GROWTH
Pekerjaan Sebagai
Sarana Melayani (Kolose 3:23-24). Ayat 23: “Apapun juga yang kamu
perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk
manusia.” Ayat 24: “Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima
bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu
hamba-Nya.” Bekerja = Ibadah; Ibadah = Bekerja. Bekerja dan ibadah
adalah 2 hal yang tidak terpisahkan. Kalau kita bekerja itu artinya kita melayani
diri sendiri juga melayani orang lain. Apakah kita sedang ‘bekerja saat ini’?
Bekerjalah dengan baik, karena Tuhan sudah menentukan bagian upah-Nya bagi kita
yang ‘bekerja’. Amin.
Respon 1
“Kita sering
mengandalkan GPS di luar diri kita, padahal kita punya GPS internal yang jauh
lebih akurat yaitu Roh Kudus yang ada di dalam diri kita.” Xavier Quentin
Pranata.
Respon 2
Minggu, 19 Juli
2015. Bacaan: Ibrani 10:19-25. Setahun: Mazmur 144-150. Nats: Jadi,
Saudara-saudara, kita sekarang dengan penuh keberanian dapat masuk ke dalam
tempat kudus, oleh darah Yesus (Ibrani 10:19). IBADAH KITA? Dua anak kecil
menginap di rumah nenek mereka. Pada waktu berangkat tidur, mereka berlutut
untuk berdoa. Anak yang kecil berkata dengan suara keras, “Tuhan, saya berdoa
minta sepeda dan Nintendo!” Kakaknya menegur, “Kenapa kamu berdoa keras-keras?
Tuhan tidak tuli!” Jawab adiknya, “Ya, Tuhan memang tidak tuli, tetapi nenek
tuli!” Cara berdoa kita sering menunjukkan sikap ibadah kita, dan kita sering
melakukan kekeliruan seperti anak tadi. Ketika Tuhan Yesus disalibkan, tirai
bait Allah terbelah menjadi dua. Hal itu berarti Yesus telah membuka jalan bagi
kita melalui diri-Nya untuk mendekat pada Bapa. Itulah sebabnya kita sekarang
dapat dengan penuh keberanian masuk ke dalam tempat kudus. Di samping itu,
Yesus telah benar-benar membersihkan kita dari hati nurani yang jahat dan
membasuh kita dengan air yang murni. Lalu, bagaimana seharusnya kita beribadah?
Pertama, kita beribadah dengan hati yang tulus ikhlas. Ada kerinduan untuk
bertemu dengan Allah bukan karena terpaksa atau dipaksa. Bukan karena ada
pamrih. Kedua, kita beribadah dengan teguh berpegang pada pengakuan tentang
pengharapan kita di dalam Tuhan. Tidak terombang-ambing kian kemari oleh
kekhawatiran. Sungguh yakin bahwa Dia yang berjanji itu setia. Ketiga, kita
beribadah dengan saling memperhatikan dan saling mendorong dalam kasih. Bukan
malah menjelek-jelekkan, menghakimi, menolak, menjatuhkan sesama. Demikianlah
kita merayakan jalan baru yang telah Yesus sediakan --Herodion Pitrakarya.
HAPPY SUNDAY & SELAMAT BERIBADAH. (Ibu Caroline – Bandung)
Respon 3
Mengamati
perjalanan bangsa Israel di padang gurun, kita dapat menemukan banyak pelajaran
penting. Misalnya dalam Bilangan 11. Dalam satu pasal itu saja, dua kali Tuhan
menulahi seluruh bangsa dengan korban ribuan nyawa. Apakah ini bentuk
kesewenang-wenangan & kekejaman Tuhan? Kita harus berpikir ribuan kali
sebelum mempercayai hal semacam itu. Mengapa? Perhatikanlah fakta-fakta berikut
ini: Bangsa Israel mendapat tulah karena mereka terus mengomel & mengeluh
akan kondisi yang mereka pandang tidak nyaman & sesuai dengan kemauan &
harapan mereka (Bil. 11:1,4-6). Mereka lalu protes kepada Tuhan & menyesali
kebebasan mereka sebagai budak di tanah Mesir. Hanya karena mereka tidak bisa
makan makanan seperti di Mesir! Bukankah semua itu terasa ganjil? Tidakkah
mereka menyadari bahwa hidup yang mereka jalani itu menakjubkan; yang siapapun
juga sebelum & sesudah mereka tidak bakal menyamainya? Bukankah TUHAN
sendiri ada di tengah-tengah mereka? Bukankah Musa, nabi pilihan itu, memimpin
mereka? Bukankah bertahun-tahun mereka melihat & mengalami mujizat-Nya
secara langsung? Juga, hidup mereka selalu terpelihara: makan, minum, pakaian,
sepatu, kemah, kesehatan & perlindungan dari serangan alam. Pula, ada kemah
suci di tengah-tengah mereka, tanda kehadiran Tuhan yang rindu tinggal dekat
dengan umat-Nya. Lalu mengapa orang Israel bersikap demikian? Jelas, meski
Tuhan dekat, mereka memilih tidak acuh kepada-Nya. Mereka tidak mau belajar
untuk percaya & mengikuti jalan-jalanNya. Meski beribadah di tabernakel
& memberikan persembahan, Tuhan tetap asing bagi mereka. Itu sebabnya
mereka tetap mengeluh & tidak tahu bersyukur. Hari-hari mereka dipenuhi iri
hati akan kehidupan duniawi yang tampak lebih nyaman daripada mengikuti proses
Tuhan. Jika hidup sehari-hari kita (yang rajin beribadah di gereja) semacam
itu, ketahuilah jika itu membawa murka ketimbang berkat. Sebab itu berarti
ibadah kita hanya ritual belaka -tapi tanpa pengenalan akan Dia. Tuhan tidak
jauh, jika saja kita mau belajar mengenal jalan-jalanNya. Salam revival! GBU.
(Worship Center Surabaya)

No comments:
Post a Comment