HIGHER &
DEEPER
Lukas
6:43-45, “43Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan
buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang
menghasilkan buah yang baik. 44Sebab setiap pohon dikenal pada
buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri
tidak memetik buah anggur. 45Orang yang baik mengeluarkan barang
yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat
mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang
diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.” Hati: Pusat jiwa raga
kita, menentukan perilaku lahirah kita & harus berubah/bertobat, tanpa
perubahan dalam batin kita, tak seorangpun sanggup melakukan kehendak Allah.
Amin.
Worship
Center Surabaya
Pujian
dari lagu rohani anak-anak mengatakan: Tanganku kerja buat Tuhan. Mulutku puji
nama-Nya. Kakiku berjalan cari jiwa. Upahku besar di sorga. Tampaknya sederhana
namun itulah sebenarnya ibadah yang sesungguhnya berkenan di hadapan Tuhan
sebagaimana yang dituliskan Paulus dalam Roma 12:1 “...aku menasihatkan supaya
kamu mempersembahkan TUBUHMU… itulah ibadahmu yang sejati”. Bukan persembahan
yang lain melainkan ‘persembahan tubuh’ kita. Dia tidak menginginkan uang atau
benda-benda berharga kita sebab jalanan sorga dari emas murni & pintu
gerbangnya mutiara & permata. Bahkan harta yang kita miliki berasal dari
bumi yang adalah milik-Nya! Apapun tiada diinginkan-Nya. Rumah, tanah, ternak,
atau bahkan waktu, tenaga atau kemampuan kita -jika tubuh kita tak
dipersembahkannya pada-Nya. Mengapa harus tubuh kita? Tubuh kita ialah
keberadaan kita seutuhnya selama di dunia. Dengan anggota-anggota badan kitalah
segala aktivitas dilakukan. Jika tubuh kita terganggu keadaannya karena sakit
atau lemah, apapun yang lain tidak lagi penting & berarti. Itu sebabnya
kesehatan merupakan sesuatu yang sangat berharga nilainya sebab tanpanya hidup
kita merosot nilainya. Dengan tubuh ini pula kita menjalani hari-hari kita,
bekerja atau merasakan segala kenikmatan, beribadah atau untuk melakukan
hal-hal yang jahat. Baik tidaknya kita menggunakan tubuh kita ialah ukuran
eksistensi kita di dunia nyata ini. Namun itu bukan berarti tubuh kita dibakar
(atau disakiti dalam bentuk apapun) demi menjadi persembahan ritual ibadah.
Mempersembahkan tubuh berarti menyerahkan yang terbaik yang kita miliki, yang
melebihi segala yang lain yang kita punya, yang menjadi bukti nyata di hadapan
manusia & Tuhan bahwa (hati) kita mengasihi & memuja-Nya. Kiranya
tangan, kaki, telinga, mata bahkan setiap sel-sel tubuh kita boleh menjadi
suatu kesaksian bagi kebesaran, kebaikan & kasih karunia-Nya bagi kita di
depan orang & menjadi kesukaan di hadapan-Nya! (Rom. 6:13,19). Itulah
ibadah yang tidak sia-sia di mata Allah. Bagaimana dengan ibadah Anda? Salam
revival! GBU.
Madam
Ossy
SAAT
TEDUH. Minggu, 17 Desember 2016. Harus Mengampuni? Yesus berkata kepadanya,
“Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh
puluh kali tujuh kali” (Matius 18:22). Orang itu telah menyakiti hatiku,
mengecewakanku, berbuat yang tidak baik kepadaku dan keluargaku, bahkan ia
berulang kali melakukannya. Lalu, haruskah aku mengampuninya? Pertanyaan ini
sering sekali terlintas di benak saya. Dan jika jawabannya memilih harus atau
tidak, maka saya sudah punya jawabannya. Ya, harus. Namun, sampai kapan saya
mengampuni mereka? Tuhan Yesus berkata, “Bukan sampai tujuh kali, melainkan
sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (ay. 22). Lalu, saya mulai menghitungnya:
70 x 7 = 490 kali. Saya tercengang sendiri begitu membayangkan bahwa saya harus
mengampuni orang yang telah menyakiti saya sebanyak empat ratus sembilan puluh
kali. Kemudian saya merenungkan lagi, menyelidiki, dan berusaha mencari tahu
maksud perkataan Yesus itu. Akhirnya saya memperoleh penjelasan yang
mencerahkan. Jawaban Yesus pada Petrus ketika Petrus menanyakan berapa kali ia
harus mengampuni saudaranya, bukan menunjuk kepada berapa banyak ia harus
mengampuni. Bukan hanya sebanyak 490 kali ia harus mengampuni, lalu sesudah itu
ia boleh untuk tidak mengampuni. Sebaliknya, Yesus mengajarkan kepada kita
untuk menjadikan tindakan mengampuni sebagai suatu kebiasaan. Perbuatan yang
dilakukan berulang-ulang, biasanya akan menjadi kebiasaan. Dan, mengampuni akan
menjadi tulus jika dia menjadi gaya hidup yang tulus pula. Sekarang saya jadi
lebih memahami ayat itu. Dan sekarang pilihannya ada di tangan saya. Maukah
saya membiasakan diri mengampuni? —MIA. PENGAMPUNAN BUKANLAH TINDAKAN SEKALI
JADI, MELAINKAN BUAH DARI KEBIASAAN MENGAMPUNI. Selamat pagi. Selamat
beribadah. Selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati.
Xavier
Quentin Pranata
“Jangan
datang ke rumah Tuhan dengan tangan hampa, namun dengan hati penuh cinta.”
Xavier Quentin Pranata.
Samuel
Sianto-Yestoya Ministry
Yes
43:18-19 – Jangan ingat yang dulu-dulu. Sekarang TUHAN buat yang ajaib. Apa
yaa? Buat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara. Pasti
kita alami! Selamat ibadah dan melayani! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

No comments:
Post a Comment