Monday, 25 January 2016

25 Januari 2016



HIGHER & DEEPER



Air Hidup. Yohanes 4:13-14, 13Jawab Yesus kepadanya: ‘Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, 14tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.’” Amin. AIR yang diberikan Tuhan Yesus berarti Hidup Kekal. Untuk memperoleh AIR HIDUP ini seseorang harus meminumnya, tindakan MINUM ini bukanlah suatu tindakan sesaat/1 kalisaja. MINUM disini adalah tindakan berkali-kali/suatu tindakan yang berkesinambungan/berulang-ulang. Meminum AIR HIDUP menuntut persekutuan yang terus-menerus dengan SumberNya, yaitu Yesus Kristus sendiri. Tidak seorangpun dapat minum Air Hidup bila hubungannya terputus dengan Sumber tersebut. Bila terputus akan menjadi ‘mata air yang kering’ (2 Petrus 2:17, “@@@”). Amin.

Xavier Quentin Pranata
“Saat hubungan kita  terasa hambar, jangan-jangan hubungan kita dengan Tuhan pun mulai tawar.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Senin, 25 Januari 2016. Kebanggaan Palsu. Keangkuhan hatimu telah memperdayakan engkau, ya engkau yang tinggal di liang-liang batu, di tempat kediamanmu yang tinggi; engkau yang berkata dalam hatimu: ‘Siapakah yang sanggup menurunkan aku ke bumi?’ (Obaja 1:3). Ada banyak alasan mengapa kita berbangga diri. Karena anak-anak berhasil dalam studi; karena suami atau istri yang sukses dalam pekerjaan; karena kita menerima penghargaan. Kebanggaan yang wajar. Tetapi akan menjadi hal yang salah ketika kebanggaan itu membuat kita sombong dan mulai merendahkan orang lain. Bangsa Edom membanggakan diri dengan beberapa hal, antara lain merasa diri bijaksana (ay. 8) dan kuat bak pahlawan (ay. 9). Mereka juga menganggap diri mereka sebagai bangsa yang kuat dan tidak dapat dikalahkan karena mereka tinggal di dataran tinggi atau daerah pegunungan (ay. 3-4). Bangsa Edom menyombongkan diri mereka di hadapan Yehuda (sisa bangsa Israel yang masih berada di tanah milik pusaka mereka) saat Yehuda sedang mengalami kehancuran, bukan ketika Yehuda masih dalam keadaan yang aman (ay. 12-13). Kebanggaan semacam ini nyatanya mendatangkan kehancuran bagi bangsa tersebut. Bukannya ditinggikan, mereka malah direndahkan! Sumber kebanggaan diri kita hanyalah pemberian Tuhan semata. Namun kita harus tetap menjaga hati untuk tidak sombong akibat hal-hal yang membanggakan tersebut. Ketika kita melihat ke sekeliling kita, orang-orang yang mungkin tidak seberuntung kita, apakah kita lalu merasa lebih baik dari mereka? Kiranya kita dijauhkan dari sikap semacam itu. Sebaliknya, biarlah kita belajar untuk tetap rendah hati dan menyalurkan karunia Tuhan tersebut untuk menolong orang-orang di sekitar kita —SYS. KEBANGGAAN DIRI TANPA DISERTAI KERENDAHHATIAN AKAN MENDATANGKAN KECELAKAAN, BUKAN KESEJAHTERAAN. Selamat pagi. Semangat awal Minggu. Tuhan Yesus memberkati.

