Wednesday, 1 July 2015

1 Juli 2015

GROWTH




Baik tidaknya kehidupan seseorang tidak ditentukan oleh lamanya ia hidup, tetapi DAMPAK apa yang ia berikan bagi banyak orang. Bagaimana membangun kehidupan yang memberi kepuasan, penuh arti & membawa dampak positif yang maksimal bagi orang-orang di sekitar kita. Sebenarnya semua umat Tuhan dipanggil untuk memberikan maximum impact yang positif karena ada benih Ilahi yang ada dalam hidup kita. Efesus 1:4, “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.” Dan sebagai benih Ilahi kita telah dirancang untuk diberkati. Efesus 1:3, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.” Kalau kita ini sudah dipilih & punya benih Ilahi, juga sudah diberkati (baca sekali lagi ayat-ayat tersebut diatas ). Apakah kita juga sudah memberikan maximum impact yang positif” di marketplace kita masing-masing ?? Amin.

Respon 1
Maz 5:12 – Sebab ENGKAUlah yang memberkati orang benar, ya TUHAN; ENGKAU memagari dia dengan anugerah-MU seperti perisai! Wow... Yukk jadi orang benar. Sip puol! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.

Respon 2
SAAT TEDUH. Rabu, 1 Juli 2015. Bibir yang Terjaga. Maka bibirku sungguh-sungguh tidak akan mengucapkan kecurangan, dan lidahku tidak akan melahirkan tipu daya (Ayub 27:4). Seorang teman menuliskan dalam status Blackberry: “Manusia butuh 2-3 tahun untuk belajar berbicara, tetapi butuh sedikitnya 50 tahun untuk menjaga kata-katanya.” Mungkin pernyataan tersebut lahir dari pengalaman hidupnya berkaitan dengan kesulitan menjaga perkataan. Saya pun mengirimkan pesan singkat untuk menyatakan bahwa saya setuju dengannya, bahwa menjaga perkataan memang bukanlah perkara mudah bagi siapa pun. Menjaga perkataan atau lidah dapat dilakukan dengan banyak cara. Ayub memberikan contoh dua cara dalam menjaga lidah, yakni tidak mengucapkan kecurangan dan tidak “melahirkan” tipu daya. Perkataan yang tidak hanya asal ucap, tetapi lahir dari komitmen seorang pria yang mengenal Allahnya. Ayub berkomitmen untuk menjaga perkataannya selama napas masih ada padanya dan Roh Allah masih di dalam lubang hidungnya (ay. 3). Tak heran jika Ayub disebut sebagai orang yang saleh, jujur, takut akan Allah, dan menjauhi kejahatan (Ayub 1:1). Kedua hal tersebut memang berkaitan erat, bahkan tidak dapat dipisahkan. Pengenalan seseorang akan Allah tentu berdampak pada perkataan yang meluncur dari bibirnya. Lidah memang buas, tetapi bukan berarti tak dapat dikendalikan. Sebagai orang benar, hendaknya ucapan kita dijauhkan dari segala bentuk kecurangan maupun tipu daya, apa pun alasannya. Sekalipun orang-orang di sekitar kita mengucapkan kecurangan atau tipu daya, kiranya kita dikenal sebagai pribadi yang dapat menjaga perkataan. Biarlah lidah kita menyatakan kebenaran Allah —GHJ. MENJAGA PERKATAAN AKAN LEBIH MUDAH BAGI MEREKA YANG BERKOMITMEN UNTUK MELAKUKANNYA. Welcome July. Selamat pagi. Semangat selalu. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 3
Tidak ada hari ini yang tidak pernah mendengar nama Yesus. Dunia yang tak mengenal ajaran Kristus pun mengetahui bahwa Yesus Kristus ialah salah satu sosok paling berpengaruh di sepanjang sejarah. Bagi kita, Dia Tuhan. Menurut ukuran dunia? Semua tahu Dia dari keluarga miskin, tak berpendidikan tinggi apalagi bergelar sarjana, sebelumnya seorang tukang kayu & tanpa kekuasaan politik apapun. Murid-muridNya pun tak berbeda. Kebanyakan berstatus sosial yang rendah: nelayan, pekerja-pekerja biasa, tentara bayaran. Mereka orang-orang biasa yang menjadi luar biasa & mengoncang dunia -karena menjadi murid-murid Kristus sejati. Apa yang bisa kita pahami dari semua itu? 1- Tuhan sanggup mengubah manusia-manusia biasa yang berdosa ini menjadi luar biasa di tangan-Nya. Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjalani kehidupan yang penuh makna & menakjubkan di dalam Kristus. Bukan sekedar sukses secara duniawi tapi menjalani hidup yang berarti & berdampak kekal (Fil. 2:10-14; Mat.4:19). 2- Jika kita telah diubah & diangkat Tuhan, seharusnya kita tinggal dalam kerendahan hati & tidak meninggikan diri. Ingatlah bahwa segala yang kita peroleh, nikmati & membuat kita terpandang di antara anak-anak manusia berasal dari karya Tuhan & kasih karunia-Nya yang besar dalam hidup kita. Hidup dalam kerendahan hati ialah ucapan syukur terbaik bagi pencapaian-pencapaian kita (1 Kor. 3:26-29). 3- Sama sekali tidak sepantasnya kita memiliki pandangan-pandangan & pikiran-pikiran yang merendahkan orang lain -khususnya mereka yang tidak memiliki kelebihan yang tampak dari luar seperti kekayaan, pangkat kedudukan, gelar pendidikan, kefasihan lidah atau baiknya rupa. Tuhan bekerja dengan cara yang sering tak kita duga, melalui orang-orang yang tidak kita sangka (Mat. 13:53-58). Bertanyalah pada diri Anda sendiri: jika hari ini Yesus & murid-muridNya muncul di depan kita, adakah Anda mengenali & mengakui mereka sebagai utusan-utusan Bapa? Kerohanian yang benar ditandai dengan pandangan yang selaras dengan Tuhan -bukan dengan ukuran-ukuran & perkiraan-perkiraan kita sendiri. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:

Post a Comment