GROWTH

Perlu Hikmat
Tuhan untuk Bertumbuh. Amsal 9:10, “Permulaan hikmat adalah takut akan
TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.” Hikmat itu
lebih baik ketimbang kekayaan (Amsal 3:13-18). Dan satu-satunya sumber
hikmat adalah Allah. Roma 16:27, “bagi Dia, satu-satunya Allah yang penuh
hikmat, oleh Yesus Kristus: segala kemuliaan sampai selama-lamanya.” Hikmat
dapat diperoleh dari membaca & mempraktekkan firman Tuhan (salah satu kunci
pertumbuhan adalah: membaca atau merenungkan Firman Tuhan, menerima Firman
Tuhan & membagikan Firman Tuhan). Orang Percaya yang bertumbuh/mendapat
hikmat PASTI berbahagia. Amsal 3:13, “Berbahagialah orang yang mendapat
hikmat, orang yang memperoleh kepandaian.” Oleh karenanya carilah hikmat
untuk pertumbuhan rohani kita karena hikmat lebih menguntungkan ketimbang
perak/emas/kekayaan (ayat 14). Amin.
Respon 1
Sabtu, 25 Juli 2015. Bacaan: Matius 8:28-34. Setahun: Amsal 24-27.
Nats: Mereka pun berteriak, “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Apakah
Engkau kemari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?” (Matius 8:29). BEBAL. Dua
orang jatuh ke dalam lubang. Yang pertama seorang anak kecil yang belum bisa
membaca tanda peringatan tentang lubang tersebut. Yang satunya lagi seorang
dewasa yang, meskipun sudah membaca tanda peringatan, memilih untuk
mengabaikannya. Apakah perbedaan keduanya? Si anak kecil celaka karena
ketidaktahuan, tapi si orang dewasa celaka karena kebebalan. Yang pertama bisa
kita maklumi, yang kedua tidak. Bacaan hari ini berkisah tentang interaksi
Yesus dengan setan (melalui orang yang kerasukan) di Gadara. Ada pernyataan
setan yang menggelitik di ayat 29. Di situ kita temukan bahwa setan mengetahui
siapa Yesus, yaitu Anak Allah, dan juga mengetahui bahwa mereka kelak akan
dihukum karena pemberontakan mereka kepada-Nya. Meskipun demikian, mereka tetap
bertahan di jalan mereka sampai kesudahannya. Pengetahuan mereka sama sekali
tidak membuat hidup mereka berubah. Mereka bebal dan mereka akan binasa karena
kebebalannya tersebut. Dalam hidup ini, tidak jarang kita juga bebal seperti
itu. Kita tahu sesuatu yang buruk dan tak disukai Tuhan, tapi tetap saja kita
melakukannya. Ambil contoh soal rokok. Di mana-mana ada peringatan akan bahaya
merokok. Tetap saja kita melihat begitu banyak perokok. Demikian juga dengan
narkoba, makanan tidak sehat, pornografi, pergaulan bebas, ketidakjujuran, dan
sebagainya. Kelak ketika sudah terlambat, barulah kita menyesal. Bukankah lebih
baik kalau kita meninggalkan kebebalan kita dan berubah sekarang juga
meninggalkan segala yang buruk? --Alison Subiantoro. JANGAN MENJADI ORANG
BEBAL, BERUBAHLAH SEBELUM TERLAMBAT. (Ibu Caroline – Bandung)
Respon 2
Kau istimewa dan unik bagi seseorang, memikirkanmu sebelum dia pergi
tidur, tanpa kau sadari engkau adalah bagian dari dunianya, bahkan tidak kau
sadari hadir di dunia ini dan mencintaimu »Perenungan«. Kidung agung 4:9 –
Engkau mendebarkan hatiku, dinda, pengantinku, engkau mendebarkan hati dengan
satu kejapan mata, dengan seuntai kalung dari perhiasan lehermu. Kasih sayang
Tuhan tidak dapat dipungkiri, keCintaanNya telah terbukti melalui
pengorbananNya diatas kayu salib, bahkan kita disebutnya calon mempelai
Kristus. Dia segera datang! Untuk menjemput kita di awan-awan permai, bangunlah
hubungan cinta dengan Tuhan, melalui keintiman dalam doa, pujian dan
penyembahan. Rasakan dan nikmati hadirat dan urapan kasihNya dalam setiap detik
nafas hidup kita, hidup jadi lebih indah dan berarti, rasa takut dan kuatir
diubahNya menjadi damai sejahtera, duka cita diubahNya menjadi sukacita, kecewa
diubahNya menjadi penuh pengharapan, sebab Dia tidak pernah meninggalkan kita.
