GROWTH
Ibrani 11:1, “Iman
adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala
sesuatu yang tidak kita lihat.” Sebagai pengikut Kristus, kita termasuk yang
tidak melihat tetapi tetap PERCAYA, itulah IMAN. Sekalipun tidak ada
dasar untuk PERCAYA kita dapat berseru: “Tolonglah aku yang TIDAK PERCAYA
ini!” (Markus 9:24). Adakah kita punya IMAN saat ini? “Berbahagialah
mereka yang tidak melihat, namun PERCAYA” (Yoh 20:29b). Amin.
Respon 1
Praise God...!! “Tetapi Nuh menyenangkan hati TUHAN” [Kej 6:8]. Kata
'tetapi' menunjukkan situasi yang tidak mendukung. Nuh tidak hidup di masa yang
mudah. Nuh hidup di tengah-tengah komunitas pemberontak & menolak Allah.
Nuh menerima misi Tuhan yang tidak masuk akal, yang menuai penghinaan &
cemooh. Kita bisa membayangkan bagaimana perasaan 'hati' Nuh berada di
tengah-tengah situasi seperti itu. “Tetapi Nuh menyenangkan hati Tuhan” dengan
mengabaikan perasaan hatinya, ia tetap percaya & taat melakukan perintah
Tuhan, tetap melakukan bagiannya dengan setia sampai tuntas. Nuh harus membangun
bahtera yang extra besar diatas gunung, menyuarakan tentang peringatan &
upaya penyelamatan Tuhan. Tapi karena orang-orang sekitar Nuh menolak Tuhan
maka pada akhirnya tidak ada yang selamat sebab mereka mengabaikan
peringatan-peringatan itu. “Tetapi Nuh menyenangkan hati Tuhan”. Keseriusan
terhadap Tuhan membuat Nuh mampu mengabaikan perasaannya, tetap... percaya,
setia, menjaga fokus, tekun melakukan bagiannya sesuai perintah sampai tuntas
sehingga hidup Nuh menyenangkan hati Tuhan. Let's do it! Perenungan sederhana
ini mengajak kita bertanya kepada diri sendiri... Seberapa seriuskah kita
dengan Tuhan? Sebab jika kita tidak serius terhadap Tuhan kita tidak mungkin
dapat mengabaikan perasaan kita sendiri (karena perasaan seringkali menyuarakan
'daging' kita yang menolak ketidaknyamanan) untuk hidup benar dengan taat &
setia sehingga dapat dikatakan tentang kita... “Tetapi..........menyenangkan
hati Tuhan” (isi titik-titik dengan nama kita masing-masing). Situasi &
orang-orang sekitar jangan dijadikan alasan untuk kita tidak taat sehingga kita
gagal menyenangkan hati Tuhan. Morning... Jbu all .
Respon 2
Amsal 11:2, “Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat
ada pada orang yang rendah hati.” Pride leads to disgrace, but with humility
comes wisdom. (GNCC)
Respon 3
Maz 37:37 – Perhatikanlah orang yang TULUS dan lihatlah kepada orang
yang JUJUR sebab pada orang yang suka DAMAI akan ada MASA DEPAN! Ini resep
MaDeCe (Masa Depan Cerah) tak iyee! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.
Respon 4
Mencari Kesabaran. Ada dua orang petani, sebut saja John dan Alex.
Keduanya memilih lahan yang sama besar dan akan bersama-sama pula untuk
bertanam. Pada hari pertama, keduanya mulai menanam benih. John begitu tekun
menyirami benihnya tiap hari, begitu juga dengan Alex. Memasuki minggu pertama,
Alex mulai naik darah. Benih yang ia tanam tidak menunjukkan adanya tunas. Alex
mulai menggali benih itu, membuangnya dan mengganti dengan benih baru. Benih
John juga tidak menunjukkan tunas, namun John tetap bersabar. Alex tetap sibuk
dengan menggali dan mengganti benih-benih baru setiap minggunya namun tidak
dengan John. John mulai melihat bahwa benihnya bertunas dan pada tahun
berikutnya menghasilkan buah. Bagaimana dengan Alex? Karena ketidaksabarannya
itulah Alex tidak menghasilkan apa-apa. Begitu juga dengan diri kita. Ketika
kita mulai belajar untuk bersabar, maka kita akan mendapatkan kehidupan yang
indah. Kesabaran bukan terletak pada apa yang telah/akan kita dapatkan,
melainkan kesabaran terletak pada hati kita. Ketika kita ingin terjadi
pemulihan dalam keluarga kita, maka kita harus bisa bersabar dalam menghadapi
setiap pribadi dalam keluarga itu dan tetap mengasihi mereka. Jika bersabar itu
dirasa sangat sulit, maka kamu harus belajar untuk bersyukur. Kesabaran itu
bukan dipengaruhi dari keadaan, namun dipengaruhi dari hati. Oleh sebab itu
milikilah hati yang mengasihi karena kasih itu sabar. Ketika kamu mulai gagal
untuk bersabar, maka sesungguhnya kamu juga akan gagal menerima berkat. “Jika
amarah penguasa menimpa engkau, janganlah meninggalkan tempatmu, karena
kesabaran mencegah kesalahan-kesalahan besar” --Pengkhotbah 10:4. Selamat pagi.
