akan dikatakan kepada mereka: “Anak-anak Allah
yang hidup” (Hosea 1:10). Bagaimana respons kita seandainya berada dalam posisi
Hosea? Ia diperintahkan Allah untuk mengawini Gomer, si perempuan sundal
(1:2-3). Lalu, ketika Gomer lari darinya untuk berzinah dengan lelaki lain, dan
akhirnya dijual sebagai budak, Hosea harus menebusnya kembali dan membawanya
pulang (3:1-3). Terhadap anak-anak yang dilahirkan Gomer untuknya, Hosea harus
memberikan nama yang berkonotasi buruk. Bagi putra sulung: “Yizreel” (Allah
menabur). Menabur berkat? Bukan. Bukan berkat yang Dia tabur, melainkan
amarah-Nya kepada bani Israel karena dosa Yehu dan keturunannya, para raja
Israel Utara (1:4, lihat 2 Raja-Raja 10:29, 31). Bagi putri kedua: “Lo-Ruhama”
(tiada belas kasih). Allah berhenti menyayangi umat-Nya? Tidak juga. Sebab,
setelah menghukum Israel, Dia akan kembali mengasihi mereka meskipun mereka
berulang kali melawan Dia (1:10-12, 2:21-22, dan 11:8-9). Bagi putra bungsu:
“Lo-Ami” (bukan umat-Ku). Bagaimana jika Allah memutuskan perjanjian-Nya dengan
umat-Nya? Adakah hukuman yang lebih mengerikan selain terpisah dari Dia,
seperti yang pernah dialami Yesus di kayu salib (Mat. 27:46)? Kehidupan Hosea
memang amat tragis. Tak dapat dipahami kenapa Allah menyuruhnya menjalani
kepahitan seperti itu. Bagi banyak orang, mungkin ia dianggap gagal. Tetapi,
bagi Allah, ia hamba yang taat, yang telah berhasil menjadikan hidupnya sebagai
lambang kasih Allah yang abadi pada manusia yang cenderung memberontak. Lalu,
bagaimana dengan hidup kita? —HIS. KETAATAN PADA TUHAN LEBIH PENTING DARIPADA
KEBERHASILAN HIDUP. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Respon 3
Barzilai waktu itu
sudah 80 tahun. Meski begitu, ia keluar sendiri menyambut Daud yang saat itu
harus mengungsi dari istana akibat pemberontakan Absalom, anaknya (2 Sam.
17:27-29). Barzilai membahayakan reputasinya sebagai seorang kaya yang
terpandang di Gilead dengan menjadi penyokong kebutuhan hidup Daud &
pengikut-pengikutnya yang dalam posisi lemah sebab seluruh rakyat telah
mendukung Absalom sebagai penguasa baru. Saat pemberontakan Absalom berakhir,
ada adegan mengharukan mengenai perpisahan Daud & Barzilai yang dicatat
dalam 2 Sam. 19:31-39. Selagi melepas Daud kembali pulang ke istana, Daud
mengajak Barzilai yang baik itu untuk tinggal bersamanya di Yerusalem. Dengan
halus, Barzilai menguraikan alasan penolakannya yang akhirnya dapat diterima
oleh Daud. Penolakan Barzilai menunjukkan kerendahan hati & ketulusannya
yang tiada berpamrih memberi dukungan pada Daud. Tiada ambisi atau
maksud-maksud pribadi untuk kepentingan diri selain berbuat baik kepada raja. Lebih
dari itu, Barzilai lagi-lagi memberi sesuatu (yaitu budaknya) kepada Daud.
Tahun-tahun pun berlalu. Daud mendekati ajal. Barzilai pun mungkin telah
berpulang di tahun-tahun sebelumnya. Pada pesan terakhirnya sebelum mangkat,
Daud mengingat kembali kebaikan Barzilai & meminta Salomo, sang penerus
tahta, untuk memperhatikan anak-anak sahabatnya itu (1 Raja 2:7). Daud, meski
lemah & tua, jelas orang yang tahu kebaikan orang lain & juga pribadi
yang tahu berterima kasih. Dilakukannya pada orang yang berbuat baik padanya
setimpal dengan kebaikan yang pernah ia terima. Adakah Tuhan kurang daripada
itu? Tidakkah Dia akan membalas setiap orang, anak-anak & hamba-hambaNya
yang sepenuh hati “berbuat baik” pada-Nya yaitu yang mengasihi & mengabdi
pada-Nya tanpa pamrih, tanpa maksud-maksud memanfaatkan Dia, tanpa berharap
imbalan apapun lainnya -selain hanya merindukan persekutuan dengan diri-Nya?
Tentu Tuhan tidak akan tinggalkan. Dia pasti membalas ketulusan Anda (bahkan
anak cucu Anda) dengan ribuan kebaikan yang tiada taranya. Percayakah Anda?
Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:
Post a Comment