Tuesday, 21 April 2015

21 April 2015



CHURCH FOR SINNERS





Bacaan: Lukas 10:1-9. Salah satu cara yang efektif agar kita dapat membawa jiwa-jiwa 1 langkah lebih dekat lagi kepada Tuhan: Bangun hubungan dengan mereka, melalui kata-kata berkat yang kita ucapkan, jalin hubungan dengan berkumpul bersama-sama. Temukan kebutuhan mereka & ceritakan kabar baikNya sehingga mereka boleh mengalami perubahan hidup serta merasakan kasih Tuhan ada dalam kehidupannya. Amin J.

Respon 1
“Meskipun kita terhempas, jangan sampai kehilangan integritas.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 2
SAAT TEDUH. Selasa, 21 April 2015. Batal Kontes. Ketika ia melihat Yesus, ia berteriak lalu sujud di hadapan-Nya... (Lukas 8:28). Pada 1717 di Dresden, Jerman, direncanakan kontes bermain orgel antara komposer Johann Sebastian Bach dan Louis Marchand, pemain orgel dari Prancis. Pagi menjelang kontes, Marchand berjalan-jalan santai di pekarangan gereja dan mendengar suara orgel. Penasaran, ia mengintip ke dalam gereja. Ternyata, Bach sedang berlatih. Menyaksikan kemahiran Bach dalam bermain orgel, hatinya sontak menciut. Ia buru-buru meninggalkan tempat itu untuk pulang ke negara asalnya. Ia tidak berani meneruskan kontes dengan Bach, salah satu maestro musik era Barok. Ia kalah sebelum bertanding. Tampaknya, laki-laki dari Gerasa itu dirasuki setan-setan yang perkasa. Mereka memiliki kekuatan yang luar biasa (ay. 29). Namun, sewaktu berhadapan dengan Yesus, mereka kecut—melebihi mindernya Marchand kepada Bach. Mereka tahu bahwa Dia adalah Allah yang hidup (ay. 28). Dia berotoritas untuk memerintahkan dan mengusir setan (ay. 29-33). Tidak ada perlawanan dari setan itu karena Yesus bukan tandingan mereka. Anehnya, bila setan begitu takut untuk diusir Yesus, sebaliknya penduduk Gerasa malah takut sehingga mengusir Yesus (ay. 37). Setan takut dan hormat. Penduduk Gerasa takut, tetapi tidak hormat. Sungguh ironis. Jadi, kita tidak usah takut kepada setan karena kita adalah anak Allah yang Mahatinggi. Justru merekalah yang gentar terhadap Roh Allah di dalam diri kita. Dan, tidak seperti penduduk Gerasa yang mengusir Tuhan, kita mengembangkan sikap hati yang takut sekaligus hormat kepada Allah —JIM. KETAKUTAN KITA KEPADA SETAN ADALAH BUKTI KEDANGKALAN PENGENALAN KITA AKAN ALLAH. Selamat pagi. Its Kartini's Day. Its Kebaya's Day. Semangat ya Wanita Indonesia. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 3
Selasa, 21 April 2015. Bacaan: Amsal 11:24-26. Setahun: 1 Raja-Raja 1-2:25. Nats: Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum (Amsal 11:25). FAME FAGERO. Ada satu tradisi yang masih dipelihara oleh sebagian masyarakat Nias, yaitu fame fagero. Secara sederhana, ini tradisi untuk berbagi makanan kepada tetangga atau saudara. Kebiasaan baik ini juga diterapkan dengan mengundang tetangga untuk bersama-sama menikmati hasil panen yang melimpah. Mereka yang pernah menerima kebaikan akan mengingat orang yang pernah berbuat baik kepada mereka, lalu membalasnya ketika ada kesempatan untuk melakukannya. Penulis kitab Amsal berkata bahwa kelimpahan akan menjadi bagian dari orang yang banyak memberi berkat. Siapa yang memberi minum, cepat atau lambat ia akan diberi minum. Alkitab BIS menuliskan: “Orang yang banyak memberi akan berkelimpahan, orang yang suka menolong akan ditolong juga.” Tentu saja, kelimpahan yang dimaksud bukan saja secara materiil. Ada banyak hal yang lebih berharga dari materi, misalnya dikasihi orang lain, memiliki tubuh dan jiwa yang sehat, termasuk kelimpahan sukacita dan damai sejahtera. Seseorang dapat memberi tanpa mengasihi, tetapi ia tidak dapat mengasihi tanpa memberi. Ya, kasih memang tidak bisa dilepaskan dari tindakan memberi atau berbagi. Sungguh indah rasanya jika semangat untuk berbagi ini terus dilestarikan dalam kehidupan kita bersama di negeri ini. Berbagi tidak akan membuat kita kekurangan, tetapi malah berkelimpahan. Ibarat air hujan di padang yang gersang, tindakan saling memberi dapat memuaskan dahaga di tengah kecenderungan manusia yang hidup mementingkan diri sendiri –GoHokJin. KELIMPAHAN SEJATI MEMENUHI HATI MEREKA YANG TAHU MAKNA MEMBERI DAN BERBAGI. (Ibu Caroline – Bandung)

