TEMPTATION
BERDAMPAK
DI TENGAH BUDAYA
Cultural
Part 3
(Diambil
dari Khotbah Alfa Omega Church, 07 Juni 2015)
Ide intro:
Saya dulu pernah
ikut-ikutan mengkritik, musik, politik, dll… Saya sendiri diingatkan: Apa yang
sudah kamu lakukan? Supaya ada musik-musik dengan lirik yang baik? Supaya ada
politik yang lebih baik?
POINT:
A. Sejarah Cultural Transformation
Di abad awal
kekristenan setelah Masehi… Di bawah Kaisar Roma, yang namanya BUDAYA dikuasai
dan diperuntukkan bagi orang-orang yang
berpendidikan, orang-orang elite, atau secara sosial dipandang high
class. Dan mereka-mereka itu adalah orang-orang non Kristen. Mereka adalah
kelompok orang yang punya rumah bagus, kuda bagus, pakaian bagus, perhiasan
bagus, teknologi bagus.
Di momen yang sama,
justru orang-orang Kristen menarik diri dari sosial budaya, dan dunia memandang
mereka sebagai primitive, kelas rendah dan orang-orang tidak elite.
Dan orang Kristen, hanya dapat mengkritik dan menghakimi budaya yang ada waktu
itu.
Bagaimana bisa
berdampak dalam budaya, kalau menarik diri dan menjauhkan diri?
Augustine tidak menghakimi budaya; namun dia juga tidak mengatakan bahwa budaya adalah jawaban dari semua kebutuhan hidup. Dia mengajarkan Engaging Culture dengan mengajarkan: “Kita perlu menolak moralitas dunia, tapi kita dapat menghargai dan mempelajari metode dari budaya dunia” (perhatikan kalimat ini, supaya Anda tidak salah arti).
Minggu lalu kita bahas, bagi Paulus: Pesannya tidak berubah, tapi Metodenya bisa berubah. Dalam pengajarannya, dia mengajarkan: selama bisa diambil baiknya, kenapa tidak diambil baiknya dan dipakai untuk kegunaan Kerajaan Sorga?!
Augustine akhirnya
terkenal sebagai “Cultural Transformation”. Bagi Augustine, perubahan
budaya bukan pencoretan dosa dari dunia ini; tapi perubahan pribadi manusia
oleh PENEBUSAN KRISTUS!
Bukankah Paulus juga pernah menulis hal yang sama tentang Kristus?
2 Kor 5:19, “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diriNya oleh Kristus dengan
tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita
pendamaian itu kepada kami.” Artinya: Anda dan saya sudah didamaikan oleh
Tuhan; giliran kita membawa berita pendamaian itu, ke dalam dunia Bisnis,
Pendidikan, Pemerintahan, Hiburan dan Seni (7 Pilar Marketplace). Bukan hanya
mengkritisi dan menghakimi budaya.
B. Cara pandang yang berbeda terhadap dunia dan
budaya
-
Aliran Anabaptist – yang
mengajarkan pengikutnya untuk menarik diri dari dunia.
-
Aliran Monaciticism, yang
mengajarkan bahwa menjadi biarawan adalah cara untuk hidup suci, dimana
seseorang menarik diri dari kegiatan
dunia dan hanya fokus melakukan kegiatan rohani.
-
Aliran Stoic, yang
menjelek-jelekkan “segala sesuatu” yang menyenangkan pikiran atau tubuh adalah
dosa. Di tahun 1541 – 1564, muncul seorang theologiawan yang bernama John
Calvin. Seperti Augustine, Calvin menolak roh dan immoralitas dunia;
tapi dia bisa memahami metode dunia. John Calvin mengajarkan: Selama
MOTIF dan SIKAP dibalik semua yang kita lakukan tidak bertentangan dengan
prinsip Tuhan; maka kita harus berani lakukan.
Sehingga orang
mulai belajar tentang bedanya hal MORAL, AMORAL dan IMMORAL. CONTOH: BANYAK HAL
ITU AMORAL, seperti: musik (Daud juga memuji Tuhan dengan musik),
lukisan, makan, minum, fashion, cars, rumah.
Semuanya itu
amoral, hanya sesuai MOTIF dan SIKAP dibaliknya menentukan, yang AMORAL jadi
IMMORAL atau MORAL baik.
Sekali lagi: KEKUDUSAN adalah menyeimbangkan antara dipisahkan dari dunia (set apart) dengan perintah Tuhan pergilah ke dunia yang penuh dosa dan hancur ini. Ketika Anda paham ini, Anda paham: tujuan Tuhan tempatkan Anda di dunia. Anda faham: Bukan jadi orang yang menjauhi dan mengkritik dunia; tapi bagaimana kita engaged (terlibat) dalam budaya dan berdampak dalam dunia.
C. Gimana aku bisa tahu bahwa yang aku lakukan ini benar?
-
Tidak menyalahi prinsip firman
Tuhan…
-
Brings joy and healing to
people
-
Fullfill the purpose of God
KONKLUSI:
Mari jadilah
orang-orang yang berdampak di tengah-tengah budaya. Entah kita ibu rumah
tangga, professional, entrepreneur, di pendidikan, politik, seni
dan media, mari kita ada di sana dengan kerinduan untuk berdampak bagi Tuhan di
tengah budaya.
Siapapun kita,
Tuhan tempatkan kita di area kita masing-masing untuk tujuan tertentu.
Minggu lalu
dikatakan di DPU, Anda yang pilih pekerjaan, Tuhan yang tetapkan berkat bagi
Anda. Mari kembali kepada tujuan Tuhan, agar kita berdampak di tengah budaya!!
No comments:
Post a Comment