Saturday, 16 January 2016

16 Januari 2016



HIGHER & DEEPER




1 Petrus 1:23-25, 23Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal. 24Sebab: ‘Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur. 25tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya.’ Inilah firman yang disampaikan Injil kepada kamu.” Amin. Segala Kemuliaan dan Keberhasilan manusia seperti: Kebudayaan, Sains & Filsafat, bisa muncul dan bisa juga tiba-tiba hilang (Maz 90:5-10). Tetapi Firman Allah tetap untuk selama-lamaNya. Amin. Saat kita membaca dan merenungkan firman, kita sedang menanam benih firmanNya. Benih yang ditabur  ditanah hati yang baik pasti berbuah, berlipat kali ganda.

Worship Center Surabaya
Selama-lamanya kita harus bersyukur atas kasih karunia Tuhan yang dianugerahkan pada kita. Atas sifatnya yang cuma-cuma itu, atas kelimpahannya & atas tak berkesudahannya. Tanpa kasih karunia, kita binasa & mustahil jadi waris sorga. Hanya saja, apakah sesungguhnya tujuan kasih karunia itu diberikan selagi kita hidup di dunia? Apakah hanya untuk membuat kita nyaman, bebas rasa bersalah, menikmati hidup sebebas-bebasnya atau untuk menjadi penjamin kesuksesan yang kita angankan & rencanakan bagi diri kita sendiri? Apakah Tuhan hadir sebagai roh ajaib yang mengabulkan setiap permintaan kita, atas dasar bahwa kita ini makhluk-makhluk yang dikasihi-Nya? Paulus, yang hidupnya dikuasai & digerakkan oleh kasih karunia Tuhan, berkata, “..Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” (2 Kor. 5:14-15). Kristus telah mati untuk semua orang & menanggung hukuman mereka supaya mereka tidak lagi binasa (inilah kasih karunia itu) supaya SETIAP ORANG AKHIRNYA BEROLEH KESEMPATAN MENJALANI HIDUP YANG TERBAIK: HIDUP BAGI KRISTUS. Inilah tujuan kasih karunia itu! Lalu apakah hidup bagi Kristus yang dimaksud Paulus itu? Tak disangsikan lagi, hidup bagi Kristus ialah hidup yang dimaksud oleh Kristus sebagai “mengikut Aku” dimana seseorang harus “menyangkal diri, memikul salib lalu mengikut Dia” serta melepaskan ikatan-ikatan (hati) atas segala sesuatu. Anak muda yang kaya dipanggil mengikut Kristus & pulang dengan sedih sebab berat akan hartanya yang banyak itu (Mat. 19:21-22). Memang, mengikut Kristus tidak pernah mudah. Itu sebabnya kita memerlukan kasih karunia-Nya yang melebihi hidup & melampaui segala yang berharga menurut pandangan dunia. Kasih karunia Tuhan akan menopang saat kita lemah; memperbesar kapasitas kita untuk mengasihi Tuhan & taat akan setiap petunjuk firman-Nya; bahkan untuk hidup dalam kehendak-Nya sepanjang umur kita. Setujukah Anda? Salam revival! GBU.

Xavier Quentin Pranata
“Mari buang ketakutan kemarin jauh-jauh ke belakang dan hadapi dengan penuh keberanian masa depan yang cemerlang.” Xavier Quentin Pranata.

Samuel Sianto-Yestoya Ministry
Maz 145:3 – Besarlah TUHAN dan sangat terpuji, juga kebesaran-NYA tidak terduga! Wow, hal-hal yang ajaib dan luar biasa pasti kita alami bersama YESUS. Dahsyat! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Sabtu, 16 Januari 2016. Hidup Dalam Taurat. Sebab dosa tidak akan berkuasa lagi atas kamu, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah anugerah (Roma 6:14). Pacar pertama saya dulu wanita yang saya kenal di gereja. Karena belum punya pengalaman, hubungan kami itu dibangun dengan dasar “boleh-tidak” dan “harus”. Kami membuat daftar apa saja yang boleh dan tidak boleh serta kewajiban yang harus dikerjakan. Bila salah satu dari kami ada yang melanggar kesepakatan, pasti terjadi keributan. Hubungan kami pun penuh ketegangan dan rapuh. Hal yang sama tanpa kita sadari terjadi dalam hubungan kita dengan Tuhan. Kita menjalani hubungan dengan Tuhan berdasarkan “kewajiban”. Kita berpikir, “Saya harus berdoa setiap hari, baca Alkitab sekian pasal, rajin ke gereja, kalau tidak Dia akan marah dan tidak memberkati saya.” Kita berada di bawah hukum Taurat, dan bukan dalam kasih karunia. Hubungan semacam itu melelahkan, karena berfokus pada usaha menyenangkan Dia dengan kekuatan sendiri. Padahal, sampai kapan pun kita tidak akan pernah bisa menyenangkan Dia dengan usaha kita atau membuat Dia memberkati kita karena perbuatan kita. Karena itulah Yesus datang dan menggenapi hukum Taurat (Mat. 5:17), supaya kita bisa lepas dari kuk hukum Taurat dan hidup dalam kasih karunia-Nya. Kasih karunia berarti Allah menerima kita berdasarkan karya penebusan Kristus, bukan usaha kita. Jadi apa yang perlu kita lakukan? Berhentilah berusaha menyenangkan Allah dengan usaha kita sendiri; sebaliknya, bersyukurlah karena Dia sudah berkenan kepada kita. Kasih karunia-Nya itulah yang akan mengajar dan memampukan kita hidup menurut kebenaran-Nya —DP. ALLAH TIDAK MENDASARKAN HUBUNGAN DENGAN KITA PADA HUKUM TAURAT, MELAINKAN PADA KASIH KARUNIA. Selamat pagi. Selamat berakhir pekan. Tuhan Yesus memberkati.

No comments:

Post a Comment