Tuesday, 21 July 2015

21 Juli 2015

GROWTH




Growth/Pertumbuhan. Terinspirasi membuat kita SEMANGAT, tapi DISIPLIN membuat kita BERTUMBUH (Perlunya Konsistensi Part 3/Warta Komsel AOC). Disiplin apa yang sudah pernah Saudara lakukan dalam hidup ini?? Sebagian orang mendisiplin diri dalam hal berolahraga, yang lain mendisplin diri dalam pola hidup sehat, dll. Tidak hanya untuk kebutuhan jasmani, untuk kebutuhan rohanipun kita perlu mendisiplin diri kita. Daniel 6:10, “Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.” Perhatikan kata-kata ‘seperti yang biasa dilakukan’ = konsistensi = latihan, berkesinambungan = ketekunan = kedisplinan = ketetapan hati = kesetiaan. Sebagai orang percaya sudahkah kita konsisten dalam hal spiritual kita? Membaca Alkitab, berdoa, memuji Dia lewat Saat Teduh kita setiap hari?? (Seperti yang BIASA dilakukan Daniel). Pertumbuhan orang percaya adalah proses seumur hidup. Menjadi tua itu PASTI, tetapi menjadi ‘DEWASA’ itu pilihan/Edwin Louis Cole. Pilihan di tangan Saudara. Amin.

Respon 1
Luar biasa Cik tetap semangat. Kalau Tacik gimana kabarnya? Mamanya kenapa Cik seperti di Rumah Sakit? Yang foto bersama saya ini Mama saya Cik. Puji Tuhan dia sudah dimenangkan untuk Tuhan, Cik. Dulu mama saya adalah ratu peminum minum keras, sekarang diubah Tuhan terpuji Tuhan kita yang ajaib. Dulu semua orang menertawakan kerinduan saya, karena saya yakin di dalam Tuhan tak ada yang mustahil. Terima kasih Cik untuk menjadi ibu rohani yang menjadi teladan bagi saya. (Ibu Erna – Malinau, Tarakan)

Respon 2
Kisah 99 koin. Seorang pelayan kerajaan memiliki kehidupan yang bahagia. Ia puas dengan segala kesederhanaan yang dimilikinya sehingga ia selalu tersenyum & bernyanyi bahagia. Raja menjadi penasaran mengapa orang sesederhana itu bisa bahagia. Lalu ia mengujinya dengan memberikan kepadanya 99 koin emas dikantongnya secara diam-diam saat pelayan tersebut pulang ke rumah. Alangkah kaget & senangnya hati pelayan itu mendapatkan 99 koin emas dikantongnya. Hanya saja masih ada ganjalan, bukankah seharusnya genap 100 koin emas? Di mana koin yang 1 itu? Pelayan tersebut berniat mencarinya di sepanjang jalan & tidak pernah berhenti memikirkan 1 koin itu. Ia pun lupa untuk tersenyum & menyanyi bahagia, bahkan makin hari ia jadi tambah murung karena memikirkan 1 koin emas yang tak kunjung ketemu. Raja bijak yang mengetahui hal itu hanya menghela nafas menyesalkan sikap pelayannya yang tidak bersyukur dengan 99 koin yang diterimanya, yang mengeluhkan 1 koin yang tidak didapatkannya. Tahukah kita, bahwa TUHAN seringkali menguji sikap hati kita melalui berkat-berkat-Nya yang dilimpahkan kepada kita? Sayangnya, kita sering bersikap seperti pelayan kerajaan itu. tidak mensyukuri berkat-Nya, tapi berkat-berkat itu justru membuat kita tidak puas. Kita lupa bersyukur untuk segala sesuatu yang kita terima karena kita sibuk untuk mengeluhkan segala sesuatu yang tidak kita miliki... Kisah klasik sederhana ini mengajarkan kita bahwa kebahagiaan tidak datang dari banyaknya materi yang kita miliki, tapi dari sikap hati yang mensyukuri berkat-berkat Ilahi yang kita terima. Hitunglah berkat TUHAN yang kita terima, maka kita sungguh akan terkejut karena apa yang Dia berikan jauh melebihi hal-hal yang kita keluhkan. TUHAN sudah memberikan 99 berkat kepada kita, sungguh aneh jika kita masih terus mengeluh & memusingkan 1 berkat yang belum kita terima bukan? Karena itu syukurilah apa yang kita miliki, bukan apa yang blm kita punyai. Itulah kunci hidup yang diberkati

