Thursday, 23 April 2015

23 April 2015




CHURCH FOR SINNERS




Filipi 3:17, “Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu.” Ketika PERBUATAN nyata kita lakukan maka 1 (satu) TELADAN itu akan lebih BERBICARA ketimbang 1000 kata-kata (yang mungkin sia-sia) J. Sudahkah kita menjadi teladan di marketplace kita? PERCAYALAH 1 teladan lebih berarti dari 1000 kata-kat J. Amin.


Respon 1
Fil 3:17. Kita belajar untuk meneladani Kristus. Apa yang kita perbuat akan menunjukkan dan menyampaikan kepada orang lain siapa yang kita percayai, siapa yang kita sembah dan apa nilai hidup kita. Mari kita sama-sama belajar untuk bisa memberi dampak yang positif bagi orang-orang di sekitar kita. Amin. Selamat pagi, selamat beraktivitas and Jbu all... J. (Ibu Sintawati – CL3)

Respon 2
“Iman di dalam Tuhan yang kukuh membuat kita tetap bertahan di dalam tubuh yang rapuh.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 3
SAAT TEDUH. Kamis, 23 April 2015. Turun Untuk Naik. “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau” (Yohanes 21:17). Adi pulang sekolah dengan galau. Ia tahu apa yang akan ditanyakan ibunya. Benar! Saat melihatnya, ibu langsung mengorek, “Ranking berapa, Di?” “28, Bu,” jawab Adi pelan. “Apa? 28? 28 dari 30?” sergah ibunya. “Ibu dulu selalu top five, paling tidak top ten. Di, ingat, bagi Tuhan tiada yang mustahil!” “Ya, Bu,” jawab Adi kesal. “Bagi Dia memang tidak, tapi bagi Adi itu mustahil!” Bandingkan sikap ibu Adi dengan respons Tuhan Yesus terhadap kegagalan murid-Nya. Simak percakapan-Nya dengan Petrus di tepi danau Tiberias sesudah kebangkitan-Nya. Awalnya, Dia meminta murid-Nya itu mengasihi-Nya dengan agape (“kasih tak bersyarat: mengasihi walaupun”), yang dijawab Petrus dengan philea (“kasih bersyarat: mengasihi jikalau”). Kemudian, Tuhan kembali melontarkan agape, dan Petrus tetap menjawabnya dengan philea. Petrus sadar ia pernah mengkhianati Gurunya. Ia belum mampu mengasihi-Nya dengan agape! Tuhan pun paham Petrus belum bisa memenuhi standar-Nya. Akhirnya, Dia bertanya dengan philea, dan Petrus masih menjawabnya dengan philea. Tuhan tahu ada saatnya Petrus bisa mengasihi-Nya dengan agape. Ya, sesudah menerima Roh Kudus di hari Pentakosta (Kis. 2:1-4), Petrus berubah: kini ia berani bersaksi tentang Yesus dan, menurut tradisi, ia mati disalib terbalik karena merasa tak layak disalib “normal” seperti Gurunya. Ia dimampukan untuk mengasihi Tuhan dengan agape! Lalu, bagaimana dengan kita? Maukah kita membiarkan orang lain bertumbuh menurut “kecepatannya” sendiri? Tuhan saja mau!—HIS. KITA BISA “NAIK” LAGI JIKA TETAP DIPERCAYA SAAT SEDANG “TURUN”. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 4
Filipi 3:17 ‘...ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu’. Sedikit perbuatan lebih bernilai daripada banyak kata-kata. Perbuatan kita bisa menginspirasi orang ke arah positif ataukah perbuatan kita akan menjadi batu sandungan kita sebagai anak-anak TUHAN karena perbuatan akan menunjukkan kepada siapa yang kita percayai. Jangan berharap kita bisa mengubah orang lain kalau kita belum mengubah diri kita sendiri terlebih dahulu. Oleh karena itu setiap hari setiap saat adalah moment mengubah diri untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi,syaratnya dengan pertolongan TUHAN. Semangaaat ya!!!!!! YESUS love you. (Ibu Inggita – PKS CL4)

Respon 5
Sebuah karakter atau sikap hati yang buruk seperti ban yang bocor dan kempes. Akan membuat saudara tidak bisa pergi ke mana pun sampai saudara menggantinya atau mengubahnya. Amsal 4:23, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (GNCC)

Respon 6
Maz 5:12 – Sebab ENGKAUlah yang MEMBERKATI orang BENAR, ya TUHAN; ENGKAU memagari dia dengan anugerah-MU seperti PERISAI! Wow kita “tanda ajaib”. Yestoya! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.

