HIGHER &
DEEPER
2
Tim 3:16, “16Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat
untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan
untuk mendidik orang dalam kebenaran. 17Dengan demikian tiap-tiap
manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” Firman
Allah yang diilhami adalah ungkapan dari hikmat Allah, dengan demikian dapat
memberi hikmat & hidup rohani melalaui IMAN kepada Kristus. Alkitab/firman
Allah juga akan bersuara kepada
kita secara pribadi, baik mengajar, menegur, meneguhkan, bahkan memperlengkapi
kita dalam setiap perbuatan baik. Firman Allah adalah ROTI HIDUP
(Matius 4:4) bagi setiap kita yang membutuhkan. Amin.
Samuel
Sianto-Yestoya Ministry
Maz
145:18 – TUHAN dekat pada setiap orang yang berdoa kepada-NYA, pada setiap
orang yang berdoa kepada-NYA dalam kesetiaan! Yuk doa jangan bosan. Pasti
dijawab! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.
Worship
Center Surabaya
Perintah
Tuhan utuk mengasihi merupakan keharusan. Suatu kewajiban bagi kita yang ingin
mengikut Tuhan dengan benar. Mengetahui apa makna sesungguhnya dari kasih beserta
praktek-praktek nyatanya sangat esensial agar kita tidak menipu diri kita
sendiri & menganggap diri kita telah cukup mengasihi Tuhan & manusia.
Ciri kasih yang kedua, yang disebutkan Paulus dalam 1 Korintus 13:4 ialah
“kasih itu…murah hati” -yang sebetulnya berdasar bahasa aslinya lebih tepat
digambarkan sebagai ‘baik hati’ yaitu sikap yang lembut; tidak menyakiti
perasaan orang lain secara sengaja; penuh pertimbangan & penghargaan
terhadap pribadi lain; yang ditandai dengan tingkah laku santun (yang tulus)
dalam memperlakukan orang lain. Ini merupakan kebalikan dari sikap-sikap yang
kasar; tajam menyerang dengan gerak gerik, kata-kata & perbuatan; tidak
ramah; cenderung merusak suasana hati orang lain atau sekitarnya; perilaku yang
tidak membawa kebaikan atau keuntungan bagi apapun & siapapun, bahkan
menyebabkan rasa tidak senang di hati. Mengamati kitab suci dengan seksama,
tampak bahwa sikap demikianlah yang Tuhan tunjukkan pada manusia. Teguran &
hajaran Tuhan tiada pernah dimaksudkan menghancurkan manusia -jika mereka mau
bertobat dari kelakuan mereka yang jelas-jelas keras, kejam & tidak peduli
pada Tuhan atau sesamanya. Saat kita mengasihi Tuhan maka hati kita tak akan
dingin atau tak ramah pada-Nya. Hati kita lembut & penuh penghargaan pada-Nya
yang telah sangat menyayangi kita itu. Begitupun tehadap orang lain. Kata-kata
orang yang sungguh mengasihi itu ramah penuh berkat, sikapnya mengangkat &
bukan merendahkan orang. Meski tidak selalu yang sopan ialah orang yang penuh
kasih, namun mereka yang mengasihi berusaha menjaga perkataan & tingkah
langkahnya supaya tidak melukai & mendatangkan rasa sakit atau kerusakan
yang tidak perlu. Mari menguji kasih kita. Sudahkah hidup kita menyatakan
kelembutan & keramahan? Atau jika sudah, adakah itu muncul dari hati
terdalam, bukan hanya di depan orang tapi di
hadapan Tuhan juga? Salam revival! GBU.
Tante
Elisabeth – NTT
Ya
amin! MERUBAH ANCAMAN MENJADI PUJIAN. Yesus dan murid-muridNya diundang juga
keperkasinan itu (Yohanes 2:2). Orang mengatakan bahwa tahun-tahun yang akan
datang merupakan tahun yang penuh dengan ancaman, kesulitan hidup yang
meningkat, kejahatan, penyakit dan lain-lain menjadi momokyang mengerikan.
Semua orang punya potensi untuk mengalami ancaman. Mempelajari pria dalam kisah
perkawinan di Kana mengalami ancaman dipermalukan akibat kehabisan air anggur.
Namun diakhir kisah diceritakan bahwa ancaman itu akhirnya diubah menjadi
pujian. Peristiwa serupa mungkin bisa terjadi di tahun ini. Ada ancaman atau
potensi petaka yang bisa mengganggu. Namun Firman Tuhan hari ini mengajar kita
cara merubah ancaman menjdi pujian. Hal utama yang harus kita lakukan untuk
merubah ancaman menjadi pujian adalah mengundang Yesus hadir dalam hidup kita.
