Tuesday, 30 June 2015

30 Juni 2015

TEMPTATION



Matius 6:13, “dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.)” Saat Tuhan Yesus dicobai di padang gurun, 3 (tiga) kali Yesus mengatakan, ‘ada tertulis...’ manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Matius 4:4,7&10). Yesus teguh berpegang pada kebenaran firmanNya. Tuhan Yesus juga dapat menolong kita saat kita dicobai. Jalan Tuhan memang tidak mudah, ujian/pencobaan bisa datang tanpa diundang J. Tetapi percayalah kita dapat bergantung kepadaNya sebagai satu-satuNya Penolong dalam hidup kita karena firmanNya berkuasa memberikan kita kemenangan, amin.

Respon 1
Pertumbuhan iman bermanfaat untuk menjauhkan diri kita dari masalah. Matius 6:13, ‘dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin).’ Bagaimana kita tetap teguh berdiri dan tetap percaya ketika si jahat berusaha mencobai kita, tidak mudah ya ketika si jahat memikat kita dengan berbagai kenikmatan dunia. Masih ingat ya lagu anak-anak sekolah minggu: “Di dalam dunia ada 2 jalan lebar dan sempit mana kau pilih, yang lebar api jiwamu mati tapi yang sempit hidup berglori.” Jalan yang ditawarkan si jahat adalah jalan yang lebar, memang kelihatannya mudah, enak tetapi ujungnya menimbulkan masalah dan kematian iman tetapi jika iman kita tetap teguh memang kelihatannya kita memilih jalan yang sempit, susah, sengsara tetapi pada akhirnya jalan Tuhan inilah yang menyelamatkan kita, membawa hidup kita sukacita, damai, taat pada rencana dan kehendak Tuhan. Amin. Jbu. (Ibu Inggita – PKS CL 4)

Respon 2
SAAT TEDUH. Selasa, 30 Juni 2015. Karakter, Bukan Karier. Ucapkanlah syukur dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu (1 Tesalonika 5:18). “Aku bingung apa sebenarnya panggilan hidupku. Setiap pagi aku ke kantor, mengerjakan tugas-tugasku, lalu sore pulang. Lima hari seminggu begitu-begitu saja. Kadang aku bertanya-tanya, apakah pekerjaanku ini sudah sesuai dengan kehendak Allah atau belum,” kata Wahyu. Temannya yang mendengar hanya tercenung. Bingung juga mau berkata apa. Apakah Anda pernah atau tengah mengalami kegalauan semacam itu, yaitu berusaha mengetahui kehendak Allah dalam pekerjaan yang Anda lakukan? Perikop hari ini memberikan perspektif yang segar, dan dapat memberikan jawaban atas kebingungan kita. Jika dicermati, Paulus tidak mengaitkan kehendak Allah dengan pekerjaan yang kita lakukan, melainkan dengan bagaimana sikap kita dalam menjalani hidup ini. Kita dipanggil untuk menghormati pemimpin (ay. 12), hidup dalam damai dengan orang lain (ay. 13), bersabar dan membela yang lemah (ay. 14). Allah menghendaki kita untuk bersukacita (ay. 16), tekun berdoa (ay. 17), bersyukur (ay. 18), dan seterusnya. Jika kita menyelidiki perikop lain yang berbicara tentang kehendak Allah, kita akan menemukan arah nasihat yang serupa. Dari situ dapat disimpulkan, kehendak Allah bukan terutama berkaitan dengan karier kita, melainkan dengan karakter kita. Dengan begitu, kita leluasa berkarier apa saja, sesuai dengan talenta, kecakapan, dan peluang yang ada. Yang lebih perlu untuk kita perhatikan adalah: apakah kita menjalankan karier itu dengan karakter seorang anak Allah. Tidak perlu bingung lagi, bukan?—ARS. KEHENDAK ALLAH BUKAN TERUTAMA BERKAITAN DENGAN KARIER KITA, MELAINKAN DENGAN KARAKTER KITA SEBAGAI ANAK-NYA. Selamat pagi. Selamat berkarya. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 3
CINTA UANG. Read: 1 Timotius 6:2b-10. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang dan karena memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka (1 Timotius 6:10). Salah satu saudari kami ingin memperbaiki nasib dengan menggeluti bisnis melalui internet. Setelah beberapa bulan, kami melihat fokusnya mulai terarah pada uang. Saat berinteraksi dengan kami, ia lebih banyak membicarakan uang. Saat kami menasihatinya agar kembali berfokus pada Tuhan, ia membela diri dengan menjawab dirinya bekerja demi Tuhan. Nanti kalau bisnis maju, duitnya juga untuk Tuhan. Kenyataan berbicara lain. Ia memang jadi orang kaya, namun hidupnya berantakan. Ia cerai dengan suaminya, lalu kumpul kebo. Hubungannya dengan keluarga dan gereja pun kacau. Tidak perlu disangkal, setiap orang membutuhkan uang. Tuhan pun mendorong kita bekerja keras untuk mendapatkan uang, namun Tuhan tidak menghendaki kita mengabaikan ibadah (ay. 6). Karena kita tidak membawa apa-apa ke dalam dunia dan ketika mati, sangatlah penting mengembangkan sikap cukup (ay. 7-8). Orang yang ingin kaya berfokus pada harta sehingga rentan terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat, dan ke dalam berbagai nafsu yang hampa dan mencelakakan, bahkan menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai duka (ay. 9-10). Tuhan senang kita bisa mencukupi semua kebutuhan dengan hasil jerih lelah kita, Tuhan bangga melihat kita bisa memberkati orang lain dengan uang kita, namun jangan sampai kita cinta akan uang. Uang memang bisa menyelesaikan banyak masalah, namun uang bukan tuan, uang hanya alat. Jadilah tuan atas uang, bukan cinta akan uang dan menjadi hamba uang. TUHAN MEMBERI KITA UANG BUKAN UNTUK DICINTAI, MELAINKAN UNTUK DIPAKAI BERIBADAH. (Budi Hariono – PT. MPU)

