MAN
IN THE MIRROR
Menerima
orang lain bukan karena perbuatannya, melainkan karena KASIH TUHAN.
Sebagai manusia, KASIH kita terbatas, sering kita merasa sudah tidak
sanggup lagi mengasihi seseorang atau bahasa Suroboyo-nya, karena
orang terrsebut mbencekno
.
Atau kita merasa orang tertentu tidak layak kita kasihi. Namun kasih
yang diajarkan Kristus bukanlah kasih yang bergantung pada layak
tidaknya seseorang untuk dikasihi. Tuhan tidak menghendaki kita
mengasihi sesama hanya ketika perbuatan orang itu membuat kita ingin
mengasihinya. DIA mengasihi kita ketika kita masih berdosa (itu
artinya: saat tingkah laku kita sangat tidak menyenangkan/mbencekno
bagiNya! DIA memerintahkan kita TETAP mengasihi seperti TELADAN-Nya
(Roma 5:8 & Yohanes 15:12). Apa yang sering membuat kita sulit
untuk mengasihi orang lain? Apakah kita sudah dapat mengatasi
kesulitan-kesulitan itu? Dan menaati perintahNya untuk SALING
MENGASIHI? Amin.
Tante
Elisabeth – NTT
Amin!
ADA KUASA DALAM NAMA YESUS.KETIKA KITA MENGIKUTI TUHAN
SUNGGU-SUNGGUH, MAKA HIDUP KITAPUN MENGANDUNG KUASA. Kita mengalami
kesembuhan, saya disembuhkan dari sakit kaki, dan anak saya
disembuhkan syaraf terjepit, sering sakit bila dapat menstuasi,
karena mium, sering mengkomsungsi obat-obatan, ke Dokter Kandungan
tapi tidak berhasil, namun, saya berdoa terus menerus dan minta Tuhan
dengan sungguh-sungguh, darah Yesus sungguh besar kuasaNya. Kini
sudah jalan tiga bulan datang menstuasi rasa sakit tidak lagi. Karena
kita sungguh-sungguh percaya maka kita pun diberi kuasa untuk doa dan
diberi kesembuhan. Mujizat Tuhan pasti tergenapi. Amin. Morning, Jbu
all. Sekarang saya sudah datang di Surabaya untuk hadir nanti
pernikahan cucu Wijaya dan saya harap teman-teman Komsel beberapa
tahun yang lampau dapat hadir dan kita bersama-sama berkumpul
bersyukur, bersukacita dalam Tuhan. Amin. Thank you. Saya Oma Brian,
murid Alfa Omega School, masih teringat teman-teman Komsel merayakan
ulang tahun saya yang ke 70 tahun yang lalu dan syukur Tuhan masih
memelihara saya sampai kini, usia saya 77 tahun. Puji Tuhan.
Xavier
Quentin Pranata
“Senyum
orang yang telah meninggalkan kita selamanya masih harum di ingatan
kita.” Xavier Quentin Pranata.
Madam
Ossy
SAAT
TEDUH. Rabu, 16 November 2016. SIAP SEDIA. Saudara-saudara yang
terkasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang
kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa
terjadi atas kamu (1 Petrus 4:12). Pendeta Li baru mulai berkhotbah
ketika pintu gereja rumah itu tiba-tiba terbuka. Para petugas
bersenjata dari biro keamanan negara menyerbu masuk, mengancam setiap
orang yang ada dalam ruangan. Pendeta Li sendiri ditarik untuk
ditahan. “Tunggu, biarkan saya membawa tas saya,” seru Pendeta Li
dengan tegas, tetapi tetap sopan. Para petugas itu kaget, “Apa isi
tas itu?” Mereka memaksa dan menarik tas milik Pendeta Li dan
membukanya. Ternyata, isinya selimut dan beberapa pakaian ganti.
Pendeta Li berkata, “Saya telah mempersiapkan diri untuk penahanan
ini sebelum saya berkhotbah.” Kesiapan adalah tanda komitmen.
Komitmen tanpa kesediaan berkurban hanyalah kepura-puraan. Demikian
halnya dengan iman kepada Kristus. Mengaku percaya, tetapi tanpa
komitmen, hanyalah kompromi tersembunyi. Karena itu, kita harus siap
menghadapi ujian komitmen setiap hari. Kita tidak sekadar
mempersiapkan 'tas', tetapi juga hati dan pikiran yang rela. Sebagai
orang percaya, kita harus bersedia membayar berapa pun harga untuk
menjadi saksi-Nya. Menurut sejarah gereja, siksaan dan aniaya lazim
menimpa umat Kristen. Janganlah heran jika siksaan itu datang.
Sebaliknya, tetaplah bersukacita dan bergembira karena Kristus pun
menderita. Tetapi, jika kita harus menderita, hendaklah kita
menderita sebagai orang Kristen, bukan sebagai pembunuh, pencuri,
penjahat, pengacau, dan sebagainya. Percayalah bahwa dalam segala hal
Tuhan akan memelihara kita, bahkan di penjara sekali pun. SAYA TIDAK
AKAN MENYEMBUNYIKAN TERANG TUHAN DALAM DIRI SAYA, BAHKAN SEKALIPUN
SAYA HARUS MENGURBANKAN SEGALANYA -RACHEL SCOTT. Selamat pagi. Tuhan
Yesus memberkati.

No comments:
Post a Comment