Respon 3
Maz 107:8 – Biarlah mereka BERSYUKUR kepada TUHAN karena kasih setia-Nya, karena perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia. Amin... (Bp. Budi Hariono – PT. MPU)

Respon 4
“Sendirian bersama Tuhan justru dapat mengusir kesepian.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 5
Humility is a recognition that we are completely weak and helpless in ourselves, but powerful and useful by the grace of God (Jerry Bridges). Kerendahan hati adalah pengakuan bahwa kita ini sepenuhnya lemah & tidak berdaya dalam diri kita, tetapi berkuasa & berguna oleh kasih karunia Tuhan (Jerry Bridges). (Ibu Caroline – Bandung)

Respon 6
Jika direnungkan, apa yang disebut rasul Yohanes sebagai hal-hal yang ada dalam dunia ini yaitu keinginan daging, keinginan mata & keangkuhan hidup (1 Yoh. 2:16), pada dasarnya merupakan tahap-tahap pengaruh duniawi dalam hidup manusia. Dimulai dari tarikan-tarikan untuk berbuat dosa & melenceng dari firman kebenaran (inilah keinginan daging), orang dibawa semakin jauh terpikat pada dunia melalui keinginan mata. Apakah sebenarnya keinginan mata itu? Keinginan mata ialah nafsu yang berasal dari mata. Yaitu keinginan-keinginan untuk memiliki apa saja yang terbaik di pemandangan mata: perabotan yang indah & mahal, busana yang terbaik, simpanan kekayaan yang banyak, penampilan fisik yang sempurna, pasangan yang menawan, prestasi & kehormatan dsb. Pendeknya, segala hal yang memuaskan mata yang melihatnya (Pkh. 5:11; Mat. 4:8). Inilah tahap kedua dimana keinginan daging diwujudkan dalam bentuknya yang tertinggi dimana dosa-dosa dilakukan dengan cara yang lebih halus & demi tujuan-tujuan yang lebih besar yaitu hidup dalam kemewahan & kelas lebih tinggi. Ini pun tahap dimana orang bukan lagi sekedar menuruti kecenderungan-kecenderungan dirinya yang berdosa namun telah mengarahkan diri hidup secara duniawi, mengejar perkara-perkara yang terbaik menurut ukuran dunia, menetapkan diri bahwa memiliki semua itu ialah tujuan hidupnya. Mengapa ini bertentangan dengan kehendak Tuhan? Sebab yang terbaik bagi jiwa manusia bukan berasal dari dunia ini (Pkh. 5:10). Menginginkan mendapat hal-hal terbaik di alam fana serupa dengan menginginkan & menyukai benda-benda tiruan yang tidak bertahan lama dibandingkan yang asli. Sekemilau & seindah apapun suatu perhiasan bertatahkan emas permata palsu tetap jauh tidak berharga dibanding emas asli yang masih tercampur tanah & kotoran. Keinginan mata menyesatkan & menyimpangkan kita dari pintu yang sesak & jalan yang sempit (Mat. 7:14) yang seharusnya membawa kita pada kehidupan (yang sejati & yang kekal) maupun dari persekutuan dengan Tuhan sendiri. Biar mata kita celik. Merindukan yang sejati semata. Kerajaan sorga & kebenaran-Nya. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:

Post a Comment