Sunday, 31 January 2016

31 Januari 2016



HIGHER & DEEPER



1 Kor 13:7-8, 7Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. 8Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.” Yang paling besar: ialah KASIH, Allah menghargai kita yang bertindak atau melakukan atau praktek dalam kasih, kesabaran, kemurahan hati dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran, kejujuran & sabar menaggung segala sesuatu. Jauh lebih tinggi dari pada iman yang memindahkan gunung atau melakukan pekerjaan besar dalam jemaat/pelayanan. Setiap kita orang percaya harus mengembangkan “KASIH” semacam ini. Amin.

Worship Center Surabaya
Kekudusan adalah perbedaan mendasar antara umat milik Tuhan dengan mereka hidupnya mengikuti (sistem) dunia ini. Kita disebut bangsa yang terpilih, imam-imam yang melayani di Kerajaan (Allah), BANGSA yang KUDUS, umat kepunyaan Allah sendiri (1 Pet. 2:9). Walau bukan topik yang populer di mimbar-mimbar kita atau mungkin juga masih banyak yang belum memahami, kekudusan merupakan sesuatu yang dirindukan Tuhan karena melaluinya kita dapat terhubung dengan Dia (Ibr. 12:14;2 Kor. 6:6-18). Itulah sebabnya, ibadah yang berkenan di hadapan-Nya ialah persembahan tubuh yang hidup lagi kudus (Rm. 12:1). Hidup kita dalam tubuh ini seharusnya tampak kudus di hadapan-Nya. Tanpa itu, semua yang kita lakukan demi nama Tuhan dalam kehadiran & pelayanan kita di gereja tiada berarti. Bagaimana kita akan membawa ibadah sedemikian? -Pertama-tama, kita menjadi kudus oleh karena pengudusan dari Tuhan, melalui pembasuhan kita dari dosa oleh darah Kristus (Ibr. 10:10; Kol. 3:12; 1 Kor. 6:11). Dalam Kristus, kita yang semula tidak layak telah dilayakkan menjadi anak-anak Allah. Tanpa karya pengudusan-Nya, mustahil kita memenuhi standar kekudusan Tuhan yang Mahakudus itu. -Hidup kudus berarti menjauhi kejahatan & dosa (Ams. 16:17; Ef. 4:24-31). Meski masih jauh dari kesempurnaan serupa Kristus, mereka yang sungguh-sungguh hidup beribadah di hadapan Tuhan menjaga setiap pikiran, perkataan, tindak tanduk & perbuatan mereka. Tak lagi kental dengan kecemaran & hawa nafsu. Tak leluasa berbuat dosa & rindu bebas dari ikatan-ikatan dosa (Kol. 3:5-9). -Kekudusan hidup ialah hidup dalam sifat manusia baru dalam Kristus: taat pada pimpinan Roh Kudus melakukan setiap perintah Tuhan (Yoh. 14:16; Gal. 5:16; Ef. 5:1; Kol. 3:10-17). Suatu kehidupan dalam kekudusan di tiap-tiap anggota tubuh kita sangat berharga di hadapan Tuhan. Yang demikianlah yang akan menjadi kesaksian yang benar-benar memuliakan Tuhan -suatu penyembahan yang melebihi puji-pujian & persembahan keuangan kita. Sudahkah kekudusan menjadi ibadah sejati Anda? Salam revival! GBU.

Xavier Quentin Pranata
“Doa adalah mengatakan bahwa kita yang terbatas mengakui dan membutuhkan Tuhan yang tak terbatas.” Xavier Quentin Pranata.

Samuel Sianto-Yestoya Ministry
Maz 119:165 – Besarlah ketenteraman pada orang-orang yang mencintai firman-MU, tidak ada batu sandungan bagi mereka! Pasti damai sejahtera, aman, sehat, diberkati Tuhan. Selamat ibadah dan melayani! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Minggu, 31 Januari 2016. Ujian dan Pujian. Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas (Ayub 23:10). Ayub menerima pujian dari Tuhan sebagai orang yang saleh dan jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan, tiada seorang pun di bumi seperti dia. Sesudahnya, ia mengalami ujian yang hebat. Segala kepunyaannya—lembu, keledai, kambing, domba, unta, termasuk para penjaganya—habis lenyap. Kesepuluh anaknya pun meninggal pada hari yang sama. Mendengar hal itu, Ayub sujud dan menyembah Tuhan. Dalam semuanya itu, ia tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut (1:20-22). Setelah ujian, Ayub menerima pujian kedua dari Tuhan, sebagai orang yang tetap tekun dalam kesalehannya, meskipun iblis telah membujuk Tuhan melawan dia untuk mencelakakannya tanpa alasan (2:3). Kemudian Ayub menerima ujian lagi, ditimpa barah yang busuk dari telapak kaki sampai ke batu kepalanya (2:7), bahkan istrinya menyuruhnya mengutuki Allah dan mati (2:9). Dalam semuanya itu, Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya (2:10). Akhirnya Tuhan memulihkan keadaan Ayub, memberikan kepadanya dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu dan memberkati Ayub dalam hidupnya selanjutnya lebih daripada hidupnya yang dahulu (42:10,12). Ada kalanya kita menerima pujian dan ada kalanya kita menerima ujian. Dalam siklus ini, di balik pujian pasti ada ujian, dan di balik ujian pasti ada pujian. Apa yang sedang kita terima saat ini? Ketika kita dipuji, tetaplah rendah hati. Ketika kita diuji, tetaplah bertahan dalam iman —IN. PUJIAN MEMBESARKAN HATI; UJIAN MEMURNIKAN IMAN. Selamat pagi. Ayo beribadah. Semangat melayani. Tuhan Yesus memberkati.


No comments:

Post a Comment