Bp. Hari – PKS CL6
Senin, 25 Januari 2016. Bacaan: Kejadian 50:15-21. Setahun: Keluaran 23-25. Nats: Ketika saudara-saudara Yusuf melihat, bahwa ayah mereka telah mati, berkatalah mereka: ‘Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya’ (Kejadian 50:15). HIDUP BARU. Seorang teman saya mendadak mogok pergi ke gereja. Alasannya? Ternyata ia kecewa melihat anggota keluarganya yang paling rajin ke gereja. “Setiap Minggu pagi ia ke gereja, tapi sehari-hari di rumah mengeluh dan khawatir terus akan hidupnya. Nggak ada bedanya ke gereja atau tidak.” Kerajinannya ke gereja nyatanya tak berdampak dalam kesehariannya. Hal serupa bisa kita lihat pada saudara-saudara Yusuf. Telah bertahun-tahun lamanya Yusuf mengucapkan pengampunan, telah sekian lama mereka merasakan pemeliharaan Yusuf di tanah terbaik Mesir lengkap dengan berbagai fasilitas, ternyata semua itu tidak benar-benar mengubahkan mereka. Kakak-kakak Yusuf masih memandang diri mereka sebagai penindas yang culas, yang menjual adiknya menjadi budak. Maka tak heran jika setelah Yakub meninggal, mereka kembali hidup dalam ketakutan. Mereka cemas kalau-kalau Yusuf, setelah sang ayah meninggal, berbalik menuntut balas pada mereka. Perjumpaan dengan Tuhan dimaksudkan untuk mengubahkan diri kita. Kita menanggalkan manusia lama, dan mengenakan manusia baru, hidup dalam gaya hidup yang baru. Selanjutnya, hidup baru ini semestinya dirasakan dampaknya oleh orang-orang terdekat. Ketika kita menerima anugerah pengampunan Tuhan dengan segenap iman percaya, seharusnya kita meninggalkan manusia lama yang hidup dalam ketakutan dan kecemasan. Mari kita menghayati kembali identitas kita sebagai umat yang telah ditebus dan terus bertumbuh dalam kasih karunia-Nya --Olivia Elena. HIDUPLAH SUNGGUH-SUNGGUH SEBAGAI ORANG YANG TELAH MENERIMA PENEBUSAN TUHAN.

Samuel Sianto-Yestoya Ministry
Yos 24:20 – Bila kamu meninggalkan TUHAN, maka IA tidak akan melakukan hal-hal yang baik kepadamu seperti dulu! Tetaplah setia kepada YESUS sampe akhir hidup kita! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Worship Center Surabaya
Pernahkah kita mencoba merenungkan motif atau maksud yang tersimpan di hati kita saat kita menjalin hubungan Tuhan? Apakah alasan-alasan terdalam & terutama saat kita memohon segala berkat, kebaikan & kasih karunia-Nya dilimpahkan atas hidup kita? Untuk apa & siapakah sesungguhnya kita mengharapkan kelancaran urusan, kesehatan, pertolongan, jalan keluar dari masalah-masalah yang membelit kita bahkan keberhasilan dalam setiap pekerjaan tangan kita? Jika kebanyakan orang mencari Tuhan supaya Tuhan berbuat baik pada mereka demi kebahagiaan & kemudahan diri atau keluarga mereka, tampaknya tidak demikian dengan pemazmur. Dalam ketulusan & kesederhanaan doanya, kita tahu apa yang menjadi maksudnya saat ia berkata: “Lakukanlah kebajikan kepada hamba-Mu ini, supaya aku hidup, dan aku hendak berpegang pada firman-Mu”~Maz. 119:17. Ya, penulis mazmur itu mengharap Tuhan memberkatinya supaya ia boleh hidup di hadapan Tuhan sebagai pelaku-pelaku firman-Nya. Supaya dalam hidupnya yang dilimpahi kebaikan Tuhan, ia boleh memuliakan nama Tuhan & menyukakan hati Allahnya. Adakah ini menjadi kerinduan terdalam hati kita saat memanjatkan doa-doa kita di hadapan-Nya? Sesungguhnya doa-doa seperti inilah yang Tuhan senang mengabulkannya. Suatu permohonan yang tulus supaya diberikan kasih karunia untuk hidup dalam segala kebaikan Tuhan DEMI melakukan kehendak & perintah Tuhan. Inilah sikap hati penyembah sejati yang mengadakan hubungan dengan Tuhan oleh karena ingin memuja & mengabdi kepada-Nya. Hati yang sedemikian telah ditetapkan untuk tidak menyimpang pada jalan-jalan dunia ini lalu menggunakan kasih karunia & berkat-berkat Tuhan demi kesenangan & kenikmatan hidup pribadi, namun demi kepentingan & tujuan Kerajaan Allah. Tidak mengherankan bila dari pihak Tuhan menjanjikan yang sama: “Carilah dahulu kerajaan Allah & kebenaran-Nya (yaitu firman-Nya) maka semuanya akan ditambahkan kepadamu!” (Mat. 6:33). Tuhan melihat motif terdalam hati kita saat berdoa (Yak. 4:3). Apa kerinduan terbesar di doa-doa Anda? Salam revival! GBU.


No comments:

Post a Comment