GROWTH
Growth/Pertumbuhan.
Terinspirasi membuat kita SEMANGAT, tapi DISIPLIN membuat kita BERTUMBUH (Perlunya
Konsistensi Part 3/Warta Komsel AOC). Disiplin apa yang sudah pernah
Saudara lakukan dalam hidup ini?? Sebagian orang mendisiplin diri dalam hal
berolahraga, yang lain mendisplin diri dalam pola hidup sehat, dll. Tidak hanya
untuk kebutuhan jasmani, untuk kebutuhan rohanipun kita perlu mendisiplin diri
kita. Daniel 6:10, “Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah
dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang
terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji
Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.” Perhatikan kata-kata ‘seperti
yang biasa dilakukan’ = konsistensi = latihan, berkesinambungan = ketekunan
= kedisplinan = ketetapan hati = kesetiaan. Sebagai orang percaya sudahkah kita
konsisten dalam hal spiritual kita? Membaca Alkitab, berdoa, memuji Dia lewat
Saat Teduh kita setiap hari?? (Seperti yang BIASA dilakukan Daniel).
Pertumbuhan orang percaya adalah proses seumur hidup. Menjadi tua itu PASTI,
tetapi menjadi ‘DEWASA’ itu pilihan/Edwin Louis Cole. Pilihan di tangan
Saudara. Amin.
Respon 1
Luar biasa Cik tetap semangat. Kalau Tacik gimana kabarnya? Mamanya
kenapa Cik seperti di Rumah Sakit? Yang foto bersama saya ini Mama saya Cik.
Puji Tuhan dia sudah dimenangkan untuk Tuhan, Cik. Dulu mama saya adalah ratu
peminum minum keras, sekarang diubah Tuhan terpuji Tuhan kita yang ajaib. Dulu
semua orang menertawakan kerinduan saya, karena saya yakin di dalam Tuhan tak
ada yang mustahil. Terima kasih Cik untuk menjadi ibu rohani yang menjadi
teladan bagi saya. (Ibu Erna – Malinau, Tarakan)
Respon 2
Kisah 99 koin. Seorang pelayan kerajaan memiliki kehidupan yang
bahagia. Ia puas dengan segala kesederhanaan yang dimilikinya sehingga ia
selalu tersenyum & bernyanyi bahagia. Raja menjadi penasaran mengapa orang
sesederhana itu bisa bahagia. Lalu ia mengujinya dengan memberikan kepadanya 99
koin emas dikantongnya secara diam-diam saat pelayan tersebut pulang ke rumah.
Alangkah kaget & senangnya hati pelayan itu mendapatkan 99 koin emas
dikantongnya. Hanya saja masih ada ganjalan, bukankah seharusnya genap 100 koin
emas? Di mana koin yang 1 itu? Pelayan tersebut berniat mencarinya di sepanjang
jalan & tidak pernah berhenti memikirkan 1 koin itu. Ia pun lupa untuk
tersenyum & menyanyi bahagia, bahkan makin hari ia jadi tambah murung karena
memikirkan 1 koin emas yang tak kunjung ketemu. Raja bijak yang mengetahui hal
itu hanya menghela nafas menyesalkan sikap pelayannya yang tidak bersyukur
dengan 99 koin yang diterimanya, yang mengeluhkan 1 koin yang tidak
didapatkannya. Tahukah kita, bahwa TUHAN seringkali menguji sikap hati kita
melalui berkat-berkat-Nya yang dilimpahkan kepada kita? Sayangnya, kita sering
bersikap seperti pelayan kerajaan itu. tidak mensyukuri berkat-Nya, tapi
berkat-berkat itu justru membuat kita tidak puas. Kita lupa bersyukur untuk
segala sesuatu yang kita terima karena kita sibuk untuk mengeluhkan segala
sesuatu yang tidak kita miliki... Kisah klasik sederhana ini mengajarkan kita
bahwa kebahagiaan tidak datang dari banyaknya materi yang kita miliki, tapi
dari sikap hati yang mensyukuri berkat-berkat Ilahi yang kita terima. Hitunglah
berkat TUHAN yang kita terima, maka kita sungguh akan terkejut karena apa yang
Dia berikan jauh melebihi hal-hal yang kita keluhkan. TUHAN sudah memberikan 99
berkat kepada kita, sungguh aneh jika kita masih terus mengeluh &
memusingkan 1 berkat yang belum kita terima bukan? Karena itu syukurilah apa
yang kita miliki, bukan apa yang blm kita punyai. Itulah kunci hidup yang
diberkati
Respon 3
Maz 107:8 – Biarlah mereka BERSYUKUR kepada TUHAN karena kasih
setia-Nya, karena perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia. Amin...
