CHURCH FOR SINNERS
Respon 1
Fil 3:17. Kita
belajar untuk meneladani Kristus. Apa yang kita perbuat akan menunjukkan dan
menyampaikan kepada orang lain siapa yang kita percayai, siapa yang kita sembah
dan apa nilai hidup kita. Mari kita sama-sama belajar untuk bisa memberi dampak
yang positif bagi orang-orang di sekitar kita. Amin. Selamat pagi, selamat
beraktivitas and Jbu all... J. (Ibu
Sintawati – CL3)
Respon 2
“Iman di dalam
Tuhan yang kukuh membuat kita tetap bertahan di dalam tubuh yang rapuh.” Xavier
Quentin Pranata.
Respon 3
SAAT TEDUH. Kamis,
23 April 2015. Turun Untuk Naik. “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi
Aku?” “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi
Engkau” (Yohanes 21:17). Adi pulang sekolah dengan galau. Ia tahu apa yang akan
ditanyakan ibunya. Benar! Saat melihatnya, ibu langsung mengorek, “Ranking
berapa, Di?” “28, Bu,” jawab Adi pelan. “Apa? 28? 28 dari 30?” sergah ibunya.
“Ibu dulu selalu top five, paling tidak top ten. Di, ingat, bagi Tuhan tiada
yang mustahil!” “Ya, Bu,” jawab Adi kesal. “Bagi Dia memang tidak, tapi bagi
Adi itu mustahil!” Bandingkan sikap ibu Adi dengan respons Tuhan Yesus terhadap
kegagalan murid-Nya. Simak percakapan-Nya dengan Petrus di tepi danau Tiberias
sesudah kebangkitan-Nya. Awalnya, Dia meminta murid-Nya itu mengasihi-Nya
dengan agape (“kasih tak bersyarat: mengasihi walaupun”), yang dijawab Petrus
dengan philea (“kasih bersyarat: mengasihi jikalau”). Kemudian, Tuhan kembali
melontarkan agape, dan Petrus tetap menjawabnya dengan philea. Petrus sadar ia
pernah mengkhianati Gurunya. Ia belum mampu mengasihi-Nya dengan agape! Tuhan
pun paham Petrus belum bisa memenuhi standar-Nya. Akhirnya, Dia bertanya dengan
philea, dan Petrus masih menjawabnya dengan philea. Tuhan tahu ada saatnya
Petrus bisa mengasihi-Nya dengan agape. Ya, sesudah menerima Roh Kudus di hari
Pentakosta (Kis. 2:1-4), Petrus berubah: kini ia berani bersaksi tentang Yesus
dan, menurut tradisi, ia mati disalib terbalik karena merasa tak layak disalib
“normal” seperti Gurunya. Ia dimampukan untuk mengasihi Tuhan dengan agape!
Lalu, bagaimana dengan kita? Maukah kita membiarkan orang lain bertumbuh
menurut “kecepatannya” sendiri? Tuhan saja mau!—HIS. KITA BISA “NAIK” LAGI JIKA
TETAP DIPERCAYA SAAT SEDANG “TURUN”. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. (Madam
Ossy)
Respon 4
Filipi 3:17
‘...ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami
yang menjadi teladanmu’. Sedikit perbuatan lebih bernilai daripada banyak
kata-kata. Perbuatan kita bisa menginspirasi orang ke arah positif ataukah
perbuatan kita akan menjadi batu sandungan kita sebagai anak-anak TUHAN karena
perbuatan akan menunjukkan kepada siapa yang kita percayai. Jangan berharap
kita bisa mengubah orang lain kalau kita belum mengubah diri kita sendiri
terlebih dahulu. Oleh karena itu setiap hari setiap saat adalah moment mengubah
diri untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi,syaratnya dengan pertolongan
TUHAN. Semangaaat ya!!!!!! YESUS love you. (Ibu Inggita – PKS CL4)
Respon 5
Sebuah karakter
atau sikap hati yang buruk seperti ban yang bocor dan kempes. Akan membuat
saudara tidak bisa pergi ke mana pun sampai saudara menggantinya atau
mengubahnya. Amsal 4:23, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari
situlah terpancar kehidupan.” (GNCC)
Respon 6
Maz 5:12 – Sebab
ENGKAUlah yang MEMBERKATI orang BENAR, ya TUHAN; ENGKAU memagari dia dengan
anugerah-MU seperti PERISAI! Wow kita “tanda ajaib”. Yestoya! Samuel
Sianto(SS)-YESTOYA Malang.
