Friday, 3 July 2015

3 Juli 2015

GROWTH




2 Timotius 4:7, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” Hidup orang percaya seperti sebuah pertandingan atau ‘peperangan iman’, ujian / pencobaan / masalah akan datang silih berganti tanpa diundang . Pertanyaannya: Apakah kita menyelesaikan setiap pertandingan dengan tetap setia? Tetap memelihara iman kita? Bertandinglah dengan iman yang yang tertuju pada kekekalan. Amin.

Respon 1
Maz 86:5 – Sebab ENGKAU, ya TUHAN, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-MU! Berseru pada YESUS. Mujizat pasti terjadi! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.

Respon 2
Amsal 31:25 (TB) – Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan. Ayat ini melukiskan istri/ibu yang ideal seluruh hidupnya hanya pada takut dan hormat kepada ALLAH, belas kasih bagi mereka yang kekurangan. Serta setia kasih kepada keluarga. Walau semua cita-cita keinginannya tidak digenapi. Tetapi dia tetap melayani ALLAH, keluarga, sesama dengan sumberdaya yang yang diberikan TUHAN kepadanya. Ya... TUHAN kami mau menjadi istri dan ibu seperti di Amsal ini sehingga kami boleh menjadi istri/ibu yang sopan, berwibawa, dihormati dan kami tidak khawatir tentang hari depan. Sebab dengan kami taat kepada TUHAN, anak cucu cicit kami akan diberkati... (Ibu Caroline – Bandung)


Respon 3
Without Dreams, you reach nothing. Without Love, you feel nothing. Without God, you are nothing. Return home with fruitful result. Inilah yang Tuhan kehendaki dari diri setiap kita. Usahakan tidak membaptis pada waktu sekarat (sakit), hehehe... Baiknya pada waktu sehat dan ada kesempatan bertobat dan melakukan sesuatu yang belum beres. Have a nice day. (Bp. Gunadi Cahyono – PT. MPU)

Respon 4
Ya amin. Yesus berkata: ‘Orang yang mau mengikuti Aku, harus melupakan kepentingannya sendiri, memikul salibnya, dan terus mengikuti Aku, sebab orang yang mau mempertahankan hidupnya, akan kehilangan hidupnya. Tetapi orang yang mengurbankan hidupnya untuk Aku akan mendapatkannya’ (Matius 16:24-25). Kita-kitalah yang mau mengurbankan hidup untuk Tuhan, karena kita semua adalah surat pujian. Kuasa Roh Kudus terpancar, ketika kita ada dalam keakuratan telah menerima potensi yang melahirkan benih-benih baru. Punyai kesetiaan yang sejati pada Tuhan. Happy Friday. Gbu all. (Tante Elisabeth – Kupang/NTT)

Respon 5
Jumat, 3 Juli 2015. Bacaan: 2 Samuel 19:31-39. Setahun: Mazmur 46-51. Nats: Barzilai itu sudah sangat tua, delapan puluh tahun umurnya. Ia menyediakan makanan bagi raja selama ia tinggal di Mahanaim, sebab ia seorang yang sangat kaya (2 Samuel 19:32). TELADAN BARZILAI. “Kamu mau menjalani hari tua seperti apa? Masak mau terus kerja?” Demikian seorang teman yang bergerak di bidang asuransi mengajak saya berpikir tentang hari tua. Jika Anda pernah melakukan pembicaraan sejenis dengan teman-teman sekantor, tentu Anda paham seperti apa masa pensiun yang ideal menurut kebanyakan orang: bersantai, bebas dari kantor, main golf seharian. Billy Graham pernah mengkritik umat Kristen usia senior yang memakai waktu pensiun sebagai alasan untuk menjadi “orang malas”. Ia menyorotinya dengan menggunakan kisah Barzilai ini sebagai salah satu contoh. Barzilai sudah tua, dan uangnya cukup. Ia punya kesempatan luas untuk bersantai menikmati sisa hidup. Namun, pada usia tua itu ia mengerjakan satu pelayanan yang membuat namanya tertoreh abadi dalam Alkitab: ia menolong seorang buronan, Raja Daud, yang sedang kabur dari Absalom. Tindakan ini berisiko hukuman mati. Uniknya lagi, ia tidak menjadikan prestasi tersebut sebagai alasan untuk berbangga diri. Ketika raja mengajaknya bergabung ke istana, ia memilih mundur kembali ke kehidupannya semula. Sebuah sikap rendah hati yang luar biasa! Memberi makan raja yang sedang dikejar-kejar--ah, masa pensiun yang seru bukan? Pelayanan Barzilai menjadi teladan bagi kita semua bahwa Tuhan tetap ingin memakai kita meskipun kita sudah memasuki masa pensiun kelak. Jangan sampai alasan ‘Ah, saya sudah tua!’ menjadi pengalang. Tetaplah menjadi pelayan-Nya, tetapi juga tetaplah rendah hati --Olivia Elena. MASA TUA BUKAN SEBUAH KESEMPATAN UNTUK REHAT DARI MEMULIAKAN TUHAN. (Ibu Caroline – Bandung)

