GROWTH
Keluarga yang Menjadi
Berkat (Mazmur 133:1-3). Puji Tuhan, renungan hari ini luar biasa ya,
Mazmur 133 ini adalah salah satu ayat yang sangat memberkati saya .
“Keluarga-keluarga yang sudah dipulihkan” pasti mengerti & senang bila
orang tua, anak cucu, menantu & kerabatnya hidup RUKUN. Menjaga kerukunan
& keharmonisan rumah tangga/keluarga itu paling tidak mudah, tetapi 1
kuncinya bila kita sudah mendapatkan PENCERAHAN melalui firman Tuhan ini, maka
mata hati kita pasti dicelikkan & pada akhir kita mau mempraktekkannya . Jadikan
Mazmur 133:1-3 ini menjadi salah satu kunci berkat dalam kehidupan kita
berkeluarga, percayalah bila kita bisa rukun dengan orang yang paling dekat
dengan kita (komunias terkecil yaitu keluarga) PASTI kita juga akan RUKUN
dengan orang lain . Dan bila kita rukun maka BERKAT-Nya pasti dicurahkan bahkan
kehidupan sampai selama-lamaNya . Amin.
Respon 1
BAPA pimpin kami di
sepanjang hari ini untuk kami bersikap benar. Punya hati yang benar. Berpikir
benar. Melihat dengan benar... Biarlah sikap kami, pilihan kami mencerminkan
kasihMU. Biarlah perilaku kami mencerminkan karakterMU... ROH KUDUS tolong
kami. (Ibu Caroline – Bandung)
Respon 2
“PERMENNYA MASIH
TERASA MANIS DI LIDAH”. Seorang lelaki tua terbaring lemah di sebuah rumah
sakit. Seorang pemuda datang membesuknya setiap hari & ia menghabiskan
waktu berjam-jam bersama lelaki tua itu. Menyuapinya, membersihkan badannya
& membimbingnya berjalan-jalan di taman, lalu membantunya kembali berbaring
& baru pergi setelah merasa tenang bahwa orang tua itu sudah bisa
ditinggal. Suatu ketika perawat yang datang memberi obat & memeriksa
kondisi orang tua itu berkata, “TUHAN telah memberkahi Bapak dengan anak yang
berbakti. Setiap hari ia datang untuk mengurus Bapak.” Tanpa berkata lelaki tua
itu memandang perawat itu sejenak, lalu memejamkan kedua matanya. Kemudian
berkata dengan nada sedih, “Saya berangan-angan andai ia adalah salah seorang
anakku! Dia adalah anak yatim di lingkungan tempat tinggal kami. Suatu ketika
saya melihatnya menangis setelah kematian ayahnya. Maka sayapun membujuknya
& membelikan permen untuknya. Setelah itu saya tidak pernah lagi berbincang
dengannya. Ketika ia tahu bahwa saya & istri sudah tinggal berdua saja, ia
pun berkunjung setiap hari untuk memastikan kami baik-baik saja. Ketika kondisi
fisik saya mulai menurun, ia mengajak saya & istri saya tinggal di rumahnya
& membawa saya ke rumah sakit untuk berobat. Saya pun bertanya, “Nak,
mengapa engkau menyusahkan diri mengurus kami?” Sambil tersenyum ia menjawab,
“Manis permennya masih terasa di mulut saya.” TUHAN telah tetapkan Hukum Tabur
Tuai! Setiap dari kita akan memetik hasil dari apa yang pernah kita tanam.
Karena itu taburlah kebaikan, walaupun cuma memberi senyuman. So, ada tertulis:
“Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang
ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” Gal 6:7. Selamat pagi. Selamat
beraktivitas. Tuhan Yesus memberkati. (Bp. Budi Hariono – PT. MPU)
Respon 3
Lintah adalah
binatang penghisap darah. Itu dilakukan sepanjang hidupnya. Dan sebagaimana
induknya, anak-anaknya pun menghisap darah. Dimanapun mereka menempel mereka
menyedot cairan itu, bahkan pada bagian-bagian tubuh yang sakit penuh kuman
sekalipun. Terdengar menjijikkan tapi itulah fakta. Ini dijadikan semacam
perumpamaan dalam Amsal 30:15a mengenai lintah & anak-anaknya. Berbicara
mengenai apakah sebenarnya hal ini? Banyak tafsiran mengenai ini tapi
sederhananya ini berbicara mengenai sesuatu yang tidak terpuaskan, yang selalu
ingin memperoleh lagi & lagi bagi dirinya. Sifat semacam ini, dalam
kadarnya yang berbeda, melekat dalam jiwa manusia. Jika dituruti, ini akan
mengubah seseorang bagai hewan buas yang rasa laparnya tak terpuaskan yang akan
menelan diri mereka sendiri. Ini berlaku dalam berbagai bidang di segala usia.
Tidak puas dengan wajah & bentuk tubuhnya; atas segala kekayaan & harta
yang dimiliki; atas jabatan & ketenaran yang diperolehnya dst. Inilah lapar
haus akan segala sesuatu yang menyenangkan & menguntungkan diri. Dalam
batas yang diterima akal sehat pengejaran ini sering menghasilkan pencapaian
yang disebut kesuksesan. Ketika batas-batasnya dilanggar, lahirlah kerakusan.
Sesungguhnya dalam keegoisannya, manusia ialah makhluk yang tidak mengenal
cukup. Jika ada kesempatan untuk memperoleh lebih & banyak, orang pasti
berlomba-lomba mengejarnya dengan segala daya upaya (hingga kehilangan nyawa
sekalipun demi makanan & sejumlah uang yang tak seberapa). Semuanya demi
dirinya atau yang berhubungan dengan dirinya. Ini kebalikan total dari
jalan-jalan Tuhan. Yesus yang miskin menurut dunia tak pernah mengemis atau
menjadi orang yang gila harta dengan hidup untuk mengumpulkan
sebanyak-banyaknya bagi diri & keluarganya. Dia memilih jalan kasih: yang
nyata dalam berkorban, hidup untuk memberi, mempersembahkan hidup bagi Bapa
& jiwa-jiwa yang memerlukan sentuhan illahi. Pilihlah hari ini: hidup
seperti lintah atau seperti Yesus? Salam revival! GBU. (Worship Center
Surabaya)
Respon 4
“Kebahagiaan bukan
ditentukan oleh orang-orang di sekitar kita, tetapi oleh Roh Kudus yang tinggal
di dalam kita.” Xavier Quentin Pranata.

No comments:
Post a Comment