GROWTH
Roma 15:7, “Sebab
itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima
kita, untuk kemuliaan Allah.” Janganlah kita membeda-bedakan satu dengan
yang lainnya, Rasul Paulus menasihatkan, sebagai Gereja Tuhan janganlah
bersifat eksklusif, lihatlah Yesus telah menjadi teladan bagi penerimaan
tersebut . Sebab Yesus tidak membedakan antara kaum yang lemah (Yahudi) &
yang kuat (bangsa-bangsa yang bukan Yahudi). Jadikan ‘penerimaan’ Yesus ini
menjadi dasar bagi penerimaan kita terhadap satu sama lain/saling mengasihi
sebagai ‘keluarga’. Adakah sikap kita selama ini yang menunjukkan bahwa kita
sudah mengutamakan kesatuan anak-anak Tuhan/saling mengasihi/saling
menerima satu dengan yang lain? Kita perlu saling menerima dengan tangan
terbuka & saling menopang satu dengan yang lain. Amin.
Respon 1
Jika harus menunggu
sampai semuanya siap, kita akan terus menunggu dan menunggu selama hidup. Roma
1:17, ‘Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan
memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: ‘Orang benar akan hidup oleh iman.’’
(GNCC)
Respon 2
“Keluarga adalah
tempat di mana tangis dan tawa diterima sebagai bagian kehidupan.” Xavier
Quentin Pranata.
Respon 3
Hidup di
tengah-tengah masyarakat yang beragama & bernuansa religius dapat
membingungkan orang-orang percaya. Di satu sisi, karena mendasarkan iman kita
pada kasih karunia Tuhan, kita sebagai orang-orang Kristen tampak longgar dalam
praktek-praktek ibadah kita hingga terlihat kurang sungguh-sungguh beribadah.
Pada sisi lain, kita seharusnya mengerti bahwa hidup kita adalah kitab terbuka
yang dilihat rekan-rekan yang beragama lain sehingga gaya hidup yang tampak
sama dengan cara-cara duniawi yang tanpa batas dapat menjadi suatu batu
sandungan bagi mereka & cemoohan bagi nama Kristus. Harus diakui bahwa
tidak ada pengaturan khusus mengenai semua aspek dalam hidup kita. Meski hukum
taurat penuh rincian-rincian, nyatanya perkembangan-perkembangan ribuan tahun
jelas menyisakan ribuan hal-hal kecil dalam hidup yang sulit dicari detail
hukumnya dalam taurat. Sebagai contoh a.l.: bagaimana kita menetapkan cara
& gaya berpakaian kristiani? Bolehkah kita menonton tv, bermain game &
melihat film atau entertainment lainnya? Bagaimana pula batasan-batasan dalam
mengikuti tradisi leluhur kita? Bolehkah membuat tatoo atau menindik
bagian-bagian tubuh kita? Dan lain sebagainya. Kasih karunia Tuhan memberikan
kebebasan kita dari hukum taurat sehingga kita tidak lagi dibebani untuk
melakukan hukum ini & itu. Hanya, bukannya tanpa batas sama sekali. Kita
ada di posisi di antara keterikatan penuh pada hukum dengan kebebasan tanpa
batas. Sebab hidup kita tak lagi dikendalikan oleh hukum sekaligus tidak
dikuasai nafsu kedagingan. Hidup kita kini ialah milik Kristus. Apapun yang
kita perbuat & putuskan selayaknya mengasihi & memuliakan nama-Nya (1
Kor. 10:31). Dari sinilah seharusnya semua cara pikir, lagak bicara & gaya
hidup kita dibangun. Ini akan berlanjut dalam pembahasan esok. Sementara itu,
renungkan: sudahkah nama Yesus dimuliakan & pribadi-Nya yang penuh kasih
terpancarkan dari tingkah laku Anda sehari-hari? Anda yang tahu jawabannya.
Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:
Post a Comment