CHURCH FOR SINNERS
Efesus 4:13, “sampai
kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak
Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan
Kristus.” Bertumbuh merupakan hasil berbagai usaha, seperti membaca
alkitab. Mengikuti kebaktian di hari Minggu saja tidak cukup untuk mendorong
pertumbuhan kita menuju kedewasaan. Kita perlu terlibat dalam komsel, mengikuti
kelas-kelas pertumbuhan rohani, terlibat pelayanan, bersaksi, dsbnya, sehingga
tercapai kesatuan iman & pengetahuan yang benar tentang Anak Allah. Amin.
Respon 1
1 Yoh 3:18,
‘Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah,
tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.’ Thema firman TUHAN pagi ini:
Gereja mempunyai keprihatinan sosial, artinya gereja dan jemaatnya tidak saja
secara teori tetapi juga mempraktekkan firman. Kasih kepada sesama harus dapat
diwujudkan dalam bentuk tindakan bukan sekedar ucapan. Gereja perlu
membangkitkan kasih kepada sesama, sehingga jemaat akan bertumbuh di dalam
kasih kepada TUHAN dan sesama. Seseorang yang memiliki iman dan pengharapan
tetapi tidak memiliki kasih maka akan sia-sialah. Kasih itu sebenarnya bisa
kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari ketika kita melihat ada yang perlu
kita tolong, tidak perlu ‘wah’!!! Menerapkan kasih melalui kelompok-kelompok
yang ‘wah’!!!! Bukankah firman TUHAN mengatakan jika tangan kananmu memberi
jangan diketahui tangan kirimu. Ybu. (Ibu Inggita – PKS CL 4)
Respon 2
“Keindahan
seringkali timbul justru karena tampil alami dan apa adanya.” Xavier Quentin
Pranata.
Respon 3
SAAT TEDUH. Jumat,
10 April 2015. Seandainya Saja. Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Dia, melihat
bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati, menyesallah ia (Matius 27:3a). Entah
sadar atau tidak, manusia sering berandai-andai tentang pengalaman yang sudah
dilewatinya. Umpamanya, “Seandainya saya dulu melakukan itu, pasti sekarang
tidak menjadi seperti ini”; atau, “Seandainya dulu saya menabung, pasti keadaan
keluarga kami tidak susah seperti sekarang.” Ujung-ujungnya timbul rasa kesal,
sesal, menyalahkan diri sendiri, dan hilang harapan. Lebih parah lagi, kita
enggan mencari jalan keluar. Tergiur akan imbalan materi, Yudas tega
menyerahkan Tuhan Yesus ke tangan para imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi.
Sepertinya Yudas tidak mengira apa yang bakal terjadi dengan Tuhan Yesus. Ia
tidak tahu kalau hukuman matilah yang menunggu Tuhan Yesus. Matius mencatat
bahwa Yudas menyesal. Bisa jadi Yudas pun melontarkan pernyataan “seandainya”
terhadap dirinya sendiri. “Seandainya aku tidak menyerahkan Yesus, tentulah
Yesus tidak dijatuhi hukuman mati.” Sayang, penyesalannya terlambat, dan tidak
menggugahnya untuk bertobat. Buahnya amat pahit. Yudas bunuh diri (ay. 5).
Seberapa sering kita menyesal di kemudian hari atas apa yang kita lakukan pada
masa lalu, termasuk dalam melakukan dosa. Kita lalu mulai berandai-andai, “Ah,
seandainya saja…” Sungguh sayang jika penyesalan itu berlanjut secara salah,
yaitu dengan mengasihani diri sendiri secara berlebihan atau malah menjauh dari
Tuhan. Sebenarnya ada satu jalan keluar dari penyesalan itu. Kita dapat
bertobat dan memulai langkah baru bersama Tuhan Yesus yang tidak pernah
meninggalkan kita —AAS. TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BERTOBAT DAN MEMULAI
LAGI LANGKAH BARU BERSAMA TUHAN. Selamat pagi. Thanks God its Friday. Semangat
teyus!!! Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Respon 4
Syalom. Amin...
“Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak
pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau
melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu” (Hosea
4:6). Terima kasih ibu Siu, selamat berkarya TUHAN YESUS selalu memberkati bersama
keluarga. Amin. (Bp. Oktavianus – Nabire)
Respon 5
Yohanes 14:27 –
Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan
apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah
gelisah dan gentar hatimu. Peace in the mid of storm... Markus 4:37-39, ‘Lalu
mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam
perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang
tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan
berkata kepada-Nya: ‘Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?’ Ia pun
bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: ‘Diam! Tenanglah!’
Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.’ (GNCC)
Respon 6
Tempat itu
dinamakan Peniel oleh Yakub (Kej. 32). Peniel artinya wajah Tuhan. Di tempat
itu, Yakub semalam-malaman bergumul dengan sosok yang akhirnya ia tahu bahwa
itu ialah Tuhan sendiri. Di sanalah ia berhadapan berhadapan muka dengan Tuhan.
Sejak perjumpaan itu, Yakub tidak sekeras & selicik sebelumnya. Perlahan
namun pasti, hidupnya mulai diserahkan pada Tuhannya. Sekalipun Yakub harus
menanggung banyak kesulitan di tahun-tahun selanjutnya, ia kini menghadapinya
bersama Tuhan. Berkat bagi anak cucu dilepaskannya sesuai isi hati Tuhan
sebelum ia mati. Yakub yang penuh siasat, yang mengandalkan kepandaiannya
sendiri, yang tidak mudah percaya pada orang lain, yang keras hati & egois
mulai tunduk pada Tuhan sejak perjumpaan di Peniel -suatu perjumpaan pribadi
dengan Allahnya. Sama seperti Yakub, setiap kita harus seharusnya sampai di
titik Peniel-Peniel kita dimana kita benar-benar merasakan bahwa Tuhan kita itu
nyata, hidup, peduli & rindu menyatakan kehendak pimpinan-Nya dalam hidup
kita. Alkitab mencatat, Yakub saat itu dalam keadaan krisis. Setelah lepas dari
hidup penuh tekanan mertuanya. Kini ia harus menghadapi Esau, kakak yang telah
diakalinya. Ketakutan kehilangan segalanya bahkan nyawanya menghantui begitu
rupa. Di saat-saat itulah, dengan iman seadanya ia berseru minta tolong pada
Allah kakek & ayahnya. Dan Yakub benar-benar sendirian saat berada Tuhan
menjumpainya (Kej. 32:24). Seperti Yakub pula, kita sering sampai pada Peniel
kita di saat-saat krisis dalam hidup kita. Saat-saat tertekan oleh masalah-masalah,
dibayangi ketakutan sepanjang waktu & tak ada lagi yang dapat kita
andalkan. Pada saat-saat demikian, jangan kita lari dari keadaan atau bertemu
dengan orang-orang yang tak mengenal Tuhan. Adalah baik bagi kita menyendiri,
mencari Tuhan & tidak lagi mengeraskan hati untuk tidak taat. Saat kita
berjumpa & mengalami Tuhan secara pribadi serta berserah total, bukan saja
keadaan-keadaan kita yang diubahkan -hidup kita akan diperbarui. Tidak akan
pernah sama lagi. Sudahkah Anda tiba di Peniel Anda? Salam revival! GBU.
(Worship Center Surabaya)
Respon 7
Shalom Cik Siu
Siang, selamat pagi, berbahagialah aku, sebab tadi aku ngomong sama koko
(suamiku), kalau cuma datang ibadah hari Minggu saja kurang, harus ditambah
komsel/doa malam supaya api iman lebih lagi, tak bacakan 1 Tim 4:8, Ibr 10:25,
masih ngeyel saja, nggak mau, kalau mau pergi ya pergi sendiri, katanya. Tapi
setelah baca SMS Tacik, aku senang dalam hati bilang, kalau koko baca, rasain,
klop sama yang tadi kita bicarakan. Puji Tuhan, semoga ini jadi renungan koko,
terima kasih Cik untuk selalu ingatkan kami. Amin. Tuhan memberkati J. (Ibu Erlin Sutaman – Tim Inti CL 5)

No comments:
Post a Comment