Tuesday, 14 April 2015

14 April 2015




CHURCH FOR SINNERS




Baca: Yohanes 2:1-11 & Lukas 17:11-19. Apakah kita peduli kepada orang-orang yang membutuhkan kasih / perhatian kita? Seperti Yesus peduli kepada kita? J Peduli kepada yang lemah bukan yang kuat, yang sakit bukan yang sehat, bukan yang saleh tetapi yang berdosa (Matius 9:12-13). Sebagai gereja-Nya jadilah Jembatan Hubungan yang melayani mereka yang membutuhkan J. Amin.


Respon 1
“Cara mensyukuri diri yang sehat adalah membandingkan kemajuan kita masa kini dengan masa lalu.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 2
Lukas 17:11-19 Tuhan Yesus menyembuhkan 10 orang kusta. Tuhan Yesus selalu peduli pada siapapun. Di alkitab diceritakan Tuhan Yesus itu selalu peduli pada orang berdosa dan orang-orang yang sakit. Apakah kita terinspirasi dg kepedulian Tuhan Yesus ini, sehingga kita pun mau peduli dengan orang-orang yang ada di sekitar kita? (Ibu Rita – PKS CL 4)

Respon 3
Benih tanaman tampak kecil & tak berarti. Harganya pun tidak semahal harga sebatang pohon hidup atau buah-buahannya. Namun dalam benih yang tampak biasa & tak berharga itu terkandung suatu potensi yang besar. Setiap tanam-tanaman yang berguna, buah-buah yang dihasilkan, sampai bahan-bahan makanan & obat-obatan kita bermula dari sebutir kecil benih itu. Firman Tuhan diumpamakan oleh Yesus serupa dengan benih. Saat disampaikan melalui media apapun, benih itu ditaburkan. Hati kita ialah tanahnya. Tanah itu yang menentukan bagaimana benih itu menjadi manfaat atau tidak. Ada orang-orang yang hatinya digambarkan Yesus seperti tanah di pinggir jalan (Mark. 4:4,15). Mereka ialah orang-orang yang mendengar, membaca atau memperoleh pesan dari firman tapi kehilangan seluruh manfaat & kuasa dari firman Tuhan. Mengapa? -Tanah pinggir jalan ialah gambaran akan tanah yang keras & padat. Benih firman jatuh di sana namun tak pernah tertanam & masuk ke dalam. Hati yang serupa itu ialah hati yang keras, lupa akan Tuhan, hanya peduli pada keyakinan & kebenarannya sendiri. Dengan cepat firman berlalu begitu saja. Didengar untuk dilupakan. Dibaca lalu ditinggalkan. Firman itu disia-siakan begitu saja. -Pinggir jalan juga melambangkan keramaian orang berlalu lalang. Suatu hati yang tak pernah berdiam diri & merenung melainkan sibuk dengan pikiran, perasaan, & kehendak sendiri -tanpa mau berpaling pada kebenaran sejati. -Di tepi jalan itu, burung-burung berkeliaran, yang adalah lambang dari iblis. Firman itu pun diambil & tidak ada lagi. Itu sebabnya, meski seseorang mendengar & membaca ratusan pesan-pesan rohani bertahun-tahun, di kala krisis dalam hidupnya tak sedikitpun ia ingat nasihat firman -sebab ia tidak pernah memilikinya. Orang-orang ini lebih dekat dengan iblis daripada Tuhan. Lebih dari pesan apapun yang bisa Anda dengar, firman Tuhan berkuasa mengubah & memberkati hidup Anda. Pedulikan firman itu. Hiduplah di dalamnya. Satu kali Anda akan menuai segala berkat, kebaikan & kelimpahan segala sesuatu daripadanya. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:

Post a Comment