Saturday, 18 July 2015

18 Juli 2015

GROWTH




Kehidupan dalam Pekerjaan (Kolose 3:22-25). Ayat 23: “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Etos kerja ‘anak-anak Tuhan’ sudah seharusnya berbeda dengan yang lain, yaitu memberikan yang terbaik dalam pekerjaannya . Apakah kita sudah memberi yang terbaik selama kita bekerja?? Seringkali kita lupa siapa “Majikan” kita yang sebenarnya??  Ingatlah bahwa semua pekerjaan yang kita lakukan adalah ‘pelayanan’ kita kepada Tuhan, bekerjalah seakan-akan Kristus adalah Majikan kita . Dengan demikian semua pekerjaan yang kita ‘perbuat’ seperti untuk Tuhan, kelak akan mendapat upahnya (ayat 24). Amin.

Respon 1
Sabtu, 18 Juli 2015. Bahan Bacaan: Matius 18:10-14. Nats: Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki salah seorang dari anak-anak ini hilang (Matius 18:14). MELAYANI ANAK-ANAK. Simon and Penny Hood, suami istri yang berkonsentrasi pada pelayanan anak, mengemuka-kan sebuah penghitungan statistik, bahwa saat ini populasi anak-anak di seluruh dunia, adalah yang terbanyak dari masa-masa sebelumnya. Dan paling tidak, ada satu miliar anak di dunia, yang belum mendengar tentang Kristus! Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk terus bekerja membagikan Injil, sebab masih banyak “domba tersesat” yang perlu diselamatkan, khususnya anak-anak. Di Indonesia sendiri, bukankah jumlah anak-anak juga begitu besar untuk kita layani? Maka seperti Yesus berbelas kasih melihat lima ribu jiwa ‘kelaparan’ di padang, kita pun perlu turut bekerja memberi mereka ‘makan’, yakni Injil itu sendiri, bahwa “Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Dia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci” (1 Korintus 15:3,4). Jika kita adalah seorang pelayan anak, sudahkah pengajaran yang kita disampaikan membuat anak-anak sungguh meminta Kristus memimpin hidup mereka? Tak sekadar mereka pintar menghafal cerita Alkitab dan menyanyi lagu rohani? Jika kita adalah orangtua, sudahkah anak-anak kita sungguh-sungguh menerima Kristus untuk masuk dan bertakhta di hati? Jika kita menyebut diri “murid Kristus”, sudahkah anak-anak yang tinggal di sekeliling kita mendengar berita tentang keselamatan yang ada di dalam Dia? Tuhan tak ingin “seorang pun dari anak-anak ini hilang” (ayat 14). Sudahkah anak-anak yang ditempatkan Tuhan di sekitar kita mendengar Injil yang menyelamatkan itu? KARENA ANAK-ANAK ADALAH PEMILIK SURGA MEREKA HARUS DENGAR BERITA YANG MEMBUKA PINTU SURGA. (Madam Ossy)

