GROWTH
Kehidupan dalam
Pekerjaan (Kolose 3:22-25). Ayat 23: “Apapun juga yang kamu perbuat,
perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”
Etos kerja ‘anak-anak Tuhan’ sudah seharusnya berbeda dengan yang lain, yaitu memberikan
yang terbaik dalam pekerjaannya . Apakah kita sudah memberi yang terbaik
selama kita bekerja?? Seringkali kita lupa siapa “Majikan” kita yang
sebenarnya?? Ingatlah bahwa semua
pekerjaan yang kita lakukan adalah ‘pelayanan’ kita kepada Tuhan, bekerjalah
seakan-akan Kristus adalah Majikan kita . Dengan demikian semua pekerjaan yang
kita ‘perbuat’ seperti untuk Tuhan, kelak akan mendapat upahnya (ayat 24).
Amin.
Respon 1
Sabtu, 18 Juli
2015. Bahan Bacaan: Matius 18:10-14. Nats: Demikian juga Bapamu yang di surga
tidak menghendaki salah seorang dari anak-anak ini hilang (Matius 18:14).
MELAYANI ANAK-ANAK. Simon and Penny Hood, suami istri yang berkonsentrasi pada
pelayanan anak, mengemuka-kan sebuah penghitungan statistik, bahwa saat ini
populasi anak-anak di seluruh dunia, adalah yang terbanyak dari masa-masa
sebelumnya. Dan paling tidak, ada satu miliar anak di dunia, yang belum
mendengar tentang Kristus! Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk terus
bekerja membagikan Injil, sebab masih banyak “domba tersesat” yang perlu diselamatkan,
khususnya anak-anak. Di Indonesia sendiri, bukankah jumlah anak-anak juga
begitu besar untuk kita layani? Maka seperti Yesus berbelas kasih melihat lima
ribu jiwa ‘kelaparan’ di padang, kita pun perlu turut bekerja memberi mereka ‘makan’,
yakni Injil itu sendiri, bahwa “Kristus telah mati karena dosa-dosa kita,
sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Dia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah
dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci” (1 Korintus
15:3,4). Jika kita adalah seorang pelayan anak, sudahkah pengajaran yang kita
disampaikan membuat anak-anak sungguh meminta Kristus memimpin hidup mereka?
Tak sekadar mereka pintar menghafal cerita Alkitab dan menyanyi lagu rohani?
Jika kita adalah orangtua, sudahkah anak-anak kita sungguh-sungguh menerima
Kristus untuk masuk dan bertakhta di hati? Jika kita menyebut diri “murid
Kristus”, sudahkah anak-anak yang tinggal di sekeliling kita mendengar berita
tentang keselamatan yang ada di dalam Dia? Tuhan tak ingin “seorang pun dari
anak-anak ini hilang” (ayat 14). Sudahkah anak-anak yang ditempatkan Tuhan di
sekitar kita mendengar Injil yang menyelamatkan itu? KARENA ANAK-ANAK ADALAH
PEMILIK SURGA MEREKA HARUS DENGAR BERITA YANG MEMBUKA PINTU SURGA. (Madam Ossy)
Respon 2
“Rasa takut bukan
disebabkan oleh tempat sepi atau ramai, tapi dipengaruhi oleh ada tidaknya rasa
damai di dalam diri.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 3
KEHENDAK BEBAS.
