TEMPTATION
Matius 6:13, “dan
janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada
yang jahat (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan
sampai selama-lamanya. Amin.)” Saat Tuhan Yesus dicobai di padang gurun, 3
(tiga) kali Yesus mengatakan, ‘ada tertulis...’ manusia hidup bukan dari roti
saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Matius
4:4,7&10). Yesus teguh berpegang pada kebenaran firmanNya. Tuhan Yesus juga
dapat menolong kita saat kita dicobai. Jalan Tuhan memang tidak mudah,
ujian/pencobaan bisa datang tanpa diundang J. Tetapi percayalah kita
dapat bergantung kepadaNya sebagai satu-satuNya Penolong dalam hidup kita
karena firmanNya berkuasa memberikan kita kemenangan, amin.
Respon 1
Pertumbuhan iman
bermanfaat untuk menjauhkan diri kita dari masalah. Matius 6:13, ‘dan janganlah
membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.
(Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai
selama-lamanya. Amin).’ Bagaimana kita tetap teguh berdiri dan tetap percaya
ketika si jahat berusaha mencobai kita, tidak mudah ya ketika si jahat memikat
kita dengan berbagai kenikmatan dunia. Masih ingat ya lagu anak-anak sekolah
minggu: “Di dalam dunia ada 2 jalan lebar dan sempit mana kau pilih, yang lebar
api jiwamu mati tapi yang sempit hidup berglori.” Jalan yang ditawarkan si
jahat adalah jalan yang lebar, memang kelihatannya mudah, enak tetapi ujungnya
menimbulkan masalah dan kematian iman tetapi jika iman kita tetap teguh memang
kelihatannya kita memilih jalan yang sempit, susah, sengsara tetapi pada
akhirnya jalan Tuhan inilah yang menyelamatkan kita, membawa hidup kita
sukacita, damai, taat pada rencana dan kehendak Tuhan. Amin. Jbu. (Ibu Inggita
– PKS CL 4)
Respon 2
SAAT TEDUH. Selasa,
30 Juni 2015. Karakter, Bukan Karier. Ucapkanlah syukur dalam segala hal, sebab
itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu (1 Tesalonika
5:18). “Aku bingung apa sebenarnya panggilan hidupku. Setiap pagi aku ke
kantor, mengerjakan tugas-tugasku, lalu sore pulang. Lima hari seminggu
begitu-begitu saja. Kadang aku bertanya-tanya, apakah pekerjaanku ini sudah
sesuai dengan kehendak Allah atau belum,” kata Wahyu. Temannya yang mendengar
hanya tercenung. Bingung juga mau berkata apa. Apakah Anda pernah atau tengah
mengalami kegalauan semacam itu, yaitu berusaha mengetahui kehendak Allah dalam
pekerjaan yang Anda lakukan? Perikop hari ini memberikan perspektif yang segar,
dan dapat memberikan jawaban atas kebingungan kita. Jika dicermati, Paulus
tidak mengaitkan kehendak Allah dengan pekerjaan yang kita lakukan, melainkan
dengan bagaimana sikap kita dalam menjalani hidup ini. Kita dipanggil untuk
menghormati pemimpin (ay. 12), hidup dalam damai dengan orang lain (ay. 13),
bersabar dan membela yang lemah (ay. 14). Allah menghendaki kita untuk
bersukacita (ay. 16), tekun berdoa (ay. 17), bersyukur (ay. 18), dan seterusnya.
Jika kita menyelidiki perikop lain yang berbicara tentang kehendak Allah, kita
akan menemukan arah nasihat yang serupa. Dari situ dapat disimpulkan, kehendak
Allah bukan terutama berkaitan dengan karier kita, melainkan dengan karakter
kita. Dengan begitu, kita leluasa berkarier apa saja, sesuai dengan talenta,
kecakapan, dan peluang yang ada. Yang lebih perlu untuk kita perhatikan adalah:
apakah kita menjalankan karier itu dengan karakter seorang anak Allah. Tidak
perlu bingung lagi, bukan?—ARS. KEHENDAK ALLAH BUKAN TERUTAMA BERKAITAN DENGAN
KARIER KITA, MELAINKAN DENGAN KARAKTER KITA SEBAGAI ANAK-NYA. Selamat pagi.
