Tuesday, 28 April 2015

28 April 2015




CHURCH FOR SINNERS



Yohanes 14:27, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Tatkala Kristus bertahta di hati, maka damai itu pasti memenuhi jiwa kita J. Bila ada damai di hati, maka Roh Kudus yang akan memampukan kita untuk bersaksi menceritakan kebaikan-kebaikanNya. Amin J. Adakah DAMAI DI HATI kita saat ini J? Amin.


Respon 1
“Orang yang belajar langsung kepada Tuhan tidak akan dipermalukan.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 2
Setiap pagi adalah awal yang baru, babak yang baru untuk memulai dan mengubah segala sesuatu yang ada disekitar kita. Mazmur 118:2, ‘Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!’ (GNCC)

Respon 3
SAAT TEDUH. Selasa, 28 April 2015. Melempar Roti Ke Air. Lemparkanlah rotimu ke air, maka engkau akan mendapatnya kembali lama setelah itu (Pengkhotbah 11:1). Hasil dari usaha menjajakan gorengan mungkin hanya cukup untuk makan satu hari keluarga Pak Tono. Toh kenyataan itu tidak menghalangi Pak Tono untuk bermurah hati. Selama beberapa waktu, setiap sore ia menyisihkan sebungkus gorengan untuk seorang anak dan ibunya yang sakit. Lima belas tahun berpisah dan ia pun sudah lupa dengan anak itu. Kehidupan Pak Tono tidak berubah, ia tetaplah penjaja gorengan dengan penghasilan pas-pasan. Suatu hari sebuah mobil mewah berhenti di dekatnya. Seorang pemuda keluar dari mobil itu dan menyapa, “Pak Tono masih ingat saya?” Pak Tono menggeleng. “Saya anak kecil yang setiap sore menerima sebungkus gorengan dari Bapak. Kini izinkan saya untuk membalas budi baik Bapak.” Pak Tono terperanjat mendengarnya. Salomo memberikan nasihat yang tidak lazim: melemparkan roti ke air. Ia berkata, ketika kita melakukannya, kita akan mendapatkannya lagi lama setelah itu. Rasanya mustahil ya? Bukankah lebih mungkin kalau kita melempar roti ke air, roti itu tidak pernah kembali pada kita? Kebenaran apakah yang hendak Tuhan sampaikan kepada kita melalui nasihat Salomo ini? Tuhan sedang menunjukkan kepada kita tentang hakikat bermurah hati. Sama seperti air adalah tempat yang tidak lazim untuk melemparkan roti, lakukanlah kebaikan pada orang lain tanpa pamrih. Hendaknya kita bermurah hati atas dasar ketulusan, kerelaan, dan tanpa syarat, bukan karena mengharap-harapkan balasan —SYS. KEMURAHAN HATI TANPA SYARAT ITU SAMA SEPERTI KETIKA KITA MELEMPARKAN SECUIL ROTI KE DALAM AIR. Selamat pagi. Selamat beraktivitas. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 4
Maz 94:22 – Tetapi TUHAN adalah kota bentengku dan gunung batu perlindunganku! Wow. Sip... Sip... Sekarang kita tidak perlu takut menjalani hidup ini. YESUS tempat PERLINDUNGAN kita! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.

Respon 5
“Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu” (Yakobus 4:10). Terima kasih ibu Siu, selamat beraktivitas TUHAN selalu memberkati. (Bp. Oktavianus – Nabire)
Respon 6
Isakhar artinya upah. Ibunya, Lea, menamainya demikian karena berpikir ia mendapat upah dari Tuhan dengan melahirkannya. Oleh ayahnya, Isakhar digambarkan bagai keledai yang sekalipun kuat tulangnya tapi 'menolak' mengangkat bebannya (Kej. 49:14-15). Hanya ketika ia melihat tujuan yang hendak dicapainya itu tempat perhentian yang baik & negeri yang ditujunya itu menyenangkan baginya, ia merelakan kebebasannya lalu menyerahkan diri bahkan sebagai budak. Seperti namanya, upah bagi Isakhar sangat penting. Untung rugi ada dalam pemikirannya. Jika ditimbang-timbang terasa berat, ia tidak rela menggerakkan satu jaripun. Namun jika upah besar diyakininya akan didapatnya, ia korbankan seluruh hak-haknya demi mendapatkannya. Di dalam setiap diri kita ada karakter Isakhar. Kita mencari upah yang besar dengan usaha yang sedikit. Atau jika ada untung yang besar kita rela berkorban apapun: kemerdekaan atau harga diri kita, sampai-sampai bersedia menanggung malu. Puncak-puncak keburukannya nyata saat segala cara dihalalkan untuk memperoleh materi melalui jalan korupsi atau berpura-pura miskin dengan memilih profesi pengemis. Upah menjadi sesuatu yang penting sehingga kita berselisih & rusuh karena upah; juga rela meninggalkan keluarga & tanah air kita demi mendapat upah di pekerjaan kasar. Tidak salah bekerja untuk upah. Menjadi keliru jika lalu upah duniawi yang kita pikirkan sebagai yang terbaik & menjadi tujuan hidup kita. Iblis akan menggunakan berbagai sarana untuk memperbudak orang atau bangsa yang sedemikian agar diarahkan semata-semata memburu kebendaan seumur hidupnya, lupa akan Tuhan & perkara-perkara kekal. Upah terbaik & puncak pencapaian kita -suatu tempat perhentian yang permai bagi jiwa & roh kita, suatu negeri terbaik yang Tuhan sediakan bagi kita- ialah tempat dimana Yesus ada, yang di sana telah disediakan tempat bagi kita. Itulah upah abadi, tak ada ngengat & karat merusaknya -yang untuk semua itu kita relakan diri hidup menghamba pada Tuan Agung itu. Kiranya hikmat bersinar di hati Anda. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)



No comments:

Post a Comment