HIGHER &
DEEPER
Air
Hidup. Yohanes
4:13-14, “13Jawab Yesus kepadanya: ‘Barangsiapa minum air ini, ia
akan haus lagi, 14tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan
kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan
Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus
memancar sampai kepada hidup yang kekal.’” Amin. AIR yang diberikan
Tuhan Yesus berarti Hidup Kekal. Untuk memperoleh AIR HIDUP ini
seseorang harus meminumnya, tindakan MINUM ini bukanlah suatu tindakan sesaat/1
kalisaja. MINUM disini adalah tindakan berkali-kali/suatu tindakan yang
berkesinambungan/berulang-ulang. Meminum AIR HIDUP menuntut persekutuan yang
terus-menerus dengan SumberNya, yaitu Yesus Kristus sendiri. Tidak seorangpun
dapat minum Air Hidup bila hubungannya terputus dengan Sumber tersebut. Bila
terputus akan menjadi ‘mata air yang kering’ (2 Petrus 2:17, “@@@”). Amin.
Xavier
Quentin Pranata
“Saat
hubungan kita terasa hambar,
jangan-jangan hubungan kita dengan Tuhan pun mulai tawar.” Xavier Quentin
Pranata.
Madam
Ossy
SAAT
TEDUH. Senin, 25 Januari 2016. Kebanggaan Palsu. Keangkuhan hatimu telah
memperdayakan engkau, ya engkau yang tinggal di liang-liang batu, di tempat
kediamanmu yang tinggi; engkau yang berkata dalam hatimu: ‘Siapakah yang
sanggup menurunkan aku ke bumi?’ (Obaja 1:3). Ada banyak alasan mengapa kita
berbangga diri. Karena anak-anak berhasil dalam studi; karena suami atau istri
yang sukses dalam pekerjaan; karena kita menerima penghargaan. Kebanggaan yang
wajar. Tetapi akan menjadi hal yang salah ketika kebanggaan itu membuat kita
sombong dan mulai merendahkan orang lain. Bangsa Edom membanggakan diri dengan
beberapa hal, antara lain merasa diri bijaksana (ay. 8) dan kuat bak pahlawan
(ay. 9). Mereka juga menganggap diri mereka sebagai bangsa yang kuat dan tidak
dapat dikalahkan karena mereka tinggal di dataran tinggi atau daerah pegunungan
(ay. 3-4). Bangsa Edom menyombongkan diri mereka di hadapan Yehuda (sisa bangsa
Israel yang masih berada di tanah milik pusaka mereka) saat Yehuda sedang
mengalami kehancuran, bukan ketika Yehuda masih dalam keadaan yang aman (ay.
12-13). Kebanggaan semacam ini nyatanya mendatangkan kehancuran bagi bangsa
tersebut. Bukannya ditinggikan, mereka malah direndahkan! Sumber kebanggaan
diri kita hanyalah pemberian Tuhan semata. Namun kita harus tetap menjaga hati
untuk tidak sombong akibat hal-hal yang membanggakan tersebut. Ketika kita
melihat ke sekeliling kita, orang-orang yang mungkin tidak seberuntung kita,
apakah kita lalu merasa lebih baik dari mereka? Kiranya kita dijauhkan dari
sikap semacam itu. Sebaliknya, biarlah kita belajar untuk tetap rendah hati dan
menyalurkan karunia Tuhan tersebut untuk menolong orang-orang di sekitar kita
—SYS. KEBANGGAAN DIRI TANPA DISERTAI KERENDAHHATIAN AKAN MENDATANGKAN
KECELAKAAN, BUKAN KESEJAHTERAAN. Selamat pagi. Semangat awal Minggu. Tuhan
Yesus memberkati.
Bp.
Hari – PKS CL6
Senin,
25 Januari 2016. Bacaan: Kejadian 50:15-21. Setahun: Keluaran 23-25. Nats:
Ketika saudara-saudara Yusuf melihat, bahwa ayah mereka telah mati, berkatalah
mereka: ‘Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita dan membalaskan sepenuhnya kepada
kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya’ (Kejadian 50:15).
HIDUP BARU. Seorang teman saya mendadak mogok pergi ke gereja. Alasannya?
Ternyata ia kecewa melihat anggota keluarganya yang paling rajin ke gereja.
“Setiap Minggu pagi ia ke gereja, tapi sehari-hari di rumah mengeluh dan
khawatir terus akan hidupnya. Nggak ada bedanya ke gereja atau tidak.”
