CULTURAL
Ibrani 5:12, “Sebab
sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar,
kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu
masih memerlukan susu, bukan makanan keras.” Ayat 13: “Sebab barangsiapa
masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia
adalah anak kecil.” Ayat 14: “Tetapi makanan keras adalah untuk
orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk
membedakan yang baik dari pada yang jahat.” Amin. Sebagai anak-anak
Tuhan/orang percaya kita perlu bertumbuh secara rohani, miliki komunitas
pertumbuhan yang baik, sebab pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik
(1 Kor 15:33, “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan
kebiasaan yang baik.”). Menjadi TUA itu PASTI, tetapi menjadi DEWASA itu
PILIHAN J.
Respon 1
“Takut akan Tuhan
justru merupakan keberanian di akhir zaman.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 2
Maz 3:9 – Dari
TUHAN datang pertolongan, berkat TUHAN atas umat-NYA! Pertolongan-NYA yang
ajaib, berkat-berkat-NYA yang melimpah hanya datang dari YESUS. Sip! Samuel
Sianto(SS)-YESTOYA Malang.
Respon 3
Ibr 5:13, “Sebab
barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran,
sebab ia adalah anak kecil.” Ayat 14, “Tetapi makanan keras adalah untuk
orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk
membedakan yang baik dari pada yang jahat.” Manusia harus mengalami pertumbuhan
jasmani dan rohani, keduanya sama-sama penting. Tetapi sering kita tidak
memperhatikan pertumbuhan rohani, sehingga jasmaninya tumbuh baik tetapi
rohaninya tidak bertumbuh, tetap kerdil seperti anak-anak. Kita terlena dengan
kenikmatan-kenikmatan jasmani dan melupakan pertumbuhan-pertumbuhan rohani,
rohaninya masih seperti bayi yang memerlukan minuman susu, tidak terlatih
dengan makanan yang keras. Belum dewasa dalam KRISTUS, sehingga tidak dapat
membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Amin. Ybu. (Ibu Inggita – PKS
CL 4)
Respon 4
SAAT TEDUH. Kamis,
4 Juni 2015. Sudah Tersambung. Apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan
Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya (Lukas 11:13). Anda punya
pesawat radio dan ingin mendengar siaran dari penyiar favorit? Silakan. Tapi
sebelum itu Anda harus dapat dulu gelombangnya, bukan? Jika telah tersambung
gelombangnya, barulah radio itu bermanfaat. Anda membawa laptop dan berniat
mengunduh segala macam informasi dari internet? Baik, tapi harap pastikan dulu
perangkat pintar Anda itu tersambung dengan jejaring internet. Sesudah
terhubung, kegiatan mencari dan mengunduh informasi bisa berlangsung. Ajaran
Tuhan Yesus kepada para murid tentang berdoa bisa dibahasakan begini,
“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu” (ay. 9). Namun, sebelumnya, dahulukan
yang terutama! Apakah itu? Beradalah dalam kondisi di mana antara hati kita dan
hati-Nya “tersambung”. Dia dan kita terkoneksi dalam satu “gelombang” sehingga
apa yang kita minta cocok dengan yang Dia sediakan, seperti kasih seorang bapa
terhadap anaknya (ay. 11-12). Maka, sebelum yang lainnya, mintalah Roh-Nya
bertakhta di hati kita. Karena hanya Roh Kudus yang mengenal isi hati Allah
(bdk ay. 13 dengan 1 Kor. 2:11-12). Oleh-Nya kita dibuat paham akan apa yang
patut kita minta. Dengan rendah hati, mari kita senantiasa belajar berdoa.
Dengan tiada jemu, mari kita senantiasa mengoreksi dan membarui kehidupan doa
kita. Jauh di atas pentingnya semua permintaan lainnya, sudahkah kita meminta
Roh Kudus bertakhta di hati ini? Ingat, kehadiran-Nya itu yang menghidupkan doa
menjadi seperti komunikasi yang baik antara bapak dan anak. Jadi, jangan ke
mana-mana sebelum yang satu ini —PAD. MINTALAH SELALU ROH KUDUS UNTUK MENGAJAR
DAN MENUNTUN KITA BERDOA. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Respon 5
Prayer doesn't
always change your circumstances, but it does give you the strength to walk
through them (Mark Batterson). Doa tidak selalu mengubah keadaan Anda, tetapi
memberikan kekuatan untuk berjalan melaluinya (Mark Batterson). (Ibu Caroline –
Bandung)
Respon 6
Menumpahkan darah
orang yang tak bersalah ialah suatu tindakan yang keji. Itu pula yang
disampaikan oleh penulis Amsal sebagai hal ketiga pada saat ia memuat daftar 7
perkara keji di mata Tuhan dimana kekejian (Ams. 16:7). Inti dari kekejian ini
ialah pembunuhan semena-mena yang dilakukan tanpa dasar & di luar keadilan
khususnya pada orang yang tidak melakukan kesalahan setimpal dengan pembunuhan
itu. Di antara berbagai perbuatan-perbuatan jahat yang termasuk dalam hal ini
antara lain: pembunuhan pada umumnya, pembunuhan berantai, penghakiman massa,
pembunuhan tokoh-tokoh pemimpin yang relatif baik karakternya, penghilangan
nyawa orang melalui kuasa-kuasa gelap atau teluh, pembantaian massal sampai
pemusnahan etnis. Satu yang kurang disadari, sangat mungkin aborsi digolongkan
dalam kekejian ini sebab bayi-bayi yang tidak bersalah ditumpahkan darahnya
justru bukan karena kesalahan mereka. Hal serupa dilakukan para penyembah
berhala & pemuja setan dalam ritual-ritual mereka yang mengorbankan
bayi-bayi sebagai bentuk penyembahan. Yang perlu dicatat, di antara kelompok
orang yang paling banyakmelakukan kekejian ini di muka bumi ialah orang-orang
yang menyebut diri mereka beragama. Kita menyebutnya orang-orang agamawi. Dan
ini tidak memandang agama apapun. Orang bisa berkata bahwa orang-orang komunis
ialah orang-orang yang sangat kejam padahal faktanya orang-orang yang beragama
apapun bisa berlaku yang sama bahkan lebih jahat sebab semua dilakukan atas nama
Tuhan. Atas nama agama & Tuhan, dengan menuding orang lain sebagai bidat
atau kafir, darah merekapun dibolehkan untuk ditumpahkan. Sungguh penyesatan
yang besar! Kita harus menjaga hati kita dari semua bentuk ketidaksenangan atau
kebencian terhadap suku, agama, ras & golongan (SARA) yang berbeda dengan
kita. Kita harus hidup dalam kasih Tuhan & memupuk kasih dengan
mempraktekkannya setiap hari dalam hidup kita: pikiran, perkataan, perbuatan
kita. Dalam kasih kita mengampuni & memberikan kesempatan baru. Bukan
penghakiman & balas dendam -cikal bakal suatu kekejaman. Salam revival!
GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:
Post a Comment