Sunday, 27 November 2016

27 November 2016

MAN IN THE MIRROR




Cermin. Seberapa sering kita melihat bayangan kita sendiri pada cermin? Survey mengatakan bahwa hitungan bisa mencapai 8-10x sehari. Mengapa kita suka bercermin? Alasannya adalah untuk memeriksa penampilan kita. Kita ingin memperbaikinya. Rasul Yakobus mengatakan bahwa membaca /mendengarkan firman Allah tanpa menerapkannya adalah sama seperti seseorang yang melihat kecermin lalu melupakan apa yang telah dilihat. Yakobus 1:22-24, 22Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. 23Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat- amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. 24Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya.” Bagaimana dengan kita? Apakah kita ingin memperbaiki “penampilan” kita menjadi lebih baik? Terima kasih Tuhan untuk firmanMu pagi hari ini. Bimbing kami ketika kami membaca firmanMu untuk semakin peka mendengar suaraMu, beri hati yang taat, untuk kami melakukanNya. Amin.

Xavier Quentin Pranata
Kebijaksanaan merupakan ibu segala kebajikan.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Minggu, 27 November 2016. PENGHARAPAN MESIANIK. Sesungguhnya, seorang raja akan memerintah menurut kebenaran, dan pemimpin-pemimpin akan memimpin menurut keadilan (Yesaya 32:1). Manusia selalu membutuhkan pengharapan mesianik, bahwa kelak akan datang seseorang yagn membawa kebebasan, keadilan, dan kebenaran yang sejati. Orang di Jawa terbiasa dengan konsep Ratu Adil, misalnya. Kebutuhan ini biasanya muncul kala kehidupan amat mengecewakan. Di situ muncullah pengharapan tentang masa depan yang lebih baik. Ini bukan sekadar soal psiko-sosiologis, tetapi juga masalah iman. Yesaya 32 adalah bagian kitab Yesaya yang ditulis sebelum Kerajaan Yehuda ditaklukkan dan orang-orangnya dibuang ke Babel. Isinya kebanyakan tentang peringatan: bila hidup umat tidak berubah, akan datang penghukuman. Ada masalah dalam kehidupan umat sehingga mereka diperingatkan, namun sekaligus memiliki harapan pada masa depan, tentang situasi ketika “yang buta melihat, yang tuli menyimak, yang terburu nafsu menjadi bijak”. Di masa itu kontradiksi antara yang murtad dan yang berbudi luhur akan jelas baik dalam rancangan maupun tindakan (ay. 3). Inilah pengharapan mesianik Yesaya. Bagi kita, pengharapan mesianik itu telah terpenuhi dalam diri dan karya Yesus Kristus, sang Raja yang Adil dan Benar. Masalahnya, apakah kita yang beriman kepada-Nya telah juga menjadi adil dan benar dalam rancangan dan tindakan? Kiranya kita yang telah mengalami sang Mesias, yang telah mengalami kasih dan keadilan Kristus, juga mewartakan dan menyatakan keadilan dan kebenaran bagi sesama manusia. Kiranya semakin banyak orang yang mengalami pemenuhan pengharapan mesianik ini. MAMPUKAH KITA MENJADI PEMBAWA HARAPAN YANG BAIK BAGI SESAMA? Selamat pagi. Selamat beribadah. Selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati.

No comments:

Post a Comment