CHURCH FOR SINNERS
Bacaan: Lukas
10:1-9. Salah satu cara yang efektif agar kita dapat membawa jiwa-jiwa 1
langkah lebih dekat lagi kepada Tuhan: Bangun hubungan dengan mereka, melalui
kata-kata berkat yang kita ucapkan, jalin hubungan dengan berkumpul
bersama-sama. Temukan kebutuhan mereka & ceritakan kabar baikNya sehingga
mereka boleh mengalami perubahan hidup serta merasakan kasih Tuhan ada dalam
kehidupannya. Amin J.
Respon 1
“Meskipun kita
terhempas, jangan sampai kehilangan integritas.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 2
SAAT TEDUH. Selasa,
21 April 2015. Batal Kontes. Ketika ia melihat Yesus, ia berteriak lalu sujud
di hadapan-Nya... (Lukas 8:28). Pada 1717 di Dresden, Jerman, direncanakan
kontes bermain orgel antara komposer Johann Sebastian Bach dan Louis Marchand,
pemain orgel dari Prancis. Pagi menjelang kontes, Marchand berjalan-jalan
santai di pekarangan gereja dan mendengar suara orgel. Penasaran, ia mengintip
ke dalam gereja. Ternyata, Bach sedang berlatih. Menyaksikan kemahiran Bach
dalam bermain orgel, hatinya sontak menciut. Ia buru-buru meninggalkan tempat
itu untuk pulang ke negara asalnya. Ia tidak berani meneruskan kontes dengan
Bach, salah satu maestro musik era Barok. Ia kalah sebelum bertanding.
Tampaknya, laki-laki dari Gerasa itu dirasuki setan-setan yang perkasa. Mereka
memiliki kekuatan yang luar biasa (ay. 29). Namun, sewaktu berhadapan dengan
Yesus, mereka kecut—melebihi mindernya Marchand kepada Bach. Mereka tahu bahwa
Dia adalah Allah yang hidup (ay. 28). Dia berotoritas untuk memerintahkan dan
mengusir setan (ay. 29-33). Tidak ada perlawanan dari setan itu karena Yesus
bukan tandingan mereka. Anehnya, bila setan begitu takut untuk diusir Yesus,
sebaliknya penduduk Gerasa malah takut sehingga mengusir Yesus (ay. 37). Setan
takut dan hormat. Penduduk Gerasa takut, tetapi tidak hormat. Sungguh ironis.
Jadi, kita tidak usah takut kepada setan karena kita adalah anak Allah yang
Mahatinggi. Justru merekalah yang gentar terhadap Roh Allah di dalam diri kita.
Dan, tidak seperti penduduk Gerasa yang mengusir Tuhan, kita mengembangkan
sikap hati yang takut sekaligus hormat kepada Allah —JIM. KETAKUTAN KITA KEPADA
SETAN ADALAH BUKTI KEDANGKALAN PENGENALAN KITA AKAN ALLAH. Selamat pagi. Its
Kartini's Day. Its Kebaya's Day. Semangat ya Wanita Indonesia. Tuhan Yesus
memberkati. (Madam Ossy)
Respon 3
Selasa, 21 April
2015. Bacaan: Amsal 11:24-26. Setahun: 1 Raja-Raja 1-2:25. Nats: Siapa banyak
memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi
minum (Amsal 11:25). FAME FAGERO. Ada satu tradisi yang masih dipelihara oleh
sebagian masyarakat Nias, yaitu fame fagero. Secara sederhana, ini tradisi
untuk berbagi makanan kepada tetangga atau saudara. Kebiasaan baik ini juga
diterapkan dengan mengundang tetangga untuk bersama-sama menikmati hasil panen
yang melimpah. Mereka yang pernah menerima kebaikan akan mengingat orang yang
pernah berbuat baik kepada mereka, lalu membalasnya ketika ada kesempatan untuk
melakukannya. Penulis kitab Amsal berkata bahwa kelimpahan akan menjadi bagian
dari orang yang banyak memberi berkat. Siapa yang memberi minum, cepat atau
lambat ia akan diberi minum. Alkitab BIS menuliskan: “Orang yang banyak memberi
akan berkelimpahan, orang yang suka menolong akan ditolong juga.” Tentu saja,
kelimpahan yang dimaksud bukan saja secara materiil. Ada banyak hal yang lebih
berharga dari materi, misalnya dikasihi orang lain, memiliki tubuh dan jiwa
yang sehat, termasuk kelimpahan sukacita dan damai sejahtera. Seseorang dapat
memberi tanpa mengasihi, tetapi ia tidak dapat mengasihi tanpa memberi. Ya,
kasih memang tidak bisa dilepaskan dari tindakan memberi atau berbagi. Sungguh
indah rasanya jika semangat untuk berbagi ini terus dilestarikan dalam
kehidupan kita bersama di negeri ini. Berbagi tidak akan membuat kita
kekurangan, tetapi malah berkelimpahan. Ibarat air hujan di padang yang
gersang, tindakan saling memberi dapat memuaskan dahaga di tengah kecenderungan
manusia yang hidup mementingkan diri sendiri –GoHokJin. KELIMPAHAN SEJATI
MEMENUHI HATI MEREKA YANG TAHU MAKNA MEMBERI DAN BERBAGI. (Ibu Caroline –
Bandung)
Respon 4
Jangan bandingkan
Bab 1 dalam hidupmu dengan Bab 20-nya orang lain. Tetap kuat dan maju terus.
