MAN
IN THE MIRROR
Ibrani
11:1, “Iman
adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari
segala sesuatu yang tidak kita lihat.”
Sebagai pengikut Kristus, kita termasuk “yang tidak melihat”
tetapi TETAP PERCAYA
itulah IMAN. Sekalipun tidak ada dasar untuk PERCAYA kita dapat
berseru: Tolonglah aku yang TIDAK PERCAYA ini! (Markus 9:24). Adakah
kita punya IMAN saat ini? “Berbahagialah mereka yang tidak melihat,
namun PERCAYA” (Yoh 20:29b). Amin.
Xavier
Quentin Pranata
“Saat
kenyang, ingatlah saat lapar. Saat lapar, ingatlah saat kenyang.
Mengendalikan diri dan harapapanlah yang membuat nadi kehidupan tetap
berdenyut.” Xavier Quentin Pranata.
Madam
Ossy
SAAT
TEDUH. Kamis, 10 November 2016. IDENTITAS PENUH CINTA. Dan mereka
disukai semua orang (Kisah Para Rasul 2:47). Identitas adalah hal
signifikan yang mencirikan diri kita. Sebagian dari identitas itu
dari sono-nya, misalnya: Petrovsky orang Rusia, 193 cm, golongan
darah A, mata biru. Identitas jenis ini kita terima begitu saja, kita
tak mungkin memilih. Ada identitas jenis lain: identitas moral, yakni
kecondongan moral kita dalam menghadapi persoalan: pemaaf atau
pendendam; mementingkan kesejahteraan bersama atau egois; dan
sebagainya. Identitas moral bukan karakter bawaan. Ia kita miliki
hanya jika kita memilihnya, merangkulnya, dan mempertahankannya. Para
pengikut Kristus “disukai semua orang” (ay. 47). Tentu saja, ada
juga orang, misalnya kaum Farisi, yang membenci mereka. Tetapi,
memang, banyak orang menyukai mereka. Pertanyaannya: apa yang membuat
mereka disukai banyak orang? Mereka peduli, suka berbagi (ay. 44-46);
berasal dari berbagai latar belakang, tetapi selalu berkumpul bersama
(ay. 42, 46), menerima semua orang tanpa membeda-bedakan, menghargai
semua tanpa kecuali, dan merealisasikan kasih dengan nyata. Identitas
moral yang penuh cinta. Itulah kuncinya. Sejak dahulu, kemajemukan
menjadi ujian berat bagi hubungan antarmanusia. Absennya identitas
moral yang penuh cinta telah berulang kali melahirkan tindakan
mengerikan: diskriminasi, penolakan, marginalisasi, bahkan eliminasi.
Maka, karena identitas moral adalah soal pilihan, kepada kita
ditanyakan: Maukah kita memilih identitas moral yang penuh cinta
sebagai identitas kita? IDENTITAS MORAL YANG PENUH CINTA ADALAH
SYARAT DAN PEREKAT KEBERSAMAAN DALAM KEMAJEMUKAN. Selamat pagi. Tuhan
Yesus memberkati.

No comments:
Post a Comment