Respon 7
Ada teguran keras
dari penulis Amsal bagi mereka yang tidak menghiraukan teguran: “Siapa
mencintai didikan, mencintai pengetahuan; tetapi siapa membenci teguran, adalah
dungu” (Ams. 12:1). Menariknya, kata 'dungu' dalam nats di atas merujuk pada
kondisi binatang pada umumnya. Maksudnya, secara umum binatang bukan merupakan
makhluk yang berakal budi, cepat menanggap & menangkap apa yang disampaikan
& diajarkan padanya. Mereka belajar dengan lambat & harus dipaksa untuk
mengikuti kemauan manusia. Dengan kata lain, mereka yang bersedia menerima
koreksi & disiplin jauh lebih baik & memang seharusnya demikian sebagai
manusia sedangkan yang menolak nasihat & didikan tidak jauh beda dengan
binatang-binatang yang bodoh itu. Jika mau jujur, ini tak terbantahkan! Adalah
kehendak Tuhan menciptakan manusia segambar dengan Dia. Itu sebabnya sudah
seharusnya manusia dipenuhi oleh hikmat-Nya. Berpikir seperti Allah &
memahami jalan-jalanNya. Tapi karena kesombongan & kebodohannya, manusia
mengambil jalannya sendiri & makin sesat. Yang seharusnya makin mengerti
kehendak Tuhan, justru semakin jauh dari kerinduan-Nya. Ketika iblis mengambil
kendali atas hidup orang, ia menjadikan manusia makin berakar dalam
kebodohannya. Itu sebabnya manusia percaya pada dusta, pada ajaran-ajaran
sesat, pada kepercayaan & iman palsu yang telah kentara tidak membawa pada
persekutuan dengan Tuhan. Yang paling parah, manusia kerap ditipu untuk
meyakini bahwa dirinya sudah berpijak pada kebenaran, merasa kebenarannya yang
tertinggi, atau memandang dirinya lebih benar bahkan paling benar daripada yang
lain. Jika kita sampai pada titik ini -dimana kita tidak lagi mau mendengarkan
siapapun- yang merasa dirinya bijak sejatinya hanya orang-orang dungu belaka di
mata Tuhan. Pada kita yang percaya diberikan akal untuk menimbang, hati untuk
merasa, & roh untuk membedakan. Biarlah kita bekerja sama dengan Roh Kudus
menjaga diri kita tetap siap untuk diajar & dibawa dalam pengenalan akan
Tuhan & jalan-jalanNya. Bersediakah Anda? Salam revival! GBU. (Worship
Center Surabaya)
Respon 8
SATU HARI SETIAP
SAAT. “Janganlah kamu khawatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai
kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Matius 6:34).
Seorang wanita tua yang sudah lemah terjatuh hingga tulang pinggulnya patah.
Dokter berusaha menyembuhkannya sedapat mungkin, tetapi ia tahu wanita itu
harus menjalani masa penyembuhan yang lama dan tidak mengenakkan. Keesokan
harinya, ketika sang dokter mengunjungi wanita itu di rumah sakit, ia mendapati
wanita itu merasa sangat cemas. “Oh, dokter,” tanyanya, “berapa lama saya harus
berbaring di tempat tidur?” Dengan bijaksana dan lemah lembut dokter itu
menjawab, “Hanya satu hari, satu hari setiap saat!” Jawaban yang bijak. Hal itu
mengingatkan saya pada firman Tuhan Yesus. Dia mengajarkan hal yang sama saat
berkata, “Janganlah kamu khawatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai
kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Matius 6:34).
Bukan hanya itu, kita juga mesti ingat bahwa kesusahan esok hari mungkin saja
tidak pernah terjadi. Seorang wanita saleh yang telah menjalani hidup cukup
lama untuk mempelajari intisari kehidupan berkata, “Saya memiliki banyak
kesulitan dalam hidup saya, tetapi sebagian besar kesulitan itu ternyata tidak
pernah terjadi!” Apakah Anda dibebani oleh kecemasan tentang apa yang akan terjadi
di hari esok? Apakah masa depan Anda tampak suram dan penuh dengan kesukaran?
Ingatlah bahwa anugerah dan bimbingan diberikan kepada kita bagai manna di
padang gurun (Keluaran 16:4), satu hari setiap saat! ALLAH MEMBERI ANUGERAH
TEPAT SAAT KITA MEMERLUKANNYA. Selamat beraktivitas. God bless... (Megawati
Taruna)

No comments:
Post a Comment