Friday, 24 April 2015

24 April 2015




CHURCH FOR SINNERS




1 Korintus 9:16, “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.” Rasul Paulus mengingatkan kita agar kita juga memberitakan injil Keselamatan kepada mereka yang belum percaya. Bersaksi dan memberitakan injil tentang karya Allah dalam hidup kita dapat menguatkan, meneguhkan bahkan menyelamatkan mereka dari ‘kebinasaan kekal’. Amin. Sudahkah kita bersaksi? J


Respon 1
2 Taw 34:1-7 perubahan mental spiritual akan membawa perubahan sikap dan perilaku. Perubahan ini ada 2 macam, berubah jadi baik atau berubah jadi mundur. kalau Yosia nggak terpengaruh dengan keadaan sekitar, Yosia mau berbalik pada Tuhan saat keadaan di negerinya sudah jauh dari Tuhan. Nah... apakah kita bisa seperti Yosia yang nggak terpengaruh dengan lingkungan kita? Ada orang yang pertama-tama ikut Tuhan, berapi-api, menyala-nyala, tapi dengan berjalannya waktu dan dia lihat lingkungan yang nggak mendukung dia jadi ikut-ikutan “suam-suam”. Alias ya ke gereja ya ke gereja tapi ya sudah cukup ke gereja saja, sudah nggak ingin lebih lagi. Pagi ini kita diingatkan untuk semangat buat Tuhan itu nggak boleh terpengaruh lingkungan tapi itu keputusan kita sendiri. Supaya kita mengalami perubahan yang positif dan perubahan itu menular ke lingkungan kita. Kita jadi dampak yang baik dan membawa perubahan pada orang lain untuk selangkah lebih dekat dengan Tuhan. (Ibu Rita – PKS CL 8)



Respon 2
SAAT TEDUH. Jumat, 24 April 2015. LIDAH. Dengan lidah kita memuji Tuhan dan Bapa kita (Yakobus 3:9). Ketika berkunjung ke Universitas Kristen Cipta Wacana, Malang, untuk mengadakan pelatihan vokal singkat, profesor musik dari Korea Selatan, Eunyong Chi, menjelaskan bahwa lidah merupakan bagian penting dalam menyanyi. Selain teknik pernapasan dan teknik menggemakan suara, lidah juga berperan krusial dalam bernyanyi. Mulut yang dibuka lebar dapat memperjelas artikulasi, sedangkan lidah yang lentur dan terlatih dapat membantu penyanyi untuk mencapai nada-nada tinggi yang sulit. Lidah merupakan bagian tubuh yang kecil, tetapi dapat membawa dampak yang besar. Lidah diibaratkan seperti api, yang walaupun semula kecil saja nyalanya, pada akhirnya mampu membakar hutan belantara yang luas. Begitu juga lidah yang “menyala-nyala” dapat menyebabkan perkara sepele jadi pertengkaran hebat. Lidah yang tidak terkendali bisa mendatangkan kejahatan luar biasa yang merugikan manusia. Yakobus mengingatkan bahwa kita bisa memakai lidah yang sama untuk memuji Tuhan atau untuk mengutuki sesama; kita bisa mengeluarkan perkataan berkat atau kutuk. Jika kita bisa mengendalikan lidah, kita akan mampu untuk menggunakannya bagi perkara-perkara yang mulia. Seperti lidah membantu penyanyi mencapai nada tinggi, lidah yang terkendali memampukan kita untuk memuliakan Allah yang Mahatinggi. Bagaimana kita mengendalikan lidah? Tentu saja bukan dengan kekuatan sendiri, melainkan dengan mempersilakan Roh Kudus mengerjakan buah Roh—pengendalian diri—dalam hidup kita—GDO. DENGAN LIDAH YANG TERKENDALI, KITA MAMPU MEMULIAKAN ALLAH YANG MAHATINGGI. Morning all lovely friends... Its Friday again. Thank You Lord. (Madam Ossy)
Respon 3
“Jika di dalam mengiring Yesus kita sering menoleh ke belakang, kita tidak akan bisa fokus dan jatuh terjengkang.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 4
Maz 42:2 – Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan ENGKAU, ya Allah! TUHAN, aku sangat merindukan-MU, mengasihi-MU! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.

Respon 5
Meskipun Bait Suci masih tegak berdiri tak kurang suatu apa & ibadah kepada Allah Israel masih berlangsung, TUHAN memandang Salomo telah meninggalkan Dia & berlaku tidak setia, berbeda dengan Daud, sang ayah (1 Raj. 11:33). Sejak itu Kerajaan Israel tidak pernah sama lagi. Setelah masa Salomo, keturunan Daud memerintah dalam wilayah yang kecil. Suatu kemerosotan yang drastis dari masa keemasan yang luar biasa. Penyembahan berhala. Ya, itulah penyebab kejatuhan Salomo. Entah benar-benar menyadari atau tidak, Salomo terseret perlahan untuk memuliakan sesuatu yang lain daripada Tuhannya. Ia percaya (dan itu sebabnya ia sujud) bahwa ada keberadaan lain yang sanggup menolong & memberkati para penyembahnya selain Yang Mahatinggi, Allah Israel. Itu nyata saat Salomo menyembah Asytoret, dewi kesuburan orang Sidon-yang dipercaya sanggup memberkati hasil tanah juga Kamos & Milkom, dewa-dewa perang & penaklukan bangsa Moab & Amon -yang diyakini mampu membela, melindungi & menyelamatkan umatnya. Hari ini masih tidak jauh berbeda. Meski penyembahan patung-patung telah banyak ditinggalkan, orang-orang sesungguhnya orang masih 'sujud' pada apa saja yang diyakini mampu menyejahterakan dirinya, entah itu uang, ketenaran, kekuasaan, kesenangan, kemewahan -dimana mereka 'berlutut' alias tunduk menyerahkan diri melakukan apapun demi memperoleh semua itu. Bahkan ada yang berpikir semakin banyak yang disembah semakin baik: banyak teman, sedikit musuh; banyak penolong lebih baik daripada hanya satu. Sungguh sesat! Sama seperti Salomo, kehancuran & kemerosotan hidup kita, entah jasmani atau rohani (atau keduanya) dimulai saat kita mulai menduakan Tuhan. Walau mulut kita menyebut Dia Tuhan & Yahweh, jika hati kita hanya menginginkan berkat-berkat materi belaka maka materilah yang kita sembah. Tuhan tahu & melihat isi hati kita lebih daripada apapun. Penyembahan yang menyukakan hati Tuhan ialah yang seperti dilakukan Daud. Bukan Salomo. Sujud sembah dengan penuh cinta dalam pengabdian tulus ikhlas kepada-Nya. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)


No comments:

Post a Comment