Selamat berkarya. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Respon 3
CINTA UANG. Read: 1
Timotius 6:2b-10. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang dan karena
memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya
dengan berbagai-bagai duka (1 Timotius 6:10). Salah satu saudari kami ingin
memperbaiki nasib dengan menggeluti bisnis melalui internet. Setelah beberapa
bulan, kami melihat fokusnya mulai terarah pada uang. Saat berinteraksi dengan
kami, ia lebih banyak membicarakan uang. Saat kami menasihatinya agar kembali
berfokus pada Tuhan, ia membela diri dengan menjawab dirinya bekerja demi
Tuhan. Nanti kalau bisnis maju, duitnya juga untuk Tuhan. Kenyataan berbicara
lain. Ia memang jadi orang kaya, namun hidupnya berantakan. Ia cerai dengan
suaminya, lalu kumpul kebo. Hubungannya dengan keluarga dan gereja pun kacau.
Tidak perlu disangkal, setiap orang membutuhkan uang. Tuhan pun mendorong kita
bekerja keras untuk mendapatkan uang, namun Tuhan tidak menghendaki kita
mengabaikan ibadah (ay. 6). Karena kita tidak membawa apa-apa ke dalam dunia
dan ketika mati, sangatlah penting mengembangkan sikap cukup (ay. 7-8). Orang
yang ingin kaya berfokus pada harta sehingga rentan terjatuh ke dalam
pencobaan, ke dalam jerat, dan ke dalam berbagai nafsu yang hampa dan
mencelakakan, bahkan menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai
duka (ay. 9-10). Tuhan senang kita bisa mencukupi semua kebutuhan dengan hasil
jerih lelah kita, Tuhan bangga melihat kita bisa memberkati orang lain dengan
uang kita, namun jangan sampai kita cinta akan uang. Uang memang bisa
menyelesaikan banyak masalah, namun uang bukan tuan, uang hanya alat. Jadilah
tuan atas uang, bukan cinta akan uang dan menjadi hamba uang. TUHAN MEMBERI
KITA UANG BUKAN UNTUK DICINTAI, MELAINKAN UNTUK DIPAKAI BERIBADAH. (Budi
Hariono – PT. MPU)
Respon 4
Pencobaan ialah
usaha melakukan sesuatu. Pencobaan dari Tuhan mencerahkan tapi pencobaan dari
setan menyengsarakan! Have a nice day. (Bp. Gunadi Cahyono – PT. MDU)
Respon 5
RENUNGAN PAGI.
Matius 6:27, “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat
menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” HAL KEKUATIRAN. Bacaan: Matius
6:25-34. Tiada seorang pun yang hidup tanpa kekhawatiran; tak satu pun kebal
dari kekuatiran. Jika seseorang berkata bahwa dia tidak peduli akan apa pun di
dunia ini, maka dia ada dalam penyangkalan. Yang menjadi pertanyaan: apa yang
dapat kita lakukan dengan kekuatiran kita? Kekuatiran adalah sebuah perasaan
gelisah, ketakutan atau kengerian terhadap sesuatu yang belum terjadi.
