TEMPTATION
2 Kor 1:3-4, “Terpujilah
Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah
sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami,
sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam
penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.” Ya
Tuhan, tolong kami ketika mengalami penderitaan, ingatkan kami akan
janji-janjiMu bahwa Engkau sanggup menghibur & menguatkan kami &
mampukan kami juga untuk dapat menghibur/menguatkan saudara-saudara kami ketika
mereka dalam ‘penderitaan/kesusahan’. Bagaimana dengan kita saat dalam ‘penderitaan’?
Sudahkah kita mengijinkan Kristus menguasai/menghibur kita? Amin J.
Respon 1
Kita hidup hanya
sekali saja tetapi jika kita melakukannya dengan benar, hidup sekali saja sudah
cukup. 1 Yohanes 5:4, ‘sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia.
Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.’
Respon 2
SAAT TEDUH. Kamis,
25 Juni 2015. Kaya di Mata Allah. Demikianlah jadinya dengan orang yang
mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah
(Lukas 12:21). Kaya di hadapan Allah? Sepertinya saat ini orang tidak terlalu
memikirkannya. Menurut mereka, kaya secara materiil lebih menarik daripada kaya
di hadapan Allah. Bukankah cara pandang ini juga telah memengaruhi banyak orang
Kristen? Misalnya, ketika kita diminta untuk memilih antara bisnis yang memberi
keuntungan besar dan beribadah, mana yang akan kita pilih? Perumpamaan tentang
“orang kaya yang bodoh” diakhiri dengan satu kesimpulan: orang yang hidup untuk
memperkaya diri secara materiil, tetapi tidak kaya di hadapan Allah, ia
bersikap bodoh. Menjadi kaya secara materiil memang tidak salah. Yang salah,
jika dalam mengejar kekayaan, orang itu mengabaikan kekekalan, atau sama saja
dengan ia mengabaikan Tuhan! Orang kaya itu lebih memilih Mamon; ia menipu
dirinya dengan merasa yakin bahwa hidupnya sudah memiliki jaminan. Tuhan juga
mengajar bahwa kekayaan akan bernilai dan bermanfaat bila pemiliknya mempunyai
hubungan yang benar dengan Allah. Ia menerima kekayaan yang Allah percayakan
dengan hati bersyukur, dan ia akan mengelolanya secara baik dan bertanggung
jawab di hadapan Allah. Orang yang berprinsip menjadi kaya di hadapan Allah
akan menerima kekayaan dari Allah dan dengan sukarela dan sukacita memakai
hartanya untuk melayani Allah. Ia tahu bahwa memuliakan Allah itu lebih utama
dari segala sesuatu. Ia kaya di hadapan Allah dan menjadi pelayan yang setia.
Sudahkah kita kaya di hadapan Allah? Apakah kita mengelola kepercayaan Tuhan
untuk kemuliaan nama-Nya?—SYS. ADALAH SEBUAH KEBODOHAN KETIKA KITA MENGEJAR
BERKAT, NAMUN MENGABAIKAN TUHAN, SANG SUMBER BERKAT ITU. Selamat pagi. Ayooo
olahraga. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Respon 3
Kamis, 25 Juni
2015. Bacaan: Kejadian 28:10-22. Setahun: Ayub 41-42. Nats: Berdirilah TUHAN di
sampingnya dan berfirman: “Akulah TUHAN, Allah Abraham, nenekmu, dan Allah
Ishak; tanah tempat engkau berbaring ini akan Kuberikan kepadamu dan kepada
keturunanmu” (Kejadian 28:13). TUHAN MENUNJUKKAN VISI-NYA. Tahun 1999 terasa
amat mengecewakan bagi saya. Saya terkena PHK sebagai imbas dari krisis ekonomi
dan dilikuidasinya 32 bank waktu itu. Kehilangan pekerjaan yang saya impikan
bertahun-tahun, saya merasa putus asa dan hilang harapan. Tetapi, di tengah
keputusasaan itu, Tuhan menunjukkan visi-Nya bagi saya. Seorang rekan mengajak
saya menulis dan menerbitkan buku renungan. Sekalipun awalnya ragu, saya
melangkah. Tanpa saya sadari, keputusan itu ternyata mengubah jalan hidup saya.
