MAN
IN THE MIRROR
Kekuatan
dalam Kelemahan. 2
Korintus 12:10, “Karena
itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di
dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena
Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.”
Setiap hari kita berjuang melawan semua kelemahan-kelemahan kita dari
berbagai keadaan yang kadang membuat kita frustasi. Namun kita bisa
menyakini bahwa Allah selalui setia pada janji-janjiNya, untuk
memelihara kita, memberi kita kekuatan dan kita pun dapat belajar
untuk tetap percaya dan disaat kita lemah kita KUAT. Amin. Terima
kasih Tuhan, Engkaulah yang telah berjanji untuk selalu bersamaku,
disaat aku lemah, maka aku KUAT, aku tak perlu takut, karena
Engkaulah Allahku, tenangkanlah aku dengan kasihMu. Amin.
Madam
Ossy
SAAT
TEDUH. Sabtu, 26 November 2016. PENYERTAAN TUHAN. Tetapi TUHAN
menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil
dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir
itu (Kejadian 39:2). Ketika kehidupan berlangsung mulus, saya merasa
sukses dan bahagia, lebih gampang bagi saya mengakui bahwa Tuhan
memeluk saya. Sebaliknya, ketika kehidupan berkelok tidak seperti
yang saya harapkan, masalah muncul susul-menyusul, saya jadi gampang
gusar dan kehilangan damai sejahtera. Apakah Anda juga begitu? Kisah
Yusuf menolong saya mendapatkan perspektif lain tentang penyertaan
Tuhan. Ketika Yusuf menerima jubah mahaindah (Kej. 37:3), penulis
Kitab Kejadian tidak berkomentar bahwa Tuhan menunjukkan
kemurahan-Nya kepada Yusuf. Ketika Yusuf mendapatkan mimpi-mimpi yang
menggairahkan hatinya (Kej. 37:5, 9), penulis juga tidak menegaskan
bahwa mimpi itu berasal dari Tuhan. Namun, ketika Yusuf dikhianati
saudara-saudaranya, terpisah dari ayah yang sangat menyayanginya,
menjadi budak bagi orang asing di negeri yang jauh, penulis secara
khusus membubuhkan, “Tetapi TUHAN menyertai Yusuf” (ay. 2).
Kemudian, ketika Yusuf difitnah oleh Nyonya Potifar, dan Potifar
tidak membelanya, namun malah murka, dan melemparkan Yusuf ke
penjara, kembali penulis secara khusus menambahkan catatan, “TUHAN
menyertai Yusuf”-kali ini sebanyak dua kali (ay. 21, 23)! Allah
kita itu Imanuel: Dia senantiasa menyertai kita. Dia tidak pernah
meninggalkan kita, tidak pernah membiarkan kita seorang diri (Ibr.
13:5). Saya yang perlu belajar menyadari penyertaan Tuhan bukan hanya
di tempat yang jernih dan terang, melainkan juga di tempat yang
remang atau malah gelap gulita. TUHAN BUKAN HANYA MENYERTAI KITA DI
PADANG YANG BERUMPUT HIJAU, MELAINKAN JUGA DI DALAM KEKELAMAN LEMBAH
BAYANG-BAYANG MAUT. Selamat pagi. Selamat berakhir pekan. Tuhan Yesus
memberkati.
Xavier
Quentin Pranata
“Kita
begitu tergesa-gesa menjalani kehidupan sehingga lupa mendongak ke
atas untuk mengucap syukur.” Xavier Quentin Pranata.

No comments:
Post a Comment