Sunday, 7 June 2015

7 Juni 2015



CULTURAL





1 Korintus 13:11, “Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.” Bagi anak-anak Tuhan BERTUMBUH bukanlah hal yang membosankan tetapi justru mendorong kita semakin DEWASA J. Membaca Alkitab & mengaplikasikannya merupakan salah satu cara untuk menolong kita bertumbuh J. Siapa yang sudah menolong Saudara untuk bertumbuh dalam IMAN? Dan siapa yang bisa Saudara tolong sekarang? Sebab bertumbuh itu tidak bisa sendirian, harus ada orang lain yang menolong J. Beradalah dalam Komunitas Sel agar kita bertumbuh maksimal dalam hidup ini. Amin.

Respon 1
Maz 105:40 – mereka meminta, maka didatangkan-NYA burung puyuh dan dengan roti dari langit dikenyangkan-NYA mereka! Ini benar-benar mujizat luar biasa... Sekarang kita alami sendiri mujizat-NYA yang luar biasa. Selamat ibadah dan melayani! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.

Respon 2
“Sendiri bersama Tuhan tidak membuat kita kesepian.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 3
Praise God...! Sambil berlutut Stefanus berseru dengan suara nyaring: “Tuhan, jgnlah tanggungkan dosa ini kepada mereka” Dan dengan perkataan itu meninggallah ia (Kis 7:60). Stefanus menaikkan doa ini saat dirajam batu sampai mati karena difitnah oleh anggota-anggota Mahkamah Agung. Tidak ada kata-kata kecewa, umpatan & kutukan yang keluar dari mulutnya. Aniaya & penderitaan tidak bisa mengubah sikap & hati Stefanus yang penuh kasih, ia 'memilih' untuk tetap mengasihi & mengampuni mereka yang menganiayanya. Disinilah saya melihat dengan jelas “iman yang dinyatakan melalui Tindakan, Iman yang Berbuat, Iman yang dihidupi”. Kita tidak bisa kendalikan / memilih segala peristiwa yang bisa terjadi dalam hidup kita, kita tidak punya kendali atas sikap & perbuatan yang orang-orang lakukan pada kita, tapi kita punya kendali mutlak atas diri kita, kita bisa memilih bagaimana kita 'meresponi'nya. Kita tidak bisa mencegah orang membenci kita. Tapi kita bisa memilih untuk mengasihi & mengampuninya, yang terpenting bukan masalahnya tapi bagaimana respon kita terhadap masalah itu (John Maxwell). Let's do it! Responi segala situasi dengan tetap melakukan prinsip firmanNya bukan malah mengikuti kecewanya hati, tidak terimanya ego, marahnya emosi, perintahnya keinginan yang salah, pembalasannya harga diri, apatisnya kebencian, kejahatannya pikiran. Makin membangun diri dengan iman yang nyata berbuat benar. Bahagia itu bukan karena hidupnya tanpa kesusahan tapi karena dapat merasakan kebahagiaan di tengah kesusahan. Berpengharapan itu bukan karena rajin berdoa & beriman tapi karena mampu “mewujudkan doa & ibadah menjadi perbuatan nyata sebagai penerapan iman”. Morning... Jbu all.

Respon 4
Lukas 10:39 (TB) “Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya.” TUHAN hubungan kami dengan ENGKAU jauh lebih penting dari hal-hal lain yang memikat hati kami. Ajar kami untuk bisa duduk diam di bawah kakiMU... (Ibu Caroline – Bandung)

Respon 5
Sikap kita kepada pemimpin rohani acapkali jatuh ke dalam 2 ekstrem. Disadari atau tidak, sikap yang tidak semestinya di antara dua pihak berpotensi membentuk suatu pola hubungan yang tidak sehat & menimbulkan kerusakan dimana-mana. Sikap ekstrem pertama dinyatakan dalam bentuk kesetiaan & ketaatan buta terhadap pemimpin; suatu kefanatikan (oleh kamus Webster diterjemahkan sebagai suatu sikap yang ditandai dengan antusias yang berlebihan & pengabdian yang kuat tanpa kritik kepada ajaran atau figur tertentu). Kita memang diperintahkan untuk tunduk & taat pada pemimpin kita (Ibr. 13:17) namun ketunduktaatan mutlak hanya wajib kita berikan pada Tuhan kita, Tritunggal yang kudus (Kis. 5:29). Sisi lain, sebagian orang gemar mengkritik segala sesuatu termasuk pemimpin-pemimpin rohani. Apapun yang disampaikan oleh otoritas disikapi secara skeptis (acuh atak acuh), dilihat dari sudut pandang negatif, cenderung tidak puas & suka mempertanyakan kepemimpinannya. Roh pemberonta-kan ini dipraktekkan 40 tahun oleh orang-orang Israel di padang gurun pada Musa -yang ujung-ujungnya sama sekali tidak menguntungkan kedua pihak! Sikap-sikap yang lebih baik ditunjukkan dalam hubungan antara Imam Eli & Samuel. Selama imam Eli hidup, Samuel taat, tunduk & belajar dalam pengawasan sang imam (yang juga mengarahkan Samuel terhubung pribadi dengan Tuhan), jauh melebihi anak-anak Eli yang hidupnya mengabaikan nasihat firman dari bapanya. Menariknya, saat Tuhan mempercayakan pesan profetik pada Samuel, Eli membuka diri untuk mendengar pesan Tuhan melalui Samuel (yang juga dengan segala keberanian tapi penuh penghormatan menyampaikan pesan Tuhan yang keras pada mentornya itu-1 Sam.3:11-18). Apapun kondisinya, Tuhan memerintahkan penghormatan pada otoritas (1 Tim. 5:17; 1 Pet. 2:18), lebih-lebih mereka yang menjalankan otoritas dengan benar (yang ditandai keterbukaan berdiskusi, mendengarkan masukan & tidak menuntut penundukan tanpa syarat). Dari kesatuan hati yang benar, berkat-berkat terbesar Tuhan curahkan atas umat-Nya (Maz. 133). Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:

Post a Comment