Panggilan dan visi Tuhan mengubah keputusasaan menjadi semangat baru untuk
melayani-Nya. Yakub, harus lari dari rumahnya karena ancaman Esau, kakaknya,
yang hendak membunuhnya. Pasalnya, Yakub menipu kakaknya itu dan merebut hak
kesulungannya. Perasaan hati tidak tenang, takut, putus asa, kesepian meliputi
hati Yakub kala itu. Hari itu, di suatu tempat, ia tidur dengan menggunakan
batu sebagai alas kepalanya. Tak disangka, ia mendapatkan penglihatan
menakjubkan melalui mimpi dan di situ ia bertemu dengan Tuhan, yang menyatakan
visi untuknya (ay. 12-15). Visi Tuhan itu mengubah jalan hidup Yakub,
memberinya semangat dan kekuatan baru untuk melanjutkan tujuan hidupnya (29:1).
Kadang-kadang Tuhan mengizinkan kita mengalami situasi yang sulit, bahkan
membiarkan kita putus asa selama beberapa waktu, supaya kita belajar berserah
pada-Nya. Di tengah ketidakberdayaan dan keberserahan hati, Tuhan membukakan
pintu langit dan menunjukkan visi-Nya bagi hidup kita. Tidak selamanya Dia
membiarkan kita putus asa! --Samuel Yudi. BAHKAN DI TENGAH KETERPURUKAN DAN
KEPUTUSASAAN YANG TERJADI, TUHAN MENUNJUKKAN JALAN-JALAN-NYA KEPADA KITA. (Ibu
Caroline – Bandung)
Respon 4
Kel 15:2 – TUHAN itu
kekuatanku dan mazmurku, IA telah menjadi keselamatanku, IA ALLAHku, kupuji
DIA, IA ALLAH BAPAku, kuluhurkan DIA! Terima kasih YESUSku. ENGKAU memang
dahsyat dan sangat BAIK. Hanya ENGKAU ku agungkan! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA
Malang.
Respon 5
Dalam 1 Raja-Raja
21, ada kisah memilukan mengenai Nabot, seorang yang dirampas kebun anggurnya
oleh raja Ahab bersama istrinya, Izebel. Tidak hanya itu, untuk mendapatkan
kebun anggur tersebut, Nabot dibawa ke pengadilan palsu dengan saksi-saksi yang
berdusta memfitnah Nabot sebagai orang yang menghujat raja dan Tuhan. Sebab dua
orang saksi yang jahat itu, Nabot -yang sesungguhnya tidak bersalah- dilempari
batu hingga mati. Perbuatan dua orang saksi palsu (yang keberadaannya dirancang
oleh Izebel) itu sangatlah keji di mata Tuhan. Itu sebabnya Tuhan bangkit
murka-Nya dengan segera & mengutus nabi Elia untuk bernubuat kepada Ahab
& keluarganya. Seluruh keluarga Ahab akan mati dengan cara yang mengerikan
& seluruh keturunannya akan musnah. Saksi dusta yang menyembur-nyemburkan
kebohongan ialah perkara keenam yang sangat dibenci oleh Tuhan (Ams. 6:19). Di
dalam saksi dusta sudah pasti ada tuduhan palsu atau fitnah, yang mampu
menimbulkan banyak korban yang tidak bersalah. Menjadi saksi dusta (lebih-lebih
dilakukan di bawah sumpah) sebenarnya sama dengan menjadi penegak-penegak
kejahatan di muka bumi. Ini sama sekali bertentangan dengan ajaran Kristus yang
memanggil kita menjadi anak-anak terang (Ef. 5:8) & senjata-senjata
kebenaran (Rom. 6:13) demi melihat tegaknya keadilan & kebenaran atas
sekitar kita (2 Sam. 8:15). Lebih-lebih Yesus sendiri mengajar kita supaya
sekalipun tidak di bawah sumpah, kita harus berkata 'ya' di atas 'ya' dan
'tidak' di atas 'tidak'. Di dunia modern, beberapa orang telah mendustai hati nuraninya
-dimana meski mereka tahu ada yang salah dengan agama atau ajaran-ajaran yang
mereka terima atau tahu ada sistem-sistem rohani yang tidak sesuai dengan
kebenaran firman -tetapi menutup mata bahkan tetap memberikan dukungan &
persetujuannya, tanpa sadar telah membiarkan dirinya diarahkan menjadi
saksi-saksi dusta melawan kebenaran. Kiranya kita dijauhkan dari semua itu.
Berdoalah supaya kita beroleh kasih karunia agar bisa berdiri tegak dalam &
demi kebenaran sejati. Seperti Kristus. Salam r
revival! GBU.
(Worship Center Surabaya)

No comments:
Post a Comment