Respon 2
“Rasa takut bukan disebabkan oleh tempat sepi atau ramai, tapi dipengaruhi oleh ada tidaknya rasa damai di dalam diri.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 3
KEHENDAK BEBAS. Read: Yosua 24:14-28. Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah... Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN! (Yosua 24:15). Manusia di dunia ini diberikan kebebasan oleh Tuhan. Kehendak bebas ini yang membuat manusia punya pilihan. Manusia selalu dihadapkan pada pilihan. Pilihan untuk sekolah atau bekerja, pilihan untuk menikah atau melajang, bahkan pilihan untuk beribadah dan taat kepada Tuhan atau tidak. Pilihan ini membawa konsekuensi masing-masing. Pilihan yang tepat akan membawa pada kebahagiaan, pilihan yang keliru akan membawa pada petaka dan penyesalan berkepanjangan. Dalam pidato perpisahannya, setelah Israel menjalani kehidupan baru di Tanah Perjanjian, Yosua mengingatkan bangsa itu bahwa mereka akan selalu diperhadapkan pada pilihan kepada siapa mereka akan beribadah. Karena itu, ia menantang bangsa Israel, agar memilih dan membuat perjanjian untuk tetap setia beribadah kepada Tuhan, Allah mereka. Tantangan Yosua dijawab oleh umat Israel dengan menyatakan bahwa mereka tidak akan meninggalkan Tuhan. Di sinilah Yosua mengingatkan mereka bahwa mereka tidak akan sanggup beribadah kepada Tuhan jikalau bukan karena anugerah Tuhan saja. Kehidupan kita pun penuh dengan pilihan, termasuk pilihan untuk setia beribadah dan taat kepada Tuhan kita, Yesus Kristus, ataukah tidak lagi setia beribadah kepada-Nya. Tentu seharusnya kita memilih untuk tetap setia dan bergantung penuh pada anugerah Tuhan. Dia sudah menyelamatkan kita dari hukuman dosa, baiklah kita setia beribadah kepada Dia dalam anugerah-Nya yang penuh kasih. Kesetiaan iman adalah wujud ungkapan syukur akan keselamatan. PILIHAN MENGANDUNG KONSEKUENSI, JANGAN SALAH PILIH! (Bp. Budi Hariono – PT. MPU)

Respon 4
Kasih karunia Tuhan sesungguhnya sangat limpah setiap hari. Dialah Bapa yang masih mengizinkan panas mentari & curahan hujan bagi orang benar maupun orang fasik di bumi. Dia masih mengaruniakan nafas untuk melalui hari bagi mereka yang menyembah-Nya atau yang menghujat-Nya. Terlampau banyak perbuatan kasih-Nya yang masih dapat disebutkan. Tidak terkecuali orang-orang di zaman Nuh. Mereka mendapat kesempatan selama 100 tahun untuk berbalik kepada Tuhan oleh kesaksian pemberitaan Nuh yang membangun bahtera (Kej. 5:32; 7:6). Itulah kasih karunia Tuhan. Jika saja mereka mau mendengar pesan dari Nuh maka selamatlah mereka dari kebinasaan karena air bah. Sayangnya, kasih karunia terakhir itu mereka tolak. Kejadian 6:8 menyebutkan bahwa Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan. Jadi, apakah Tuhan pilih kasih? Hanya Nuh seorang yang dipilih untuk tidak dibinasakan? Tentu tidak. Uraian di atas telah menjelaskannya. Maksud ayat 8 itu tidak lain ialah bahwa kasih karunia Tuhan limpah diberikan lebih lagi pada Nuh sebab sejak semula ia telah memilih hidup dalam kasih karunia Tuhan. Dengan cara apa? Dengan hidup bergaul dengan Tuhan sehingga hidupnya sangat berbeda dengan orang-orang sezamannya yang banyak melakukan kejahatan di hadapan Tuhan (Kej. 6:9). Dari hidup Nuh, kita tahu bahwa kasih karunia Tuhan diberikan pada semua orang di zaman Kejadian dimana setiap orang berkesempatan yang sama untuk berjalan dengan Tuhan setiap hari. Setidaknya Henokh & kemungkinan besar Metusalah memilih cara hidup demikian, yang lalu menjadi teladan bagi Nuh. Hidup dalam kasih karunia itu bukan hidup semau kita & nantinya pasti masuk soranga; bukan pula hidup yang tampak saleh & terhormat di depan orang. Kasih karunia Tuhan bagi kita ialah kesempatan untuk mendekat & mengenal Dia bahkan berjalan bersama Dia setiap hari dalam hidup kita di dunia yang gelap ini. Sampai kaki kita menapak keabadian. Hari ini, sudahkah Anda memilih kasih karunia Tuhan? Datanglah ke tahta itu. Tahta kasih karunia. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)




Respon 5
Syalom. Amin... “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi” (Pengkhotbah 9:10). Terima kasih ibu Siu, selamat berakhir pekan TUHAN YESUS selalu memberkati. Amin. (Bp. Oktavianus – Nabire)




No comments:

Post a Comment