Read: Yosua 24:14-28. Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada
TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah... Tetapi aku
dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN! (Yosua 24:15). Manusia di
dunia ini diberikan kebebasan oleh Tuhan. Kehendak bebas ini yang membuat
manusia punya pilihan. Manusia selalu dihadapkan pada pilihan. Pilihan untuk
sekolah atau bekerja, pilihan untuk menikah atau melajang, bahkan pilihan untuk
beribadah dan taat kepada Tuhan atau tidak. Pilihan ini membawa konsekuensi
masing-masing. Pilihan yang tepat akan membawa pada kebahagiaan, pilihan yang keliru
akan membawa pada petaka dan penyesalan berkepanjangan. Dalam pidato
perpisahannya, setelah Israel menjalani kehidupan baru di Tanah Perjanjian,
Yosua mengingatkan bangsa itu bahwa mereka akan selalu diperhadapkan pada
pilihan kepada siapa mereka akan beribadah. Karena itu, ia menantang bangsa
Israel, agar memilih dan membuat perjanjian untuk tetap setia beribadah kepada
Tuhan, Allah mereka. Tantangan Yosua dijawab oleh umat Israel dengan menyatakan
bahwa mereka tidak akan meninggalkan Tuhan. Di sinilah Yosua mengingatkan
mereka bahwa mereka tidak akan sanggup beribadah kepada Tuhan jikalau bukan
karena anugerah Tuhan saja. Kehidupan kita pun penuh dengan pilihan, termasuk
pilihan untuk setia beribadah dan taat kepada Tuhan kita, Yesus Kristus, ataukah
tidak lagi setia beribadah kepada-Nya. Tentu seharusnya kita memilih untuk
tetap setia dan bergantung penuh pada anugerah Tuhan. Dia sudah menyelamatkan
kita dari hukuman dosa, baiklah kita setia beribadah kepada Dia dalam
anugerah-Nya yang penuh kasih. Kesetiaan iman adalah wujud ungkapan syukur akan
keselamatan. PILIHAN MENGANDUNG KONSEKUENSI, JANGAN SALAH PILIH! (Bp. Budi
Hariono – PT. MPU)
Respon 4
Kasih karunia Tuhan
sesungguhnya sangat limpah setiap hari. Dialah Bapa yang masih mengizinkan
panas mentari & curahan hujan bagi orang benar maupun orang fasik di bumi.
Dia masih mengaruniakan nafas untuk melalui hari bagi mereka yang menyembah-Nya
atau yang menghujat-Nya. Terlampau banyak perbuatan kasih-Nya yang masih dapat
disebutkan. Tidak terkecuali orang-orang di zaman Nuh. Mereka mendapat
kesempatan selama 100 tahun untuk berbalik kepada Tuhan oleh kesaksian
pemberitaan Nuh yang membangun bahtera (Kej. 5:32; 7:6). Itulah kasih karunia
Tuhan. Jika saja mereka mau mendengar pesan dari Nuh maka selamatlah mereka
dari kebinasaan karena air bah. Sayangnya, kasih karunia terakhir itu mereka
tolak. Kejadian 6:8 menyebutkan bahwa Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan.
Jadi, apakah Tuhan pilih kasih? Hanya Nuh seorang yang dipilih untuk tidak
dibinasakan? Tentu tidak. Uraian di atas telah menjelaskannya. Maksud ayat 8
itu tidak lain ialah bahwa kasih karunia Tuhan limpah diberikan lebih lagi pada
Nuh sebab sejak semula ia telah memilih hidup dalam kasih karunia Tuhan. Dengan
cara apa? Dengan hidup bergaul dengan Tuhan sehingga hidupnya sangat berbeda
dengan orang-orang sezamannya yang banyak melakukan kejahatan di hadapan Tuhan
(Kej. 6:9). Dari hidup Nuh, kita tahu bahwa kasih karunia Tuhan diberikan pada
semua orang di zaman Kejadian dimana setiap orang berkesempatan yang sama untuk
berjalan dengan Tuhan setiap hari. Setidaknya Henokh & kemungkinan besar
Metusalah memilih cara hidup demikian, yang lalu menjadi teladan bagi Nuh.
Hidup dalam kasih karunia itu bukan hidup semau kita & nantinya pasti masuk
soranga; bukan pula hidup yang tampak saleh & terhormat di depan orang.
Kasih karunia Tuhan bagi kita ialah kesempatan untuk mendekat & mengenal
Dia bahkan berjalan bersama Dia setiap hari dalam hidup kita di dunia yang
gelap ini. Sampai kaki kita menapak keabadian. Hari ini, sudahkah Anda memilih
kasih karunia Tuhan? Datanglah ke tahta itu. Tahta kasih karunia. Salam
revival! GBU. (Worship Center Surabaya)
Respon 5
Syalom. Amin...
“Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat
tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam
dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi” (Pengkhotbah 9:10). Terima kasih
ibu Siu, selamat berakhir pekan TUHAN YESUS selalu memberkati. Amin. (Bp.
Oktavianus – Nabire)

No comments:
Post a Comment