HIGHER &
DEEPER
1
Kor 13:7-8, “7Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu,
mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. 8Kasih
tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan
akan lenyap.” Yang paling besar: ialah KASIH, Allah menghargai kita
yang bertindak atau melakukan atau praktek dalam kasih, kesabaran, kemurahan
hati dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak bersukacita karena
ketidakadilan, tetapi karena kebenaran, kejujuran & sabar menaggung segala
sesuatu. Jauh lebih tinggi dari pada iman yang memindahkan gunung atau
melakukan pekerjaan besar dalam jemaat/pelayanan. Setiap kita orang percaya
harus mengembangkan “KASIH” semacam ini. Amin.
Worship
Center Surabaya
Kekudusan
adalah perbedaan mendasar antara umat milik Tuhan dengan mereka hidupnya mengikuti
(sistem) dunia ini. Kita disebut bangsa yang terpilih, imam-imam yang melayani
di Kerajaan (Allah), BANGSA yang KUDUS, umat kepunyaan Allah sendiri (1 Pet.
2:9). Walau bukan topik yang populer di mimbar-mimbar kita atau mungkin juga
masih banyak yang belum memahami, kekudusan merupakan sesuatu yang dirindukan
Tuhan karena melaluinya kita dapat terhubung dengan Dia (Ibr. 12:14;2 Kor.
6:6-18). Itulah sebabnya, ibadah yang berkenan di hadapan-Nya ialah persembahan
tubuh yang hidup lagi kudus (Rm. 12:1). Hidup kita dalam tubuh ini seharusnya
tampak kudus di hadapan-Nya. Tanpa itu, semua yang kita lakukan demi nama Tuhan
dalam kehadiran & pelayanan kita di gereja tiada berarti. Bagaimana kita
akan membawa ibadah sedemikian? -Pertama-tama, kita menjadi kudus oleh karena
pengudusan dari Tuhan, melalui pembasuhan kita dari dosa oleh darah Kristus
(Ibr. 10:10; Kol. 3:12; 1 Kor. 6:11). Dalam Kristus, kita yang semula tidak
layak telah dilayakkan menjadi anak-anak Allah. Tanpa karya pengudusan-Nya,
mustahil kita memenuhi standar kekudusan Tuhan yang Mahakudus itu. -Hidup kudus
berarti menjauhi kejahatan & dosa (Ams. 16:17; Ef. 4:24-31). Meski masih
jauh dari kesempurnaan serupa Kristus, mereka yang sungguh-sungguh hidup
beribadah di hadapan Tuhan menjaga setiap pikiran, perkataan, tindak tanduk
& perbuatan mereka. Tak lagi kental dengan kecemaran & hawa nafsu. Tak
leluasa berbuat dosa & rindu bebas dari ikatan-ikatan dosa (Kol. 3:5-9).
-Kekudusan hidup ialah hidup dalam sifat manusia baru dalam Kristus: taat pada
pimpinan Roh Kudus melakukan setiap perintah Tuhan (Yoh. 14:16; Gal. 5:16; Ef.
5:1; Kol. 3:10-17). Suatu kehidupan dalam kekudusan di tiap-tiap anggota tubuh
kita sangat berharga di hadapan Tuhan. Yang demikianlah yang akan menjadi
kesaksian yang benar-benar memuliakan Tuhan -suatu penyembahan yang melebihi
puji-pujian & persembahan keuangan kita. Sudahkah kekudusan menjadi ibadah
sejati Anda? Salam revival! GBU.
Xavier
Quentin Pranata
“Doa
adalah mengatakan bahwa kita yang terbatas mengakui dan membutuhkan Tuhan yang
tak terbatas.” Xavier Quentin Pranata.
Samuel
Sianto-Yestoya Ministry
Maz
119:165 – Besarlah ketenteraman pada orang-orang yang mencintai firman-MU,
tidak ada batu sandungan bagi mereka! Pasti damai sejahtera, aman, sehat,
diberkati Tuhan. Selamat ibadah dan melayani! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA
Ministry.
Madam
Ossy
SAAT
TEDUH. Minggu, 31 Januari 2016. Ujian dan Pujian. Karena Ia tahu jalan hidupku;
seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas (Ayub 23:10). Ayub
menerima pujian dari Tuhan sebagai orang yang saleh dan jujur, takut akan Allah
dan menjauhi kejahatan, tiada seorang pun di bumi seperti dia. Sesudahnya, ia
mengalami ujian yang hebat. Segala kepunyaannya—lembu, keledai, kambing, domba,
unta, termasuk para penjaganya—habis lenyap. Kesepuluh anaknya pun meninggal
pada hari yang sama. Mendengar hal itu, Ayub sujud dan menyembah Tuhan. Dalam
semuanya itu, ia tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang
patut (1:20-22). Setelah ujian, Ayub menerima pujian kedua dari Tuhan, sebagai
orang yang tetap tekun dalam kesalehannya, meskipun iblis telah membujuk Tuhan
melawan dia untuk mencelakakannya tanpa alasan (2:3). Kemudian Ayub menerima
ujian lagi, ditimpa barah yang busuk dari telapak kaki sampai ke batu kepalanya
(2:7), bahkan istrinya menyuruhnya mengutuki Allah dan mati (2:9). Dalam
semuanya itu, Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya (2:10). Akhirnya Tuhan
memulihkan keadaan Ayub, memberikan kepadanya dua kali lipat dari segala
kepunyaannya dahulu dan memberkati Ayub dalam hidupnya selanjutnya lebih
daripada hidupnya yang dahulu (42:10,12). Ada kalanya kita menerima pujian dan
ada kalanya kita menerima ujian. Dalam siklus ini, di balik pujian pasti ada
ujian, dan di balik ujian pasti ada pujian. Apa yang sedang kita terima saat
ini? Ketika kita dipuji, tetaplah rendah hati. Ketika kita diuji, tetaplah
bertahan dalam iman —IN. PUJIAN MEMBESARKAN HATI; UJIAN MEMURNIKAN IMAN.
Selamat pagi. Ayo beribadah. Semangat melayani. Tuhan Yesus memberkati.
No comments:
Post a Comment