CHURCH FOR SINNERS
Respon 1
2 Taw 34:1-7
perubahan mental spiritual akan membawa perubahan sikap dan perilaku. Perubahan
ini ada 2 macam, berubah jadi baik atau berubah jadi mundur. kalau Yosia nggak
terpengaruh dengan keadaan sekitar, Yosia mau berbalik pada Tuhan saat keadaan
di negerinya sudah jauh dari Tuhan. Nah... apakah kita bisa seperti Yosia yang
nggak terpengaruh dengan lingkungan kita? Ada orang yang pertama-tama ikut
Tuhan, berapi-api, menyala-nyala, tapi dengan berjalannya waktu dan dia lihat
lingkungan yang nggak mendukung dia jadi ikut-ikutan “suam-suam”. Alias ya ke
gereja ya ke gereja tapi ya sudah cukup ke gereja saja, sudah nggak ingin lebih
lagi. Pagi ini kita diingatkan untuk semangat buat Tuhan itu nggak boleh
terpengaruh lingkungan tapi itu keputusan kita sendiri. Supaya kita mengalami
perubahan yang positif dan perubahan itu menular ke lingkungan kita. Kita jadi
dampak yang baik dan membawa perubahan pada orang lain untuk selangkah lebih
dekat dengan Tuhan. (Ibu Rita – PKS CL 8)
Respon 2
SAAT TEDUH. Jumat,
24 April 2015. LIDAH. Dengan lidah kita memuji Tuhan dan Bapa kita (Yakobus
3:9). Ketika berkunjung ke Universitas Kristen Cipta Wacana, Malang, untuk
mengadakan pelatihan vokal singkat, profesor musik dari Korea Selatan, Eunyong
Chi, menjelaskan bahwa lidah merupakan bagian penting dalam menyanyi. Selain
teknik pernapasan dan teknik menggemakan suara, lidah juga berperan krusial
dalam bernyanyi. Mulut yang dibuka lebar dapat memperjelas artikulasi, sedangkan
lidah yang lentur dan terlatih dapat membantu penyanyi untuk mencapai nada-nada
tinggi yang sulit. Lidah merupakan bagian tubuh yang kecil, tetapi dapat
membawa dampak yang besar. Lidah diibaratkan seperti api, yang walaupun semula
kecil saja nyalanya, pada akhirnya mampu membakar hutan belantara yang luas.
Begitu juga lidah yang “menyala-nyala” dapat menyebabkan perkara sepele jadi
pertengkaran hebat. Lidah yang tidak terkendali bisa mendatangkan kejahatan
luar biasa yang merugikan manusia. Yakobus mengingatkan bahwa kita bisa memakai
lidah yang sama untuk memuji Tuhan atau untuk mengutuki sesama; kita bisa
mengeluarkan perkataan berkat atau kutuk. Jika kita bisa mengendalikan lidah,
kita akan mampu untuk menggunakannya bagi perkara-perkara yang mulia. Seperti
lidah membantu penyanyi mencapai nada tinggi, lidah yang terkendali memampukan
kita untuk memuliakan Allah yang Mahatinggi. Bagaimana kita mengendalikan
lidah? Tentu saja bukan dengan kekuatan sendiri, melainkan dengan mempersilakan
Roh Kudus mengerjakan buah Roh—pengendalian diri—dalam hidup kita—GDO. DENGAN
LIDAH YANG TERKENDALI, KITA MAMPU MEMULIAKAN ALLAH YANG MAHATINGGI. Morning all
lovely friends... Its Friday again. Thank You Lord. (Madam Ossy)
Respon 3
“Jika di dalam
mengiring Yesus kita sering menoleh ke belakang, kita tidak akan bisa fokus dan
jatuh terjengkang.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 4
Maz 42:2 – Seperti
rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan ENGKAU,
ya Allah! TUHAN, aku sangat merindukan-MU, mengasihi-MU! Samuel
Sianto(SS)-YESTOYA Malang.
Respon 5
Meskipun Bait Suci
masih tegak berdiri tak kurang suatu apa & ibadah kepada Allah Israel masih
berlangsung, TUHAN memandang Salomo telah meninggalkan Dia & berlaku tidak
setia, berbeda dengan Daud, sang ayah (1 Raj. 11:33). Sejak itu Kerajaan Israel
tidak pernah sama lagi. Setelah masa Salomo, keturunan Daud memerintah dalam
wilayah yang kecil. Suatu kemerosotan yang drastis dari masa keemasan yang luar
biasa. Penyembahan berhala. Ya, itulah penyebab kejatuhan Salomo. Entah
benar-benar menyadari atau tidak, Salomo terseret perlahan untuk memuliakan
sesuatu yang lain daripada Tuhannya. Ia percaya (dan itu sebabnya ia sujud)
bahwa ada keberadaan lain yang sanggup menolong & memberkati para
penyembahnya selain Yang Mahatinggi, Allah Israel. Itu nyata saat Salomo
menyembah Asytoret, dewi kesuburan orang Sidon-yang dipercaya sanggup
memberkati hasil tanah juga Kamos & Milkom, dewa-dewa perang &
penaklukan bangsa Moab & Amon -yang diyakini mampu membela, melindungi
& menyelamatkan umatnya. Hari ini masih tidak jauh berbeda. Meski
penyembahan patung-patung telah banyak ditinggalkan, orang-orang sesungguhnya
orang masih 'sujud' pada apa saja yang diyakini mampu menyejahterakan dirinya,
entah itu uang, ketenaran, kekuasaan, kesenangan, kemewahan -dimana mereka
'berlutut' alias tunduk menyerahkan diri melakukan apapun demi memperoleh semua
itu. Bahkan ada yang berpikir semakin banyak yang disembah semakin baik: banyak
teman, sedikit musuh; banyak penolong lebih baik daripada hanya satu. Sungguh
sesat! Sama seperti Salomo, kehancuran & kemerosotan hidup kita, entah
jasmani atau rohani (atau keduanya) dimulai saat kita mulai menduakan Tuhan.
Walau mulut kita menyebut Dia Tuhan & Yahweh, jika hati kita hanya menginginkan
berkat-berkat materi belaka maka materilah yang kita sembah. Tuhan tahu &
melihat isi hati kita lebih daripada apapun. Penyembahan yang menyukakan hati
Tuhan ialah yang seperti dilakukan Daud. Bukan Salomo. Sujud sembah dengan
penuh cinta dalam pengabdian tulus ikhlas kepada-Nya. Salam revival! GBU.
(Worship Center Surabaya)

No comments:
Post a Comment