Thursday, 25 June 2015

25 Juni 2015

TEMPTATION



2 Kor 1:3-4, “Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.” Ya Tuhan, tolong kami ketika mengalami penderitaan, ingatkan kami akan janji-janjiMu bahwa Engkau sanggup menghibur & menguatkan kami & mampukan kami juga untuk dapat menghibur/menguatkan saudara-saudara kami ketika mereka dalam ‘penderitaan/kesusahan’. Bagaimana dengan kita saat dalam ‘penderitaan’? Sudahkah kita mengijinkan Kristus menguasai/menghibur kita? Amin J.

Respon 1
Kita hidup hanya sekali saja tetapi jika kita melakukannya dengan benar, hidup sekali saja sudah cukup. 1 Yohanes 5:4, ‘sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.’

Respon 2
SAAT TEDUH. Kamis, 25 Juni 2015. Kaya di Mata Allah. Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah (Lukas 12:21). Kaya di hadapan Allah? Sepertinya saat ini orang tidak terlalu memikirkannya. Menurut mereka, kaya secara materiil lebih menarik daripada kaya di hadapan Allah. Bukankah cara pandang ini juga telah memengaruhi banyak orang Kristen? Misalnya, ketika kita diminta untuk memilih antara bisnis yang memberi keuntungan besar dan beribadah, mana yang akan kita pilih? Perumpamaan tentang “orang kaya yang bodoh” diakhiri dengan satu kesimpulan: orang yang hidup untuk memperkaya diri secara materiil, tetapi tidak kaya di hadapan Allah, ia bersikap bodoh. Menjadi kaya secara materiil memang tidak salah. Yang salah, jika dalam mengejar kekayaan, orang itu mengabaikan kekekalan, atau sama saja dengan ia mengabaikan Tuhan! Orang kaya itu lebih memilih Mamon; ia menipu dirinya dengan merasa yakin bahwa hidupnya sudah memiliki jaminan. Tuhan juga mengajar bahwa kekayaan akan bernilai dan bermanfaat bila pemiliknya mempunyai hubungan yang benar dengan Allah. Ia menerima kekayaan yang Allah percayakan dengan hati bersyukur, dan ia akan mengelolanya secara baik dan bertanggung jawab di hadapan Allah. Orang yang berprinsip menjadi kaya di hadapan Allah akan menerima kekayaan dari Allah dan dengan sukarela dan sukacita memakai hartanya untuk melayani Allah. Ia tahu bahwa memuliakan Allah itu lebih utama dari segala sesuatu. Ia kaya di hadapan Allah dan menjadi pelayan yang setia. Sudahkah kita kaya di hadapan Allah? Apakah kita mengelola kepercayaan Tuhan untuk kemuliaan nama-Nya?—SYS. ADALAH SEBUAH KEBODOHAN KETIKA KITA MENGEJAR BERKAT, NAMUN MENGABAIKAN TUHAN, SANG SUMBER BERKAT ITU. Selamat pagi. Ayooo olahraga. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 3
Kamis, 25 Juni 2015. Bacaan: Kejadian 28:10-22. Setahun: Ayub 41-42. Nats: Berdirilah TUHAN di sampingnya dan berfirman: “Akulah TUHAN, Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak; tanah tempat engkau berbaring ini akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu” (Kejadian 28:13). TUHAN MENUNJUKKAN VISI-NYA. Tahun 1999 terasa amat mengecewakan bagi saya. Saya terkena PHK sebagai imbas dari krisis ekonomi dan dilikuidasinya 32 bank waktu itu. Kehilangan pekerjaan yang saya impikan bertahun-tahun, saya merasa putus asa dan hilang harapan. Tetapi, di tengah keputusasaan itu, Tuhan menunjukkan visi-Nya bagi saya. Seorang rekan mengajak saya menulis dan menerbitkan buku renungan. Sekalipun awalnya ragu, saya melangkah. Tanpa saya sadari, keputusan itu ternyata mengubah jalan hidup saya. Panggilan dan visi Tuhan mengubah keputusasaan menjadi semangat baru untuk melayani-Nya. Yakub, harus lari dari rumahnya karena ancaman Esau, kakaknya, yang hendak membunuhnya. Pasalnya, Yakub menipu kakaknya itu dan merebut hak kesulungannya. Perasaan hati tidak tenang, takut, putus asa, kesepian meliputi hati Yakub kala itu. Hari itu, di suatu tempat, ia tidur dengan menggunakan batu sebagai alas kepalanya. Tak disangka, ia mendapatkan penglihatan menakjubkan melalui mimpi dan di situ ia bertemu dengan Tuhan, yang menyatakan visi untuknya (ay. 12-15). Visi Tuhan itu mengubah jalan hidup Yakub, memberinya semangat dan kekuatan baru untuk melanjutkan tujuan hidupnya (29:1). Kadang-kadang Tuhan mengizinkan kita mengalami situasi yang sulit, bahkan membiarkan kita putus asa selama beberapa waktu, supaya kita belajar berserah pada-Nya. Di tengah ketidakberdayaan dan keberserahan hati, Tuhan membukakan pintu langit dan menunjukkan visi-Nya bagi hidup kita. Tidak selamanya Dia membiarkan kita putus asa! --Samuel Yudi. BAHKAN DI TENGAH KETERPURUKAN DAN KEPUTUSASAAN YANG TERJADI, TUHAN MENUNJUKKAN JALAN-JALAN-NYA KEPADA KITA. (Ibu Caroline – Bandung)

