MAN
IN THE MIRROR
Cermin.
Seberapa sering kita melihat bayangan kita sendiri pada cermin?
Survey mengatakan bahwa hitungan bisa mencapai 8-10x sehari. Mengapa
kita suka bercermin? Alasannya adalah untuk memeriksa penampilan
kita. Kita ingin memperbaikinya. Rasul Yakobus mengatakan bahwa
membaca /mendengarkan firman Allah tanpa menerapkannya adalah sama
seperti seseorang yang melihat kecermin lalu melupakan apa yang telah
dilihat. Yakobus 1:22-24, “22Tetapi
hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja;
sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. 23Sebab
jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia
adalah seumpama seorang yang sedang mengamat- amati mukanya yang
sebenarnya di depan cermin. 24Baru
saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa
bagaimana rupanya.”
Bagaimana dengan kita? Apakah kita ingin memperbaiki “penampilan”
kita menjadi lebih baik? Terima kasih Tuhan untuk firmanMu pagi hari
ini. Bimbing kami ketika kami membaca firmanMu untuk semakin peka
mendengar suaraMu, beri hati yang taat, untuk kami melakukanNya.
Amin.
Xavier
Quentin Pranata
“Kebijaksanaan
merupakan ibu segala kebajikan.” Xavier Quentin Pranata.
Madam
Ossy
SAAT
TEDUH. Minggu, 27 November 2016. PENGHARAPAN MESIANIK. Sesungguhnya,
seorang raja akan memerintah menurut kebenaran, dan pemimpin-pemimpin
akan memimpin menurut keadilan (Yesaya 32:1). Manusia selalu
membutuhkan pengharapan mesianik, bahwa kelak akan datang seseorang
yagn membawa kebebasan, keadilan, dan kebenaran yang sejati. Orang di
Jawa terbiasa dengan konsep Ratu Adil, misalnya. Kebutuhan ini
biasanya muncul kala kehidupan amat mengecewakan. Di situ muncullah
pengharapan tentang masa depan yang lebih baik. Ini bukan sekadar
soal psiko-sosiologis, tetapi juga masalah iman. Yesaya 32 adalah
bagian kitab Yesaya yang ditulis sebelum Kerajaan Yehuda ditaklukkan
dan orang-orangnya dibuang ke Babel. Isinya kebanyakan tentang
peringatan: bila hidup umat tidak berubah, akan datang penghukuman.
Ada masalah dalam kehidupan umat sehingga mereka diperingatkan, namun
sekaligus memiliki harapan pada masa depan, tentang situasi ketika
“yang buta melihat, yang tuli menyimak, yang terburu nafsu menjadi
bijak”. Di masa itu kontradiksi antara yang murtad dan yang berbudi
luhur akan jelas baik dalam rancangan maupun tindakan (ay. 3). Inilah
pengharapan mesianik Yesaya. Bagi kita, pengharapan mesianik itu
telah terpenuhi dalam diri dan karya Yesus Kristus, sang Raja yang
Adil dan Benar. Masalahnya, apakah kita yang beriman kepada-Nya telah
juga menjadi adil dan benar dalam rancangan dan tindakan? Kiranya
kita yang telah mengalami sang Mesias, yang telah mengalami kasih dan
keadilan Kristus, juga mewartakan dan menyatakan keadilan dan
kebenaran bagi sesama manusia. Kiranya semakin banyak orang yang
mengalami pemenuhan pengharapan mesianik ini. MAMPUKAH KITA MENJADI
PEMBAWA HARAPAN YANG BAIK BAGI SESAMA? Selamat pagi. Selamat
beribadah. Selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati.

No comments:
Post a Comment