Friday, 10 April 2015

10 April 2015



CHURCH FOR SINNERS




Efesus 4:13, “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.” Bertumbuh merupakan hasil berbagai usaha, seperti membaca alkitab. Mengikuti kebaktian di hari Minggu saja tidak cukup untuk mendorong pertumbuhan kita menuju kedewasaan. Kita perlu terlibat dalam komsel, mengikuti kelas-kelas pertumbuhan rohani, terlibat pelayanan, bersaksi, dsbnya, sehingga tercapai kesatuan iman & pengetahuan yang benar tentang Anak Allah. Amin.

Respon 1
1 Yoh 3:18, ‘Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.’ Thema firman TUHAN pagi ini: Gereja mempunyai keprihatinan sosial, artinya gereja dan jemaatnya tidak saja secara teori tetapi juga mempraktekkan firman. Kasih kepada sesama harus dapat diwujudkan dalam bentuk tindakan bukan sekedar ucapan. Gereja perlu membangkitkan kasih kepada sesama, sehingga jemaat akan bertumbuh di dalam kasih kepada TUHAN dan sesama. Seseorang yang memiliki iman dan pengharapan tetapi tidak memiliki kasih maka akan sia-sialah. Kasih itu sebenarnya bisa kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari ketika kita melihat ada yang perlu kita tolong, tidak perlu ‘wah’!!! Menerapkan kasih melalui kelompok-kelompok yang ‘wah’!!!! Bukankah firman TUHAN mengatakan jika tangan kananmu memberi jangan diketahui tangan kirimu. Ybu. (Ibu Inggita – PKS CL 4)


Respon 2
“Keindahan seringkali timbul justru karena tampil alami dan apa adanya.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 3
SAAT TEDUH. Jumat, 10 April 2015. Seandainya Saja. Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Dia, melihat bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati, menyesallah ia (Matius 27:3a). Entah sadar atau tidak, manusia sering berandai-andai tentang pengalaman yang sudah dilewatinya. Umpamanya, “Seandainya saya dulu melakukan itu, pasti sekarang tidak menjadi seperti ini”; atau, “Seandainya dulu saya menabung, pasti keadaan keluarga kami tidak susah seperti sekarang.” Ujung-ujungnya timbul rasa kesal, sesal, menyalahkan diri sendiri, dan hilang harapan. Lebih parah lagi, kita enggan mencari jalan keluar. Tergiur akan imbalan materi, Yudas tega menyerahkan Tuhan Yesus ke tangan para imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. Sepertinya Yudas tidak mengira apa yang bakal terjadi dengan Tuhan Yesus. Ia tidak tahu kalau hukuman matilah yang menunggu Tuhan Yesus. Matius mencatat bahwa Yudas menyesal. Bisa jadi Yudas pun melontarkan pernyataan “seandainya” terhadap dirinya sendiri. “Seandainya aku tidak menyerahkan Yesus, tentulah Yesus tidak dijatuhi hukuman mati.” Sayang, penyesalannya terlambat, dan tidak menggugahnya untuk bertobat. Buahnya amat pahit. Yudas bunuh diri (ay. 5). Seberapa sering kita menyesal di kemudian hari atas apa yang kita lakukan pada masa lalu, termasuk dalam melakukan dosa. Kita lalu mulai berandai-andai, “Ah, seandainya saja…” Sungguh sayang jika penyesalan itu berlanjut secara salah, yaitu dengan mengasihani diri sendiri secara berlebihan atau malah menjauh dari Tuhan. Sebenarnya ada satu jalan keluar dari penyesalan itu. Kita dapat bertobat dan memulai langkah baru bersama Tuhan Yesus yang tidak pernah meninggalkan kita —AAS. TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BERTOBAT DAN MEMULAI LAGI LANGKAH BARU BERSAMA TUHAN. Selamat pagi. Thanks God its Friday. Semangat teyus!!! Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 4
Syalom. Amin... “Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu” (Hosea 4:6). Terima kasih ibu Siu, selamat berkarya TUHAN YESUS selalu memberkati bersama keluarga. Amin. (Bp. Oktavianus – Nabire)

