GROWTH
2 Timotius 4:7, “Aku
telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku
telah memelihara iman.” Hidup orang percaya seperti sebuah pertandingan
atau ‘peperangan iman’, ujian / pencobaan / masalah akan datang silih
berganti tanpa diundang . Pertanyaannya: Apakah kita menyelesaikan
setiap pertandingan dengan tetap setia? Tetap memelihara iman kita?
Bertandinglah dengan iman yang yang tertuju pada kekekalan. Amin.
Respon 1
Maz 86:5 – Sebab
ENGKAU, ya TUHAN, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua
orang yang berseru kepada-MU! Berseru pada YESUS. Mujizat pasti terjadi! Samuel
Sianto(SS)-YESTOYA Malang.
Respon 2
Amsal 31:25 (TB) –
Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan. Ayat
ini melukiskan istri/ibu yang ideal seluruh hidupnya hanya pada takut dan
hormat kepada ALLAH, belas kasih bagi mereka yang kekurangan. Serta setia kasih
kepada keluarga. Walau semua cita-cita keinginannya tidak digenapi. Tetapi dia
tetap melayani ALLAH, keluarga, sesama dengan sumberdaya yang yang diberikan
TUHAN kepadanya. Ya... TUHAN kami mau menjadi istri dan ibu seperti di Amsal
ini sehingga kami boleh menjadi istri/ibu yang sopan, berwibawa, dihormati dan
kami tidak khawatir tentang hari depan. Sebab dengan kami taat kepada TUHAN,
anak cucu cicit kami akan diberkati... (Ibu Caroline – Bandung)
Respon 3
Without Dreams, you
reach nothing. Without Love, you feel nothing. Without God, you are nothing.
Return home with fruitful result. Inilah yang Tuhan kehendaki dari diri setiap
kita. Usahakan tidak membaptis pada waktu sekarat (sakit), hehehe... Baiknya
pada waktu sehat dan ada kesempatan bertobat dan melakukan sesuatu yang belum
beres. Have a nice day. (Bp. Gunadi Cahyono – PT. MPU)
Respon 4
Ya amin. Yesus
berkata: ‘Orang yang mau mengikuti Aku, harus melupakan kepentingannya sendiri,
memikul salibnya, dan terus mengikuti Aku, sebab orang yang mau mempertahankan
hidupnya, akan kehilangan hidupnya. Tetapi orang yang mengurbankan hidupnya
untuk Aku akan mendapatkannya’ (Matius 16:24-25). Kita-kitalah yang mau
mengurbankan hidup untuk Tuhan, karena kita semua adalah surat pujian. Kuasa
Roh Kudus terpancar, ketika kita ada dalam keakuratan telah menerima potensi
yang melahirkan benih-benih baru. Punyai kesetiaan yang sejati pada Tuhan.
Happy Friday. Gbu all. (Tante Elisabeth – Kupang/NTT)
Respon 5
Jumat, 3 Juli 2015.
Bacaan: 2 Samuel 19:31-39. Setahun: Mazmur 46-51. Nats: Barzilai itu sudah
sangat tua, delapan puluh tahun umurnya. Ia menyediakan makanan bagi raja
selama ia tinggal di Mahanaim, sebab ia seorang yang sangat kaya (2 Samuel
19:32). TELADAN BARZILAI. “Kamu mau menjalani hari tua seperti apa? Masak mau
terus kerja?” Demikian seorang teman yang bergerak di bidang asuransi mengajak
saya berpikir tentang hari tua. Jika Anda pernah melakukan pembicaraan sejenis
dengan teman-teman sekantor, tentu Anda paham seperti apa masa pensiun yang
ideal menurut kebanyakan orang: bersantai, bebas dari kantor, main golf
seharian. Billy Graham pernah mengkritik umat Kristen usia senior yang memakai
waktu pensiun sebagai alasan untuk menjadi “orang malas”. Ia menyorotinya
dengan menggunakan kisah Barzilai ini sebagai salah satu contoh. Barzilai sudah
tua, dan uangnya cukup. Ia punya kesempatan luas untuk bersantai menikmati sisa
hidup. Namun, pada usia tua itu ia mengerjakan satu pelayanan yang membuat
namanya tertoreh abadi dalam Alkitab: ia menolong seorang buronan, Raja Daud, yang
sedang kabur dari Absalom. Tindakan ini berisiko hukuman mati. Uniknya lagi, ia
tidak menjadikan prestasi tersebut sebagai alasan untuk berbangga diri. Ketika
raja mengajaknya bergabung ke istana, ia memilih mundur kembali ke kehidupannya
semula. Sebuah sikap rendah hati yang luar biasa! Memberi makan raja yang
sedang dikejar-kejar--ah, masa pensiun yang seru bukan? Pelayanan Barzilai
menjadi teladan bagi kita semua bahwa Tuhan tetap ingin memakai kita meskipun
kita sudah memasuki masa pensiun kelak. Jangan sampai alasan ‘Ah, saya sudah
tua!’ menjadi pengalang. Tetaplah menjadi pelayan-Nya, tetapi juga tetaplah
rendah hati --Olivia Elena. MASA TUA BUKAN SEBUAH KESEMPATAN UNTUK REHAT DARI
MEMULIAKAN TUHAN. (Ibu Caroline – Bandung)
Respon 6
Setiap hari banyak
hal kecil terjadi dalam hidup ini, sebab itu jangan pusingkan hal-hal sepele
(Richard Carlson). 2 Samuel 16:5, ‘Ketika raja Daud telah sampai ke Bahurim,
keluarlah dari sana seorang dari kaum keluarga Saul; ia bernama Simei bin Gera.
