Sunday, 19 July 2015

19 Juli 2015

GROWTH


Pekerjaan Sebagai Sarana Melayani (Kolose 3:23-24). Ayat 23: “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Ayat 24: “Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.” Bekerja = Ibadah; Ibadah = Bekerja. Bekerja dan ibadah adalah 2 hal yang tidak terpisahkan. Kalau kita bekerja itu artinya kita melayani diri sendiri juga melayani orang lain. Apakah kita sedang ‘bekerja saat ini’? Bekerjalah dengan baik, karena Tuhan sudah menentukan bagian upah-Nya bagi kita yang ‘bekerja’. Amin.

Respon 1
“Kita sering mengandalkan GPS di luar diri kita, padahal kita punya GPS internal yang jauh lebih akurat yaitu Roh Kudus yang ada di dalam diri kita.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 2
Minggu, 19 Juli 2015. Bacaan: Ibrani 10:19-25. Setahun: Mazmur 144-150. Nats: Jadi, Saudara-saudara, kita sekarang dengan penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, oleh darah Yesus (Ibrani 10:19). IBADAH KITA? Dua anak kecil menginap di rumah nenek mereka. Pada waktu berangkat tidur, mereka berlutut untuk berdoa. Anak yang kecil berkata dengan suara keras, “Tuhan, saya berdoa minta sepeda dan Nintendo!” Kakaknya menegur, “Kenapa kamu berdoa keras-keras? Tuhan tidak tuli!” Jawab adiknya, “Ya, Tuhan memang tidak tuli, tetapi nenek tuli!” Cara berdoa kita sering menunjukkan sikap ibadah kita, dan kita sering melakukan kekeliruan seperti anak tadi. Ketika Tuhan Yesus disalibkan, tirai bait Allah terbelah menjadi dua. Hal itu berarti Yesus telah membuka jalan bagi kita melalui diri-Nya untuk mendekat pada Bapa. Itulah sebabnya kita sekarang dapat dengan penuh keberanian masuk ke dalam tempat kudus. Di samping itu, Yesus telah benar-benar membersihkan kita dari hati nurani yang jahat dan membasuh kita dengan air yang murni. Lalu, bagaimana seharusnya kita beribadah? Pertama, kita beribadah dengan hati yang tulus ikhlas. Ada kerinduan untuk bertemu dengan Allah bukan karena terpaksa atau dipaksa. Bukan karena ada pamrih. Kedua, kita beribadah dengan teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita di dalam Tuhan. Tidak terombang-ambing kian kemari oleh kekhawatiran. Sungguh yakin bahwa Dia yang berjanji itu setia. Ketiga, kita beribadah dengan saling memperhatikan dan saling mendorong dalam kasih. Bukan malah menjelek-jelekkan, menghakimi, menolak, menjatuhkan sesama. Demikianlah kita merayakan jalan baru yang telah Yesus sediakan --Herodion Pitrakarya. HAPPY SUNDAY & SELAMAT BERIBADAH. (Ibu Caroline – Bandung)

Respon 3
Mengamati perjalanan bangsa Israel di padang gurun, kita dapat menemukan banyak pelajaran penting. Misalnya dalam Bilangan 11. Dalam satu pasal itu saja, dua kali Tuhan menulahi seluruh bangsa dengan korban ribuan nyawa. Apakah ini bentuk kesewenang-wenangan & kekejaman Tuhan? Kita harus berpikir ribuan kali sebelum mempercayai hal semacam itu. Mengapa? Perhatikanlah fakta-fakta berikut ini: Bangsa Israel mendapat tulah karena mereka terus mengomel & mengeluh akan kondisi yang mereka pandang tidak nyaman & sesuai dengan kemauan & harapan mereka (Bil. 11:1,4-6). Mereka lalu protes kepada Tuhan & menyesali kebebasan mereka sebagai budak di tanah Mesir. Hanya karena mereka tidak bisa makan makanan seperti di Mesir! Bukankah semua itu terasa ganjil? Tidakkah mereka menyadari bahwa hidup yang mereka jalani itu menakjubkan; yang siapapun juga sebelum & sesudah mereka tidak bakal menyamainya? Bukankah TUHAN sendiri ada di tengah-tengah mereka? Bukankah Musa, nabi pilihan itu, memimpin mereka? Bukankah bertahun-tahun mereka melihat & mengalami mujizat-Nya secara langsung? Juga, hidup mereka selalu terpelihara: makan, minum, pakaian, sepatu, kemah, kesehatan & perlindungan dari serangan alam. Pula, ada kemah suci di tengah-tengah mereka, tanda kehadiran Tuhan yang rindu tinggal dekat dengan umat-Nya. Lalu mengapa orang Israel bersikap demikian? Jelas, meski Tuhan dekat, mereka memilih tidak acuh kepada-Nya. Mereka tidak mau belajar untuk percaya & mengikuti jalan-jalanNya. Meski beribadah di tabernakel & memberikan persembahan, Tuhan tetap asing bagi mereka. Itu sebabnya mereka tetap mengeluh & tidak tahu bersyukur. Hari-hari mereka dipenuhi iri hati akan kehidupan duniawi yang tampak lebih nyaman daripada mengikuti proses Tuhan. Jika hidup sehari-hari kita (yang rajin beribadah di gereja) semacam itu, ketahuilah jika itu membawa murka ketimbang berkat. Sebab itu berarti ibadah kita hanya ritual belaka -tapi tanpa pengenalan akan Dia. Tuhan tidak jauh, jika saja kita mau belajar mengenal jalan-jalanNya. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)


No comments:

Post a Comment