HIGHER &
DEEPER
Yesaya
40:6-8, “6Ada suara yang berkata: ‘Berserulah!’ Jawabku: ‘Apakah
yang harus kuserukan?’ ‘Seluruh umat manusia adalah seperti rumput dan semua
semaraknya seperti bunga di padang. 7Rumput menjadi kering, bunga
menjadi layu, apabila TUHAN menghembusnya dengan nafas-Nya. Sesungguhnyalah
bangsa itu seperti rumput. 8Rumput menjadi kering, bunga menjadi
layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya.’” Semua yang hidup
adalah ciptaan yang rapuh & lemah sehingga pada kesudahannya akan
berakhir, tetapi Firman Alllah tetap untuk selama-lamanya, janji-janjiNya akan
digenapi, penebusanNya tidak dapat dibatalkan/diubah. Oleh karena hidup ini
seperti rumput, sebentar saja akan layu/berakhir. Biarlah kita mau hidup untuk
menjadi alat kemuliaanNya atau berdampak & berguna bagi Tuhan & sesama .
Amin.
Samuel
Sianto-Yestoya Ministry
Yer
29:12 – Apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada TUHAN, maka TUHAN
akan mendengarkan dan menjawabmu! Berseru pada YESUS. Percayalah DIA sanggup
menolong kita, doa kita pasti dijawab. Yukkk doa! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA
Ministry.
Xavier
Quentin Pranata
“Ketimbang
melihat terus jam yang berdetak, jauh lebih baik jika tangan terus bergerak dan
kaki mulai menapak.” Xavier Quentin Pranata.
Madam
Ossy
SAAT
TEDUH. Jumat, 22 Januari 2016. Warna yang Sejati. Sebab kamu tahu bahwa ujian
terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan (Yakobus 1:3). Sekian waktu lalu, di
berbagai tempat di Indonesia terjadi heboh batu akik. Ada berbagai macam jenis
dan ragam warna. Batu akik bisa tampak mengkilap dan memunculkan warna nan
indah setelah melewati proses pemotongan dan penghalusan oleh ahlinya. Dari
semula berupa bongkahan batu menjadi benda istimewa dan berharga. Kehidupan
kita kadang kala—bahkan kerap—mengalami ujian, baik secara pribadi, di tengah
keluarga, maupun di tengah pekerjaan. Kepada orang kristiani, Yakobus berkata
bahwa siapa pun dapat mengalami ujian iman. Ada yang “gugur” di tengah jalan,
tetapi ada pula yang berhasil melaluinya dan menghasilkan ketekunan (ay. 3).
Alkitab versi The Message mencatat ayat ini secara menarik: “Ujian akan
mengasah kita hingga kita dapat menampakkan warna kita yang sebenarnya—yang
sejati (shows its true colors).” Sungguh luar biasa ‘jasa’ ujian iman bagi
kita, bukan? Untuk diri sendiri, bahkan bagi orang lain di sekeliling kita.
Kebenaran tersebut memperluas lagi pemahaman saya akan peran orang Kristen di
dalam dunia: bahwa melalui ujian, kesulitan, dan tantangan hidup, kita sedang
diasah sehingga kita dapat mewarnai dunia, menampakkan warna-warna sejati nan
indah. Warna-warna yang membuat orang tertarik kepada hidup dan Tuhan yang kita
sembah. Keindahan warna seperti apa yang ingin kita tampakkan dari setiap ujian
iman yang sudah dan sedang kita hadapi, yang akan membuat orang lain melihat
bagaimana Kristus berkarya, mengasah kita? —AHW. MELALUI UJIAN IMAN KITA DIASAH
SEHINGGA MENAMPAKKAN WARNA NAN INDAH. Selamat pagi. Mengucaplah syukur selalu.
Tuhan Yesus memberkati.
Worship
Center Surabaya
Mungkin
tidak ada yang mengira bahwa kasih sejati berhubungan dengan ucapan atau tindakan
yang tidak membesar-besarkan diri. Ya, dalam 1 Korintus 13:4 Paulus menuliskan
bahwa “kasih itu… tidak memegahkan diri.” Dari makna bahasa aslinya, yang
dimaksud ‘memegahkan diri’ ialah ‘memamerkan diri’, ‘memberikan berbagai
keterangan tambahan (yang belum tentu benar) untuk mengunggul-ngunggulkan
diri’. Makna lain yang termasuk di dalamnya dari berbagai versi Alkitab antara
lain ‘membual’, ‘besar cakap’, ‘berlagak (seperti orang penting)’. Dengan kata
lain, jika kita mengaku memiliki kasih sejati pada Tuhan & sesama, maka
dari perkataan & perbuatan kita tidak akan memuji diri atau bahkan
membesar-besarkan diri supaya tampak mengesankan di depan orang. Mengapa
demikian? Karena dengan membesarkan diri, sadar ataupun tidak, kita telah
mengecilkan pribadi-pribadi yang lain, entah Tuhan atau orang lain. Yang
mengasihi Tuhan, akan memuliakan & meninggikan Tuhan. Sebab demikianlah
adanya Yang Mahakuasa itu. Dari karya-karya-Nya, baik di alam semesta atau demi
keselamatan manusia-manusia yang dikasihi-Nya, sungguh Dia saja yang layak
menerima segala peninggian & hormat. Juga jika kita mengasihi sesama, maka
kita akan mengutamakan orang lain daripada kita. Yang membanggakan diri,
apalagi atas hal-hal yang tidak sesuai dengan kenyataan, secara tidak langsung menyatakan
dirinya lebih baik atau lebih utama dari orang lain. Inilah bentuk yang sangat
kuat akan kasih pada diri sendiri. Dan bukan kebetulan budaya narsisme menjadi
ciri-ciri orang akhir zaman yang kasihnya pada yang lain telah menjadi dingin
(Mat. 24:12). Inilah yang ditampilkan para kekasih-kekasih Tuhan sebagaimana
digambarkan dalam kitab suci. Daud menyebut dirinya ‘anjing mati’ & ‘kutu’
di hadapan Saul yang dengan mudah dapat dibunuhnya (1 Sam. 24:15). Pula Daniel
atau Yusuf, di hadapan raja-raja yang mengagumi hikmat mereka, merendah sambil
mengembalikan kemuliaan pada nama Allah Israel yang dahsyat itu (Kej. 41:16,25; Dan. 2:27-28,47). Sudah seperti
itukah kasih Anda? Salam revival! GBU.
Tante
Elisabeth – NTT
Thank
God for what you have, trust God for what you need »Anonymous«. Berterimakasih
kepada Tuhan atas apa yang anda miliki, percaya kepada Tuhan atas apa yang anda
butuhkan »Anonim«. Filipi 4:19, ‘Allahku akan memenuhi segala keperluanmu
menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.’ Sebagai anak Tuhan
kita harus bisa membedakan antara bersyukur karena percaya, dengan percaya
karena terpaksa, orang yang merasa dipaksa iman percaya-nya pasti tidak tulus
dan mudah luntur. Orang yang memiliki rasa terima kasih pada Allah pasti setia
dan taat, tidak dipengaruhi oleh situasi dan keadaan, hujan atau panas, kaya
atau miskin, senang atau susah tetap bersyukur dan percaya kepada Tuhan.
Imannya tidak pernah goyah, tidak pernah kuatir akan apa yang harus dimakan
besok, percaya kepadaNya bahwa Dia Allah yang akan mencukupkan segala kebutuhan
hidupnya.

No comments:
Post a Comment