CHURCH FOR SINNERS
Respon 1
Ams 22:9 – Orang
yang BAIK HATI akan DIBERKATI, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin!
Memberi (nasehat, keuangan-harta, teladan, dll) pasti diberkati! Samuel
Sianto(SS)-YESTOYA Malang.
Respon 2
SAAT TEDUH. Rabu,
15 April 2015. Menerima Kekalahan. Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki
Daud (1 Samuel 18:9). Pemilihan presiden AS pada 1940 dimenangkan oleh Franklin
D. Roosevelt dengan perolehan 55% suara. Lawannya, calon dari Partai Republik,
ialah Wendell Wilkie. Yang membuat banyak orang heran adalah respons Wilkie
setelah kalah. Ia malah mendukung salah satu kebijakan kontroversial Roosevelt
mengenai tanah. Ketika ditanya, ia menjawab, “Dulu saya bertarung keras untuk
mengalahkannya, tetapi sekarang ia sudah terpilih. Sekarang ia presiden saya.”
Sejak penaklukan Goliat (1 Sam. 17), Daud amat populer di mata rakyat. Ditambah
lagi, sebagai komandan prajurit Israel, ia meraih kemenangan demi kemenangan
gemilang (1 Sam. 18:5). Daud merebut hati bangsanya melebihi Saul. Bahkan anak
dan pegawai raja pun bersimpati besar padanya (1 Sam. 18:1, 5). Alih-alih
mengakuinya dengan jiwa besar, Saul menolak untuk merangkul kenyataan tersebut.
Ia tidak terima dirinya dikalahkan. Ia membiarkan kedengkian menguasai dan
merusak jiwanya (ay. 9). Ayah saya selalu berpesan, hidup ini seperti ajang
permainan. Ada yang menang, ada yang kalah. Tidak mungkin menang terus, atau
sebaliknya. Keduanya harus diterima dengan jiwa besar. Jangan pongah dan
gegabah ketika menang. Tak perlu marah dan menyerah ketika kalah. Apalagi
dengki. Lebih utama, jiwa kita tetap sehat. Sanggup memikul kemenangan. Mampu
menerima kekalahan. Anda sedang gagal atau dikalahkan? Terimalah dengan besar
hati, Tuhan sedang membentuk Anda menjadi pemenang sejati —PAD. TAHU MERESAPI
ARTI SEBUAH KEKALAHAN MEMBUAT KITA MAMPU MEMAKNAI SEBUAH KEMENANGAN. Selamat
pagi. Tetap bersemangat!!! Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Respon 3
Puji Tuhan renungan
Firman hari ini: “...Siapa di antara kamu termasuk umat-Nya, TUHAN, Allahnya,
menyertainya,...” (2 Tawarikh 36:23). Gbu. (Ibu Tatik – Bank Ekonomi Basuki
Rachmat, Surabaya)
Respon 4
Roma 11:17-20
mengingatkan kita bahwa kita ini hanya ‘cabang’ yang dicangkokan ke ‘batang
pohon’. Jadi sebetulnya kita ini hidup karena dipelihara oleh batang dan akar
pohonnya. Jangan pernah sombong sudah jadi ‘cabang cangkokan’. Ini berbicara
kalau kita ini diselamatkan dan bisa jadi anak Tuhan hanya karena kemurahan
Tuhan bukan karena siapa kita. Jadi... jangan pernah sombong karena kita sudah
rajin ke gereja, pelayanan, mengerti firman lebih. Jangan pernah meremehkan
orang yang belum rajin ke gereja, belum pelayanan atau lebih tepatnya belum
jadi dewasa rohani. Ayo kita sama-sama saling mendukung bersama-sama belajar
menjadi orang-orang yang disukai Tuhan. (Ibu Rita – PKS CL 8)
Respon 5
Orang-orang terkuat
bukanlah mereka yang selalu menang, tetapi mereka yang tidak menyerah. Yosua
1:9 – Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu?
Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana
pun engkau pergi. (GNCC)
Respon 6
“Jika kita menaruh
prioritas yang benar, maka semua akan tertata dengan sendirinya.” Xavier
Quentin Pranata.
Respon 7
Lukas 17:11-19
Tuhan Yesus menyembuhkan 10 orang kusta. Tuhan Yesus selalu peduli pada
siapapun. Dialkitab diceritakan Tuhan Yesus itu selalu peduli pada orang
berdosa dan orang-orang yang sakit. Apakah kita terinspirasi dg kepedulian
Tuhan Yesus ini, sehingga kita pun mau peduli dengan orang-orang yang ada di
sekitar kita? (Ibu Inggita – PKS CL 4)
Respon 8
Orang seringkali
siap untuk mempertanyakan segala sesuatu. Termasuk mempertanyakan orang-orang
lain bahkan Tuhan. Pikiran kita tidak jarang dipenuhi begitu banyak pertanyaan
mengenai peristiwa-peristiwa, perlakuan-perlakuan atau sikap-sikap orang kepada
kita. Jika diteruskan, pertanyaan-pertanyaan berlanjut (secara negatif) akan
pribadi Tuhan, keberadaan-Nya hingga keputusan-keputusan-Nya. Tidak sukar untuk
menilai lalu menanyakan hal-hal yang tidak dapat kita pahami atau terima dalam
hidup. Masalahnya, apakah kita siap jika kepada kita diperlakukan sebaliknya.
Siapkah kita jika Tuhan sendiri yang mempertanyakan kita? Itulah yang sempat
dialami oleh Ayub saat Tuhan berkata,"Bersiaplah engkau sebagai laki-laki!
Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku”~ Ayub 38:3. Manusia
kerap bertanya-tanya dimanakah Tuhan saat bencana alam atau peristiwa-peristiwa
buruk terjadi di dunia namun siapkah kita jika ditanya bagaimana kita
menjalankan roda kehidupan di muka bumi -yang dalam keegoisan, memanfaatkan
alam demi memperkaya diri; juga membiarkan dosa merusak hal-hal yang baik dari
manusia yang dicipta segambar dengan Allah itu? Mudah menggugat Tuhan atas
nasib kita, ketidakberuntungan kita hingga doa-doa yang seolah tidak dijawab.
Tetapi, siapkah kita jika ditanya mengenai bagaimana sikap kita pada Tuhan,
seberapa pengabdian kasih kita pada-Nya, & apakah kita cukup peduli pada
petunjuk-petunjuk-Nya dalam hidup kita sehari-hari? Saat kita memprotes
keadilan-Nya, adakah kita sendiri telah berlaku adil pada Dia? Ketika kita
menuntut Dia mengerjakan bagian-Nya, sudahkah kita sendiri melakukan bagian
kita sebaik-baiknya? Tahukah dimana titik kesesatan kita sehingga tanpa sadar
kita sudah menyimpang dari jalan kebenaran? Sikap suka menggugat orang lain
& Tuhan tapi sering lupa mempertanyakan diri sendiri ialah suatu
kesombongan -bentuk kejatuhan yang tak disadari sebab merasa diri baik-baik
saja. Sebelum Tuhan menggugat kita, biar doa ini senantiasa keluar dari hati kita:
“Selidikilah aku, kenallah hati pikiranku, & ujilah aku.” Salam revival!
GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:
Post a Comment