Respon 7
Ada teguran keras dari penulis Amsal bagi mereka yang tidak menghiraukan teguran: “Siapa mencintai didikan, mencintai pengetahuan; tetapi siapa membenci teguran, adalah dungu” (Ams. 12:1). Menariknya, kata 'dungu' dalam nats di atas merujuk pada kondisi binatang pada umumnya. Maksudnya, secara umum binatang bukan merupakan makhluk yang berakal budi, cepat menanggap & menangkap apa yang disampaikan & diajarkan padanya. Mereka belajar dengan lambat & harus dipaksa untuk mengikuti kemauan manusia. Dengan kata lain, mereka yang bersedia menerima koreksi & disiplin jauh lebih baik & memang seharusnya demikian sebagai manusia sedangkan yang menolak nasihat & didikan tidak jauh beda dengan binatang-binatang yang bodoh itu. Jika mau jujur, ini tak terbantahkan! Adalah kehendak Tuhan menciptakan manusia segambar dengan Dia. Itu sebabnya sudah seharusnya manusia dipenuhi oleh hikmat-Nya. Berpikir seperti Allah & memahami jalan-jalanNya. Tapi karena kesombongan & kebodohannya, manusia mengambil jalannya sendiri & makin sesat. Yang seharusnya makin mengerti kehendak Tuhan, justru semakin jauh dari kerinduan-Nya. Ketika iblis mengambil kendali atas hidup orang, ia menjadikan manusia makin berakar dalam kebodohannya. Itu sebabnya manusia percaya pada dusta, pada ajaran-ajaran sesat, pada kepercayaan & iman palsu yang telah kentara tidak membawa pada persekutuan dengan Tuhan. Yang paling parah, manusia kerap ditipu untuk meyakini bahwa dirinya sudah berpijak pada kebenaran, merasa kebenarannya yang tertinggi, atau memandang dirinya lebih benar bahkan paling benar daripada yang lain. Jika kita sampai pada titik ini -dimana kita tidak lagi mau mendengarkan siapapun- yang merasa dirinya bijak sejatinya hanya orang-orang dungu belaka di mata Tuhan. Pada kita yang percaya diberikan akal untuk menimbang, hati untuk merasa, & roh untuk membedakan. Biarlah kita bekerja sama dengan Roh Kudus menjaga diri kita tetap siap untuk diajar & dibawa dalam pengenalan akan Tuhan & jalan-jalanNya. Bersediakah Anda? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

Respon 8
SATU HARI SETIAP SAAT. “Janganlah kamu khawatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Matius 6:34). Seorang wanita tua yang sudah lemah terjatuh hingga tulang pinggulnya patah. Dokter berusaha menyembuhkannya sedapat mungkin, tetapi ia tahu wanita itu harus menjalani masa penyembuhan yang lama dan tidak mengenakkan. Keesokan harinya, ketika sang dokter mengunjungi wanita itu di rumah sakit, ia mendapati wanita itu merasa sangat cemas. “Oh, dokter,” tanyanya, “berapa lama saya harus berbaring di tempat tidur?” Dengan bijaksana dan lemah lembut dokter itu menjawab, “Hanya satu hari, satu hari setiap saat!” Jawaban yang bijak. Hal itu mengingatkan saya pada firman Tuhan Yesus. Dia mengajarkan hal yang sama saat berkata, “Janganlah kamu khawatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Matius 6:34). Bukan hanya itu, kita juga mesti ingat bahwa kesusahan esok hari mungkin saja tidak pernah terjadi. Seorang wanita saleh yang telah menjalani hidup cukup lama untuk mempelajari intisari kehidupan berkata, “Saya memiliki banyak kesulitan dalam hidup saya, tetapi sebagian besar kesulitan itu ternyata tidak pernah terjadi!” Apakah Anda dibebani oleh kecemasan tentang apa yang akan terjadi di hari esok? Apakah masa depan Anda tampak suram dan penuh dengan kesukaran? Ingatlah bahwa anugerah dan bimbingan diberikan kepada kita bagai manna di padang gurun (Keluaran 16:4), satu hari setiap saat! ALLAH MEMBERI ANUGERAH TEPAT SAAT KITA MEMERLUKANNYA. Selamat beraktivitas. God bless... (Megawati Taruna)

No comments:

Post a Comment