Sunday, 17 January 2016

17 Januari 2016



HIGHER & DEEPER



Lukas 6:43-45, 43Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. 44Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur. 45Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.” Hati: Pusat jiwa raga kita, menentukan perilaku lahirah kita & harus berubah/bertobat, tanpa perubahan dalam batin kita, tak seorangpun sanggup melakukan kehendak Allah. Amin.

Worship Center Surabaya
Pujian dari lagu rohani anak-anak mengatakan: Tanganku kerja buat Tuhan. Mulutku puji nama-Nya. Kakiku berjalan cari jiwa. Upahku besar di sorga. Tampaknya sederhana namun itulah sebenarnya ibadah yang sesungguhnya berkenan di hadapan Tuhan sebagaimana yang dituliskan Paulus dalam Roma 12:1 “...aku menasihatkan supaya kamu mempersembahkan TUBUHMU… itulah ibadahmu yang sejati”. Bukan persembahan yang lain melainkan ‘persembahan tubuh’ kita. Dia tidak menginginkan uang atau benda-benda berharga kita sebab jalanan sorga dari emas murni & pintu gerbangnya mutiara & permata. Bahkan harta yang kita miliki berasal dari bumi yang adalah milik-Nya! Apapun tiada diinginkan-Nya. Rumah, tanah, ternak, atau bahkan waktu, tenaga atau kemampuan kita -jika tubuh kita tak dipersembahkannya pada-Nya. Mengapa harus tubuh kita? Tubuh kita ialah keberadaan kita seutuhnya selama di dunia. Dengan anggota-anggota badan kitalah segala aktivitas dilakukan. Jika tubuh kita terganggu keadaannya karena sakit atau lemah, apapun yang lain tidak lagi penting & berarti. Itu sebabnya kesehatan merupakan sesuatu yang sangat berharga nilainya sebab tanpanya hidup kita merosot nilainya. Dengan tubuh ini pula kita menjalani hari-hari kita, bekerja atau merasakan segala kenikmatan, beribadah atau untuk melakukan hal-hal yang jahat. Baik tidaknya kita menggunakan tubuh kita ialah ukuran eksistensi kita di dunia nyata ini. Namun itu bukan berarti tubuh kita dibakar (atau disakiti dalam bentuk apapun) demi menjadi persembahan ritual ibadah. Mempersembahkan tubuh berarti menyerahkan yang terbaik yang kita miliki, yang melebihi segala yang lain yang kita punya, yang menjadi bukti nyata di hadapan manusia & Tuhan bahwa (hati) kita mengasihi & memuja-Nya. Kiranya tangan, kaki, telinga, mata bahkan setiap sel-sel tubuh kita boleh menjadi suatu kesaksian bagi kebesaran, kebaikan & kasih karunia-Nya bagi kita di depan orang & menjadi kesukaan di hadapan-Nya! (Rom. 6:13,19). Itulah ibadah yang tidak sia-sia di mata Allah. Bagaimana dengan ibadah Anda? Salam revival! GBU.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Minggu, 17 Desember 2016. Harus Mengampuni? Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Matius 18:22). Orang itu telah menyakiti hatiku, mengecewakanku, berbuat yang tidak baik kepadaku dan keluargaku, bahkan ia berulang kali melakukannya. Lalu, haruskah aku mengampuninya? Pertanyaan ini sering sekali terlintas di benak saya. Dan jika jawabannya memilih harus atau tidak, maka saya sudah punya jawabannya. Ya, harus. Namun, sampai kapan saya mengampuni mereka? Tuhan Yesus berkata, “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (ay. 22). Lalu, saya mulai menghitungnya: 70 x 7 = 490 kali. Saya tercengang sendiri begitu membayangkan bahwa saya harus mengampuni orang yang telah menyakiti saya sebanyak empat ratus sembilan puluh kali. Kemudian saya merenungkan lagi, menyelidiki, dan berusaha mencari tahu maksud perkataan Yesus itu. Akhirnya saya memperoleh penjelasan yang mencerahkan. Jawaban Yesus pada Petrus ketika Petrus menanyakan berapa kali ia harus mengampuni saudaranya, bukan menunjuk kepada berapa banyak ia harus mengampuni. Bukan hanya sebanyak 490 kali ia harus mengampuni, lalu sesudah itu ia boleh untuk tidak mengampuni. Sebaliknya, Yesus mengajarkan kepada kita untuk menjadikan tindakan mengampuni sebagai suatu kebiasaan. Perbuatan yang dilakukan berulang-ulang, biasanya akan menjadi kebiasaan. Dan, mengampuni akan menjadi tulus jika dia menjadi gaya hidup yang tulus pula. Sekarang saya jadi lebih memahami ayat itu. Dan sekarang pilihannya ada di tangan saya. Maukah saya membiasakan diri mengampuni? —MIA. PENGAMPUNAN BUKANLAH TINDAKAN SEKALI JADI, MELAINKAN BUAH DARI KEBIASAAN MENGAMPUNI. Selamat pagi. Selamat beribadah. Selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati.

Xavier Quentin Pranata
“Jangan datang ke rumah Tuhan dengan tangan hampa, namun dengan hati penuh cinta.” Xavier Quentin Pranata.

Samuel Sianto-Yestoya Ministry
Yes 43:18-19 – Jangan ingat yang dulu-dulu. Sekarang TUHAN buat yang ajaib. Apa yaa? Buat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara. Pasti kita alami! Selamat ibadah dan melayani! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

No comments:

Post a Comment