Friday, 22 January 2016

22 Januari 2016



HIGHER & DEEPER




Yesaya 40:6-8, 6Ada suara yang berkata: ‘Berserulah!’ Jawabku: ‘Apakah yang harus kuserukan?’ ‘Seluruh umat manusia adalah seperti rumput dan semua semaraknya seperti bunga di padang. 7Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, apabila TUHAN menghembusnya dengan nafas-Nya. Sesungguhnyalah bangsa itu seperti rumput. 8Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya.’” Semua yang hidup adalah ciptaan yang rapuh & lemah sehingga pada kesudahannya akan berakhir, tetapi Firman Alllah tetap untuk selama-lamanya, janji-janjiNya akan digenapi, penebusanNya tidak dapat dibatalkan/diubah. Oleh karena hidup ini seperti rumput, sebentar saja akan layu/berakhir. Biarlah kita mau hidup untuk menjadi alat kemuliaanNya atau berdampak & berguna bagi Tuhan & sesama . Amin.

Samuel Sianto-Yestoya Ministry
Yer 29:12 – Apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada TUHAN, maka TUHAN akan mendengarkan dan menjawabmu! Berseru pada YESUS. Percayalah DIA sanggup menolong kita, doa kita pasti dijawab. Yukkk doa! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Xavier Quentin Pranata
“Ketimbang melihat terus jam yang berdetak, jauh lebih baik jika tangan terus bergerak dan kaki mulai menapak.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Jumat, 22 Januari 2016. Warna yang Sejati. Sebab kamu tahu bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan (Yakobus 1:3). Sekian waktu lalu, di berbagai tempat di Indonesia terjadi heboh batu akik. Ada berbagai macam jenis dan ragam warna. Batu akik bisa tampak mengkilap dan memunculkan warna nan indah setelah melewati proses pemotongan dan penghalusan oleh ahlinya. Dari semula berupa bongkahan batu menjadi benda istimewa dan berharga. Kehidupan kita kadang kala—bahkan kerap—mengalami ujian, baik secara pribadi, di tengah keluarga, maupun di tengah pekerjaan. Kepada orang kristiani, Yakobus berkata bahwa siapa pun dapat mengalami ujian iman. Ada yang “gugur” di tengah jalan, tetapi ada pula yang berhasil melaluinya dan menghasilkan ketekunan (ay. 3). Alkitab versi The Message mencatat ayat ini secara menarik: “Ujian akan mengasah kita hingga kita dapat menampakkan warna kita yang sebenarnya—yang sejati (shows its true colors).” Sungguh luar biasa ‘jasa’ ujian iman bagi kita, bukan? Untuk diri sendiri, bahkan bagi orang lain di sekeliling kita. Kebenaran tersebut memperluas lagi pemahaman saya akan peran orang Kristen di dalam dunia: bahwa melalui ujian, kesulitan, dan tantangan hidup, kita sedang diasah sehingga kita dapat mewarnai dunia, menampakkan warna-warna sejati nan indah. Warna-warna yang membuat orang tertarik kepada hidup dan Tuhan yang kita sembah. Keindahan warna seperti apa yang ingin kita tampakkan dari setiap ujian iman yang sudah dan sedang kita hadapi, yang akan membuat orang lain melihat bagaimana Kristus berkarya, mengasah kita? —AHW. MELALUI UJIAN IMAN KITA DIASAH SEHINGGA MENAMPAKKAN WARNA NAN INDAH. Selamat pagi. Mengucaplah syukur selalu. Tuhan Yesus memberkati.

Worship Center Surabaya
Mungkin tidak ada yang mengira bahwa kasih sejati berhubungan dengan ucapan atau tindakan yang tidak membesar-besarkan diri. Ya, dalam 1 Korintus 13:4 Paulus menuliskan bahwa “kasih itu… tidak memegahkan diri.” Dari makna bahasa aslinya, yang dimaksud ‘memegahkan diri’ ialah ‘memamerkan diri’, ‘memberikan berbagai keterangan tambahan (yang belum tentu benar) untuk mengunggul-ngunggulkan diri’. Makna lain yang termasuk di dalamnya dari berbagai versi Alkitab antara lain ‘membual’, ‘besar cakap’, ‘berlagak (seperti orang penting)’. Dengan kata lain, jika kita mengaku memiliki kasih sejati pada Tuhan & sesama, maka dari perkataan & perbuatan kita tidak akan memuji diri atau bahkan membesar-besarkan diri supaya tampak mengesankan di depan orang. Mengapa demikian? Karena dengan membesarkan diri, sadar ataupun tidak, kita telah mengecilkan pribadi-pribadi yang lain, entah Tuhan atau orang lain. Yang mengasihi Tuhan, akan memuliakan & meninggikan Tuhan. Sebab demikianlah adanya Yang Mahakuasa itu. Dari karya-karya-Nya, baik di alam semesta atau demi keselamatan manusia-manusia yang dikasihi-Nya, sungguh Dia saja yang layak menerima segala peninggian & hormat. Juga jika kita mengasihi sesama, maka kita akan mengutamakan orang lain daripada kita. Yang membanggakan diri, apalagi atas hal-hal yang tidak sesuai dengan kenyataan, secara tidak langsung menyatakan dirinya lebih baik atau lebih utama dari orang lain. Inilah bentuk yang sangat kuat akan kasih pada diri sendiri. Dan bukan kebetulan budaya narsisme menjadi ciri-ciri orang akhir zaman yang kasihnya pada yang lain telah menjadi dingin (Mat. 24:12). Inilah yang ditampilkan para kekasih-kekasih Tuhan sebagaimana digambarkan dalam kitab suci. Daud menyebut dirinya ‘anjing mati’ & ‘kutu’ di hadapan Saul yang dengan mudah dapat dibunuhnya (1 Sam. 24:15). Pula Daniel atau Yusuf, di hadapan raja-raja yang mengagumi hikmat mereka, merendah sambil mengembalikan kemuliaan pada nama Allah Israel yang dahsyat itu (Kej.  41:16,25; Dan. 2:27-28,47). Sudah seperti itukah kasih Anda? Salam revival! GBU.

Tante Elisabeth – NTT
Thank God for what you have, trust God for what you need »Anonymous«. Berterimakasih kepada Tuhan atas apa yang anda miliki, percaya kepada Tuhan atas apa yang anda butuhkan »Anonim«. Filipi 4:19, ‘Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.’ Sebagai anak Tuhan kita harus bisa membedakan antara bersyukur karena percaya, dengan percaya karena terpaksa, orang yang merasa dipaksa iman percaya-nya pasti tidak tulus dan mudah luntur. Orang yang memiliki rasa terima kasih pada Allah pasti setia dan taat, tidak dipengaruhi oleh situasi dan keadaan, hujan atau panas, kaya atau miskin, senang atau susah tetap bersyukur dan percaya kepada Tuhan. Imannya tidak pernah goyah, tidak pernah kuatir akan apa yang harus dimakan besok, percaya kepadaNya bahwa Dia Allah yang akan mencukupkan segala kebutuhan hidupnya.

No comments:

Post a Comment