CHURCH FOR SINNERS
Respon 1
SAAT TEDUH. Minggu,
12 April 2015. Sarkasme Elie Wiesel. Jawab orang itu, ‘Orang yang telah
menunjukkan belas kasihan kepadanya.’ Kata Yesus kepadanya, ‘Pergilah, dan
perbuatlah demikian!’ (Lukas 10:37). ‘Lawan dari kasih bukan kebencian,
melainkan ketidakpedulian; lawan dari seni bukan keburukan, melainkan
ketidakpedulian; lawan dari iman bukan ajaran sesat, melainkan ketidakpedulian;
lawan dari kehidupan bukan kematian, melainkan ketidakpedulian,’ demikian
ungkapan Elie Wiesel, sastrawan berdarah Yahudi, peraih Nobel Perdamaian 1986,
saksi hidup kekejaman rezim Hitler. Sarkastik dan telak. Dalam perumpamaan
Yesus, apakah yang membedakan antara orang Samaria dan kedua tokoh lainnya? Ya,
sebentuk kepedulian. Dan, apakah yang membedakan akibatnya? Sebuah kehidupan!
Orang yang dirampok itu sudah nyaris mati (ay. 30). Jika semua orang yang lewat
seperti kedua tokoh sebelumnya, nyawanya pasti melayang. Namun, karena ada
orang yang peduli–jiwanya tertolong, ia tetap hidup! Lihatlah, betapa batas
antara hidup dan mati ditentukan oleh sebuah kepedulian! Sarkasme Elie Wiesel
lahir dari kegetiran yang dialaminya sendiri. Ketika jutaan manusia dibantai,
masyarakat internasional kala itu cenderung membisu. Bahkan gereja resmi di
Jerman bersikap apatis. Tragedi terjadi selain akibat kekejaman, juga akibat
ketidakpedulian. Jika ketidakpedulian ikut melahirkan kematian, sebaliknyalah
kepedulian. Mungkin yang Anda lakukan hanya sebentuk kepedulian sederhana:
mendoakan si sakit, menepuk pundak si gagal, mengantar si oma ke gereja, memberi
beasiswa si anak desa, dan sebagainya. Ingat, semua itu berpihak pada kehidupan
—PAD. SETIAP KEPEDULIAN BERPOTENSI UNTUK MENGHADIRKAN KEHIDUPAN, ATAU
SETIDAKNYA MEMBIKIN HIDUP LEBIH HIDUP. Selamat pagi. Selamat beribadah. Selamat
melayani. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Respon 2
“Orang yang merasa
bersalah agar tidak dimarahi seringkali marah duluan.” Xavier Quentin Pranata.

No comments:
Post a Comment