Monday, 13 July 2015

13 Juli 2015

GROWTH




Roma 15:7, “Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.” Janganlah kita membeda-bedakan satu dengan yang lainnya, Rasul Paulus menasihatkan, sebagai Gereja Tuhan janganlah bersifat eksklusif, lihatlah Yesus telah menjadi teladan bagi penerimaan tersebut . Sebab Yesus tidak membedakan antara kaum yang lemah (Yahudi) & yang kuat (bangsa-bangsa yang bukan Yahudi). Jadikan ‘penerimaan’ Yesus ini menjadi dasar bagi penerimaan kita terhadap satu sama lain/saling mengasihi sebagai ‘keluarga’. Adakah sikap kita selama ini yang menunjukkan bahwa kita sudah mengutamakan kesatuan anak-anak Tuhan/saling mengasihi/saling menerima satu dengan yang lain? Kita perlu saling menerima dengan tangan terbuka & saling menopang satu dengan yang lain. Amin.

Respon 1
Jika harus menunggu sampai semuanya siap, kita akan terus menunggu dan menunggu selama hidup. Roma 1:17, ‘Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: ‘Orang benar akan hidup oleh iman.’’ (GNCC)

Respon 2
“Keluarga adalah tempat di mana tangis dan tawa diterima sebagai bagian kehidupan.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 3
Hidup di tengah-tengah masyarakat yang beragama & bernuansa religius dapat membingungkan orang-orang percaya. Di satu sisi, karena mendasarkan iman kita pada kasih karunia Tuhan, kita sebagai orang-orang Kristen tampak longgar dalam praktek-praktek ibadah kita hingga terlihat kurang sungguh-sungguh beribadah. Pada sisi lain, kita seharusnya mengerti bahwa hidup kita adalah kitab terbuka yang dilihat rekan-rekan yang beragama lain sehingga gaya hidup yang tampak sama dengan cara-cara duniawi yang tanpa batas dapat menjadi suatu batu sandungan bagi mereka & cemoohan bagi nama Kristus. Harus diakui bahwa tidak ada pengaturan khusus mengenai semua aspek dalam hidup kita. Meski hukum taurat penuh rincian-rincian, nyatanya perkembangan-perkembangan ribuan tahun jelas menyisakan ribuan hal-hal kecil dalam hidup yang sulit dicari detail hukumnya dalam taurat. Sebagai contoh a.l.: bagaimana kita menetapkan cara & gaya berpakaian kristiani? Bolehkah kita menonton tv, bermain game & melihat film atau entertainment lainnya? Bagaimana pula batasan-batasan dalam mengikuti tradisi leluhur kita? Bolehkah membuat tatoo atau menindik bagian-bagian tubuh kita? Dan lain sebagainya. Kasih karunia Tuhan memberikan kebebasan kita dari hukum taurat sehingga kita tidak lagi dibebani untuk melakukan hukum ini & itu. Hanya, bukannya tanpa batas sama sekali. Kita ada di posisi di antara keterikatan penuh pada hukum dengan kebebasan tanpa batas. Sebab hidup kita tak lagi dikendalikan oleh hukum sekaligus tidak dikuasai nafsu kedagingan. Hidup kita kini ialah milik Kristus. Apapun yang kita perbuat & putuskan selayaknya mengasihi & memuliakan nama-Nya (1 Kor. 10:31). Dari sinilah seharusnya semua cara pikir, lagak bicara & gaya hidup kita dibangun. Ini akan berlanjut dalam pembahasan esok. Sementara itu, renungkan: sudahkah nama Yesus dimuliakan & pribadi-Nya yang penuh kasih terpancarkan dari tingkah laku Anda sehari-hari? Anda yang tahu jawabannya. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:

Post a Comment