Monday, 29 June 2015

29 Juni 2015

TEMPTATION



Diseri khotbah yang kemarin (Cultural Part 6) kita semua sangat diberkati J. Bagaimana agar kita selalu ingat bahwa kita punya IDENTITAS? Ilustrasinya sangat sederhana: smartphone yang kita pakai (yang jadul maupun yang terbaru sekalipun)selalu ada batterynya J. Demikian juga dengan kita sebagai anak-anak Tuhan, kita tidak akan “menjadi spiritual” kalau kita “tidak kelihatan religius” J. Kita akan HIDUP/bersinar/punya identitas/berdampak kalau kita ada battery-nya (battery yang senantiasa di-charge/kehidupan kita juga harus di-charge. Yaitu: yang pertama adalah doa & baca Alkitab. Roma 10:17, “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” Kelihatannya kuno ya J tetapi inilah tujuan & nilai (purpose & value) hidup kita. Mari saudara-saudaraku: “Bersarapan Pagi bersama Yesus” sebelum kita beraktivitas disepanjang hari ini. Jadikan SARAPAN PAGI (doa & baca firman) sebagai suatu kebiasaan yang baik setiap hari, niscaya sepanjang hari itu kita berhasil & berjaya. Amin. Berikutnya: Tertanamlah dalam sebuah gereja lokal & terlibatlah melayani di gereja & marketplace J. Mari hidup dengan IDENTITAS yang kuat dalam Tuhan agar kita BERSINAR di marketplace kita masing-masing! Amin.

Respon 1
Ayub 42:5 – Dulu hanya kata orang saja aku mendengar tentang Tuhan, tetapi sekarang aku sendiri mengalami pertolongan TUHAN! Ayo alami sendiri, YESUS pasti tolong! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.

Respon 2
SAAT TEDUH. Senin, 29 Juni 2015. Tali Sipat. Inilah yang diperlihatkan-Nya kepadaku: Tampak Tuhan berdiri dekat sebuah tembok yang tegak lurus, dan di tangan-Nya ada tali sipat (Amos 7:7). Pada saat seorang tukang bangunan mendirikan sebuah tembok atau dinding, ia akan membentangkan benang untuk memastikan dinding yang sedang dibangun lurus. Ia membutuhkan seutas benang yang diberi beban supaya benang itu lurus. Gaya gravitasi akan menarik beban itu sehingga benang membentuk garis tegak lurus. Dengan mendekatkan benang, yang disebut sebagai tali sipat, itu ke dinding yang sedang dibangun, seorang tukang akan mengetahui apakah tembok itu tegak lurus atau tidak. Tanpa tali sipat, sangat sulit bagi tukang untuk membuat dinding yang lurus. Tuhan menetapkan hidup kita sebagai bangunan rohani. Tuhan ingin bangunan hidup kita tegak lurus. Menurut Yesaya 28:17, tali sipat itu adalah kebenaran dan, dalam Yohanes 17:17, kebenaran adalah firman Tuhan. Kita harus selalu mendekatkan diri kepada kebenaran firman Tuhan sehingga kita mengerti apakah bangunan hidup kita tegak lurus atau tidak di hadapan Tuhan. Bangsa Israel telah diingatkan melalui nabi Amos bahwa Tuhan sudah berdiri dengan tali sipat di tangan-Nya. Tetapi, mereka tidak mau mengukur bangunan hidup mereka menurut tali sipat kebenaran itu. Mereka tidak mau bertobat dari kejahatannya. Akibatnya, kehidupan mereka menyimpang jauh dari ketetapan Tuhan. Karena itu, Tuhan mengizinkan bangsa Asyur menghancurkan bangsa Israel. Mari kita senantiasa membawa bangunan hidup kita dekat dengan kebenaran firman Tuhan dan memastikan bangunan hidup kita tegak lurus di hadapan-Nya —YBS. BIARLAH HIDUP KITA SENANTIASA DEKAT DENGAN FIRMAN TUHAN, TALI SIPAT YANG MENGARAHKAN DAN MELURUSKAN. Welcome Monday. Good morning all. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 3
Dalam menyikapi perkataan Tuhan, sebagian orang Kristen menanggapi firman tidak ubahnya menanggapi ramalan-ramalan dari para cenayang: “Jika pesannya baik, aku percaya & aminkan; jika pesannya tidak baik, tidak perlu dipikirkan. Kan belum tentu benar.” Entah itu disampaikan oleh Roh Kudus melalui pembacaan Alkitab, khotbah, membaca tulisan rohani atau pesan nubuatan yang teruji dsb, ada sebagian dari anak-anak Tuhan yang gemar “memilih-milih menu makanan rohaninya” -seolah-olah ada perkataan Tuhan yang tiada bermanfaat & bisa diabaikan begitu saja. Ini bukan sikap yang benar di hadapan Tuhan. Apa yang disampaikan Tuhan bukanlah perkataan hampa, itu adalah hidup kita (Ul. 32:46-47;2 Tim. 3:16). Itu adalah sesuatu yang begitu penting sehingga harus menjadi pegangan hidup kita, yang harus kita baca, renungkan, perkatakan & lakukan SELURUHNYA supaya kita berhasil sebagai anak-anak Allah sepanjang usia (Yos.1:8; 23:6; Ul. 28:58). Tidak boleh kita satu dua kali saja melakukan perintah Tuhan tapi taat sepenuhnya senantiasa (2 Kor. 2:9; Fil. 2:12). Sikap “pilih-pilih makanan” sebenarnya merupakan pertanda kondisi rohani kita. Hanya kanak-kanak & orang-orang yang tidak baik kondisi tubuhnya tidak dapat menikmati semua jenis makanan sehat yang ada. Makanan lunak yang mudah dicerna adalah makanan bayi. Orang-orang sakit sukar mengkonsumsi semua jenis makanan. Jika demikian kita menyikapi firman, seharusnya kita segera menyadari kondisi rohani kita yang buruk itu. Kelemahan-kelemahan & kondisi-kondisi kita bukan alasan mengesampingkan firman. Sebab Tuhan siap memberikan hikmat, kekuatan & berkat-Nya atas setiap langkah iman kita mengerjakan kehendak-Nya. “Peringatan-peringatanMu adalah milik pusakaku selama-lamanya sebab SEMUANYA itu kegirangan hatiku” (Maz. 119:111). Benar sekali. Mereka yang normal & sehat rohaninya menyukai semua makanan. Termasuk hidangan-hidangan yang terlezat: makanan-makanan keras. Jangan puas dengan bubur rohani. Meja perjamuan & hidangan pesta telah disiapkan bagi Anda. Akankah Anda datang memenuhi undangan Tuhan? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

Respon 4
“Kita seringkali lebih mempercayai manusia yang seperti serigala berbulu domba ketimbang Anak Domba Allah yang sungguh-sungguh dapat kita percayai.” Xavier Quentin Pranata.

No comments:

Post a Comment