Friday, 31 July 2015

31 Juli 2015

GROWTH




Ibrani 11:1, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Sebagai pengikut Kristus, kita termasuk yang tidak melihat tetapi tetap PERCAYA, itulah IMAN. Sekalipun tidak ada dasar untuk PERCAYA kita dapat berseru: “Tolonglah aku yang TIDAK PERCAYA ini!” (Markus 9:24). Adakah kita punya IMAN saat ini? “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun PERCAYA” (Yoh 20:29b). Amin.

Respon 1
Praise God...!! “Tetapi Nuh menyenangkan hati TUHAN” [Kej 6:8]. Kata 'tetapi' menunjukkan situasi yang tidak mendukung. Nuh tidak hidup di masa yang mudah. Nuh hidup di tengah-tengah komunitas pemberontak & menolak Allah. Nuh menerima misi Tuhan yang tidak masuk akal, yang menuai penghinaan & cemooh. Kita bisa membayangkan bagaimana perasaan 'hati' Nuh berada di tengah-tengah situasi seperti itu. “Tetapi Nuh menyenangkan hati Tuhan” dengan mengabaikan perasaan hatinya, ia tetap percaya & taat melakukan perintah Tuhan, tetap melakukan bagiannya dengan setia sampai tuntas. Nuh harus membangun bahtera yang extra besar diatas gunung, menyuarakan tentang peringatan & upaya penyelamatan Tuhan. Tapi karena orang-orang sekitar Nuh menolak Tuhan maka pada akhirnya tidak ada yang selamat sebab mereka mengabaikan peringatan-peringatan itu. “Tetapi Nuh menyenangkan hati Tuhan”. Keseriusan terhadap Tuhan membuat Nuh mampu mengabaikan perasaannya, tetap... percaya, setia, menjaga fokus, tekun melakukan bagiannya sesuai perintah sampai tuntas sehingga hidup Nuh menyenangkan hati Tuhan. Let's do it! Perenungan sederhana ini mengajak kita bertanya kepada diri sendiri... Seberapa seriuskah kita dengan Tuhan? Sebab jika kita tidak serius terhadap Tuhan kita tidak mungkin dapat mengabaikan perasaan kita sendiri (karena perasaan seringkali menyuarakan 'daging' kita yang menolak ketidaknyamanan) untuk hidup benar dengan taat & setia sehingga dapat dikatakan tentang kita... “Tetapi..........menyenangkan hati Tuhan” (isi titik-titik dengan nama kita masing-masing). Situasi & orang-orang sekitar jangan dijadikan alasan untuk kita tidak taat sehingga kita gagal menyenangkan hati Tuhan. Morning... Jbu all .

Respon 2
Amsal 11:2, “Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati.” Pride leads to disgrace, but with humility comes wisdom. (GNCC)

