CHURCH FOR SINNERS
Respon 1
SAAT TEDUH. Minggu,
19 April 2015. Salah Sangka. Padahal kami dahulu mengharapkan bahwa Dialah yang
akan membebaskan bangsa Israel (Lukas 24:21). Saya sempat salah sangka kepada
Tuhan ketika saya harus meninggalkan Surabaya, kota kelahiran saya. Saya
mengira Dia tidak mengasihi dan tidak memedulikan saya yang masih ingin tinggal
di sana. Tujuh belas tahun sesudahnya, setelah Tuhan membawa saya mengalami
banyak perkara luar biasa, saya bisa memahami rencana-Nya yang indah. Saya
mengalami kelahiran baru, bertumbuh secara rohani, menempuh pendidikan di
universitas, dan menikah dengan perempuan yang saya kasihi. Fakta kematian
Yesus di kayu salib menggemparkan banyak pihak, tak terkecuali bagi murid
Yesus. Yesus yang diharapkan menjadi pembebas bangsa Israel dari penjajahan
Romawi ternyata mati muda. Jika ukurannya adalah harapan atau pemikiran mereka
tersebut, jelas Yesus gagal. Padahal, lebih dari harapan para murid dan juga
bangsa Yahudi, Yesus benar-benar datang sebagai pembebas. Kematian dan
kebangkitan-Nya memungkinkan manusia yang percaya kepada-Nya terbebas dari kuasa
dosa. Jadi, sebenarnya prasangka para murid tidak tepat. Yesus berkarya malah
melampaui harapan mereka. Rencana dan jalan Tuhan sering tak mudah dipahami
oleh manusia. Apa yang nampak sebagai kegagalan, keinginan yang tidak terkabul,
atau harapan yang seakan telah sirna, bukan berarti rencana Tuhan juga gagal.
Jangan salah sangka terhadap Dia. Dia berkuasa dalam pekerjaan dan
perkataan-Nya. Segala sesuatu yang kita alami ada dalam kendali-Nya. Percayalah
bahwa rencana dan kehendak-Nya sempurna dalam hidup kita —GHJ. TUHAN PUNYA
SERIBU SATU CARA UNTUK MENGGENAPI RENCANA-NYA DI BUMI INI. Selamat pagi.
Selamat beribadah dan melayani. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Respon 2
Maz 30:11 –
Dengarlah ya TUHAN dan kasihanilah aku ya TUHAN, jadilah PENOLONGku! TUHAN
sumber PERTOLONGANku. DIA sekarang MENOLONGku. Selamat ibadah dan melayani!
Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.
Respon 3
Ada ratusan ribu
pujian yang pernah dicipta untuk memuliakan nama Tuhan. Dan jumlah tersebut
masih akan terus bertambah hingga kesudahan dunia. Umat Kristen memang dikenal
sebagai umat pemuji. Mazmur 149:1 mengandung perintah bagi kita: “Haleluya!
Nyanyikanlah bagi TUHAN nyanyian baru!...” Perintah yang diulang kembali dalam
bagian-bagian lain dalam Alkitab (Maz. 33:3; 96:1; 98:1;Yes. 42:10). Apakah ini
berarti kita harus terus mencipta & menaikkan lagu-lagu baru &
meninggalkan puji-pujian yang lama? Yang dimaksud 'baru' sebenarnya menunjuk
pada sesuatu yang diperbarui, yang segar, yang tidak dilakukan dengan cara yang
itu-itu saja tapi dikerjakan dengan cara sedemikian sehingga terasa baru di
pemandangan Tuhan. Mungkinkah? Ya. Malah sangat mungkin, sebab: 1- Pekerjaan
tangan Tuhan, berkat-berkatNya, apapun yang disediakan & diberikan-Nya pada
kita selalu baru (Rat. 3:22-23). Seperti manna yang diberikan segar setiap
hari, yang tidak perlu disimpan tetapi disediakan baru tiap pagi, demikian
karya-Nya tak pernah sama tiap hari. Itulah inspirasi bagi puji-pujian kita
yang tentu berbeda daripada saat menerima berkat-berkat di waktu yang lalu. 2-
Jika kita melalui tahun-tahun hidup kita bersama Tuhan maka kita pun mengecap
banyak pengalaman baru. Tiap langkah dalam suka & duka, kita makin
menyadari bahwa Dia baik, tak pernah meninggalkan kita. Hari lepas hari, apapun
keadaan kita, Allah begitu setia. Meski lagu-lagu lama kita pujikan tapi
pengalaman-pengalaman yang makin indah bersama-Nya menerbitkan nyanyian yang
segar di hadapan-Nya. 3- Lebih dari segalanya, jika kita menjaga hubungan kita
dengan Tuhan waktu demi waktu, maka HATI & KEKUATAN KITA PUN SELALU
DIBAHARUI oleh kerja kuasa Roh-Nya (Yes. 40:31). Dari hati yang baru selalu
akan terbit syukur, sukacita, penyerahan, pengabdian, pengaguman yang
melahirkan penyembahan & pujian yang terasa baru -sekalipun dengan syair
yang lama. Dalam nyanyian yang baru ada kuasa kesaksian yang dahsyat bagi dunia
(Maz. 40:4). Akankah Anda menaikkannya hari ini? Salam revival! GBU. (Worship
Center Surabaya)
Respon 4
“Ujian di sekolah
kehidupan lebih berat ketimbang di bangku sekolah.” Xavier Quentin Pranata.

No comments:
Post a Comment