Kerajinannya ke gereja nyatanya tak berdampak dalam kesehariannya. Hal serupa
bisa kita lihat pada saudara-saudara Yusuf. Telah bertahun-tahun lamanya Yusuf
mengucapkan pengampunan, telah sekian lama mereka merasakan pemeliharaan Yusuf
di tanah terbaik Mesir lengkap dengan berbagai fasilitas, ternyata semua itu
tidak benar-benar mengubahkan mereka. Kakak-kakak Yusuf masih memandang diri
mereka sebagai penindas yang culas, yang menjual adiknya menjadi budak. Maka
tak heran jika setelah Yakub meninggal, mereka kembali hidup dalam ketakutan.
Mereka cemas kalau-kalau Yusuf, setelah sang ayah meninggal, berbalik menuntut
balas pada mereka. Perjumpaan dengan Tuhan dimaksudkan untuk mengubahkan diri
kita. Kita menanggalkan manusia lama, dan mengenakan manusia baru, hidup dalam
gaya hidup yang baru. Selanjutnya, hidup baru ini semestinya dirasakan
dampaknya oleh orang-orang terdekat. Ketika kita menerima anugerah pengampunan
Tuhan dengan segenap iman percaya, seharusnya kita meninggalkan manusia lama
yang hidup dalam ketakutan dan kecemasan. Mari kita menghayati kembali
identitas kita sebagai umat yang telah ditebus dan terus bertumbuh dalam kasih
karunia-Nya --Olivia Elena. HIDUPLAH SUNGGUH-SUNGGUH SEBAGAI ORANG YANG TELAH
MENERIMA PENEBUSAN TUHAN.
Samuel
Sianto-Yestoya Ministry
Yos
24:20 – Bila kamu meninggalkan TUHAN, maka IA tidak akan melakukan hal-hal yang
baik kepadamu seperti dulu! Tetaplah setia kepada YESUS sampe akhir hidup kita!
Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.
Worship
Center Surabaya
Pernahkah
kita mencoba merenungkan motif atau maksud yang tersimpan di hati kita saat
kita menjalin hubungan Tuhan? Apakah alasan-alasan terdalam & terutama saat
kita memohon segala berkat, kebaikan & kasih karunia-Nya dilimpahkan atas
hidup kita? Untuk apa & siapakah sesungguhnya kita mengharapkan kelancaran
urusan, kesehatan, pertolongan, jalan keluar dari masalah-masalah yang membelit
kita bahkan keberhasilan dalam setiap pekerjaan tangan kita? Jika kebanyakan
orang mencari Tuhan supaya Tuhan berbuat baik pada mereka demi kebahagiaan
& kemudahan diri atau keluarga mereka, tampaknya tidak demikian dengan
pemazmur. Dalam ketulusan & kesederhanaan doanya, kita tahu apa yang
menjadi maksudnya saat ia berkata: “Lakukanlah kebajikan kepada hamba-Mu ini,
supaya aku hidup, dan aku hendak berpegang pada firman-Mu”~Maz. 119:17. Ya,
penulis mazmur itu mengharap Tuhan memberkatinya supaya ia boleh hidup di
hadapan Tuhan sebagai pelaku-pelaku firman-Nya. Supaya dalam hidupnya yang
dilimpahi kebaikan Tuhan, ia boleh memuliakan nama Tuhan & menyukakan hati
Allahnya. Adakah ini menjadi kerinduan terdalam hati kita saat memanjatkan doa-doa
kita di hadapan-Nya? Sesungguhnya doa-doa seperti inilah yang Tuhan senang
mengabulkannya. Suatu permohonan yang tulus supaya diberikan kasih karunia
untuk hidup dalam segala kebaikan Tuhan DEMI melakukan kehendak & perintah
Tuhan. Inilah sikap hati penyembah sejati yang mengadakan hubungan dengan Tuhan
oleh karena ingin memuja & mengabdi kepada-Nya. Hati yang sedemikian telah
ditetapkan untuk tidak menyimpang pada jalan-jalan dunia ini lalu menggunakan
kasih karunia & berkat-berkat Tuhan demi kesenangan & kenikmatan hidup
pribadi, namun demi kepentingan & tujuan Kerajaan Allah. Tidak mengherankan
bila dari pihak Tuhan menjanjikan yang sama: “Carilah dahulu kerajaan Allah
& kebenaran-Nya (yaitu firman-Nya) maka semuanya akan ditambahkan
kepadamu!” (Mat. 6:33). Tuhan melihat motif terdalam hati kita saat berdoa
(Yak. 4:3). Apa kerinduan terbesar di doa-doa Anda? Salam revival! GBU.
No comments:
Post a Comment