Sambil mendekati raja, ia terus-menerus mengutuk.’ Suatu kali, dalam masa
pelarian dari kejaran Absalom, anaknya yang memberontak, tanpa diduga-duga Daud
mendapat cercaan pedas dari Simei, salah seorang kerabat Saul. Begitu pedas dan
tajam cercaan itu sampai-sampai Abisai, salah seorang pengawalnya, panas hati
dan berkata, “Mengapa anjing mati ini mengutuki tuanku raja? Izinkanlah aku
menyeberang dan memenggal kepalanya” (ayat 9), akan tetapi, Daud tidak mau
ambil pusing. Ia menegur Abisai dan kemudian melanjutkan perjalanan. Dalam
hidup setiap hari banyak hal kecil terjadi, kendaraan kita disalip, dikritik
secara tidak fair, memikul lebih banyak tugas, sikap perilaku buruk dari
tetangga atau rekan sekerja bahkan gosip-gosip tidak benar yang memojokkan
kita. Jangan pusingkan hal-hal kecil tersebut, sebab hal itu akan membebani
hati dan pikiran kita, “HIDUP INI INDAH” sayangi waktu dan tenaga kita, mari
nikmati hidup ini, dengan menyerahkan semuanya itu kepada Tuhan, biarkan Tuhan
yang menjadi “hakimNYA”. Seperti kata Daud, siapa tahu hal-hal itu justru Tuhan
pakai sebagai sarana untuk mencurahkan kebaikan-Nya kepada kita (ayat 12).
BIARKAN ANJING MENGGONGGONG, TAPI KAFILAH JALAN TERUS, KADANG KITA PERLU “CUEK”
alias TIDAK AMBIL PUSING DENGAN SIKAP & KELAKUAN BURUK orang lain. Selamat
pagi & selamat beraktivitas... SEMANGAT. JIA YOU... God bless you. (Bp.
Budi Hariono – PT. MPU)
Respon 7
Tidak ada yang
tidak prihatin & malu mendengar berita-berita mengenai pihak yang berwenang
menegakkan keadilan & hukum tetapi ikut terlibat dalam perbuatan jahat
bahkan mendalanginya pula. Pula, saat mengetahui para pengurus negara yang
seharusnya berjuang bagi kemakmuran rakyat malah menggunakan uang rakyat demi
kepentingan pribadi atau golongannya. Tidak terkecuali, tatkala menemukan fakta
adanya orang tua yang semestinya membesarkan & mendidik anak-anaknya justru
menyerahkan tanggung jawab kepada orang lain atau memanfaatkan anak-anaknya
demi mendapatkan keuntungan materi: dengan ‘menjualnya’ atau menyuruhnya
mengemis & bekerja di jalan-jalan. Ada pula orang-orang yang seharusnya
melindungi kaum perempuan atau anak-anak yang relatif lebih lemah justru
menjadi penindas, penyiksa, penganiaya, pemerkosa & pembunuh mereka.
Fakta-fakta ini sangat pahit & menyedihkan. Tapi itu hanya ujung-ujung
ranting, tangkai-tangkai yang menjulur, bunga-bunga & buah-buah dari akar
tanaman yang tidak terlihat. Mungkin banyak yang bertanya-tanya darimana
asalnya semua itu bisa terjadi? Mengapa Tuhan seolah membiarkan segala
kejahatan itu berlangsung? Mudah bertanya demikian. Tapi berapa banyak yang
bertanya ‘dimanakah aku’? Apakah yang sudah kita lakukan melihat semua kondisi
ini? Pada bagian ini kita sering lupa. Kita orang-orang percaya telah dipilih
untuk dijadikan terang & garam dunia. Para pengikut Kristus di Indonesia
ialah terang & garam bagi bangsa ini. Kitalah terang yang menolong orang
menemukan jalan, kebenaran, & hidup -Terang sejati itu. Kitalah yang
seharusnya bergerak secara tidak kentara melalui perilaku hidup sehari-hari
yang suci, jujur & bersih bagaikan garam yang mencegah kebusukan &
memberikan rasa yang baik dalam kehidupan. Adakah kondisi-kondisi di atas itu
refleksi dari tidak berfungsinya kita sebagai orang-orang yang memiliki
tanggung jawab bagi dunia terhilang ini? Mari berpaling pada diri & bertanya.
Kita harus prihatin jika ternyata kita yang dipanggil untuk membawa terang
Allah di muka bumi ternyata turut serta mendatangkan kegelapan atasnya. Salam
revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:
Post a Comment