Saturday, 20 June 2015

20 Juni 2015

TEMPTATION



Langkah ke 10: Pemuridan. Matius 28:19-20, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Menjadi orang percaya adalah sama dengan menjadi MURID KRISTUS. Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa kita adalah murid Kristus yang sejati? Salah satu ciri murid Kristus yang sejati adalah: “Menghasilkan Murid Kristus”. Bagaimana caranya agar kita menghasilkan murid Kristus? Terlibatlah membina jiwa-jiwa baru dalam One to One J. Terlibatlah dalam Komunitas Sel yang terus bertumbuh melayani jiwa-jiwa. Amin. Apakah kita yakin kita sudah mengambil keputusan untuk menjadi murid Kristus yang SEJATI?? J

Respon 1
Langkah ke 9 dan 10 adalah praktek Firman. Berperan di marketplace. Lewat komsel dan pemuridan kita mengaplikasikan semua langkah-langkah yang sudah kita pelajari. Karena dekat dengan Tuhan itu pasti akan membuat kita dekat dengan orang-orang disekitar kita. Ajaran 10 perintah Allah hanya 2 intinya “love God love people”. Dekat dengan Tuhan membuat kita juga dekat dengan ciptaanNya. Prakteknya ya lewat komsel kita membangun hubungan dan melakukan pemuridan. Saling mendoakan, mendukung, menasehati dan belajar bersama bertumbuh dalam iman. (Ibu Rita – PKS CL 8)

Respon 2
Maz 73:1 – Sesungguhnya, ALLAH itu BAIK bagi mereka yang TULUS HATInya, bagi mereka yang BERSIH HATInya! Ayo, hati kita selalu JUJUR, apa adanya, selalu baik! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.

Respon 3
“Pengendalian diri merupakan rem terpakem agar kendaraan kehidupan kita tidak masuk jurang kehancuran.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 4
Sabtu, 20 Juni 2015. Bacaan: Ayub 27:1-6. Setahun: Ayub 21-24. Nats: Maka bibirku sungguh-sungguh tidak akan mengucapkan kecurangan, dan lidahku tidak akan melahirkan tipu daya (Ayub 27:4). BIBIR YANG TERJAGA. Seorang teman menuliskan dalam status Blackberry: “Manusia butuh 2-3 tahun untuk belajar berbicara, tetapi butuh sedikitnya 50 tahun untuk menjaga kata-katanya.” Mungkin pernyataan tersebut lahir dari pengalaman hidupnya berkaitan dengan kesulitan menjaga perkataan. Saya pun mengirimkan pesan singkat untuk menyatakan bahwa saya setuju dengannya, bahwa menjaga perkataan memang bukanlah perkara mudah bagi siapa pun. Menjaga perkataan atau lidah dapat dilakukan dengan banyak cara. Ayub memberikan contoh dua cara dalam menjaga lidah, yakni tidak mengucapkan kecurangan dan tidak “melahirkan” tipu daya. Perkataan yang tidak hanya asal ucap, tetapi lahir dari komitmen seorang pria yang mengenal Allahnya. Ayub berkomitmen untuk menjaga perkataannya selama napas masih ada padanya dan roh Allah masih di dalam lubang hidungnya (ay. 3). Tak heran jika Ayub disebut sebagai orang yang saleh, jujur, takut akan Allah, dan menjauhi kejahatan (Ayb 1:1). Kedua hal tersebut memang berkaitan erat, bahkan tidak dapat dipisahkan. Pengenalan seseorang akan Allah tentu berdampak pada perkataan yang meluncur dari bibirnya. Lidah memang buas, tetapi bukan berarti tak dapat dikendalikan. Sebagai orang benar, hendaknya ucapan kita dijauhkan dari segala bentuk kecurangan maupun tipu daya, apa pun alasannya. Sekalipun orang-orang di sekitar kita mengucapkan kecurangan atau tipu daya, kiranya kita dikenal sebagai pribadi yang dapat menjaga perkataan. Biarlah lidah kita menyatakan kebenaran Allah –GoHokJin. MENJAGA PERKATAAN AKAN LEBIH MUDAH BAGI MEREKA YANG BERKOMITMEN UNTUK MELAKUKANNYA. (Ibu Caroline – Bandung)

Respon 5
SAAT TEDUH. Sabtu, 20 Juni 2015. Berkat Tuhan. Katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21). Jujur saja, pemahaman kita tentang berkat Tuhan bisa jadi sangat dangkal. Tidak sedikit orang Kristen yang mengartikan berkat sebagai kekayaan materiil yang berkelimpahan. Ketika kita berdoa meminta berkat dan kemudian kita mendapatkan rezeki yang berlimpah, kita merasa mendapatkan curahan berkat. Muncullah pula pengajaran yang menyimpulkan bahwa jika seseorang yang dikenan Tuhan pasti diberkati dengan kekayaan yang melimpah. Sebaliknya, orang yang hidup menderita dianggap sedang didisiplinkan oleh Tuhan. Benarkah demikian? Kita tentu sependapat bahwa Ayub adalah orang yang begitu diberkati Tuhan. Kita pun setuju bahwa Ayub diberkati karena ia orang yang saleh, jujur, takut akan Allah, dan menjauhi kejahatan. Namun ketika Iblis mengambil semua kekayaan itu dan membuat hidup Ayub menderita, apakah kita menyebutnya orang yang tidak lagi diberkati Tuhan? Dalam situasi seperti itu, Ayub berkata, “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!” Bagi Ayub, justru penderitaan yang dialaminya itu membawanya kepada pengenalan yang benar akan Allah. Penderitaan itu memurnikan hatinya. Ia pun mengakui bahwa penderitaan adalah berkat Tuhan. Ya, berkat—karena lewat penderitaanlah ia bisa mengenal Allah. Berkat tak selalu berupa uang, emas, atau banyaknya investasi kita. Berkat adalah ketika kita tetap kuat dalam keadaan yang melemahkan, mampu bersyukur ketika tidak mempunyai apa-apa, mampu tersenyum saat diremehkan, dan tetap taat kepada Tuhan walaupun terpuruk —SYS. BERKAT ADALAH KETIKA TUHAN MELIMPAH-KAN KEKUATAN-NYA SEHINGGA KITA DIMAMPU-KAN UNTUK MELEWATI PENDERITAAN. Morning all... Happy weekend. Semangat terus ya. Berkat Tuhan Yesus melimpah hari ini. (Madam Ossy)

No comments:

Post a Comment