Respon 5
Yohanes 14:27 – Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Peace in the mid of storm... Markus 4:37-39, ‘Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: ‘Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?’ Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: ‘Diam! Tenanglah!’ Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.’ (GNCC)




Respon 6
Tempat itu dinamakan Peniel oleh Yakub (Kej. 32). Peniel artinya wajah Tuhan. Di tempat itu, Yakub semalam-malaman bergumul dengan sosok yang akhirnya ia tahu bahwa itu ialah Tuhan sendiri. Di sanalah ia berhadapan berhadapan muka dengan Tuhan. Sejak perjumpaan itu, Yakub tidak sekeras & selicik sebelumnya. Perlahan namun pasti, hidupnya mulai diserahkan pada Tuhannya. Sekalipun Yakub harus menanggung banyak kesulitan di tahun-tahun selanjutnya, ia kini menghadapinya bersama Tuhan. Berkat bagi anak cucu dilepaskannya sesuai isi hati Tuhan sebelum ia mati. Yakub yang penuh siasat, yang mengandalkan kepandaiannya sendiri, yang tidak mudah percaya pada orang lain, yang keras hati & egois mulai tunduk pada Tuhan sejak perjumpaan di Peniel -suatu perjumpaan pribadi dengan Allahnya. Sama seperti Yakub, setiap kita harus seharusnya sampai di titik Peniel-Peniel kita dimana kita benar-benar merasakan bahwa Tuhan kita itu nyata, hidup, peduli & rindu menyatakan kehendak pimpinan-Nya dalam hidup kita. Alkitab mencatat, Yakub saat itu dalam keadaan krisis. Setelah lepas dari hidup penuh tekanan mertuanya. Kini ia harus menghadapi Esau, kakak yang telah diakalinya. Ketakutan kehilangan segalanya bahkan nyawanya menghantui begitu rupa. Di saat-saat itulah, dengan iman seadanya ia berseru minta tolong pada Allah kakek & ayahnya. Dan Yakub benar-benar sendirian saat berada Tuhan menjumpainya (Kej. 32:24). Seperti Yakub pula, kita sering sampai pada Peniel kita di saat-saat krisis dalam hidup kita. Saat-saat tertekan oleh masalah-masalah, dibayangi ketakutan sepanjang waktu & tak ada lagi yang dapat kita andalkan. Pada saat-saat demikian, jangan kita lari dari keadaan atau bertemu dengan orang-orang yang tak mengenal Tuhan. Adalah baik bagi kita menyendiri, mencari Tuhan & tidak lagi mengeraskan hati untuk tidak taat. Saat kita berjumpa & mengalami Tuhan secara pribadi serta berserah total, bukan saja keadaan-keadaan kita yang diubahkan -hidup kita akan diperbarui. Tidak akan pernah sama lagi. Sudahkah Anda tiba di Peniel Anda? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

Respon 7
Shalom Cik Siu Siang, selamat pagi, berbahagialah aku, sebab tadi aku ngomong sama koko (suamiku), kalau cuma datang ibadah hari Minggu saja kurang, harus ditambah komsel/doa malam supaya api iman lebih lagi, tak bacakan 1 Tim 4:8, Ibr 10:25, masih ngeyel saja, nggak mau, kalau mau pergi ya pergi sendiri, katanya. Tapi setelah baca SMS Tacik, aku senang dalam hati bilang, kalau koko baca, rasain, klop sama yang tadi kita bicarakan. Puji Tuhan, semoga ini jadi renungan koko, terima kasih Cik untuk selalu ingatkan kami. Amin. Tuhan memberkati J. (Ibu Erlin Sutaman – Tim Inti CL 5)


No comments:

Post a Comment