(Bp. Budi Hariono – PT. MPU)
Respon 4
“Sendirian bersama Tuhan justru dapat mengusir kesepian.” Xavier
Quentin Pranata.
Respon 5
Humility is a recognition that we are completely weak and helpless in
ourselves, but powerful and useful by the grace of God (Jerry Bridges).
Kerendahan hati adalah pengakuan bahwa kita ini sepenuhnya lemah & tidak
berdaya dalam diri kita, tetapi berkuasa & berguna oleh kasih karunia Tuhan
(Jerry Bridges). (Ibu Caroline – Bandung)
Respon 6
Jika direnungkan, apa yang disebut rasul Yohanes sebagai hal-hal yang
ada dalam dunia ini yaitu keinginan daging, keinginan mata & keangkuhan
hidup (1 Yoh. 2:16), pada dasarnya merupakan tahap-tahap pengaruh duniawi dalam
hidup manusia. Dimulai dari tarikan-tarikan untuk berbuat dosa & melenceng
dari firman kebenaran (inilah keinginan daging), orang dibawa semakin jauh
terpikat pada dunia melalui keinginan mata. Apakah sebenarnya keinginan mata
itu? Keinginan mata ialah nafsu yang berasal dari mata. Yaitu
keinginan-keinginan untuk memiliki apa saja yang terbaik di pemandangan mata:
perabotan yang indah & mahal, busana yang terbaik, simpanan kekayaan yang
banyak, penampilan fisik yang sempurna, pasangan yang menawan, prestasi &
kehormatan dsb. Pendeknya, segala hal yang memuaskan mata yang melihatnya (Pkh.
5:11; Mat. 4:8). Inilah tahap kedua dimana keinginan daging diwujudkan dalam
bentuknya yang tertinggi dimana dosa-dosa dilakukan dengan cara yang lebih halus
& demi tujuan-tujuan yang lebih besar yaitu hidup dalam kemewahan &
kelas lebih tinggi. Ini pun tahap dimana orang bukan lagi sekedar menuruti
kecenderungan-kecenderungan dirinya yang berdosa namun telah mengarahkan diri
hidup secara duniawi, mengejar perkara-perkara yang terbaik menurut ukuran
dunia, menetapkan diri bahwa memiliki semua itu ialah tujuan hidupnya. Mengapa
ini bertentangan dengan kehendak Tuhan? Sebab yang terbaik bagi jiwa manusia
bukan berasal dari dunia ini (Pkh. 5:10). Menginginkan mendapat hal-hal terbaik
di alam fana serupa dengan menginginkan & menyukai benda-benda tiruan yang
tidak bertahan lama dibandingkan yang asli. Sekemilau & seindah apapun
suatu perhiasan bertatahkan emas permata palsu tetap jauh tidak berharga dibanding
emas asli yang masih tercampur tanah & kotoran. Keinginan mata menyesatkan
& menyimpangkan kita dari pintu yang sesak & jalan yang sempit (Mat.
7:14) yang seharusnya membawa kita pada kehidupan (yang sejati & yang
kekal) maupun dari persekutuan dengan Tuhan sendiri. Biar mata kita celik.
Merindukan yang sejati semata. Kerajaan sorga & kebenaran-Nya. Salam
revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:
Post a Comment