Respon 3
Maz 37:37 – Perhatikanlah orang yang TULUS dan lihatlah kepada orang yang JUJUR sebab pada orang yang suka DAMAI akan ada MASA DEPAN! Ini resep MaDeCe (Masa Depan Cerah) tak iyee! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Respon 4
Mencari Kesabaran. Ada dua orang petani, sebut saja John dan Alex. Keduanya memilih lahan yang sama besar dan akan bersama-sama pula untuk bertanam. Pada hari pertama, keduanya mulai menanam benih. John begitu tekun menyirami benihnya tiap hari, begitu juga dengan Alex. Memasuki minggu pertama, Alex mulai naik darah. Benih yang ia tanam tidak menunjukkan adanya tunas. Alex mulai menggali benih itu, membuangnya dan mengganti dengan benih baru. Benih John juga tidak menunjukkan tunas, namun John tetap bersabar. Alex tetap sibuk dengan menggali dan mengganti benih-benih baru setiap minggunya namun tidak dengan John. John mulai melihat bahwa benihnya bertunas dan pada tahun berikutnya menghasilkan buah. Bagaimana dengan Alex? Karena ketidaksabarannya itulah Alex tidak menghasilkan apa-apa. Begitu juga dengan diri kita. Ketika kita mulai belajar untuk bersabar, maka kita akan mendapatkan kehidupan yang indah. Kesabaran bukan terletak pada apa yang telah/akan kita dapatkan, melainkan kesabaran terletak pada hati kita. Ketika kita ingin terjadi pemulihan dalam keluarga kita, maka kita harus bisa bersabar dalam menghadapi setiap pribadi dalam keluarga itu dan tetap mengasihi mereka. Jika bersabar itu dirasa sangat sulit, maka kamu harus belajar untuk bersyukur. Kesabaran itu bukan dipengaruhi dari keadaan, namun dipengaruhi dari hati. Oleh sebab itu milikilah hati yang mengasihi karena kasih itu sabar. Ketika kamu mulai gagal untuk bersabar, maka sesungguhnya kamu juga akan gagal menerima berkat. “Jika amarah penguasa menimpa engkau, janganlah meninggalkan tempatmu, karena kesabaran mencegah kesalahan-kesalahan besar” --Pengkhotbah 10:4. Selamat pagi. Selamat beraktivitas. SEMANGAT... Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 5
“Masalah terbesar dalam hidup kita adalah saat kita tidak sadar kalau kita punya masalah.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 6
Bagi kita orang-orang percaya, tidak ada yang tidak mengenal Yesus Kristus. Dia Tuhan & Juruselamat Kita. Dia juga pemimpin, guru & teladan kita dalam kehidupan. Dia pribadi sempurna, paling mulia & suci di antara siapapun manusia yang pernah berjalan di muka bumi. Keagungan & kebesaran-Nya tiada taranya. Hanya Dia yang pantas kita kagumi dan puja. Namun, apa jawab kita jika ini ditanyakan pada kita, yang mengaku sebagai pengikut & penyembah-Nya: “Apakah yang akan Anda lakukan jika diberikan kesempatan hidup bersama-sama dengan Dia setiap hari selama 3,5 tahun sama seperti dua belas murid-Nya?” Dapatkah Anda menjawabnya dengan mudah atau merasa terkejut karena tidak tahu bagaimana menjawabnya? Mudah memang menghakimi murid-murid yang sering bersikap bodoh & menggelikan sewaktu mengiring Yesus selama di bumi. Namun, akankah kita memiliki sikap & tanggapan lebih baik daripada mereka -bahkan setelah kita tahu siapa Yesus itu? Rasul Paulus mengetahui bahwa ia tidak memiliki kesempatan yang sama dengan murid-murid Yesus yang kemudian menjadi rasul-rasul itu. Itu sebabnya ia belajar lebih tekun, mengerahkan segala apa yang ada padanya untuk belajar mengenal Kristus lebih lagi (Fill. 3:7-8). Dan ia berhasil. Meskipun ia tak berkesempatan melihat & mendengar secara langsung hidup & ajaran Yesus, Pauluslah yang terbukti menjadi yang paling maju dalam pengenalan akan pribadi & rencana Tuhan atas dirinya & gereja-Nya. Hari ini, secara manusiawi, Kristus tidak lagi ada di tengah-tengah kita. Kehadiran-Nya digantikan oleh Roh Kudus yang bertugas membawa kita kepada Kristus, untuk mengenal-Nya lebih lagi (Yoh. 14:26; 15:26; 16:12-16). Melalui Roh hikmat & wahyu itu kita mendapatkan kesempatan yang sama menjalani hari-hari kita seperti Kristus ada di hadapan kita. Akankah kita menggunakan kesempatan ini untuk mengenal Dia lebih dekat lagi & belajar dari-Nya? Atau kita hanya mengamati dari kejauhan menunggu keberuntungan mujizat berkat-berkatNya menghampiri kita? Anda yang tahu jawabannya. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

Respon 7
MENCUKUPKAN DIRI. Bacaan: Filipi 4:10-20. Sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan (Filipi 4:11). Seorang pengusaha sukses mengalami kebangkrutan saat krisis moneter. Namun, ia tetap aktif melayani Tuhan dan tertawa-tawa, seolah tidak terjadi apa-apa. Rahasianya? “Saya memulai usaha dari bawah, dari sepetak kamar kontrakan. Kalau saya harus kehilangan semua, bukan masalah. Toh saya dapat mulai lagi dari sepetak kamar kontrakan. Saya dapat menjadi sopir taksi atau berjualan sate di pinggir jalan.” Saya terkesan oleh sikapnya yang dapat mencukupkan diri dalam segala keadaan itu. Sebelum bertobat, Paulus (dulunya Saulus) seorang yang berkuasa dan berkelimpahan materi. Dalam perjalanannya mengikut Kristus, sering kali hidupnya jauh dari kata “nyaman” menurut dunia. Ketika menuliskan surat ini, ia sedang menjadi tawanan di penjara Roma. Bukan karena Paulus hebat dan tahan banting jikalau ia telah dan dapat menanggung semua itu, tetapi karena ia belajar mencukupkan diri, menerima apa pun yang dialaminya, dan senantiasa percaya Tuhan memberikan kekuatan kepadanya (ay. 11-13). Terlebih lagi, Paulus belajar menerima dengan ucapan syukur segala bentuk pertolongan saudara-saudara seimannya (ay. 14-18) dan menyadari bahwa Allah akan menyediakan segala kebutuhan mereka (ay. 19). Memang tidak banyak dari kita yang mengalami kasus seperti Paulus, tetapi kita semua, mau tidak mau, suka tidak suka, pasti menghadapi kesulitan. Di tengah situasi yang berubah-ubah ini, Paulus mendorong kita untuk terus memercayai Allah yang sanggup memelihara dan mencukupkan kita dalam segala keadaan. KURANGNYA RASA BERSYUKUR MENGAKIBATKAN KITA TIDAK PERNAH MERASA CUKUP. (Bp. Budi Hariono – PT. MPU)

No comments:

Post a Comment