MAN
IN THE MIRROR
Menyadari
Kesalahan dan Berusaha Memperbaiki.
Setiap kita pasti tidak luput dari kesalahan. Akan tetapi adakah
setiap kita berusaha memperbaiki kesalahan tersebut? Atau kita sudah
terbiasa dengan kesalahan dan enggan untuk memperbaikinya?? Yunus
1:3a, “Tetapi
Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan
TUHAN.”
Mengapa Yunus melarikan diri? Yunus tidak ingin ke Niniwe, ibu kota
bangsa musuhnya mendapatkan pengampunan, Yunus telah mengetahui
kesediaan Allah untuk mengampuni bila ada perubahan sejati. Dia
memilih untuk melarikan diri daripada memberitahu penduduk Niniwe
akan datangnya penghukuman. Dia tidak menginginkan mereka terlepas
dari murka Allah. Ditengah-tengah perjalanannya, Tuhan menurunkan
badai dan angin ribut yang besar sehingga membuat para awak kapal
ketakutan (ayat 9-10). Mengapa mereka takut? Awalnya mereka hanya
takut “badai”, sekarang mereka takut akan Allah yang menciptakan
badai. Esensi takut akan Allah adalah mengenali, menghormati dan
menanggapi otoritasNya. Bagaimana dengan kita, apakah kita siap untuk
mengakui dan menyadari kesalahan yang kita lakukan? Selain itu Tuhan
ingin kita memperbaiki dan bertanggung jawab atas setiap perbuatan
dan perkataan yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan. Amin.
Ibu
Caroline – Bandung
Manusia
adalah makhluk rohani yang sepantasnya mencari surga dan menjadi
pelayan Tuhan yang bertakhta di surga, yang selalu memuji dan
menyembahNya dalam kekudusan »George Swinnock«. Ibrani 12:14 –
Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan,
sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan. Kekudusan
Allah mutlak dan absolut, tidak bisa ditawar atau didiskon
sedikitpun, sebab tanpa kekudusan tidak ada seorangpun yang bisa
merasakan hadiratNya. Bukti kekudusan yang utama dan terutama adalah
hati yang bisa berdamai dengan semua orang tanpa syarat. 1 Yohanes
4:20 Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah”, dan ia
membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa
tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi
Allah, yang tidak dilihatnya. Orang yang tidak bisa berdamai hatinya
masih bernoda, entah dengan kebencian, iri hati atau sakit hati, jadi
bagaimana kita berani berkata bahwa kita memiliki kekudusan bila cara
hidup kita masih demikian? Bersyukur kepada Tuhan, ketika kita
bertobat lalu percaya kepadaNya, maka kita semua diberikan hati yang
baru, yaitu hati yang penuh dengan pengampunan dan kasih, sehingga
kita bisa mengampuni dan menerima semua orang tanpa syarat. Selamat
Pagi.
Xavier
Quentin Pranata
“Ketika
kasih dibagikan justru bertambah banyak.” Xavier Quentin Pranata.
Madam
Ossy
SAAT
TEDUH. Rabu, 9 November 2016. MENAHAN MALU. Sebab siapa saja yang
malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah orang-orang
yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan malu karena
orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, bersama
dengan malaikat-malaikat ku (Markus 8:38). Beberapa tahun silam, saya
sering naik bus malam antarkota. Ada banyak kesempatan saya mengobrol
dengan teman seperjalanan. Obrolan sering terkesan ingin saling
menyenangkan teman bicara. Beberapa kali ada kesempatan untuk
berbicara mengenai Kristus. Namun saya melewatkannya begitu saja.
Bahkan saya merasa berat untuk sekadar memperkenalkan diri sebagai
orang kristiani. Salah satu alasannya, saya takut orang memandang
rendah, sinis, dan tidak bersahabat pada saya. Ketika mengajar
murid-murid-Nya, Yesus mengemukakan penderitaan yang harus
ditanggung-Nya. Penolakan, penghinaan, bahkan pembunuhan harus
dihadapi-Nya. Akan muncul rasa malu dalam diri para murid. Karena
guru yang mereka banggakan ternyata hanya seorang pecundang dalam
pandangan dunia. Mungkin saja para murid membayangkan bahwa guru
mereka akan menjadi raja Israel karena Dia begitu berkuasa. Tuhan
bukan saja melakukan berbagai mukjizat penyembuhan dan pengusiran
setan. Bahkan alam pun tunduk pada perintah-Nya (Mat. 8:27). Tidak
pernah terlintas dalam benak mereka bahwa Yesus akan mengalami
keadaan yang begitu rendah dan hina. Sesungguhnya apa yang dianggap
hina oleh dunia justru adalah kemuliaan bagi Allah. Dunia baru akan
menyaksikan kemuliaan Kristus bersama dengan para malaikat ketika
zaman ini berakhir. Sebagai orang percaya, kita akan turut serta
dalam kemuliaan Tuhan ketika Dia datang kembali (Kol. 3:4). Jadi,
buat apa merasa malu karena menghadapi kehinaan yang sementara ini?
MENANGGUNG MALU KARENA KRISTUS SAAT INI BERARTI TURUT SERTA DALAM
KEMULIAAN-NYA YANG KEKAL. Selamat Pagi. Tuhan Yesus memberkati.

No comments:
Post a Comment