CULTURAL
1 Korintus 13:11, “Ketika
aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti
kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi
dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.” Bagi anak-anak Tuhan
BERTUMBUH bukanlah hal yang membosankan tetapi justru mendorong kita semakin
DEWASA J. Membaca Alkitab & mengaplikasikannya merupakan salah satu cara
untuk menolong kita bertumbuh J. Siapa yang sudah menolong Saudara untuk bertumbuh dalam IMAN? Dan
siapa yang bisa Saudara tolong sekarang? Sebab bertumbuh itu tidak bisa
sendirian, harus ada orang lain yang menolong J. Beradalah dalam Komunitas
Sel agar kita bertumbuh maksimal dalam hidup ini. Amin.
Respon 1
Maz 105:40 – mereka
meminta, maka didatangkan-NYA burung puyuh dan dengan roti dari langit
dikenyangkan-NYA mereka! Ini benar-benar mujizat luar biasa... Sekarang kita
alami sendiri mujizat-NYA yang luar biasa. Selamat ibadah dan melayani! Samuel
Sianto(SS)-YESTOYA Malang.
Respon 2
“Sendiri bersama
Tuhan tidak membuat kita kesepian.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 3
Praise God...!
Sambil berlutut Stefanus berseru dengan suara nyaring: “Tuhan, jgnlah
tanggungkan dosa ini kepada mereka” Dan dengan perkataan itu meninggallah ia
(Kis 7:60). Stefanus menaikkan doa ini saat dirajam batu sampai mati karena
difitnah oleh anggota-anggota Mahkamah Agung. Tidak ada kata-kata kecewa,
umpatan & kutukan yang keluar dari mulutnya. Aniaya & penderitaan tidak
bisa mengubah sikap & hati Stefanus yang penuh kasih, ia 'memilih' untuk
tetap mengasihi & mengampuni mereka yang menganiayanya. Disinilah saya
melihat dengan jelas “iman yang dinyatakan melalui Tindakan, Iman yang Berbuat,
Iman yang dihidupi”. Kita tidak bisa kendalikan / memilih segala peristiwa yang
bisa terjadi dalam hidup kita, kita tidak punya kendali atas sikap &
perbuatan yang orang-orang lakukan pada kita, tapi kita punya kendali mutlak
atas diri kita, kita bisa memilih bagaimana kita 'meresponi'nya. Kita tidak
bisa mencegah orang membenci kita. Tapi kita bisa memilih untuk mengasihi &
mengampuninya, yang terpenting bukan masalahnya tapi bagaimana respon kita
terhadap masalah itu (John Maxwell). Let's do it! Responi segala situasi dengan
tetap melakukan prinsip firmanNya bukan malah mengikuti kecewanya hati, tidak
terimanya ego, marahnya emosi, perintahnya keinginan yang salah, pembalasannya
harga diri, apatisnya kebencian, kejahatannya pikiran. Makin membangun diri
dengan iman yang nyata berbuat benar. Bahagia itu bukan karena hidupnya tanpa
kesusahan tapi karena dapat merasakan kebahagiaan di tengah kesusahan.
Berpengharapan itu bukan karena rajin berdoa & beriman tapi karena mampu
“mewujudkan doa & ibadah menjadi perbuatan nyata sebagai penerapan iman”.
Morning... Jbu all.
Respon 4
Lukas 10:39 (TB)
“Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk
dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya.” TUHAN hubungan kami
dengan ENGKAU jauh lebih penting dari hal-hal lain yang memikat hati kami. Ajar
kami untuk bisa duduk diam di bawah kakiMU... (Ibu Caroline – Bandung)
Respon 5
Sikap kita kepada
pemimpin rohani acapkali jatuh ke dalam 2 ekstrem. Disadari atau tidak, sikap
yang tidak semestinya di antara dua pihak berpotensi membentuk suatu pola
hubungan yang tidak sehat & menimbulkan kerusakan dimana-mana. Sikap
ekstrem pertama dinyatakan dalam bentuk kesetiaan & ketaatan buta terhadap
pemimpin; suatu kefanatikan (oleh kamus Webster diterjemahkan sebagai suatu
sikap yang ditandai dengan antusias yang berlebihan & pengabdian yang kuat
tanpa kritik kepada ajaran atau figur tertentu). Kita memang diperintahkan
untuk tunduk & taat pada pemimpin kita (Ibr. 13:17) namun ketunduktaatan
mutlak hanya wajib kita berikan pada Tuhan kita, Tritunggal yang kudus (Kis.
5:29). Sisi lain, sebagian orang gemar mengkritik segala sesuatu termasuk
pemimpin-pemimpin rohani. Apapun yang disampaikan oleh otoritas disikapi secara
skeptis (acuh atak acuh), dilihat dari sudut pandang negatif, cenderung tidak
puas & suka mempertanyakan kepemimpinannya. Roh pemberonta-kan ini
dipraktekkan 40 tahun oleh orang-orang Israel di padang gurun pada Musa -yang
ujung-ujungnya sama sekali tidak menguntungkan kedua pihak! Sikap-sikap yang
lebih baik ditunjukkan dalam hubungan antara Imam Eli & Samuel. Selama imam
Eli hidup, Samuel taat, tunduk & belajar dalam pengawasan sang imam (yang
juga mengarahkan Samuel terhubung pribadi dengan Tuhan), jauh melebihi
anak-anak Eli yang hidupnya mengabaikan nasihat firman dari bapanya.
Menariknya, saat Tuhan mempercayakan pesan profetik pada Samuel, Eli membuka
diri untuk mendengar pesan Tuhan melalui Samuel (yang juga dengan segala
keberanian tapi penuh penghormatan menyampaikan pesan Tuhan yang keras pada
mentornya itu-1 Sam.3:11-18). Apapun kondisinya, Tuhan memerintahkan
penghormatan pada otoritas (1 Tim. 5:17; 1 Pet. 2:18), lebih-lebih mereka yang
menjalankan otoritas dengan benar (yang ditandai keterbukaan berdiskusi,
mendengarkan masukan & tidak menuntut penundukan tanpa syarat). Dari
kesatuan hati yang benar, berkat-berkat terbesar Tuhan curahkan atas umat-Nya
(Maz. 133). Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:
Post a Comment