Selamat pagi & selamat beraktivitas. God bless you. (Bp. Budi Hariono – PT.
MPU)
Respon 3
Maz 73:24 – Dengan firman-MU ENGKAU menuntunku dan kemudian ENGKAU
mengangkatku ke dalam kemuliaan! Setelah hidup BENAR, ada KEMULIAAN
(pertolongan-NYA yang ajaib dan berkat-berkat yang melimpah untuk memuliakan
TUHAN kita alami sendiri)! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.
Respon 4
“Semakin hening kita berdoa, suara Tuhan semakin bening.” Xavier
Quentin Pranata.
Respon 5
Yakub disebut oleh Alkitab telah menang atas Tuhan. Itu bahkan
diucapkan Tuhan sendiri, yang mengambil wujud manusia, dan bergulat dengan
Yakub dari tengah malam hingga dini hari (Kej. 32:28). Tidakkah terlalu
berlebihan mengatakan bahwa Tuhan bisa dikalahkan oleh manusia? Kejadian di
tepi sungai Yabok itu diingat kembali oleh nabi Hosea yang berkata: “Ia (Yakub)
bergumul dengan Malaikat (yaitu Tuhan sendiri) dan menang; ia menangis dan
memohon belas kasihan kepada-Nya” (Hos. 12:5). Dan ayat ini seharusnya
mengherankan kita. Yakub menang namun ia menangis; ia menaklukkan tapi memohon
belas kasihan pada yang ditaklukannya. Bagaimana bisa? Di situlah rahasia
Yakub. Ia yang bergumul dengan Tuhan tidak akan sanggup mengalahkan Yang
Mahakuasa, pencipta semesta itu. Yakub yang tahu pergulatannya malam itu bukan
dengan orang biasa, tidak akan melepaskan pria itu sebelum memperoleh berkat darinya.
Hosea mengetahui kunci kemenangan Yakub: yaitu dengn menangis & memohon
belas kasihan Tuhan. Yakub mendapatkannya; ia dijadikan manusia baru pagi itu.
Dalam tangisan Yakub ada kemenangannya. Dalam merendahkan diri mengharap belas
kasihan, Yakub meluluhkan hati Tuhan.
Manusia yang hanya ciptaan tidak akan pernah mengungguli Tuhan barang
sedikit saja. Orang-orang yang mengeraskan hati & menantang Tuhan
-sekalipun hanya di relung hatinya yang terdalam- tidak akan pernah bisa
membuktikan kesalahan Tuhan sampai kapan pun juga. Orang-orang yang
mengacungkan tangan & bersikap keras akan keputusan-keputusan, pengaturan
& kedaulatan-Nya telah kalah sebelum pertandingan dimulai. Namun karena
kasih karunia-Nya yang besar, kita dapat ‘mengalahkan’ Dia. Pertobatan, kehancuran
hati, merendahkan diri, memohon belas kasihan-Nya untuk memulihkan &
mengubahkan kita akan melunakkan Tuhan -bagai Dia menyerah kalah pada kita.
Jangan menguji kesabaran & kasih Tuhan dengan kekerasan hati. Dalam
kehancuran hati & merendahkan diri ada kemenangan Anda. Salam revival! GBU.
(Worship Center Surabaya)
No comments:
Post a Comment