Sunday, 12 April 2015

12 April 2015




CHURCH FOR SINNERS



Bacaan: Roma 3:21-31. Semua manusia berdosa & terpisah dari Allah, akibat dari dosa adalah maut yaitu hilangnya persekutuan (kemuliaan) Allah (ayat 23). Tetapi syukur kepada Allah kita dijadikan benar bukan karena iman kita. Kita dibenarkan MELALUI iman (ayat 22) dan OLEH iman (ayat 28). Iman menghubungkan kita dengan karya Kristus, yang menjadi dasar dari hubungan yang benar dengan Allah. Tidak ada manusia yang sempurna, hanya oleh kasih & anugerahNya kita diselamatkan. Amin!


Respon 1
SAAT TEDUH. Minggu, 12 April 2015. Sarkasme Elie Wiesel. Jawab orang itu, ‘Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.’ Kata Yesus kepadanya, ‘Pergilah, dan perbuatlah demikian!’ (Lukas 10:37). ‘Lawan dari kasih bukan kebencian, melainkan ketidakpedulian; lawan dari seni bukan keburukan, melainkan ketidakpedulian; lawan dari iman bukan ajaran sesat, melainkan ketidakpedulian; lawan dari kehidupan bukan kematian, melainkan ketidakpedulian,’ demikian ungkapan Elie Wiesel, sastrawan berdarah Yahudi, peraih Nobel Perdamaian 1986, saksi hidup kekejaman rezim Hitler. Sarkastik dan telak. Dalam perumpamaan Yesus, apakah yang membedakan antara orang Samaria dan kedua tokoh lainnya? Ya, sebentuk kepedulian. Dan, apakah yang membedakan akibatnya? Sebuah kehidupan! Orang yang dirampok itu sudah nyaris mati (ay. 30). Jika semua orang yang lewat seperti kedua tokoh sebelumnya, nyawanya pasti melayang. Namun, karena ada orang yang peduli–jiwanya tertolong, ia tetap hidup! Lihatlah, betapa batas antara hidup dan mati ditentukan oleh sebuah kepedulian! Sarkasme Elie Wiesel lahir dari kegetiran yang dialaminya sendiri. Ketika jutaan manusia dibantai, masyarakat internasional kala itu cenderung membisu. Bahkan gereja resmi di Jerman bersikap apatis. Tragedi terjadi selain akibat kekejaman, juga akibat ketidakpedulian. Jika ketidakpedulian ikut melahirkan kematian, sebaliknyalah kepedulian. Mungkin yang Anda lakukan hanya sebentuk kepedulian sederhana: mendoakan si sakit, menepuk pundak si gagal, mengantar si oma ke gereja, memberi beasiswa si anak desa, dan sebagainya. Ingat, semua itu berpihak pada kehidupan —PAD. SETIAP KEPEDULIAN BERPOTENSI UNTUK MENGHADIRKAN KEHIDUPAN, ATAU SETIDAKNYA MEMBIKIN HIDUP LEBIH HIDUP. Selamat pagi. Selamat beribadah. Selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 2
“Orang yang merasa bersalah agar tidak dimarahi seringkali marah duluan.” Xavier Quentin Pranata.



No comments:

Post a Comment