Thursday, 9 July 2015

9 Juli 2015

GROWTH




Dampak Pertumbuhan dalam Keluarga. Orang tua yang bertumbuh secara spiritual pasti berdampak kepada anak-anaknya (seisi rumah tangganya). Contoh: orang tua yang mempunyai jam-jam ibadah, jam doa, & pelayanan yang teratur maka akan berdampak kepada seisi rumah tangganya . Anak-anak yang mentaati orang tuanya itu adalah salah satu contoh dampak bila orang tua TAAT kepada Tuhan. Keluarga yang bertumbuh tidak hanya mempunyai dampak bagi seisi rumah tangganya tetapi juga kepada lingkungan sekitarnya! Amin! Yosua 24:15, “Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”

Respon 1
Kebosanan menyita energi, buatlah segala sesuatu yang kita lakukan menarik dan berminatlah pada semua hal yang kita lakukan »Desi anwar«. Ayub 10:1, “Aku telah bosan hidup, aku hendak melampiaskan keluhanku, aku hendak berbicara dalam kepahitan jiwaku.” Ada orang yang tambah bergairah ketika menghadapi masalah dan tantangan, tapi ada juga orang yang frustasi dan putus asa lalu bosan hidup karena masalah. Semakin bosan hidup semakin boros energi yang kita keluarkan, wajah semakin layu dan kusam, lalu cepet tua dan menjadi jelek. Padahal hidup itu indah dan sangat menarik, melalui tantangan otot rohani kita menjadi semakin kuat dan kenyal, bahkan membuat kita menjadi kebal atas segala serangan serangan musuh kita. Apapun situasi dan kondisi kita saat ini, bersyukurlah kepada Tuhan, karena kebaikanNya yang begitu luar biasa, sebab sesulit dan sesukar apapun hidup yang kita jalani, Dia pasti akan memberi jalan keluar bagi kita yang sungguh-sungguh percaya dan berharap kepadaNya. Selamat pagi & selamat beraktivitas. God bless you. (Bp. Budi Hariono – PT. MPU)

Respon 2
SAAT TEDUH. Kamis, 9 Juli 2015. Kualittas Sahabat Sejati. TUHAN akan ada di antara aku dan engkau serta di antara keturunanku dan keturunanmu sampai selamanya (1 Samuel 20:42). Socrates, filsuf Yunani, bertanya pada seorang lelaki tua tentang hal yang paling membuatnya bersyukur. Lelaki itu menjawab, “Di tengah pasang-surut hidup ini, saya sangat bersyukur karena memiliki sahabat-sahabat setia.” Ya, hidup menjadi lebih berarti jika kita punya sahabat. Kepada Daud, Tuhan menganugerahkan Yonatan sebagai sahabat. Yonatan sahabat yang setia dan berani, padahal Saul, ayahnya, sangat membenci Daud. Yonatan mengasihi sahabatnya seperti jiwanya sendiri (ay. 17), bahkan berulang-ulang membela sahabatnya itu di hadapan Saul (ay. 32, juga 1 Sam 19:4) sehingga nyawanya menjadi taruhannya (ay. 33). Yonatan juga pemberi dorongan semangat dan tidak egois. Sebenarnya popularitas Daud merugikan kedudukan Yonatan sebagai putra mahkota. Tetapi, Yonatan tidak dengki, dan malah bersukacita menerima Daud sebagai raja Israel karena menyadari hal itu adalah pilihan Allah. Persahabatan mereka abadi dan tidak tergoyahkan karena berpegang pada prinsip: “Tuhan akan ada di antara aku dan engkau serta di antara keturunanku dan keturunanmu sampai selamanya” (ay. 42). Kasih Allah telah menyatukan mereka dan memelihara persahabatan antara Daud dan Yonatan. Ketika banyak orang hidup secara individualistis dan munafik, kita dipanggil menjadi saksi hidup bahwa kesetiaan dan persahabatan di dalam Kristus masih mungkin terjadi. Ketika kita menempatkan Allah sebagai juru mudi persahabatan kita, Dia sanggup memelihara dan menjadikannya sebagai sarana untuk memberkati dunia —DEW. SAHABAT SEJATI TIDAK MEMAKSA ANDA MEMERCAYAINYA, TETAPI IA MEMASTIKAN ANDA MEMERCAYAI ALLAH. Selamat pagi. Selamat beraktivitas. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 3
“Pekerjaan akan terasa ringan jika kita memilih untuk melakukannya tanpa merasakannya sebagai beban.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 4
Kitab Amsal memberikan petunjuk mengenai bagaimana menjalankan hidup sehari-hari sebagai umat Tuhan yang rindu hidupnya menjadi saluran berkat bagi sekitarnya, memancarkan kebaikan dan kasih Tuhan bagi sesama. Hidup yang sedemikian pun membawa keuntungan-keuntungan besar yang berpulang pada siapa yang menjalaninya. Salah satu contohnya dalam Amsal 27:14. Dikatakan di sana, siapa yang pagi-pagi sekali memberi selamat dengan suara nyaring akan dikutuki. Memberi selamat, mengucapkan berkat & salam ialah sesuatu yang baik tapi mengapa berbuah kutuk? Renungkanlah. Di pagi-pagi buta, mendengarkan teriakan (sekalipun itu seruan berkat) bukan merupakan sesuatu yang menyenangkan tapi lebih pada sesuatu yang bersifat gangguan. Lebih lanjut, mereka yang melakukannya akan dipandang secara curiga bahwa ada maksud-maksud tersembunyi dengan mengeluarkan suara keras-keras sehingga didengar semua orang. Entah itu untuk menarik perhatian orang pada dirinya atau ingin menunjukkan sesuatu yang tampak baik tentang pribadinya. Dengan kata lain, meski memiliki maksud & tujuan baik namun dengan cara-cara yang tidak tepat & berdampak merugikan orang lain, lebih dipandang sebagai kebodohan oleh Tuhan. Dari perenungan di atas, kita seharusnya memahami bahwa dalam hubungan-hubungan kita dengan sesama, semuanya perlu didasari & dikerjakan dalam hikmat sejati. Orang-orang Jawa menyebutnya “tepa selira” atau “tenggang rasa”. Namun ini lebih daripada itu. Hikmat dari Tuhan akan menuntun kita bagaimana kita berkata-kata & bertindak sesuai kehendak Tuhan dalam segala situasi (Ef. 5:15,17; Mat. 10:19-20). Sikap tahu (membawa) diri, sopan santun & menjaga perasaan orang lain dalam ketulusan ialah hikmat Tuhan. Kita dipanggil untuk memahami & mengamalkannya. Kecerdikan tanpa maksud baik ialah kelicikan. Maksud baik tanpa hikmat itu kecerobohan. Maksud baik dengan hikmat adalah hubungan-hubungan kasih yang penuh berkat -sesuai cara-cara Allah. Setujukah Anda? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)


No comments:

Post a Comment