Thursday, 16 July 2015

16 Juli 2015

GROWTH





Keluarga yang Menjadi Berkat (Mazmur 133:1-3). Puji Tuhan, renungan hari ini luar biasa ya, Mazmur 133 ini adalah salah satu ayat yang sangat memberkati saya . “Keluarga-keluarga yang sudah dipulihkan” pasti mengerti & senang bila orang tua, anak cucu, menantu & kerabatnya hidup RUKUN. Menjaga kerukunan & keharmonisan rumah tangga/keluarga itu paling tidak mudah, tetapi 1 kuncinya bila kita sudah mendapatkan PENCERAHAN melalui firman Tuhan ini, maka mata hati kita pasti dicelikkan & pada akhir kita mau mempraktekkannya . Jadikan Mazmur 133:1-3 ini menjadi salah satu kunci berkat dalam kehidupan kita berkeluarga, percayalah bila kita bisa rukun dengan orang yang paling dekat dengan kita (komunias terkecil yaitu keluarga) PASTI kita juga akan RUKUN dengan orang lain . Dan bila kita rukun maka BERKAT-Nya pasti dicurahkan bahkan kehidupan sampai selama-lamaNya . Amin.

Respon 1
BAPA pimpin kami di sepanjang hari ini untuk kami bersikap benar. Punya hati yang benar. Berpikir benar. Melihat dengan benar... Biarlah sikap kami, pilihan kami mencerminkan kasihMU. Biarlah perilaku kami mencerminkan karakterMU... ROH KUDUS tolong kami. (Ibu Caroline – Bandung)

Respon 2
“PERMENNYA MASIH TERASA MANIS DI LIDAH”. Seorang lelaki tua terbaring lemah di sebuah rumah sakit. Seorang pemuda datang membesuknya setiap hari & ia menghabiskan waktu berjam-jam bersama lelaki tua itu. Menyuapinya, membersihkan badannya & membimbingnya berjalan-jalan di taman, lalu membantunya kembali berbaring & baru pergi setelah merasa tenang bahwa orang tua itu sudah bisa ditinggal. Suatu ketika perawat yang datang memberi obat & memeriksa kondisi orang tua itu berkata, “TUHAN telah memberkahi Bapak dengan anak yang berbakti. Setiap hari ia datang untuk mengurus Bapak.” Tanpa berkata lelaki tua itu memandang perawat itu sejenak, lalu memejamkan kedua matanya. Kemudian berkata dengan nada sedih, “Saya berangan-angan andai ia adalah salah seorang anakku! Dia adalah anak yatim di lingkungan tempat tinggal kami. Suatu ketika saya melihatnya menangis setelah kematian ayahnya. Maka sayapun membujuknya & membelikan permen untuknya. Setelah itu saya tidak pernah lagi berbincang dengannya. Ketika ia tahu bahwa saya & istri sudah tinggal berdua saja, ia pun berkunjung setiap hari untuk memastikan kami baik-baik saja. Ketika kondisi fisik saya mulai menurun, ia mengajak saya & istri saya tinggal di rumahnya & membawa saya ke rumah sakit untuk berobat. Saya pun bertanya, “Nak, mengapa engkau menyusahkan diri mengurus kami?” Sambil tersenyum ia menjawab, “Manis permennya masih terasa di mulut saya.” TUHAN telah tetapkan Hukum Tabur Tuai! Setiap dari kita akan memetik hasil dari apa yang pernah kita tanam. Karena itu taburlah kebaikan, walaupun cuma memberi senyuman. So, ada tertulis: “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” Gal 6:7. Selamat pagi. Selamat beraktivitas. Tuhan Yesus memberkati. (Bp. Budi Hariono – PT. MPU)

Respon 3
Lintah adalah binatang penghisap darah. Itu dilakukan sepanjang hidupnya. Dan sebagaimana induknya, anak-anaknya pun menghisap darah. Dimanapun mereka menempel mereka menyedot cairan itu, bahkan pada bagian-bagian tubuh yang sakit penuh kuman sekalipun. Terdengar menjijikkan tapi itulah fakta. Ini dijadikan semacam perumpamaan dalam Amsal 30:15a mengenai lintah & anak-anaknya. Berbicara mengenai apakah sebenarnya hal ini? Banyak tafsiran mengenai ini tapi sederhananya ini berbicara mengenai sesuatu yang tidak terpuaskan, yang selalu ingin memperoleh lagi & lagi bagi dirinya. Sifat semacam ini, dalam kadarnya yang berbeda, melekat dalam jiwa manusia. Jika dituruti, ini akan mengubah seseorang bagai hewan buas yang rasa laparnya tak terpuaskan yang akan menelan diri mereka sendiri. Ini berlaku dalam berbagai bidang di segala usia. Tidak puas dengan wajah & bentuk tubuhnya; atas segala kekayaan & harta yang dimiliki; atas jabatan & ketenaran yang diperolehnya dst. Inilah lapar haus akan segala sesuatu yang menyenangkan & menguntungkan diri. Dalam batas yang diterima akal sehat pengejaran ini sering menghasilkan pencapaian yang disebut kesuksesan. Ketika batas-batasnya dilanggar, lahirlah kerakusan. Sesungguhnya dalam keegoisannya, manusia ialah makhluk yang tidak mengenal cukup. Jika ada kesempatan untuk memperoleh lebih & banyak, orang pasti berlomba-lomba mengejarnya dengan segala daya upaya (hingga kehilangan nyawa sekalipun demi makanan & sejumlah uang yang tak seberapa). Semuanya demi dirinya atau yang berhubungan dengan dirinya. Ini kebalikan total dari jalan-jalan Tuhan. Yesus yang miskin menurut dunia tak pernah mengemis atau menjadi orang yang gila harta dengan hidup untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya bagi diri & keluarganya. Dia memilih jalan kasih: yang nyata dalam berkorban, hidup untuk memberi, mempersembahkan hidup bagi Bapa & jiwa-jiwa yang memerlukan sentuhan illahi. Pilihlah hari ini: hidup seperti lintah atau seperti Yesus? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

Respon 4
“Kebahagiaan bukan ditentukan oleh orang-orang di sekitar kita, tetapi oleh Roh Kudus yang tinggal di dalam kita.” Xavier Quentin Pranata.

No comments:

Post a Comment