Respon 4
Kel 15:2 – TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku, IA telah menjadi keselamatanku, IA ALLAHku, kupuji DIA, IA ALLAH BAPAku, kuluhurkan DIA! Terima kasih YESUSku. ENGKAU memang dahsyat dan sangat BAIK. Hanya ENGKAU ku agungkan! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.

Respon 5
Dalam 1 Raja-Raja 21, ada kisah memilukan mengenai Nabot, seorang yang dirampas kebun anggurnya oleh raja Ahab bersama istrinya, Izebel. Tidak hanya itu, untuk mendapatkan kebun anggur tersebut, Nabot dibawa ke pengadilan palsu dengan saksi-saksi yang berdusta memfitnah Nabot sebagai orang yang menghujat raja dan Tuhan. Sebab dua orang saksi yang jahat itu, Nabot -yang sesungguhnya tidak bersalah- dilempari batu hingga mati. Perbuatan dua orang saksi palsu (yang keberadaannya dirancang oleh Izebel) itu sangatlah keji di mata Tuhan. Itu sebabnya Tuhan bangkit murka-Nya dengan segera & mengutus nabi Elia untuk bernubuat kepada Ahab & keluarganya. Seluruh keluarga Ahab akan mati dengan cara yang mengerikan & seluruh keturunannya akan musnah. Saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan ialah perkara keenam yang sangat dibenci oleh Tuhan (Ams. 6:19). Di dalam saksi dusta sudah pasti ada tuduhan palsu atau fitnah, yang mampu menimbulkan banyak korban yang tidak bersalah. Menjadi saksi dusta (lebih-lebih dilakukan di bawah sumpah) sebenarnya sama dengan menjadi penegak-penegak kejahatan di muka bumi. Ini sama sekali bertentangan dengan ajaran Kristus yang memanggil kita menjadi anak-anak terang (Ef. 5:8) & senjata-senjata kebenaran (Rom. 6:13) demi melihat tegaknya keadilan & kebenaran atas sekitar kita (2 Sam. 8:15). Lebih-lebih Yesus sendiri mengajar kita supaya sekalipun tidak di bawah sumpah, kita harus berkata 'ya' di atas 'ya' dan 'tidak' di atas 'tidak'. Di dunia modern, beberapa orang telah mendustai hati nuraninya -dimana meski mereka tahu ada yang salah dengan agama atau ajaran-ajaran yang mereka terima atau tahu ada sistem-sistem rohani yang tidak sesuai dengan kebenaran firman -tetapi menutup mata bahkan tetap memberikan dukungan & persetujuannya, tanpa sadar telah membiarkan dirinya diarahkan menjadi saksi-saksi dusta melawan kebenaran. Kiranya kita dijauhkan dari semua itu. Berdoalah supaya kita beroleh kasih karunia agar bisa berdiri tegak dalam & demi kebenaran sejati. Seperti Kristus. Salam r
revival! GBU. (Worship Center Surabaya)




No comments:

Post a Comment