Perasaan-perasaan ini biasanya terkait dengan pikiran-pikiran NEGATIF atas
sesuatu yang mungkin terjadi di masa depan. Mari saudaraku kita ganti pikiran
NEGATIF dan memikirkan sesuai dengan apa yang Tuhan Yesus firmankan. Jadi
akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil,
semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang
disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu (Fil 4:8). Merasa
kuatir berarti merasa cemas, bingung dan pikirannya terbagi-bagi. Apa yang
harus kita perbuat ketika rasa kuatir menyerang pikiran kita? Rasul Paulus
menasihati, “...nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa
dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui
segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Fil
4:6-7). Sebagai anak-anak Tuhan, kita tidak seharusnya merasa kuatir karena
Tuhan, Allah kita sanggup memberkati dan menjaga kita. Ketika kita kuatir kita
sedang berupaya memindahkan beban dari bahu Tuhan yang kuat ke bahu kita yang
lemah. Mampukah kita? Selamat pagi. Allah sumber segala rahmat & kasih karunia
senantiasa menyertai, memimpin & melindungi kita bersama anggota keluarga
di mana pun mereka berada. ~ Imanuel ~ (Ibu Tatik Maywati – Bank Ekonom
Respon 6
Adalah keliru bila
ada yang beranggapan Tuhan & Alkitab menentang kekayaan & orang-orang
kaya. Abraham, Ishak & Yakub adalah orang-orang yang kaya bahkan sangat
kaya. Salomo mungkin salah satu orang terkaya yang pernah hidup di muka bumi.
Uang & kekayaan materi lainnya pun alat Tuhan bagi kelangsungan
pekerjaan-Nya di muka bumi. Pada sisi lain, kita perlu ingat pesan-pesan
peringatan Alkitab mengenai kekayaan: 1- Kekayaan dapat menjadi tuhan &
penguasa hidup kita; yang kita cintai, dambakan & kejar lebih dari Kristus
& Kerajaan-Nya ~Mat. 6:24,33. 2- Ada tipu daya dalam kekayaan. Pikiran kita
diperdaya dengan berpikir bahwa dalam kekayaan ada kedamaian, sukacita &
kebahagiaan sejati ~Mat. 13:22; Mrk. 4:19. 3- Oleh sebab ingin kaya, banyak
pria & wanita mengorbankan iman & hubungannya dengan Tuhan~1 Tim. 6:10.
4- Sebab cinta uang, orang menempuh jalan kejahatan & berbagai-bagai
penderitaan yang tidak perlu. 5- Kemakmuran punya kemampuan menjerat hati kita
sehingga berat melangkah dalam menyangkal diri mengikut Kristus ~ Mrk. 10:22.
6- Kelimpahan materi dapat mengubah hati kita menjadi jauh dari Tuhan & menentang
Dia -dengan menjadi serakah, kikir bahkan kejam pada sesama ~ 1 Tim. 6:17; Yak.
2:6;5:1-6. 7- Kekayaan duniawi sangat berpotensi mengalihkan kita dari
pengejaran akan harta sorgawi ~Mat. 19:21-24. 8- Kekayaan dapat menjadi tujuan
seumur hidup yang berarti melepaskan tujuan hidup terbaik yang Tuhan telah
rencanakan bagi kita ~ 1 Tim. 6:9-12. Maka, selayaknya kita perlu
SUNGGUH-SUNGGUH memperhatikan apa yang diajarkan Yesus Kristus supaya kita
fokus pada pengejaran harta sorgawi yang kekal abadi -bukan pada kekayaan
duniawi (Mat. 6:19-21). Dengan cara demikian, entah pada kita dipercayakan
kekayaan yang besar atau cukup dari Tuhan, hati kita tidak pernah menyimpang
dari jalan-jalanNya (Ams. 30:7-9). Hidup kita tidak lagi diarahkan pada
pencapaian-pencapaian yang semu tetapi pada apa yang benar-benar bermakna di
pandangan pencipta kita. Seperti hidup Yesus & saleh-salehNya di sepanjang
zaman. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)
Respon 7
Maz 5:1 – Berilah
telinga kepada perkataanku, ya TUHAN, indahkanlah keluh kesahku! YESUS pasti
mendengar doa kita, DIA sangat peduli dengan masalah-masalah kita. Percayalah!
Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.
Respon 8
“Teman bisa datang
dan pergi, tetapi sahabat sejati bertahan sampai mati.” Xavier Quentin Pranata.

No comments:
Post a Comment