Wednesday, 9 November 2016

9 November 2016

MAN IN THE MIRROR




Menyadari Kesalahan dan Berusaha Memperbaiki. Setiap kita pasti tidak luput dari kesalahan. Akan tetapi adakah setiap kita berusaha memperbaiki kesalahan tersebut? Atau kita sudah terbiasa dengan kesalahan dan enggan untuk memperbaikinya?? Yunus 1:3a, “Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN.” Mengapa Yunus melarikan diri? Yunus tidak ingin ke Niniwe, ibu kota bangsa musuhnya mendapatkan pengampunan, Yunus telah mengetahui kesediaan Allah untuk mengampuni bila ada perubahan sejati. Dia memilih untuk melarikan diri daripada memberitahu penduduk Niniwe akan datangnya penghukuman. Dia tidak menginginkan mereka terlepas dari murka Allah. Ditengah-tengah perjalanannya, Tuhan menurunkan badai dan angin ribut yang besar sehingga membuat para awak kapal ketakutan (ayat 9-10). Mengapa mereka takut? Awalnya mereka hanya takut “badai”, sekarang mereka takut akan Allah yang menciptakan badai. Esensi takut akan Allah adalah mengenali, menghormati dan menanggapi otoritasNya. Bagaimana dengan kita, apakah kita siap untuk mengakui dan menyadari kesalahan yang kita lakukan? Selain itu Tuhan ingin kita memperbaiki dan bertanggung jawab atas setiap perbuatan dan perkataan yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan. Amin.

Ibu Caroline – Bandung
Manusia adalah makhluk rohani yang sepantasnya mencari surga dan menjadi pelayan Tuhan yang bertakhta di surga, yang selalu memuji dan menyembahNya dalam kekudusan »George Swinnock«. Ibrani 12:14 – Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan. Kekudusan Allah mutlak dan absolut, tidak bisa ditawar atau didiskon sedikitpun, sebab tanpa kekudusan tidak ada seorangpun yang bisa merasakan hadiratNya. Bukti kekudusan yang utama dan terutama adalah hati yang bisa berdamai dengan semua orang tanpa syarat. 1 Yohanes 4:20 Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah”, dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Orang yang tidak bisa berdamai hatinya masih bernoda, entah dengan kebencian, iri hati atau sakit hati, jadi bagaimana kita berani berkata bahwa kita memiliki kekudusan bila cara hidup kita masih demikian? Bersyukur kepada Tuhan, ketika kita bertobat lalu percaya kepadaNya, maka kita semua diberikan hati yang baru, yaitu hati yang penuh dengan pengampunan dan kasih, sehingga kita bisa mengampuni dan menerima semua orang tanpa syarat. Selamat Pagi.

Xavier Quentin Pranata
Ketika kasih dibagikan justru bertambah banyak.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Rabu, 9 November 2016. MENAHAN MALU. Sebab siapa saja yang malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah orang-orang yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, bersama dengan malaikat-malaikat ku (Markus 8:38). Beberapa tahun silam, saya sering naik bus malam antarkota. Ada banyak kesempatan saya mengobrol dengan teman seperjalanan. Obrolan sering terkesan ingin saling menyenangkan teman bicara. Beberapa kali ada kesempatan untuk berbicara mengenai Kristus. Namun saya melewatkannya begitu saja. Bahkan saya merasa berat untuk sekadar memperkenalkan diri sebagai orang kristiani. Salah satu alasannya, saya takut orang memandang rendah, sinis, dan tidak bersahabat pada saya. Ketika mengajar murid-murid-Nya, Yesus mengemukakan penderitaan yang harus ditanggung-Nya. Penolakan, penghinaan, bahkan pembunuhan harus dihadapi-Nya. Akan muncul rasa malu dalam diri para murid. Karena guru yang mereka banggakan ternyata hanya seorang pecundang dalam pandangan dunia. Mungkin saja para murid membayangkan bahwa guru mereka akan menjadi raja Israel karena Dia begitu berkuasa. Tuhan bukan saja melakukan berbagai mukjizat penyembuhan dan pengusiran setan. Bahkan alam pun tunduk pada perintah-Nya (Mat. 8:27). Tidak pernah terlintas dalam benak mereka bahwa Yesus akan mengalami keadaan yang begitu rendah dan hina. Sesungguhnya apa yang dianggap hina oleh dunia justru adalah kemuliaan bagi Allah. Dunia baru akan menyaksikan kemuliaan Kristus bersama dengan para malaikat ketika zaman ini berakhir. Sebagai orang percaya, kita akan turut serta dalam kemuliaan Tuhan ketika Dia datang kembali (Kol. 3:4). Jadi, buat apa merasa malu karena menghadapi kehinaan yang sementara ini? MENANGGUNG MALU KARENA KRISTUS SAAT INI BERARTI TURUT SERTA DALAM KEMULIAAN-NYA YANG KEKAL. Selamat Pagi. Tuhan Yesus memberkati.

No comments:

Post a Comment