Respon 4
Pencobaan ialah usaha melakukan sesuatu. Pencobaan dari Tuhan mencerahkan tapi pencobaan dari setan menyengsarakan! Have a nice day. (Bp. Gunadi Cahyono – PT. MDU)

Respon 5
RENUNGAN PAGI. Matius 6:27, “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” HAL KEKUATIRAN. Bacaan: Matius 6:25-34. Tiada seorang pun yang hidup tanpa kekhawatiran; tak satu pun kebal dari kekuatiran. Jika seseorang berkata bahwa dia tidak peduli akan apa pun di dunia ini, maka dia ada dalam penyangkalan. Yang menjadi pertanyaan: apa yang dapat kita lakukan dengan kekuatiran kita? Kekuatiran adalah sebuah perasaan gelisah, ketakutan atau kengerian terhadap sesuatu yang belum terjadi. Perasaan-perasaan ini biasanya terkait dengan pikiran-pikiran NEGATIF atas sesuatu yang mungkin terjadi di masa depan. Mari saudaraku kita ganti pikiran NEGATIF dan memikirkan sesuai dengan apa yang Tuhan Yesus firmankan. Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu (Fil 4:8). Merasa kuatir berarti merasa cemas, bingung dan pikirannya terbagi-bagi. Apa yang harus kita perbuat ketika rasa kuatir menyerang pikiran kita? Rasul Paulus menasihati, “...nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Fil 4:6-7). Sebagai anak-anak Tuhan, kita tidak seharusnya merasa kuatir karena Tuhan, Allah kita sanggup memberkati dan menjaga kita. Ketika kita kuatir kita sedang berupaya memindahkan beban dari bahu Tuhan yang kuat ke bahu kita yang lemah. Mampukah kita? Selamat pagi. Allah sumber segala rahmat & kasih karunia senantiasa menyertai, memimpin & melindungi kita bersama anggota keluarga di mana pun mereka berada. ~ Imanuel ~ (Ibu Tatik Maywati – Bank Ekonom

Respon 6
Adalah keliru bila ada yang beranggapan Tuhan & Alkitab menentang kekayaan & orang-orang kaya. Abraham, Ishak & Yakub adalah orang-orang yang kaya bahkan sangat kaya. Salomo mungkin salah satu orang terkaya yang pernah hidup di muka bumi. Uang & kekayaan materi lainnya pun alat Tuhan bagi kelangsungan pekerjaan-Nya di muka bumi. Pada sisi lain, kita perlu ingat pesan-pesan peringatan Alkitab mengenai kekayaan: 1- Kekayaan dapat menjadi tuhan & penguasa hidup kita; yang kita cintai, dambakan & kejar lebih dari Kristus & Kerajaan-Nya ~Mat. 6:24,33. 2- Ada tipu daya dalam kekayaan. Pikiran kita diperdaya dengan berpikir bahwa dalam kekayaan ada kedamaian, sukacita & kebahagiaan sejati ~Mat. 13:22; Mrk. 4:19. 3- Oleh sebab ingin kaya, banyak pria & wanita mengorbankan iman & hubungannya dengan Tuhan~1 Tim. 6:10. 4- Sebab cinta uang, orang menempuh jalan kejahatan & berbagai-bagai penderitaan yang tidak perlu. 5- Kemakmuran punya kemampuan menjerat hati kita sehingga berat melangkah dalam menyangkal diri mengikut Kristus ~ Mrk. 10:22. 6- Kelimpahan materi dapat mengubah hati kita menjadi jauh dari Tuhan & menentang Dia -dengan menjadi serakah, kikir bahkan kejam pada sesama ~ 1 Tim. 6:17; Yak. 2:6;5:1-6. 7- Kekayaan duniawi sangat berpotensi mengalihkan kita dari pengejaran akan harta sorgawi ~Mat. 19:21-24. 8- Kekayaan dapat menjadi tujuan seumur hidup yang berarti melepaskan tujuan hidup terbaik yang Tuhan telah rencanakan bagi kita ~ 1 Tim. 6:9-12. Maka, selayaknya kita perlu SUNGGUH-SUNGGUH memperhatikan apa yang diajarkan Yesus Kristus supaya kita fokus pada pengejaran harta sorgawi yang kekal abadi -bukan pada kekayaan duniawi (Mat. 6:19-21). Dengan cara demikian, entah pada kita dipercayakan kekayaan yang besar atau cukup dari Tuhan, hati kita tidak pernah menyimpang dari jalan-jalanNya (Ams. 30:7-9). Hidup kita tidak lagi diarahkan pada pencapaian-pencapaian yang semu tetapi pada apa yang benar-benar bermakna di pandangan pencipta kita. Seperti hidup Yesus & saleh-salehNya di sepanjang zaman. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

Respon 7
Maz 5:1 – Berilah telinga kepada perkataanku, ya TUHAN, indahkanlah keluh kesahku! YESUS pasti mendengar doa kita, DIA sangat peduli dengan masalah-masalah kita. Percayalah! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.

Respon 8
“Teman bisa datang dan pergi, tetapi sahabat sejati bertahan sampai mati.” Xavier Quentin Pranata.


No comments:

Post a Comment