Respon 6
Setiap hari banyak hal kecil terjadi dalam hidup ini, sebab itu jangan pusingkan hal-hal sepele (Richard Carlson). 2 Samuel 16:5, ‘Ketika raja Daud telah sampai ke Bahurim, keluarlah dari sana seorang dari kaum keluarga Saul; ia bernama Simei bin Gera. Sambil mendekati raja, ia terus-menerus mengutuk.’ Suatu kali, dalam masa pelarian dari kejaran Absalom, anaknya yang memberontak, tanpa diduga-duga Daud mendapat cercaan pedas dari Simei, salah seorang kerabat Saul. Begitu pedas dan tajam cercaan itu sampai-sampai Abisai, salah seorang pengawalnya, panas hati dan berkata, “Mengapa anjing mati ini mengutuki tuanku raja? Izinkanlah aku menyeberang dan memenggal kepalanya” (ayat 9), akan tetapi, Daud tidak mau ambil pusing. Ia menegur Abisai dan kemudian melanjutkan perjalanan. Dalam hidup setiap hari banyak hal kecil terjadi, kendaraan kita disalip, dikritik secara tidak fair, memikul lebih banyak tugas, sikap perilaku buruk dari tetangga atau rekan sekerja bahkan gosip-gosip tidak benar yang memojokkan kita. Jangan pusingkan hal-hal kecil tersebut, sebab hal itu akan membebani hati dan pikiran kita, “HIDUP INI INDAH” sayangi waktu dan tenaga kita, mari nikmati hidup ini, dengan menyerahkan semuanya itu kepada Tuhan, biarkan Tuhan yang menjadi “hakimNYA”. Seperti kata Daud, siapa tahu hal-hal itu justru Tuhan pakai sebagai sarana untuk mencurahkan kebaikan-Nya kepada kita (ayat 12). BIARKAN ANJING MENGGONGGONG, TAPI KAFILAH JALAN TERUS, KADANG KITA PERLU “CUEK” alias TIDAK AMBIL PUSING DENGAN SIKAP & KELAKUAN BURUK orang lain. Selamat pagi & selamat beraktivitas... SEMANGAT. JIA YOU... God bless you. (Bp. Budi Hariono – PT. MPU)

Respon 7
Tidak ada yang tidak prihatin & malu mendengar berita-berita mengenai pihak yang berwenang menegakkan keadilan & hukum tetapi ikut terlibat dalam perbuatan jahat bahkan mendalanginya pula. Pula, saat mengetahui para pengurus negara yang seharusnya berjuang bagi kemakmuran rakyat malah menggunakan uang rakyat demi kepentingan pribadi atau golongannya. Tidak terkecuali, tatkala menemukan fakta adanya orang tua yang semestinya membesarkan & mendidik anak-anaknya justru menyerahkan tanggung jawab kepada orang lain atau memanfaatkan anak-anaknya demi mendapatkan keuntungan materi: dengan ‘menjualnya’ atau menyuruhnya mengemis & bekerja di jalan-jalan. Ada pula orang-orang yang seharusnya melindungi kaum perempuan atau anak-anak yang relatif lebih lemah justru menjadi penindas, penyiksa, penganiaya, pemerkosa & pembunuh mereka. Fakta-fakta ini sangat pahit & menyedihkan. Tapi itu hanya ujung-ujung ranting, tangkai-tangkai yang menjulur, bunga-bunga & buah-buah dari akar tanaman yang tidak terlihat. Mungkin banyak yang bertanya-tanya darimana asalnya semua itu bisa terjadi? Mengapa Tuhan seolah membiarkan segala kejahatan itu berlangsung? Mudah bertanya demikian. Tapi berapa banyak yang bertanya ‘dimanakah aku’? Apakah yang sudah kita lakukan melihat semua kondisi ini? Pada bagian ini kita sering lupa. Kita orang-orang percaya telah dipilih untuk dijadikan terang & garam dunia. Para pengikut Kristus di Indonesia ialah terang & garam bagi bangsa ini. Kitalah terang yang menolong orang menemukan jalan, kebenaran, & hidup -Terang sejati itu. Kitalah yang seharusnya bergerak secara tidak kentara melalui perilaku hidup sehari-hari yang suci, jujur & bersih bagaikan garam yang mencegah kebusukan & memberikan rasa yang baik dalam kehidupan. Adakah kondisi-kondisi di atas itu refleksi dari tidak berfungsinya kita sebagai orang-orang yang memiliki tanggung jawab bagi dunia terhilang ini? Mari berpaling pada diri & bertanya. Kita harus prihatin jika ternyata kita yang dipanggil untuk membawa terang Allah di muka bumi ternyata turut serta mendatangkan kegelapan atasnya. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:

Post a Comment