Thursday, 10 November 2016

10 November 2016

MAN IN THE MIRROR




Ibrani 11:1, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Sebagai pengikut Kristus, kita termasuk “yang tidak melihat” tetapi TETAP PERCAYA itulah IMAN. Sekalipun tidak ada dasar untuk PERCAYA kita dapat berseru: Tolonglah aku yang TIDAK PERCAYA ini! (Markus 9:24). Adakah kita punya IMAN saat ini? “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun PERCAYA” (Yoh 20:29b). Amin.

Xavier Quentin Pranata
Saat kenyang, ingatlah saat lapar. Saat lapar, ingatlah saat kenyang. Mengendalikan diri dan harapapanlah yang membuat nadi kehidupan tetap berdenyut.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Kamis, 10 November 2016. IDENTITAS PENUH CINTA. Dan mereka disukai semua orang (Kisah Para Rasul 2:47). Identitas adalah hal signifikan yang mencirikan diri kita. Sebagian dari identitas itu dari sono-nya, misalnya: Petrovsky orang Rusia, 193 cm, golongan darah A, mata biru. Identitas jenis ini kita terima begitu saja, kita tak mungkin memilih. Ada identitas jenis lain: identitas moral, yakni kecondongan moral kita dalam menghadapi persoalan: pemaaf atau pendendam; mementingkan kesejahteraan bersama atau egois; dan sebagainya. Identitas moral bukan karakter bawaan. Ia kita miliki hanya jika kita memilihnya, merangkulnya, dan mempertahankannya. Para pengikut Kristus “disukai semua orang” (ay. 47). Tentu saja, ada juga orang, misalnya kaum Farisi, yang membenci mereka. Tetapi, memang, banyak orang menyukai mereka. Pertanyaannya: apa yang membuat mereka disukai banyak orang? Mereka peduli, suka berbagi (ay. 44-46); berasal dari berbagai latar belakang, tetapi selalu berkumpul bersama (ay. 42, 46), menerima semua orang tanpa membeda-bedakan, menghargai semua tanpa kecuali, dan merealisasikan kasih dengan nyata. Identitas moral yang penuh cinta. Itulah kuncinya. Sejak dahulu, kemajemukan menjadi ujian berat bagi hubungan antarmanusia. Absennya identitas moral yang penuh cinta telah berulang kali melahirkan tindakan mengerikan: diskriminasi, penolakan, marginalisasi, bahkan eliminasi. Maka, karena identitas moral adalah soal pilihan, kepada kita ditanyakan: Maukah kita memilih identitas moral yang penuh cinta sebagai identitas kita? IDENTITAS MORAL YANG PENUH CINTA ADALAH SYARAT DAN PEREKAT KEBERSAMAAN DALAM KEMAJEMUKAN. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.

No comments:

Post a Comment