Respon 4
Jangan bandingkan Bab 1 dalam hidupmu dengan Bab 20-nya orang lain. Tetap kuat dan maju terus. Yeremia 29:11, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (GNCC)

Respon 5
2 Raja-Raja 6:16 – Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka! Percayalah YESUS sanggup menolong dan memberkati kita! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.


Respon 6
Sulit dipungkiri, kebanyakan orang lebih suka mendengar kabar gembira dari anak-anak mereka bahwa mereka menjadi juara kelas. Sebagian pendeta suka mendengar jemaatnya sukses, semakin diberkati dengan kekayaan yang lebih besar lagi. Pemerintahan suatu bangsa merasa bangga dengan tingkat kenaikan taraf hidup & pertumbuhan ekonomi rakyatnya. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Setiap kemajuan layak disyukuri & dirayakan. Sayangnya, ada bagian yang jarang dirindukan apalagi diakui secara terbuka di depan umum. Rasul Yohanes berbeda. Ia dengan tanpa enggan menyatakan, “Tak ada sukacita yang lebih besar mendengar anak-anakku (rohani) hidup dalam kebenaran” (3 Yoh. 4). Ya berapa banyakkah yang seperti sang rasul, yang sangat berbahagia melihat orang-orang hidup dalam kebenaran? Itu seharusnya menjadi KERINDUAN kita. Mendambakan anak-anak kita cerdas & meraih prestasi itu baik, tetapi seberapa rindukah melihat anak-anak kita hidup dalam pengenalan akan Tuhan. Adakah itu menjadi doa-doa, harapan & target-target kita supaya mereka tidak hanya mengenyam pendidikan terbaik tapi juga pengenalan yang terbaik akan kebenaran firman? Itu semestinya menjadi USAHA & KERJA KERAS kita. Mengajar murid-murid kita hidup dalam berkat anugerah Tuhan itu baik. Namun, sudahkah kita mengejar, kemajuan rohani dalam hidup mereka? Berapa banyak orang tua berkorban apa saja demi melihat anak-anaknya memiliki gaya hidup yang saleh, takut akan Tuhan, & berpegang pada prinsip-prinsip kebenaran? Kelak, itu akan menjadi KEPUASAN TERBESAR kita. Pencapaian prestasi duniawi tentu membanggakan, tapi kesaksian Yohanes dalam suratnya ialah ilham Roh. Suatu standard illahi. Yang duniawi itu sementara, yang rohani itu kekal. Yang kita tanamkan secara rohani pada anak-anak & murid-murid kita pasti membawa hasil-hasil jangka panjang bahkan kekal, penuh kemuliaan (Maz. 126:3-5; Fil. 4:1; 1 Tes. 2:19). Mendapati yang kita kasihi berjalan dalam kebenaran: itulah SUKACITA TERBESAR yang terbit di hati Tuhan & hamba-hamba sejatinya. Rindukah sukacita itu menjadi sukacita Anda? Salam revival! (Worship Center Surabaya)

Respon 7
Syalom. Amin... “Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa” (1 Petrus 4:7). Terima kasih ibu Siu untuk firman Tuhan di hari ini. Selamat malam dan selamat beristirahat TUHAN selalu memberkati. (Bp. Oktavianus – Nabire)




No comments:

Post a Comment