Ketika ada Yesus, selalu ada mujizat saat ada Yesus disitu, ada pertolongan,
bersama Yesus ada kemenangan. Kehadiran Yesus membawa dampak yang luar biasa.
Amin. Happy Friday, happy day. Jbu all.
Bp.
Budi – PT. Multipack Unggul
I
Raja-Raja 17:12 – Perempuan itu menjawab: “Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup,
sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikit pun, kecuali segenggam tepung dalam
tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang
mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya
bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati.”
Tetapi Elia tetap meminta janda itu untuk membuat roti baginya seraya berkata
bahwa Tuhan akan memelihara mereka. Ibu janda itu percaya kepada janji-janji
Tuhan yang disampaikan oleh nabi Elia. Ia mengalahkan logikanya dengan iman. Ia
menyerahkan hidupnya kepada Tuhan bahwa Tuhan sanggup memelihara dan memenuhi
kebutuhannya. Benar saja, ketika ia taat pada firman Tuhan maka tepung dan
minyak itu tidak habis sampai masa kelaparan berlalu. I Raja-Raja 17:15-16 –
Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka
perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu
lamanya. Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu
tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan
Elia. Kisah ini mengingatkan saya pada suatu kejadian yang terjadi kira-kira
hampir 3 tahun yang lalu. Ada seorang ibu janda datang ke rumah meminta uang
kepada kami untuk ongkos perjalanan ke suatu kota karena di kota itu anaknya
sudah mendapat pekerjaan. Ibu ini adalah seorang janda yang sangat susah dan
biasanya paling tidak sebulan sekali saya beserta istri datang ke rumahnya
mengantar sedikit bahan makanan seperti beras dan kebutuhan pokok lainnya,
tetapi kali ini dia yang datang. Jujur, pada saat itu kami tidak memiliki uang.
Justru pada saat itu kami juga sedang berada dalam kesulitan karena baru
membayar kontrakan rumah. Istri saya sudah memberi penjelasan kepada ibu itu
bahwa saat ini kami benar-benar tidak punya uang bahkan untuk membeli susu anak
saja tidak cukup lagi sambil menunjukkan dompetnya yang hanya berisi beberapa
lembar uang ribuan untuk menunjukkan bahwa kami benar-benar tidak punya uang.
Itu hal yang tidak pernah kami lakukan sebelumnya dan sebenarnya tidak etis
untuk dilakukan. Namun dengan menangis si ibu itu tetap memohon kepada kami
dengan alasan hanya kamilah yang diharapkannya karena orang lain tidak ada yang
mau menolongnya bahkan ia memberikan kain gorden rumahnya yang sudah kusam.
Melihat itu saya dan istri terenyuh, Istri bertanya kepada saya ada berapa uang
di dompet saya. Saya pergi kekamar, saya lihat di dalam dompet saya hanya ada
uang beberapa puluh ribu, tidak sampai seratus ribu. Dengan menangis saya
berdoa kepada Tuhan apa yang harus saya lakukan. Apakah saya harus menyerahkan
uang itu padahal tinggal itulah uang kami. Dengan lembut ada suara di hati saya
yang berkata, “berikan saja, jangan kuatir akan apa yang kamu makan dan minum.
Tuhanmu akan memenuhi segala keperluanmu”. Akhirnya uang itu kami berikan, yang
tersisa di dompet saya hanya tinggal sepuluh ribu rupiah itupun untuk beli
bensin motor yang biasa saya pakai untuk bekerja. Kami hanya mengimani bahwa
kami tidak akan kelaparan dan meminta-minta. Dan benar Tuhan menepati janjinya,
besoknya kami memperoleh uang yang jumlahnya jauh lebih besar dari yang kami
berikan. Oleh sebab itu jika ingin memberi janganlah menunggu sampai memiliki
banyak uang dulu, jika saat ini saudara digerakkan untuk memberi, berilah
dengan tulus. Ingat, Tuhan sangat memperhatikan orang yang memberi dari
kekurangannya dari pada orang yang memberi dari kelebihannya. Tuhan tidak
melihat besar yang kita beri, tetapi Tuhan melihat seberapa besar hati kita
memberi. Percayalah bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kita menjadi orang yang
meminta-minta. Mazmur 37:25 – Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua,
tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya
meminta-minta roti.

No comments:
Post a Comment