Yeremia 29:11, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku
mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan
bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh
harapan.” (GNCC)
Respon 5
2 Raja-Raja 6:16 –
Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai
mereka! Percayalah YESUS sanggup menolong dan memberkati kita! Samuel
Sianto(SS)-YESTOYA Malang.
Respon 6
Sulit dipungkiri,
kebanyakan orang lebih suka mendengar kabar gembira dari anak-anak mereka bahwa
mereka menjadi juara kelas. Sebagian pendeta suka mendengar jemaatnya sukses,
semakin diberkati dengan kekayaan yang lebih besar lagi. Pemerintahan suatu
bangsa merasa bangga dengan tingkat kenaikan taraf hidup & pertumbuhan
ekonomi rakyatnya. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Setiap kemajuan layak
disyukuri & dirayakan. Sayangnya, ada bagian yang jarang dirindukan apalagi
diakui secara terbuka di depan umum. Rasul Yohanes berbeda. Ia dengan tanpa
enggan menyatakan, “Tak ada sukacita yang lebih besar mendengar anak-anakku
(rohani) hidup dalam kebenaran” (3 Yoh. 4). Ya berapa banyakkah yang seperti
sang rasul, yang sangat berbahagia melihat orang-orang hidup dalam kebenaran?
Itu seharusnya menjadi KERINDUAN kita. Mendambakan anak-anak kita cerdas &
meraih prestasi itu baik, tetapi seberapa rindukah melihat anak-anak kita hidup
dalam pengenalan akan Tuhan. Adakah itu menjadi doa-doa, harapan &
target-target kita supaya mereka tidak hanya mengenyam pendidikan terbaik tapi
juga pengenalan yang terbaik akan kebenaran firman? Itu semestinya menjadi
USAHA & KERJA KERAS kita. Mengajar murid-murid kita hidup dalam berkat
anugerah Tuhan itu baik. Namun, sudahkah kita mengejar, kemajuan rohani dalam
hidup mereka? Berapa banyak orang tua berkorban apa saja demi melihat
anak-anaknya memiliki gaya hidup yang saleh, takut akan Tuhan, & berpegang
pada prinsip-prinsip kebenaran? Kelak, itu akan menjadi KEPUASAN TERBESAR kita.
Pencapaian prestasi duniawi tentu membanggakan, tapi kesaksian Yohanes dalam
suratnya ialah ilham Roh. Suatu standard illahi. Yang duniawi itu sementara,
yang rohani itu kekal. Yang kita tanamkan secara rohani pada anak-anak &
murid-murid kita pasti membawa hasil-hasil jangka panjang bahkan kekal, penuh
kemuliaan (Maz. 126:3-5; Fil. 4:1; 1 Tes. 2:19). Mendapati yang kita kasihi
berjalan dalam kebenaran: itulah SUKACITA TERBESAR yang terbit di hati Tuhan
& hamba-hamba sejatinya. Rindukah sukacita itu menjadi sukacita Anda? Salam
revival! (Worship Center Surabaya)
Respon 7
Syalom. Amin...
“Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah
tenang, supaya kamu dapat berdoa” (1 Petrus 4:7). Terima kasih ibu Siu untuk
firman Tuhan di hari ini. Selamat malam dan selamat beristirahat TUHAN selalu
memberkati. (Bp. Oktavianus – Nabire)
No comments:
Post a Comment