Selamat beraktivitas. SEMANGAT... Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Respon 5
“Masalah terbesar dalam hidup kita adalah saat kita tidak sadar kalau
kita punya masalah.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 6
Bagi kita orang-orang percaya, tidak ada yang tidak mengenal Yesus
Kristus. Dia Tuhan & Juruselamat Kita. Dia juga pemimpin, guru &
teladan kita dalam kehidupan. Dia pribadi sempurna, paling mulia & suci di
antara siapapun manusia yang pernah berjalan di muka bumi. Keagungan &
kebesaran-Nya tiada taranya. Hanya Dia yang pantas kita kagumi dan puja. Namun,
apa jawab kita jika ini ditanyakan pada kita, yang mengaku sebagai pengikut
& penyembah-Nya: “Apakah yang akan Anda lakukan jika diberikan kesempatan
hidup bersama-sama dengan Dia setiap hari selama 3,5 tahun sama seperti dua
belas murid-Nya?” Dapatkah Anda menjawabnya dengan mudah atau merasa terkejut
karena tidak tahu bagaimana menjawabnya? Mudah memang menghakimi murid-murid
yang sering bersikap bodoh & menggelikan sewaktu mengiring Yesus selama di
bumi. Namun, akankah kita memiliki sikap & tanggapan lebih baik daripada
mereka -bahkan setelah kita tahu siapa Yesus itu? Rasul Paulus mengetahui bahwa
ia tidak memiliki kesempatan yang sama dengan murid-murid Yesus yang kemudian
menjadi rasul-rasul itu. Itu sebabnya ia belajar lebih tekun, mengerahkan
segala apa yang ada padanya untuk belajar mengenal Kristus lebih lagi (Fill.
3:7-8). Dan ia berhasil. Meskipun ia tak berkesempatan melihat & mendengar
secara langsung hidup & ajaran Yesus, Pauluslah yang terbukti menjadi yang
paling maju dalam pengenalan akan pribadi & rencana Tuhan atas dirinya
& gereja-Nya. Hari ini, secara manusiawi, Kristus tidak lagi ada di
tengah-tengah kita. Kehadiran-Nya digantikan oleh Roh Kudus yang bertugas
membawa kita kepada Kristus, untuk mengenal-Nya lebih lagi (Yoh. 14:26; 15:26;
16:12-16). Melalui Roh hikmat & wahyu itu kita mendapatkan kesempatan yang
sama menjalani hari-hari kita seperti Kristus ada di hadapan kita. Akankah kita
menggunakan kesempatan ini untuk mengenal Dia lebih dekat lagi & belajar
dari-Nya? Atau kita hanya mengamati dari kejauhan menunggu keberuntungan
mujizat berkat-berkatNya menghampiri kita? Anda yang tahu jawabannya. Salam
revival! GBU. (Worship Center Surabaya)
Respon 7
MENCUKUPKAN DIRI. Bacaan: Filipi 4:10-20. Sebab aku telah belajar
mencukupkan diri dalam segala keadaan (Filipi 4:11). Seorang pengusaha sukses
mengalami kebangkrutan saat krisis moneter. Namun, ia tetap aktif melayani
Tuhan dan tertawa-tawa, seolah tidak terjadi apa-apa. Rahasianya? “Saya memulai
usaha dari bawah, dari sepetak kamar kontrakan. Kalau saya harus kehilangan
semua, bukan masalah. Toh saya dapat mulai lagi dari sepetak kamar kontrakan.
Saya dapat menjadi sopir taksi atau berjualan sate di pinggir jalan.” Saya
terkesan oleh sikapnya yang dapat mencukupkan diri dalam segala keadaan itu.
Sebelum bertobat, Paulus (dulunya Saulus) seorang yang berkuasa dan berkelimpahan
materi. Dalam perjalanannya mengikut Kristus, sering kali hidupnya jauh dari
kata “nyaman” menurut dunia. Ketika menuliskan surat ini, ia sedang menjadi
tawanan di penjara Roma. Bukan karena Paulus hebat dan tahan banting jikalau ia
telah dan dapat menanggung semua itu, tetapi karena ia belajar mencukupkan
diri, menerima apa pun yang dialaminya, dan senantiasa percaya Tuhan memberikan
kekuatan kepadanya (ay. 11-13). Terlebih lagi, Paulus belajar menerima dengan
ucapan syukur segala bentuk pertolongan saudara-saudara seimannya (ay. 14-18)
dan menyadari bahwa Allah akan menyediakan segala kebutuhan mereka (ay. 19).
Memang tidak banyak dari kita yang mengalami kasus seperti Paulus, tetapi kita
semua, mau tidak mau, suka tidak suka, pasti menghadapi kesulitan. Di tengah
situasi yang berubah-ubah ini, Paulus mendorong kita untuk terus memercayai
Allah yang sanggup memelihara dan mencukupkan kita dalam segala keadaan.
KURANGNYA RASA BERSYUKUR MENGAKIBATKAN KITA TIDAK PERNAH MERASA CUKUP. (Bp.
Budi Hariono – PT. MPU)

No comments:
Post a Comment