GROWTH
Dampak
Pertumbuhan dalam Keluarga. Orang tua yang bertumbuh secara
spiritual pasti berdampak kepada anak-anaknya (seisi rumah tangganya). Contoh:
orang tua yang mempunyai jam-jam ibadah, jam doa, & pelayanan yang teratur
maka akan berdampak kepada seisi rumah tangganya . Anak-anak yang mentaati
orang tuanya itu adalah salah satu contoh dampak bila orang tua TAAT kepada
Tuhan. Keluarga yang bertumbuh tidak hanya mempunyai dampak bagi seisi
rumah tangganya tetapi juga kepada lingkungan sekitarnya! Amin! Yosua 24:15, “Tetapi
jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari
ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu
beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu
diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”
Respon 1
Kebosanan menyita
energi, buatlah segala sesuatu yang kita lakukan menarik dan berminatlah pada
semua hal yang kita lakukan »Desi anwar«. Ayub 10:1, “Aku telah bosan hidup,
aku hendak melampiaskan keluhanku, aku hendak berbicara dalam kepahitan
jiwaku.” Ada orang yang tambah bergairah ketika menghadapi masalah dan
tantangan, tapi ada juga orang yang frustasi dan putus asa lalu bosan hidup
karena masalah. Semakin bosan hidup semakin boros energi yang kita keluarkan,
wajah semakin layu dan kusam, lalu cepet tua dan menjadi jelek. Padahal hidup
itu indah dan sangat menarik, melalui tantangan otot rohani kita menjadi
semakin kuat dan kenyal, bahkan membuat kita menjadi kebal atas segala serangan
serangan musuh kita. Apapun situasi dan kondisi kita saat ini, bersyukurlah
kepada Tuhan, karena kebaikanNya yang begitu luar biasa, sebab sesulit dan
sesukar apapun hidup yang kita jalani, Dia pasti akan memberi jalan keluar bagi
kita yang sungguh-sungguh percaya dan berharap kepadaNya. Selamat pagi &
selamat beraktivitas. God bless you. (Bp. Budi Hariono – PT. MPU)
Respon 2
SAAT TEDUH. Kamis,
9 Juli 2015. Kualittas Sahabat Sejati. TUHAN akan ada di antara aku dan engkau
serta di antara keturunanku dan keturunanmu sampai selamanya (1 Samuel 20:42).
Socrates, filsuf Yunani, bertanya pada seorang lelaki tua tentang hal yang
paling membuatnya bersyukur. Lelaki itu menjawab, “Di tengah pasang-surut hidup
ini, saya sangat bersyukur karena memiliki sahabat-sahabat setia.” Ya, hidup
menjadi lebih berarti jika kita punya sahabat. Kepada Daud, Tuhan
menganugerahkan Yonatan sebagai sahabat. Yonatan sahabat yang setia dan berani,
padahal Saul, ayahnya, sangat membenci Daud. Yonatan mengasihi sahabatnya
seperti jiwanya sendiri (ay. 17), bahkan berulang-ulang membela sahabatnya itu
di hadapan Saul (ay. 32, juga 1 Sam 19:4) sehingga nyawanya menjadi taruhannya
(ay. 33). Yonatan juga pemberi dorongan semangat dan tidak egois. Sebenarnya
popularitas Daud merugikan kedudukan Yonatan sebagai putra mahkota. Tetapi,
Yonatan tidak dengki, dan malah bersukacita menerima Daud sebagai raja Israel
karena menyadari hal itu adalah pilihan Allah. Persahabatan mereka abadi dan tidak
tergoyahkan karena berpegang pada prinsip: “Tuhan akan ada di antara aku dan
engkau serta di antara keturunanku dan keturunanmu sampai selamanya” (ay. 42).
Kasih Allah telah menyatukan mereka dan memelihara persahabatan antara Daud dan
Yonatan. Ketika banyak orang hidup secara individualistis dan munafik, kita
dipanggil menjadi saksi hidup bahwa kesetiaan dan persahabatan di dalam Kristus
masih mungkin terjadi. Ketika kita menempatkan Allah sebagai juru mudi
persahabatan kita, Dia sanggup memelihara dan menjadikannya sebagai sarana
untuk memberkati dunia —DEW. SAHABAT SEJATI TIDAK MEMAKSA ANDA MEMERCAYAINYA,
TETAPI IA MEMASTIKAN ANDA MEMERCAYAI ALLAH. Selamat pagi. Selamat beraktivitas.
Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Respon 3
“Pekerjaan akan terasa
ringan jika kita memilih untuk melakukannya tanpa merasakannya sebagai beban.”
Xavier Quentin Pranata.
Respon 4
Kitab Amsal
memberikan petunjuk mengenai bagaimana menjalankan hidup sehari-hari sebagai
umat Tuhan yang rindu hidupnya menjadi saluran berkat bagi sekitarnya,
memancarkan kebaikan dan kasih Tuhan bagi sesama. Hidup yang sedemikian pun
membawa keuntungan-keuntungan besar yang berpulang pada siapa yang
menjalaninya. Salah satu contohnya dalam Amsal 27:14. Dikatakan di sana, siapa
yang pagi-pagi sekali memberi selamat dengan suara nyaring akan dikutuki.
Memberi selamat, mengucapkan berkat & salam ialah sesuatu yang baik tapi
mengapa berbuah kutuk? Renungkanlah. Di pagi-pagi buta, mendengarkan teriakan
(sekalipun itu seruan berkat) bukan merupakan sesuatu yang menyenangkan tapi
lebih pada sesuatu yang bersifat gangguan. Lebih lanjut, mereka yang
melakukannya akan dipandang secara curiga bahwa ada maksud-maksud tersembunyi
dengan mengeluarkan suara keras-keras sehingga didengar semua orang. Entah itu
untuk menarik perhatian orang pada dirinya atau ingin menunjukkan sesuatu yang
tampak baik tentang pribadinya. Dengan kata lain, meski memiliki maksud &
tujuan baik namun dengan cara-cara yang tidak tepat & berdampak merugikan
orang lain, lebih dipandang sebagai kebodohan oleh Tuhan. Dari perenungan di
atas, kita seharusnya memahami bahwa dalam hubungan-hubungan kita dengan
sesama, semuanya perlu didasari & dikerjakan dalam hikmat sejati.
Orang-orang Jawa menyebutnya “tepa selira” atau “tenggang rasa”. Namun ini
lebih daripada itu. Hikmat dari Tuhan akan menuntun kita bagaimana kita
berkata-kata & bertindak sesuai kehendak Tuhan dalam segala situasi (Ef.
5:15,17; Mat. 10:19-20). Sikap tahu (membawa) diri, sopan santun & menjaga
perasaan orang lain dalam ketulusan ialah hikmat Tuhan. Kita dipanggil untuk
memahami & mengamalkannya. Kecerdikan tanpa maksud baik ialah kelicikan.
Maksud baik tanpa hikmat itu kecerobohan. Maksud baik dengan hikmat adalah
hubungan-hubungan kasih yang penuh berkat -sesuai cara-cara Allah. Setujukah
Anda? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:
Post a Comment