TEMPTATION
Diseri khotbah yang
kemarin (Cultural Part 6) kita semua sangat diberkati J. Bagaimana agar kita
selalu ingat bahwa kita punya IDENTITAS? Ilustrasinya sangat sederhana: smartphone
yang kita pakai (yang jadul maupun yang terbaru sekalipun)selalu ada batterynya
J.
Demikian juga dengan kita sebagai anak-anak Tuhan, kita tidak akan “menjadi
spiritual” kalau kita “tidak kelihatan religius” J. Kita akan
HIDUP/bersinar/punya identitas/berdampak kalau kita ada battery-nya
(battery yang senantiasa di-charge/kehidupan kita juga harus di-charge.
Yaitu: yang pertama adalah doa & baca Alkitab. Roma 10:17, “Jadi,
iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.”
Kelihatannya kuno ya J tetapi inilah tujuan & nilai (purpose & value) hidup
kita. Mari saudara-saudaraku: “Bersarapan Pagi bersama Yesus” sebelum kita
beraktivitas disepanjang hari ini. Jadikan SARAPAN PAGI (doa & baca firman)
sebagai suatu kebiasaan yang baik setiap hari, niscaya sepanjang hari itu kita
berhasil & berjaya. Amin. Berikutnya: Tertanamlah dalam sebuah gereja lokal
& terlibatlah melayani di gereja & marketplace J. Mari hidup dengan IDENTITAS
yang kuat dalam Tuhan agar kita BERSINAR di marketplace kita
masing-masing! Amin.
Respon 1
Ayub 42:5 – Dulu
hanya kata orang saja aku mendengar tentang Tuhan, tetapi sekarang aku sendiri
mengalami pertolongan TUHAN! Ayo alami sendiri, YESUS pasti tolong! Samuel
Sianto(SS)-YESTOYA Malang.
Respon 2
SAAT TEDUH. Senin,
29 Juni 2015. Tali Sipat. Inilah yang diperlihatkan-Nya kepadaku: Tampak Tuhan
berdiri dekat sebuah tembok yang tegak lurus, dan di tangan-Nya ada tali sipat
(Amos 7:7). Pada saat seorang tukang bangunan mendirikan sebuah tembok atau
dinding, ia akan membentangkan benang untuk memastikan dinding yang sedang
dibangun lurus. Ia membutuhkan seutas benang yang diberi beban supaya benang
itu lurus. Gaya gravitasi akan menarik beban itu sehingga benang membentuk
garis tegak lurus. Dengan mendekatkan benang, yang disebut sebagai tali sipat,
itu ke dinding yang sedang dibangun, seorang tukang akan mengetahui apakah
tembok itu tegak lurus atau tidak. Tanpa tali sipat, sangat sulit bagi tukang
untuk membuat dinding yang lurus. Tuhan menetapkan hidup kita sebagai bangunan
rohani. Tuhan ingin bangunan hidup kita tegak lurus. Menurut Yesaya 28:17, tali
sipat itu adalah kebenaran dan, dalam Yohanes 17:17, kebenaran adalah firman
Tuhan. Kita harus selalu mendekatkan diri kepada kebenaran firman Tuhan
sehingga kita mengerti apakah bangunan hidup kita tegak lurus atau tidak di
hadapan Tuhan. Bangsa Israel telah diingatkan melalui nabi Amos bahwa Tuhan
sudah berdiri dengan tali sipat di tangan-Nya. Tetapi, mereka tidak mau
mengukur bangunan hidup mereka menurut tali sipat kebenaran itu. Mereka tidak
mau bertobat dari kejahatannya. Akibatnya, kehidupan mereka menyimpang jauh
dari ketetapan Tuhan. Karena itu, Tuhan mengizinkan bangsa Asyur menghancurkan
bangsa Israel. Mari kita senantiasa membawa bangunan hidup kita dekat dengan
kebenaran firman Tuhan dan memastikan bangunan hidup kita tegak lurus di
hadapan-Nya —YBS. BIARLAH HIDUP KITA SENANTIASA DEKAT DENGAN FIRMAN TUHAN, TALI
SIPAT YANG MENGARAHKAN DAN MELURUSKAN. Welcome Monday. Good morning all. Tuhan
Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Respon 3
Dalam menyikapi
perkataan Tuhan, sebagian orang Kristen menanggapi firman tidak ubahnya
menanggapi ramalan-ramalan dari para cenayang: “Jika pesannya baik, aku percaya
& aminkan; jika pesannya tidak baik, tidak perlu dipikirkan. Kan belum
tentu benar.” Entah itu disampaikan oleh Roh Kudus melalui pembacaan Alkitab,
khotbah, membaca tulisan rohani atau pesan nubuatan yang teruji dsb, ada
sebagian dari anak-anak Tuhan yang gemar “memilih-milih menu makanan rohaninya”
-seolah-olah ada perkataan Tuhan yang tiada bermanfaat & bisa diabaikan
begitu saja. Ini bukan sikap yang benar di hadapan Tuhan. Apa yang disampaikan
Tuhan bukanlah perkataan hampa, itu adalah hidup kita (Ul. 32:46-47;2 Tim.
3:16). Itu adalah sesuatu yang begitu penting sehingga harus menjadi pegangan
hidup kita, yang harus kita baca, renungkan, perkatakan & lakukan
SELURUHNYA supaya kita berhasil sebagai anak-anak Allah sepanjang usia
(Yos.1:8; 23:6; Ul. 28:58). Tidak boleh kita satu dua kali saja melakukan
perintah Tuhan tapi taat sepenuhnya senantiasa (2 Kor. 2:9; Fil. 2:12). Sikap
“pilih-pilih makanan” sebenarnya merupakan pertanda kondisi rohani kita. Hanya
kanak-kanak & orang-orang yang tidak baik kondisi tubuhnya tidak dapat
menikmati semua jenis makanan sehat yang ada. Makanan lunak yang mudah dicerna
adalah makanan bayi. Orang-orang sakit sukar mengkonsumsi semua jenis makanan.
Jika demikian kita menyikapi firman, seharusnya kita segera menyadari kondisi
rohani kita yang buruk itu. Kelemahan-kelemahan & kondisi-kondisi kita
bukan alasan mengesampingkan firman. Sebab Tuhan siap memberikan hikmat,
kekuatan & berkat-Nya atas setiap langkah iman kita mengerjakan
kehendak-Nya. “Peringatan-peringatanMu adalah milik pusakaku selama-lamanya
sebab SEMUANYA itu kegirangan hatiku” (Maz. 119:111). Benar sekali. Mereka yang
normal & sehat rohaninya menyukai semua makanan. Termasuk hidangan-hidangan
yang terlezat: makanan-makanan keras. Jangan puas dengan bubur rohani. Meja
perjamuan & hidangan pesta telah disiapkan bagi Anda. Akankah Anda datang
memenuhi undangan Tuhan? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)
Respon 4
“Kita seringkali
lebih mempercayai manusia yang seperti serigala berbulu domba ketimbang Anak
Domba Allah yang sungguh-sungguh dapat kita percayai.” Xavier Quentin Pranata.

No comments:
Post a Comment