TEMPTATION
Langkah ke 10: Pemuridan.
Matius 28:19-20, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan
baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Dan ajarlah mereka
melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku
menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Menjadi orang percaya
adalah sama dengan menjadi MURID KRISTUS. Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa
kita adalah murid Kristus yang sejati? Salah satu ciri murid Kristus yang
sejati adalah: “Menghasilkan Murid Kristus”. Bagaimana caranya agar kita
menghasilkan murid Kristus? Terlibatlah membina jiwa-jiwa baru dalam One to One
J.
Terlibatlah dalam Komunitas Sel yang terus bertumbuh melayani jiwa-jiwa. Amin.
Apakah kita yakin kita sudah mengambil keputusan untuk menjadi murid Kristus
yang SEJATI?? J
Respon 1
Langkah ke 9 dan 10
adalah praktek Firman. Berperan di marketplace. Lewat komsel dan pemuridan kita
mengaplikasikan semua langkah-langkah yang sudah kita pelajari. Karena dekat
dengan Tuhan itu pasti akan membuat kita dekat dengan orang-orang disekitar
kita. Ajaran 10 perintah Allah hanya 2 intinya “love God love people”. Dekat
dengan Tuhan membuat kita juga dekat dengan ciptaanNya. Prakteknya ya lewat
komsel kita membangun hubungan dan melakukan pemuridan. Saling mendoakan,
mendukung, menasehati dan belajar bersama bertumbuh dalam iman. (Ibu Rita – PKS
CL 8)
Respon 2
Maz 73:1 –
Sesungguhnya, ALLAH itu BAIK bagi mereka yang TULUS HATInya, bagi mereka yang
BERSIH HATInya! Ayo, hati kita selalu JUJUR, apa adanya, selalu baik! Samuel
Sianto(SS)-YESTOYA Malang.
Respon 3
“Pengendalian diri
merupakan rem terpakem agar kendaraan kehidupan kita tidak masuk jurang
kehancuran.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 4
Sabtu, 20 Juni
2015. Bacaan: Ayub 27:1-6. Setahun: Ayub 21-24. Nats: Maka bibirku
sungguh-sungguh tidak akan mengucapkan kecurangan, dan lidahku tidak akan
melahirkan tipu daya (Ayub 27:4). BIBIR YANG TERJAGA. Seorang teman menuliskan
dalam status Blackberry: “Manusia butuh 2-3 tahun untuk belajar berbicara,
tetapi butuh sedikitnya 50 tahun untuk menjaga kata-katanya.” Mungkin
pernyataan tersebut lahir dari pengalaman hidupnya berkaitan dengan kesulitan
menjaga perkataan. Saya pun mengirimkan pesan singkat untuk menyatakan bahwa
saya setuju dengannya, bahwa menjaga perkataan memang bukanlah perkara mudah
bagi siapa pun. Menjaga perkataan atau lidah dapat dilakukan dengan banyak
cara. Ayub memberikan contoh dua cara dalam menjaga lidah, yakni tidak
mengucapkan kecurangan dan tidak “melahirkan” tipu daya. Perkataan yang tidak
hanya asal ucap, tetapi lahir dari komitmen seorang pria yang mengenal Allahnya.
Ayub berkomitmen untuk menjaga perkataannya selama napas masih ada padanya dan
roh Allah masih di dalam lubang hidungnya (ay. 3). Tak heran jika Ayub disebut
sebagai orang yang saleh, jujur, takut akan Allah, dan menjauhi kejahatan (Ayb
1:1). Kedua hal tersebut memang berkaitan erat, bahkan tidak dapat dipisahkan.
Pengenalan seseorang akan Allah tentu berdampak pada perkataan yang meluncur
dari bibirnya. Lidah memang buas, tetapi bukan berarti tak dapat dikendalikan.
Sebagai orang benar, hendaknya ucapan kita dijauhkan dari segala bentuk
kecurangan maupun tipu daya, apa pun alasannya. Sekalipun orang-orang di
sekitar kita mengucapkan kecurangan atau tipu daya, kiranya kita dikenal
sebagai pribadi yang dapat menjaga perkataan. Biarlah lidah kita menyatakan kebenaran
Allah –GoHokJin. MENJAGA PERKATAAN AKAN LEBIH MUDAH BAGI MEREKA YANG
BERKOMITMEN UNTUK MELAKUKANNYA. (Ibu Caroline – Bandung)
Respon 5
SAAT TEDUH. Sabtu,
20 Juni 2015. Berkat Tuhan. Katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari
kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang
memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21). Jujur saja,
pemahaman kita tentang berkat Tuhan bisa jadi sangat dangkal. Tidak sedikit
orang Kristen yang mengartikan berkat sebagai kekayaan materiil yang
berkelimpahan. Ketika kita berdoa meminta berkat dan kemudian kita mendapatkan
rezeki yang berlimpah, kita merasa mendapatkan curahan berkat. Muncullah pula
pengajaran yang menyimpulkan bahwa jika seseorang yang dikenan Tuhan pasti
diberkati dengan kekayaan yang melimpah. Sebaliknya, orang yang hidup menderita
dianggap sedang didisiplinkan oleh Tuhan. Benarkah demikian? Kita tentu
sependapat bahwa Ayub adalah orang yang begitu diberkati Tuhan. Kita pun setuju
bahwa Ayub diberkati karena ia orang yang saleh, jujur, takut akan Allah, dan
menjauhi kejahatan. Namun ketika Iblis mengambil semua kekayaan itu dan membuat
hidup Ayub menderita, apakah kita menyebutnya orang yang tidak lagi diberkati
Tuhan? Dalam situasi seperti itu, Ayub berkata, “Tuhan yang memberi, Tuhan yang
mengambil, terpujilah nama Tuhan!” Bagi Ayub, justru penderitaan yang
dialaminya itu membawanya kepada pengenalan yang benar akan Allah. Penderitaan
itu memurnikan hatinya. Ia pun mengakui bahwa penderitaan adalah berkat Tuhan.
Ya, berkat—karena lewat penderitaanlah ia bisa mengenal Allah. Berkat tak
selalu berupa uang, emas, atau banyaknya investasi kita. Berkat adalah ketika
kita tetap kuat dalam keadaan yang melemahkan, mampu bersyukur ketika tidak
mempunyai apa-apa, mampu tersenyum saat diremehkan, dan tetap taat kepada Tuhan
walaupun terpuruk —SYS. BERKAT ADALAH KETIKA TUHAN MELIMPAH-KAN KEKUATAN-NYA
SEHINGGA KITA DIMAMPU-KAN UNTUK MELEWATI PENDERITAAN. Morning all... Happy
weekend. Semangat terus ya. Berkat Tuhan Yesus melimpah hari ini. (Madam Ossy)

No comments:
Post a Comment